[ONESHOT] Glare


glare

Title                 : Glare

Author             : Black Scratch

Main Cast        :

  • Jung ‘Daehyun’ (B.A.P)
  • Kim Himyeon (OC)

Support Cast   :

  • Kim ‘Himchan’ (B.A.P)
  • The Others

Genre              : Sad Romance, Family, Angst, Tragedy

Length             : Oneshot

Rating             : PG

fanfiction menye-menye ala Blackscratch ini dibuat hanya dalam waktu semalam. karena kebetulan kurang kerjaan, makanya kepikiran buat ff ini. jadi maklumlah kalo typo itu bertebaran bak virus yang menyebar (?).

FF ini udh author post di blog author. Siapa yg berbaik hati pen liat2 blog author, silahkan kesini http://blackscratch099.wordpress.com/

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

Your eyes… That glare…

In the middle of Seoul’s busy.

They tell me to look at you.

For a second… I like it.

Should i fall with that?

-Kim Himyeon

 

Himyeon sedang berjalan di jalanan ramai di tengah kota Seoul. Semua orang terlihat sedang merapihkan penampilannya. Wajah mereka semua sudah dirias sedemikian rupanya hingga terlihat menarik. Pakaian mereka sudah mereka sesuaikan dengan apa yang menjadi tren saat ini.

Namun tidak bagi seorang Himyeon. Himyeon hanya memakai celana jeans serta jaket dan mantel yang sama tebal berwarna hijau serta syal dengan warna senada. Ia juga memakai earmuff dan kupluk untuk menutupi tubuhnya yang mulai membeku akibat dinginnya malam itu. Tak ada sepasang mata pun yang melihat ke arahnya––bahkan untuk melirik sekalipun.

Dan sepasang bola mata tiba-tiba mengarah padanya. Dibalik kaca yang menutupi sebuah kedai kopi antik. Tubuh dari sepasang mata tersebut sedang duduk. Wajahnya tak begitu terlihat karena wajahnya yang tertutupi oleh masker berwarna hitam.

Himyeon dengan jelas melihat orang tersebut. Ia melihat bagaimana namja tersebut memasatinya. Si namja hanya menunduk memberi salam. Dibalas oleh Himyeon yang terlihat canggung dengannya.

Himyeon berhenti dari perjalanannya. Sebuah americano tak mungkin merusak lambungnya terlalu parah. Jadi ia memutuskan untuk masuk ke dalam kedai kopi tersebut dan memesan segelas americano hangat.

“Disini saja. Yang lain penuh.” Ucap namja itu sedikit meninggikan suaranya memanggil Himyeon yang sedari tadi mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan. Himyeon mengangguk dan segera duduk di kursi depan namja tersebut. “Aku baru melihatmu disekitar sini.”

“Aku jarang keluar. Apalagi untuk kesini. Rasanya di cuaca dingin seperti ini lebih baik di rumah daripada di luar.” Respon Himyeon sambil membuka mantel tebalnya.

“Disini hangat dan nyaman. Ramai, namun tenang.”

“Kutebak kau sudah lama disini…”

“Aku baru menjadi member kedai kopi ini. sekitar lima minggu mungkin? Hahaha… Disini adalah olahan kopi terbaik yang pernah kucoba. Kau harus mencobanya juga.”

“Ya, aku memang sedang mencari kedai kopi disekitar sini. Jadi… Siapa namamu?”

“Oh… Aku sampai lupa memperkenalkan diri. Aku Jung Daehyun.”

“Cukup panggil aku Himyeon. Jadi… Daehyun-ssi––”

Oppa saja. Bahkan untuk seorang sunbae pun kau tak mengenalinya.”

SuSunbae? Di kampus?”

“Kalau kubuka maskerku, mungkin kau akan tahu. Tapi biarlah kau yang mencari sendiri siapa aku.” Himyeon mengedipkan matanya cepat tanda tak mengerti.

Beberapa menit kemudian secangkir americano datang pada Himyeon. Himyeon mencium aromanya kemudian menyeruputnya. Daehyun hanya memperhatikan Himyeon yang sedang menyeruput isi cangkirnya dengan tatapan tenang. Seolah dunia adalah Himyeon.

Oppa? Kenapa melihatku seperti itu?” Tanya Himyeon bingung. Ia melihat dirinya sendiri takut-takut ada yang salah dari dirinya.

“Tak perlu khawatir. Kau terlihat cantik jika dilihat dari dekat.” Ceplos Daehyun. Himyeon mengerutkan keningnya sambil memundurkan kepalanya sedikit. Masih mencoba mencerna apa yang dikatakan seniornya itu. “Apa aku kurang jelas berbicara? Kau terlihat cantik hari ini.”

Himyeon membiarkan dirinya dilanda rasa bingungnya. Ditambah lagi Daehyun yang terus memasati wajahnya dengan begitu tenang. Itu membuatnya gugup. Himyeon berpikira ada yang lain dari tatapan mata Daehyun. Seolah dia tak perlu lagi tahu bagaimana wajah namja di depannya ini. Matanya sudah menjadi keseluruhan wajahnya, dan Himyeon suka itu.

“Cantik, mau berjalan pulang bersama?” Tanya Daehyun. Cantik? Kenapa ia memanggilku begitu? Batin Himyeon. Himyeon hanya mengangguk ragu. “Kalau begitu pakailah mantelmu. Lihat, salju sudah turun. Sebentar lagi pasti akan sangat dingin diluar sana.”

Himyeon kembali melihat mata Daehyun. Dia masih memasati Himyeon sambil berjalan sekalipun.

“Kenapa oppa selalu memasatiku seperti itu?” Tanya Himyeon. Meski nafasnya serasa aneh ketika bertanya hal itu.

“Sudah kubilang kau cantik. Aku tak bisa mengalihkan mataku darimu.” Jawabnya kemudian. Himyeon merasa nafasnya semakin sesak ketika Daehyun menjawab dengan kata-kata cantik tersebut. “Apa kau baik saja, cantik?”

“Euh? Tentu saja. aku baik sekali.” Jawab Himyeon dengan gugup. Daehyun memegangi puncak kepala Himyeon. Mata Daehyun terlihat menipis––dia tertawa. Himyeon melihat mata itu dengan jelas. Dan begitu saja ia menyukai mata indah Daehyun.

“Langsunglah tidur. Jangan melakukan apapun lagi. Aku akan datang lagi kesini pagi-pagi untuk menjemputmu.” Himyeon membelalakkan matanya. Menjemput? Baru kenal sehari saja dia sudah menjemputku? Pikirnya. “Tenang saja, cantik. Aku tak akan melakukan apapun denganmu. Lagipula aku kenal dengan oppa-mu. Sampai ketemu besok. Annyeong.”

Ne, oppa. Annyeong.” Ucap Himyeon singkat dan masuk ke rumahnya.

“Lihatlah siapa yang diantar namja sampai depan rumah…” Ejek seorang namja di rumah ketika Himyeon baru saja masuk.

“Bilang saja oppa iri dengannya. Dia bilang dia kenal dengan oppa.” Balas Hanbyul sambil mengeluarkan mehrong-nya.

“Seorang Kim Himchan iri denganmu? Tidak mungkin. Tak apalah, lagi pula aku mengenalnya juga. Dia Jung Daehyun ‘kan? Si manusia masker?”

“Hu… Fakultas kedokteran. Kau tahu apa? Kau bisa menjadi istri yang paling sering ditinggal di rumah karena suaminya adalah seorang dokter.”

Mworago? Suami? Kenal saja baru hari ini.”

“Kalian baru kenal dan dia sudah mengantarmu pulang sampai ke rumah dengan selamat? Dia memang orang yang baik.”

“Sudah diam! Aku lebih baik tidur saja. Daehyun oppa bilang harus langsung tidur.”

“Wuah! Lihat dongsaeng-ku ini sudah menuruti orang yang baru dikenalnya! Baguslah kalau begitu. Tidurlah sana!” Teriak Himchan pada yeodongsaeng-nya yang berlari ke lantai atas menuju kamarnya.

Himyeon merebahkan tubuh mungilnya di ranjang hijaunya. Entah kenapa ia selalu ingin melihat mata Daehyun. Tatapan mata tenang dan hangatnya itu seperti pernah ia rasakan sebelumnya. Apa mungkin hanya sebatas deja vu? Entahlah. Yang jelas itu membuatnya begitu tenang. Hanya dengan mata Daehyun ia terasa dipeluk, ia merasakan kehangatan.

***

Daehyun memperhatikan jam tangannya. Menunggu si ‘cantik’ keluar dari rumah. Ia membuka kaca jendela mobilnya sambil memperhatikan pergerakan pintu yang terbuka.

Oppa? Kenapa menunggu diluar? Harusnya oppa masuk saja.” Kata Himyeon yang baru keluar dari rumahnya.

Anni, gwenchana. Siap untuk pergi, cantik?” Tanya Daehyun. Himyeon mengangguk dengan senyumnya yang mengembang. “Kalau begitu naiklah.”

Ne, oppa.” Himyeon berlari ke pintu depan mobil dan masuk ke dalam dengan semangatnya.

Himyeon’s POV

Aku melihat wajahnya––bukan, tapi matanya. Ia masih menggunakan masker hitam itu. sebenarnya apa yang ditutupinya dariku? Kenapa ia terus menerus menutup wajahnya dariku?

“Ada apa, cantik? Ada sesuatu yang mengganggumu?” Tanya Daehyun oppa dengan lembut. Suaranya… Aku sangat menyukainya. Apalagi ketika ia memanggilku dengan sebutan ‘cantik’. Aku mengenal suaranya. Namun aku tak pernah ingat suara siapa itu.

Anni, oppa. Aku hanya bingung kenapa oppa selalu menutupi wajah oppa dengan masker.” Jawabku jujur. Tak sepenuhnya jujur––sebenarnya penasaran akan wajahnya.

“Kau pasti akan terpesona jika melihatku melepas maskerku.” Balasnya. Memang setampan apa dia?

Oppa ini…” Hanya itu jawabanku. Ya, aku mengakuinya. Dia tampan––tidak, matanya sangat tampan.

Himyeon’s POV End

***

Hari berganti minggu. Minggu sudah terlewat bulan. Sudah sekitar 2 bulan semenjak kejadian bertemunya Himyeon dengan Daehyun kala itu. dan sudah 2 bulan juga Daehyun dekat dengan Himyeon. Sejauh itu juga Himyeon belum pernah melihat wajah pujaan hatinya, Daehyun.

Hari itu dingin sangat menusuk. Daehyun menggenggam tangan mungil Himyeon di kedai kopi antik yang sering mereka singgahi.

“2 minggu lagi aku akan melakukan operasi.” Ucap Himyeon di sela-sela pembicaraan Daehyun tentang susahnya masuk fakultas kedokteran.

Mwo?” Tanya Daehyun meyakinkan.

“Aku sudah pernah bercerita dengan oppa bukan, bahwa jantungku sudah rusak karena kecelakaan tersetrum itu?” Tanya Himyeon balik. Daehyun mangangguk.

Dua tahun yang lalu, Himyeon sedang mandi di bathub dengan santainya. Menikmati hangatnya air sambil mengeringkan rambutnya yang baru saja ia cuci bersih. Tiba-tiba saja ponsel Himyeon berdering yang membuat dirinya terkejut dan tiba-tiba hairdryer yang dipegang Himyeon jatuh ke dalam air di dalam bathub dan membuatnya tersetrum. Untung saja ia sempat berteriak dan Himchan menyelamatkannya dengan cepat.

“Aku akan melakukan operasi untuk perbaikan jantung. Aku tahu jantungku memang tak akan bertahan lama. Tapi… Aku masih ingin hidup. Aku ingin hidup.” Airmata berhasil jatuh dan merubuhkan tembok pertahanan di kelopak mata.

“Hey… Dengarkan aku. Kau pasti akan hidup, cantik. Kau tahu ‘kan bagaimana aku mencintaimu?” Daehyun langsung memundurkan kepalanya. Ia menceploskannya, dan itu tanpa ada kesengajaan. Himyeon yang mendengarnya pun terkejut.

“Heu?”

“Huh… Saranghae. Would you be mine?” Daehyun sedikit gugup––ralat, sangat gugup. Kepalang sudah, ia sudah mengatakan bahwa ia mencintai Himyeon. Itu berarti sama saja ia harus menyatakan cintanya hari ini. Himyeon mengembangkan senyumnya. Kali ini simpul, namun lebih lemah. Ia mengangguk.

Mata Daehyun bersinar. Berubah menjadi terang. Ia senang bukan main. Jika bukan karena ada banyak pengunjung disini, ia mungkin sudah berteriak dan meloncat kegirangan.

Sesi tembak-menembak telah berakhir. Daehyun mengantarkan Himyeon pulang dengan sumringahnya. Mereka bercanda satu sama lain mengingat masa lalu sebelum mereka mengetahui bahwa ternyata cinta mereka terbalas.

“Langsunglah tidur. Jangan lagi meneruskan membuat lagumu itu. Ini sudah terlalu malam untuk melakukannya. Saranghae.” Pesan Daehyun pada kekasihnya sebelum kekasihnya itu pergi keluar dari mobilnya.

Oppa, kemari sebentar?” Pinta Himyeon. Daehyun mendekatkan wajahnya pada Himyeon. Himyeon langsung mencium bibir yang terbalut masker itu dengan kilat. Wajahnya memerah dengan sempurna. Darahnya mengalir tak beraturan. “Aku pergi ya!”

Daehyun dengan tiba-tibanya menarik tangan Himyeon dan membuka maskernya. Ia langsung mencium bibir Himyeon dengan lembut. Himyeon yang terkejut hanya bisa diam. Memang benar adanya bahwa kekasihku ini tampan. Pikirnya. Himyeon menutup matanya kemudian melingkarkan tangannya pada leher Daehyun.

“Aku tampan ‘kan, cantik?” Tanya Daehyun. Himyeon tersenyum dan mengangguk malu. Daehyun memegang puncak kepala Himyeon.

“Aku pergi dulu ya. Annyeong!” Teriak Himyeon di tangga luar rumahnya. Daehyun hanya melambaikan tangan sambil tersenyum. Himyeon menyunggingkan bibirnya hingga ke ambang pintu––sampai ke dalam rumah malah.

“Malam sekali kau pulang. Kau melakukan apa dengannya?” Tanya Himchan berlagak sok detektif.

“Aku tak melakukan apapun, jelek! Aku mau tidur.” Bentak Himyeon kemudian berlari ke kamarnya seperti yang biasanya dikerjakan olehnya.

Himyeon langsung membasuh dirinya dengan air hangat, mengganti bajunya dan tertidur di ranjangnya empuknya. Tak lupa ia memasangkan selimut agar suhu tubuhnya hangat.

“Adik kecil?” Tanya Himchan yang melihat adiknya sedang tertidur di ranjang. “Syukurlah kau sudah tidur.” Himchan mendekat pada Himyeon yang tertidur dengan pulasnya.

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu… Tapi kau tahu aku menyayangimu, bukan? appa dan eomma belum siap menerimamu di atas sana. Mereka masih ingin melihatmu hidup, mempunyai anak dan punya banyak cucu. Jadi kuatkanlah tubuhmu saat melakukan operasi itu.” Himchan menangis, benar-benar menangis.

Apa yang kira-kira akan dilakukannya jika ia kehilangan adik kesayangannya ini? Ia tak mungkin bisa hidup lebih lama. Appa dan eomma mereka yang sudah meninggal akibat kecelakaan pesawat kala itu membuat mereka berdua terpukul. Untung saja Himchan sudah mendapatkan hak milik perusahaan appa­-nya. Ia jadi bisa menghidupi dirinya dan adiknya.

Namun jika seandainya Himyeon tak ada lagi, siapa yang akan menemaninya untuk terus hidup?

“Bertahanlah demi oppa, Yeonnie…” Himchan mencium kening Himyeon lembut dan mematikan lampu kamar Himyeon yang tadinya dibiarkan menyala oleh Himyeon.

***

 

I just can’t understand…

I just know how much i love you.

Will god guide you to me know?

-Jung Daehyun

Oppa, aku ingin eskrim itu!” Teriak Himmyeon seperti anak kecil karena Daehyun melarang Himyeon untuk memakan eskrim di cuaca dingin seperti ini.

“Cantik, itu dingin. Dan cuacanya begitu dingin. Kau mau sakit, ha?” Tegur Daehyun kesekian kalinya. Himyeon mengeluarkan puppy eyes-nya.

“Sekali saja, oppa…” Rengek Himyeon pada Daehyun. Daehyun menghela napasnya dan menarik Himyeon menuju ke sebuah toko eskrim.

“Hanya kali ini saja di musim ini. Selanjutnya, jangan lagi membujukku dengan puppy eyes.” Ucap Daehyun mengingatkan. Namun Himyeon hanya terdiam. Ia tak bergerak sama sekali.

Terdengar suara sesak dirinya.

“Yeonnie?” Tanya Daehyun memastikan. Himyeon mendesah menahan kesakitannya. “Kim Himyeon.” Daehyun langsung menggendongnya ke dalam mobil dan menyetir mobilnya secepat yang ia bisa.

Daehyun bolak-balik di ruang tunggu. Himchan hanya berdiri bersandar di dinding sambil memegang kepalanya yang sakit.

“Kenapa kejadiannya harus sama?” Tanya Daehyun. Himchan menengok pada Daehyun. “Kenapa terjadi yang kedua kalinya?”

“Tenanglah Daehyun.”

“Semua kejadian ini persis dengan cerita masa lalu Himyeon.”

“Kau yang merencanakan semuanya.”

“Tapi bukan begini, hyung! Aku hanya melakukan apa yang dianjurkan oleh dokter. Mereka ulang kejadian masa lalu yang terlupakan bisa mengembalikan sisa memorinya yang hilang. Tapi kenapa jadi malah persis? Bagaimana aku bertemu, bagaimana aku menjadi namjachingu-nya, bagaimana aku membelikan eskrim untuknya, bahkan perkataannya sama persis dengan masa lalu.”

“Dae… Dengarkan aku. Ia akan selamat. Sudah banyak donor yang diberikan untuknya.”

“Aku hanya merasa tak yakin kali ini, hyung.” Daehyun terduduk di kursi ruang tunggu. Ia menangis begitu saja dengan masih menutupi wajahnya dengan masker.

“Kalau begitu yakinkan dirimu sendiri.” Ucap Himchan tegas. Ia merasa takut, dan rasa takutnya itu ia tutupi dengan kata-kata tersebut.

“Siap untuk menunggu operasi?” Tanya seorang suster. Keduanya terbelalak.

“Apa harus sekarang?!” Tanya Daehyun panik. Suster tersebut hanya mengangguk. “Sial!”

“Lakukan secepatnya. Aku akan membayar lebih untuk itu.” Sela Himchan. Daehyun mendekat pada Himchan. Sementara suster tersebut langsung masuk ke dalam dan memberitahu dokternya.

Hyung… Apa kau yakin?” Tanya Daehyun. Himchan mengangguk, namun masih ada ragu di gerakan tubuhnya tersebut.

Setelah lebih dari 5 jam menunggu. Dokter keluar. Wajahnya tak senang, namun tak juga sedih.

“Ia mengalami semacam komplikasi yang membuatnya koma.” Jelas dokter.

“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya Himchan.

“Dia masih sangat kritis. Kita belum bisa mengetahui lebih lanjut sebelum ia bangun. Jika… Ia berhasil bangun.”

Mwo?!” Teriak Daehyun bertambah khawatir. Si dokter meninggalkan kedua orang yang sedang menahan perasaannya itu.

***

Daehyun masuk ke dalam ruangan dimana Himyeon terbaring tanpa kesadarannya. Ia menangis––untuk kesekian kalinya. Sudah beberapa minggu ini Himyeon belum juga sadar.

“Yeonnie… Kau disana? Kata orang, ketika kita sedang berbicara pada seseorang yang tak sadarkan diri, mereka akan mendengarkan. Apa kau mendengarku sekarang? ini terlalu memalukan, bukan? menangis di depanmu seolah aku ini bukan namja. tapi apa kau tahu? Aku sedang menangis bahagia. Menangis karena aku bisa bertemu lagi denganmu. Menangis karena aku berhasil menjadi milikmu lagi.” Daehyun terisak. “Kau disana, cantik? Sembuhlah, sayang. Kurasa Himchan sudah mulai mengeluh karena kau terlalu lama tidak bangun. Padahal dia sudah membelikan begitu banyak masakan ayam untukmu jika kau bangun. Dan juga begitu banyak eskrim di kulkas rumahmu. Ketika kau sadar, kau pasti akan menjadi gemuk.”

Daehyun benar-benar tak bisa menahan tangisnya. Ia membuka maskernya dan mengecup kening Himyeon.

“Kembalilah untukku… Cantik.” Bisiknya di telinga Himyeon.

***

Himyeon’s POV

Aku mengingat bagaimana pesan terakhir eomma padaku kala itu. Percakapan sederhana antara anak berumur 8 tahun dengan ibunya.

“Pentingkanlah dahulu orang lain, baru dirimu sendiri.”

“Kenapa, bu? Harusnya ‘kan kita mendahulukan diri kita dulu…”

“Apa kau bisa hidup tanpa adanya orang lain? Tentu tidak ‘kan?”

“Iya ya… Tidak mungkin.”

“Jadi, doakanlah mereka dahulu, barulah dirimu.”

“Aku mengerti ibu…”

Tuhan… Aku mendoakan appa dan eomma. Walau hanya sekilas mengenal mereka… Mereka tak kalah dengan awan yang melindungiku dari cahaya matahari. Berikan mereka kehidupan yang setara dengan jasanya selama ini…

Tuhan… Tolong jagakan Himchan oppa. Yang terlalu sering pergi ke kamarku dan mencium keningku. Ia juga yang mengelus helai rambutku jika sesuatu terjadi padaku. Atau ketika aku sedang tak bisa tidur. Ia yang menghidupiku selama ini. Yang menghajar sunbae di sekolahku ketika mereka sedang ingin menggangguku. Walaupun ia sangat menyebalkan, tapi ia orang yang kusayang juga, Tuhan.

Terakhir… Tolong titip Daehyun oppa. Dia yang tanpa menyerah mengingatkanku soal dirinya. Dia yang tanpa lelah mengukir kembali sejarah cinta yang lama hilang dari benakku. Ingatkan dia untuk tidak bersedih Tuhan. Berikan ia imbalan karena telah memilihku dari beribu orang yang bernama Kim Himyeon. Katakan padanya aku telah mengingat semuanya. Bagaimana ia mereka ulang kejadian masa lampau yang sempat kulupakan. Bagaimana ia menciptakan tatapan hangat yang harusnya sudah kusadari dari dulu bahwa ia sedang mengingatkanku pada seseorang. Pada seorang Jung Daehyun, kekasihku…

Selama ini… Ternyata yang kurasakan setiap hari hanyalah reka ulang film lama yang tak tuntas. Dan akhirnya… Disinilah ketuntasan tersebut ditemukan. Aku tak sadar bahwa Daehyun dan Himchan oppa sedang berusaha untuk membuatku ingat tentang Daehyun oppa. Dan bodohnya aku baru saja mengingatnya ketika aku hendak dibelikan eskrim olehnya. Bodohkah aku, Tuhan?

Tuhan, aku hanya ingin bangun sebentar saja untuk menulis kekata ini pada mereka. Boleh ‘kan? Hanya untuk beberapa menit saja. Aku tak akan menuntutMu untuk memaksakan aku bertemu dengan mereka langsung. Tapi… Pertemukan saja mereka dengan surat yang kubuat di hari Kamis dini hari ini.

Himyeon’s POV End

***

Daehyun’s POV

Aku membacanya. Di depan gundukan tanah yang masih baru. Bodohnya aku yang seharusnya memberikan jantungku padanya saja. masih bisa kulihat Himchan yang terlihat tak mampu lagi mengeluarkan airmata. Ia mengelus nisan yang baru saja dipasang itu.

Kau tahu aku tak bisa, cantik? Aku tak bisa untuk berpura kuat kali ini. Aku tak bisa berpura mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Kali ini biarkan aku menangis larut dalam sedihku. Hanya kali ini saja, yang tak kutahu kapan berakhirnya.

Dan sekarang… Haruskah aku menyukai eskrim? Haruskah aku datang ke kedai kopi antik itu lagi untuk memesankan kopi yang biasa kita minum? Haruskah… Aku tak bersedih sekarang?

Daehyun’s POV

In the name of love.

Loving you is too hurt for me.

Loving you is a mistake.

Loving you is a point when dissapoint come.

Should i not crying right now?

-Jung Daehyun.

 

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

THE END

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s