I am Not Your Pupet chap 2


im-not-your-puppet

Author             : Alice Appril / Choi Yoora

Cast                 : Park Bom

Choi Seung Hyun/ TOP

Choi Dongwook / Se7en

Other Cast       : Sandara Prak

Kwon Jiyoung

Genre              : Revenge, sad romance, Friendship, AU

Credit              :   mekeyworld@http://chokyulateworld.wordpress.com/

Length             : Series, Chapter

Rating             : 15

Memories and Painfull Past

*Author POV*

 

Dongwook mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan kota Seoul, yang sedang ramai di malam hari. Tidak dihiraukannya bunyi klason dari para pengemudi lain, yang merasa kesal dengan jarak lajunya. Dia tetap mengendari mobilnya, tanpa tau kemana arah tujuannya. Karena yang dipikirannya saat ini, hanyalah ingin pergi sejauh mungkin, menjauh dari kota yang penuh kenangan manis, dirinya bersama dengan Yeoja yang baru sama meluluh lantahkan hati dan pikirannya.

Dua jam sudah dia mengendari mobilnya menyusuri gelapnya malam, dengan pikiran yang kacau. Sampai pada akhirnya dia menepikan mobilnya di sebuah pantai.

“Choi Dongwook, apa yang kau lakukan disini ? tidak seharusnya kau berada disini bukan ?” Runtuknya pada dirinya sendiri. Walaupun begitu dia tetap melanjutkan langkahnya, medekati pantai. Deru ombak, hembusan angin, gemerlap bintang yang bertaburan, menyambut kedatangannya, begitu dia sampai di bibir pantai. Tempat ini tidak banyak berubah, sejak terakhir kali kedatanganya.

~Flashback~

“Wuah….!!! Liat ini Dongwook, bukankah ini sangat indah ?” Ujar seorang gadis, begitu dia sampai disana. Matanya tak lepas dari pemandangan indah yang tersaji manis dihadapannya.

“Tidak salahkan aku mengajakmu kesini?” Dongwook menghampiri Yeojanya dan memeluknya dari belakang. Sambil menyandarkan bahunya di pudak gadis itu. Sontak membuat sang gadis yang dipeluk kaget.

“Ya… jangan begini, malu dilihat orang” gadis itu berusaha melepaskan pelukan Dongwook. Tapi Dongwook tidak semudah itu mau melepaskannya.

“Malu dengan siapa, ini sudah malam Jagi, tidak ada orang yang melihat”

“Tapi, Wookie~a…” pria itu tersenyum manis mendengar pangilan Yeoja ini padanya. Dongwook selalu senang saat mendengar gadisnya memanggilnya begitu.

“Tapi kenapa ? kau masih malu padaku ya?” Tanya Dongwook sambil membalikkan tubuh yeojanya mengahadap dirinya. Dilihatnya gadis ini sama sekali tak berani menatap wajah Dongwook dan memilih untuk menunduk. Dengan tangannya Dongwook mengarahkan wajah sang gadis agar menatap dirinya. CUP… !!!

Dongwook mempertemukan bibir mereka. Hanya kecupan biasa, namun tetap membuat gadisnya melebarkan mata, karena kaget.

“Kenapa masih malu dengan ku Bom~a, hey lihatlah, wajah mu mengapa bersemu merah begitu, apa karena ku cium” Goda Dongwook padanya

Plaak… !!! Bom memukul kening Dongwook keras, hingga membuat dia meringgis kesakitan.

“Awww… Jagiya,” Sontak Donwook memegang keningnya dan melepaskan pelukannya pada Bom.

“Rasakan… itu balasannya, jika kau menggodaku terus” jawab Bom, sambil berlari menjauh dari Dongwook.

“Ya… Nona Park !!! jangan lari kau”

Dongwook mengejar Bom yang sudah lebih dulu berlari menjauh. Tak butuh waktu lama, Bom pun dapat dengan mudah terkejar.

“Mau kemana kau?” Dongwook berhasil menangkap tubuh mungil Bom dalam dekapannya.

“Berani sekali kau memukul wajah tampan Namja mu ini, kalau aku tak tampan lagi bagaimana?”

Bom terkekeh pelan dalam pelukan Dongwook, dan membalikkan posisi tubuhnya menghadap Dongwook.

“Kalau begitu aku akan meninggalkanmu, Tuan Choi”

Mworago…?” Dongwook menatap Bom tak percaya. “Bomie~a” ujarnya pelan, dekapan Dongwook pada Bom pun melonggar, maka dengan mudah Bom kembli menghidar.

“Benarkah kau akan meninggalkanku?”

Bom tersenyum jail, sekarang kesempatannya untuk balik menggoda kekasihnya.

Keoreom… untuk apa aku bersamamu, jika kau sudah tak tampan?” Bom kembali berlari menjauhi Dongwook terlebih dahulu, takut-takut kalau pria itu kembali menangkapannya.

Namun Dongwook sama sekali tak bergarak dari tempatnya berdiri, dan hanya memandang Bom yang tengah berlari. Merasa ada yang aneh pada kekasihnya, maka Bom pun mendekat perlahan,  namun tetap menjaga jarak dengan Dongwook.

“Wookie~a, Wae Keureu… ?” tanyanya, sambil memperhatikan wajah Dongwook yang terdiam.

“Jadi, kau akan benar-benar meninggalkanku?” Tanya Dongwook. Bom kembali tertawa, namun Dongwook tetap menatap tajam kearahnya.

“Kau menganggap serius gurauan ku tadi?”

Menyadari kalau ucapannya sudah menyakiti hati Dongwook. Maka Bom pun mendekat dan menangkupkan tangannya pada wajah tampan Dongwook.

“Dongwook~a, dengarkan aku, apapun yang terjadi padamu, entah itu kau berubah menjadi jelek atau kau yang jatuh miskin, hanya kau yang apa adanya. Semua itu tak akan mengubahku, aku tak akan meninggalkanmu Wookie~a. tidak kah kau percaya padaku?”

Dongwook menghela napas lega, begitu mendengar jawaban itu dari gadisnya. Dia menggenggam tangan Bom erat, sambil menatap manik mata Bom.

“Jangan ucapkan hal itu lagi, aku benci mendengarnya. Aku takut semua itu menjadi nyata” Bom tersenyum dan mengecup pipi kanan Dongwook sekilas.

Arraseo, Mianhe aku tak akan mengucapkan itu lagi, Yakseoke

~End Flashback~

Dongwook menatap nanar pantai dihadapannya, kenangan yang seharusnya dia buang jauh-jauh dari pikirannya, ternyata berbanding terbalik dengan keinginanannya.

“Sekarang kau bahkan mengingkari janjimu sendiri Bom~a, dan lebih dari itu. Kau juga berhasil membuatku jatuh terpuruk” ucapnya lemah berbarengan dengan deru ombak.

*Seung Hyun POV*

 

Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa, begitu sampai. Hari ini benar-benar melelahkan. Tunggu aku kembali memutar pikiranku, memangnya apa saja yang telah aku lakukan seharian ini kenapa aku merasa sangat lelah. Seinggatku, aku melakukan pekerjaanku sesuai dengan jadwal, dan tak ada yang berbeda dari semuanya, dengan hari-hariku kemarin. Tidak ada proyek besar yang sedang aku tangani sekarang, tapi mengapa?

Huft… benarkah hanya fisikku saja yang lelah? Ataukah ada bagian dari tubuhku yang merasa sakit. Sehingga mengakibatkan semua anggota tubuhku yang lainpun, ikut merasakan sakitnya.

 

I am singging my blue…

paran nun-mu-re paran seulpeume gildeulyeojyeo
I’m singing my blues tteunkureume nallyeobonaen sarang oh oh

Aku kembali menegakkan tubuhku, begitu mendengar nada panggilan mengalun pelan dari ponselku. Sesaat aku menatap layar.

“Hallo” sapa ku begitu kesuntuh layar ponselku. Untuk menjawabnya

My Son… How are you ?” terdengar suara lembut yang tengah menyapaku. Sesaat aku tersenyum mendengarnya.

Fine Mom, And you ?”

Not Good” Jawab ibuku singkat, aku mengerutkan kening begitu mendengar jawabannya. Apa yang terjadi, tidak biasanya ibuku menunjukkan kesedihannya secara terang-terangan begini. Kalau sampai hal ini terjadi, pasti ada sesuatu yang tengah di khawatirkannya.

Why Mom, what happens?”

Because of you, You know?” Aku semakin tak mengerti. Kesalahan apa yang kali ini aku lakukan. Sampai-sampai membuat wanita yang paling aku cintai didunia ini sedih.

Me ? If I mistake again ?”

Of course, You are. Kau tidak tau betapa rindunya ibumu ini padamu nak?”

Lagi –lagi aku tersenyum. Ibuku ini pintar sekali membuatku merasa bersalah.

“Aku juga merindukanmu Mom, Seriously. Tapi memang aku belum bisa mengunjungi kalian di London. Pekerjaan ku masih menyita waktuku Mom

Terdengar helaan nafas dari sana, pasti sekarang ibu sedang berusaha tersenyum untuk mengerti kondisiku disini, sungguh itu menyakitkan, jika dia harus mengerti kondisiku.

“Baiklah nak, ibu mengerti. Tapi Seung Hyun~a, kau juga harus menjaga kesehatanmu disana. Jangan terlalu memforsir pekerjaanmu”

“Aku mengerti Mom, lalu bagaimana kabar Daddy ?”

Kali ini terdengar decakan pelan dari ibuku.

“Kau dan Daddymu itu sama, selalu saja monomer satukan pekerjaan. Ibu sampai lelah untuk mengingatkannya” Aku tersenyum mendegar keluhannya.

“Seung Hyun~a, jaga dirimu baik-baik disana ya!! Sering-sering lah telepon, jika memang kau belum sempat untuk mengunjungi kami disini”

“Ya Mom akan Kulakukan”

“Dan satu lagi Seung Hyun~a, cari lah pacar, diusiamu yang sekarang ini, sangat aneh jika kau tak punya pacar. Ibu ingin ada seseorang disana yang bisa mengurusmu”

Tentu saja, kalimat itu pasti selalu di ucapkan ibu, saat akan mengakhiri pembicaraan kami. Aku memang bosan mendengarnya, tapi mau bagaimana lagi, dia ibuku, aku tidak akan pernah mau melukai hatinya, barang sekecil apapun.

Aku memang tinggal terpisah dari keluargaku yang berada di London. Awalnya kami sekeluarga tinggal disini. Karena memang Korea adalah tanah kelahiran ku juga orang tuaku. Hanya saja saat aku kuliah, kami pindah kesana karena pekerjaan ayahku. Namun 2 tahun terakakhir aku kembali kesini, untuk melanjutkan kembali perusaan ayah di Seoul.

Aku merindukan mereka, sudah pasti. Tapi aku ini seorang pria yang harus menentukan jalan ku sendiri. Aku akan menetap di Korea dan tidak akan kembali ke London. Kembali yang dalam arti tinggal disana, aku tidak keberatan harus bolak-balik London Korea untuk bertemu keluargaku. Setengah rasa lelahku hilang, begitu mendengar suara ibuku. Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi. Namun lagi-lagi ponselku berdering. Aku menatap nomor asing yang ada di layar ponselku.

Yobbseo

“Hyung, ini Seungri, bisakah kau ketempatku sebentar”

“Aku baru saja tiba Seungri~a, kenapa kau menyuruhku ketempatmu? Kalau ada yang ingin kau bicarakan, katakan saja disini” aku kembali menjatuhkan tubuhku ke sofa.

Aniya Hyung, ini tentang Dongwook Hyung”

Aku memijat pelan pelipis ku, apalagi sekarang yang dibuat sodaraku itu.

“Ada apa dengannya? Membuat ulah lagi ?”

“Dongwook Hyung mabuk berat, tapi dia tidak mau kuantar pulang, kemarilah Hyung hanya kau yang bisa membujuknya”

Aku langsung memutuskan sambungan teleponnya, dan mengambil kunci mobilku.

*Park Bom POV*

 

Aku menatap pigura kecil disamping tempat tidurku. Aku dan seorang pria tampan yang tengah merangkul bahuku erat, dengan senyuman manis di wajah kami berdua. Aku merindukan dirinya, aku merindukan suara lembutnya, yang selalu melullabyku sebelum tidur, aku rindu kata-kata cinta yang selalu diucapkannya, aku rindu dekapan hangatnya yang selalu dapat membuatku tenang.

Lagi, airmataku kembali menetes saat menginggat dirinya. Sejujurnya aku tak ingin berpisah dengannya, aku sungguh mencintainya. Tapi apa dayaku, ada seseorang yang lebih mencintai dan membutuhkan dia dari pada aku.

~ Flashback~

 

Aku tengah merapikan bunga-bunga ku, saat seseorang gadis datang menemuiku.

“Kau Nona Park Bom?” aku menoleh saat dia menyebutkan namaku dan mengangguk membenarkannya.

“Bisa kita bicara sebentar?” aku cukup terkejut dengannya, namun lagi-lagi aku mengangguk.

Aku mengikuti langkahnya, dan dia berhenti tepat didepan mobil, yang kuduga pasti mobil gadis ini. Dia berbalik menatapku

“Sebelumnya, akan lebih baik jika aku memperkenalkan diri” ucapnya, seraya mengulurkan tangannya.

“Aku Park Haeun” aku menyambut uluran tangannya

“Park Bom Imnida

“Sebenarnya, aku tidak berhak berkata begini padamu, tapi… aku sangat menyayanginya, aku tidak bisa melihatnya seperti sekarang”

“Apa maksudnya Haeun~sii?” aku menatapnya dengan tatapan bingung, kulihat dia membuka pintu mobilnya.

“Lihat lah kesini Bom~sii” aku mendekat ke arahnya, melihat apa yang sedang di tujukkan Haeun~sii padaku. Aku membungkuk sedikit untuk melihat kedalam mobil, aku medapati seorang gadis cantik tengah duduk terdiam di dalam mobil. Wajahnya tampak pucat, namun sama sekali tidak menutupi kecantikkannya itu, aku yakin jika dia tersenyum, pasti akan membuat siapa saja yang melihatnya terpesona. Namun aku masih tak mengerti mengapa, aku harus melihatnya.

“Dia kakakku, namanya Park Han Byul, dia cantik bukan?”

Aku kembali menegakkan tubuhku, dan menatap Haeun sambil tersenyum

Ne, dia cantik”

“Tidakkah kau merasa ada yang aneh dengannya?” aku kembali menatap gadis bernama Han Byul itu. Memang agak aneh, seharusnya dia kan menoleh padaku saat aku melihatnya tadi, tapi dia sama sekali tak bergeming dan tetap menatap lurus kedepan, entah apa yang dilihatnya.

“Dia sama sekali tak meresponmu kan ?” Ucap Haeun memotong pikiranku.

“Dia sakit, segala cara sudah aku lakukan untuk menyembuhkannya, tapi dokter bilang, segala macam pengobatan akan percuma jika yang bersangkutan tidak menginginkan kesembuhannya”

“Maksudmu, dia tidak ingin sembuh? Memangnya apa yang membuat dia sakit?”

Tanyaku sambil kembali menatap HanByul di mobil.

“Patah hati” aku kembali menatap Haeun.

“Dulu, dia wanita yang sangat ceria, penuh semangat dan membuat siapa saja yang melihatnya iri, termaksud aku”

Aku hanya menatap Haeun sambil terus menyimak penjelasannya

“Tapi semua berubah saat, dia melihat pria yang dicintainya selama ini bersama orang lain, dalam waktu yang singkat kakakku langsung menjadi seperti ini” ku lihat Haeun mulai berkaca-kaca. Entah mengapa aku mulai tertarik dengan ceritanya. Karena patah hati dapat mengakibatkan seorang gadis menjadi seperti ini.

“Pria itu tidak tau, kalau selama ini kakak ku mencintainya. Sebelum pria itu memiliki kekasih, dia adalah teman yang baik bagi Han Byul Eonni, dalam sehari mereka pasti bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Tapi itu tidak terjadi lagi saat pria itu telah berkencan, dia melupakan Byul Eonni, dan sibuk dengan dunianya. Maka dari itulah Eonni jadi terpuruk seperti ini,” Tubuh Haeun mulai bergetar, kurasa dia sudah tak bisa menahan tanggisnya.

“Menyedihkan bukan Eonniku Bom~sii? Karena kehilangan cintanya membuat dia menjadi seperti ini. Bahkan dia tidak mengenali keluarganya sendiri” aku medekatkan diri pada Haeun dan mengelus punggungnya, berupaya membuatnya tenang.

“Bom~sii, maukah kau membantuku untuk menyebuhkannya?” aku tersentak kaget, memangnya apa yang harus aku lakukan untuk membantunya. Aku saja baru mengenal mereka sekarang, dan aku juga masih belum mengarti, mengapa Haeun menemuiku dan meminta aku untuk membantunya.

“Tolong lepaskan Dongwook oppa” Aku membelalakan mata, kaget mendengar permintaannya.

“Haeun~sii, memangnya apa hubungannya aku dan Dongwook dengan …” Aku menggantungkan kalimatku. Entah bagaimana aku langsung teringat pada penjelasannya tadi. Jangan katakan bahwa Dongwook adalah.

“Dongwook Oppa, adalah pria yang kuceritakan tadi”

Bagai disambar petir di siang hari yang cerah. Tubuhku menegang seketika, apa yang baru saja dikatakannya?

“Komohon Bom~sii, hanya Dongwook oppa yang bisa menyembuhkan Eonni. Tolong lepaskan dia, dan buatlah agar Dongwook oppa mencintai Eonni”

Dia sudah gila, bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu.

“Haeun~sii, yang bisa menyembuhkannya Uisa, bukan Dongwook. Jangan memohon sesuatu yang tidak mungkin!!!”

Haeun mencengkram tanganku kuat. Dia menatapku sambil menangis

“Bom~sii, aku katakan tadi, bahwa segala pengobatan telah aku lakukan. Tapi Eonniku tidak ingin sembuh, makanya dia tetap seperti ini” Aku menghentakkan tanganku untuk melepaskan pegangan Haeun di lenganku.

“Berarti itu kesalahan Eonni mu sendiri yang tidak mau sembuh, itu tidak ada hubungannya dengan aku dan Dongwook” Aku merasakan perih dihatiku, perlahan air mataku pun mengalir

“Tidakkah kau mengerti, kekuatan untukknya sembuh itu hanya ada pada Dongwook Oppa. Jika Dongwook Oppa kembali, aku yakin tanpa pengobatan pun Eonni akan sehat kembali”

Aku hanya diam sambil mengepalkan tanganku kuat-kuat. Bagaimana mungkin hal ini terjadi, tidak Tuhan aku tak sanggup berpisah dengannya.

“Aku tau permintaanku egois, tapi… kau wanita kuat Bom~sii. Selama ini aku selalu memperhatikanmu. Aku yakin kau akan lebih bisa bertahan dibanding dengan Eonni”

Aku masih tak bergeming, sampai kulihat Haeun terduduk dan berlutut padaku.

“Aku mohon Bom~sii, tolong kasihani aku. Di dunia ini hanya Eonni satu-satunya keluarga yang ku miliki, aku tak akan sanggup hidup tanpa dia disisiku. Ku mohon tolonglah aku”

Permintaannya benar-benar egois, lalu bagaimana denganku. Saat ini, aku juga hanya memiliki Dongwook. Setelah Eomma meninggal aku tak memiliki siapa-siapa lagi, selain Dogwook

“Tapi aku juga sangat mencintainya” Lirihku sambil jatuh terduduk dihadapannya.

~ End Flashback~

*Author POV*

Dongwook tampak kacau, dengan botol soju kelima yang isinya habis di tenggaknya. Tanpa memperdulikan seseorang yang sejak tadi melarangnya. Dia tetap menyesapkan air dingin itu kemulutnya. Bahkan dia tak segan-segan menghadiahkan pukulan keras di wajah orang itu, jika berani melarangnya.

Seungri, lelaki yang sejak tadi menemani Dongwook disana, hanya bisa pasrah melihat kelakuan Hyungnya. Sambil terus berharap, orang yang tadi di hubunginya segara datang.

Suara derap langkah kaki perlahan menghampiri mereka, di tengah dentuman keras music yang memekikkan telinga siapa saja yang baru pertama kali datang ketempat ini.

“Hyung, akhirnya kau datang” kelegaan terpancar jelas diwajah Seungri, begitu dia melihat Seung Hyun menghampiri mereka.

Seung Hyun menatap Dongwook sebentar dan kembali menatap Sengri.

“Sudah sejak kapan dia disini?” dia meninggikan suaranya untuk menyaingi suara music yang mendominasi tempat ini.

“2 jam lalu, dan selama itu, dia tetap minum. Aku tak bisa menghentikannya Hyung. Dia akan menghajarku lagi” Seungri menyentuh sudut bibirnya yang baru saja terkena pukulan keras dari Dongwook.

Seung Hyun menghela napas sebentar, sebelum akhirnya dia menghampiri Dongwook.

“Sudah cukup” Seung Hyun menangkap botol suju yang akan di minum Dongwook. Dongwook menoleh dan mendapati Seung Hyun yang tengah menatapnya datar.

“Lihat dirimu, sudah berapa kali ku bilang, jika kau ingin membuat kekacauan jangan libatkan aku. Kau hanya membuatku malu. Tidak adakah kerjaan lain yang bisa kau lakukan selain ini”

Dongwook tertawa keras, entah apa yang lucu dari ucapan Seung Hyun tadi.

“Hahaha… Saudaraku marah Seungri~a, Saudaraku yang terkenal dingin ini memarahiku, bukankah itu lucu” Dongwook masih tertawa keras. Namun perlahan-lahan suaranya berubah menjadi isakan kecil yang menyakitkan. Dia membenamkan wajahnya di meja bar sambil terus terisak.

Seung Hyun kembali menghela napas panjang. Tidak tega, itulah yang sekarang dirasakannya, saat menatap sepupunya seperti ini. Saudaranya tak pernah serapuh ini, bahkan ketika Ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu, hal itu tak sampai membuatnya hilang kesadarannya.

“Aku tak bisa tanpanya Seung Hyun~a, dia napasku” Dongwook masih terisak dengan suara yang bergetar. Kali ini bukan hanya isakan, tapi dia mulai memukul-mukul keras meja bar yang jadi tempat bersandarnya. Seung Hyun menghentikannya, dan menarik Dongwook berdiri.

“Kau ingin tau apa yang di katakannya padaku tadi?” Bau alcohol langsung menyerbu wajah Seung Hyun, begitu Dongwook berucap di depannya.

“Apapun yang di katakannya, aku akan mendengarnya setelah kau kembali pada alam sadarmu” Seung Hyun memapah Dongwook untuk keluar dari sana. Sembari melambaikan tangannya pada Seungri yang tengah melayani tamunya.

~At Bomies Flowers~

Seung Hyun menepikan mobilnya tepat di sebuah toko bunga, di memandang sebentar took itu, sebelum akhirnya masuk kedalam.

Oseo Oseoyo” Ucap seseorang dari dalam toko. Raut wajahnya berubah kaget begitu melihat siapa yang baru masuk kedalam.

Annyeong” Sapa Seung Hyun ramah. Bom masih mengerjapkan matanya, saat Seung Hyun berjalan kearahnya.

“Anda datang lagi tuan?” pertanyaan bodoh menurutnya, bukankah bagus dia datang, itu berarti dia ingin kembali membeli bunganya.

“Kukira kita sudah sepakat untuk berteman kemarin ? Tolong ingatkan aku, jika aku lupa bahwa kemarin kau belum menyetujui pertemanan kita, Nona”

Bom tersenyum singkat

“Ah Mianhe, aku hanya kaget saja” ucapnya sambil menghidari tatapan mata Seung Hyun, yang entah sejak kapan sanggup membuatnya grogi.

“ Kaget kenapa?”

“Ya… karena tiba-tiba saja kau datang”

Seung Hyun menatapnya heran, apakah sekarang Bom melarangnya datang setelah mereka resmi berteman.

“Apa aku dilarang datang ke sini ?”

Bom hanya tersenyum sebentar, dan kembali menekuni pekerjaanya yang tertunda karena kehadiran Seung Hyun.

Aniya, Keuyang. Aku heran saja mengapa kau bisa keluyuran di jam-jam kantor seperti sekrang? Apa karyawan kebanyakan seperti itu?”

“Jadi kau keberatan aku berkunjung saat jam-jam seperti ini ?” Seung Hyun belum puas dengan jawaban gadis dihadapannya ini.

“Itu sih terserah padamu saja, aku sama sekali tidak berhak melarang kau ingin pergi kemana”

“Aku baru saja selesai bertemu dengan klienku, didaerah sekitar sini. Saat melewati tempat mu. Kupikir kenapa aku tidak mampir sekalian”

Kini gantian Bom yang menatapnya bingung.

“Kenapa kau harus menjelaskannya padaku? Aku kan tidak bertanya kalau…”

“Tapi kau menaruh curiga padaku, makanya aku harus menjelaskannya” Seung Hyun memotong kalimat Bom sebelum gadis itu selesai dengan ucapannya.

“Baiklah Tuan Choi, kalau begitu aku bertanya ada keperluan apakah sampai kau datang ?”

“Nona Park, bukankah tadi sudah kujawab, kalau aku kebetulan lewat”

Bom angkat bahu dan memilih menyerah. Dia tidak mau memancing pertengkaran di awal pertemanan mereka. Lagi pula sejujurnya, Bom hanya kikuk saja bagaimana baiknya berhadapan dengan Seung Hyun.

“Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu Tuan Choi” Bom yang tengah menyirami bunga-bunganya, merasa risih di tatap intens Seung Hyun.

“Rupanya kau bukan tipikal wanita yang senang di tatap oleh Namja tampan seperti ku. Biasanya banyak sekali Yeoja yang bahkan sampai memohon untuk di tatap langsung olehku”

Bom menatap Seung Hyun, yang tengah duduk di salah satu kursi dekat meja kasirnya. Kemudian tersenyum singkat.

“Sayang sekali aku tidak termaksud didalamnya, Tuan Choi”

“Panggil aku Seung Hyun, Bom. Kita sudah sepakat bukan” Seung Hyun mengingatkan Bom yang dari tadi masih bicara sopan padanya.

Bom tak mengubrisnya, dia kembali menekuni kegiatannya. Merasa di abaikan. Seung Hyun pun berdiri dan berjalan menghampiri Bom.

“Aku sama sekali tak menerima penolakan, saat kita sudah sepakat Bomie~a”

Chesss… bagaikan padang pasir yang tersiram air hujan. Hati Bom menghangat saat mendengar panggilan itu. Ada persaan rindu yang mencuat dari dalam dirinya. Sebagian dari dirinya tergugah untuk segera menyambutnya.

“Tadi… kau ba-baru ssa ja, memangilku apa?” tanyanya terbata.

“Bomie~a, Wae ? ku pikir itu panggilan yang manis. Bagaimana kalau mulai sekarang aku memangilmu begitu”

Andwae…!!! Jangan panggil aku begitu” Tolak Bom cepat.

Wae ? Itu panggilan yang lucu, kau juga boleh mempunyai panggilan khusus untukku. Kalau kau mau. Dengan begitu kita bisa lebih dekat lagi”

Bom mematung. Rasa kaget dan tak percaya dengan apa yang baru saja di alaminya kini, terulang kembali. Kenangan dan kejadian yang sama namun dengan orang yang berbeda.

~TBC~

Telat banget updatenya, aku tau pasti pada mau bilang begitu kan…? maaf ya readers, ada satu dua hal yang membuat aku agak telat negpostnya… hehehe, seri yang kedua ini emank sengaja banyak bagian flashbacknya, oek di tunggu aja cahp selanjutnya ya, akan aku usahakan secepatnya, di tunggu RCLnya, tinggalkan jejak kalian, karena kau perlu tau kalian suka apa gak sama tulisan aku. biar aku bisa perbaiki lagi

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s