I Had a Crush


ihadacrus

Tittle : I Had a Crush
Author : Ilachan
Cast : You and EXO
Genre : School life, Comedy, Fluff
Rating : PG-13
Length : Vignette
Disclaimer : This story belong to me !! Jika ada persamaan watak, alur, atau plot, itu tanpa kesengajaan.

 Warning : Author telah mempublish fanfic ini di tiga blog sekaligus dan salah satunya adalah di blog probadi author, jadi ini sama sekali bukan tindakan plagiasi

Iruza Izate present @2013

~

You POV

Siapa bilang punya teman dekat yang sebagian besar dari mereka adalah namja mereka akan memperilakukanmu bak putri?
siapa bilang kalau kau punya banyak teman namja itu berarti kau akan mudah mendapatkan namjachinggu?

Kalau kalian berpikir itu semua benar, percayalah padaku. Itu semua hanya mitos.
Hal ini sepenuhnya terjadi padaku. Entah sejak kapan kehidupanku hanya berputar di kalangan namja. Dirumah aku hanya tinggal bersama ayah dan oppaku – Kris, tentu saja membuat diriku mendapat predikat paling cantik dirumah. Teman hangout? Mereka adalah teman-teman yang baik namun mereka cukup berisik dan tak jarang bertingkah konyol dan idiot, Luhan, Jong Dae, Lay dan Xiumin  adalah pelakunya.

Dan pernahkah aku berpikir untuk mencoba berteman baik dengan yeoja? Ya aku pernah. Tapi itu berahir tak baik, aku tak terlalu mengerti dengan jalan pikiran yeoja yang tak bisa berpikir simple dan selalu membicarakan namja disetiap kesempatan. Jujur, itu menggangguku.
Sampai saat aku duduk di kelas dua sekolah menengah atas, aku tetap saja belum mendapatkan kriteria namjachinggu yang pas untukku. Meskipun teman-temanku banyak membantu tapi itu tak sepenuhnya membantuku, mereka justru membuat semua rencana kacau saat mereka mencoba membantuku menemukan teman kencan.

Jadi apa factor yang membuatku belum menemukan namja chinggu?

“Aku menduga ada beberapa kemungkinan kenapa kau masih saja belum mendapatkan namjachinggu.” Ucap Jongdae seketika membuat mata kami menatapnya penasaran. Saat ini, aku bersama geng kecilku sedang menyantap makan siang di meja kantin biasanya, dan membahas tentang aku yang mereka anggap kasihan karena masih belum saja mencapatkan namjachinggu hampir dalam kurun waktu satu dekade. Baiklah sepertinya ini berlebihan.

“Jadi apa itu, tuan peramal?” ujar Luhan nampak tertarik dengan topik ini.

“Dia.” Jongdae menunjuk mukaku.”adalah seorang lesbian.”  Sekarang meja itu penuh dengan gelak tawa. Bahkan Xiumin yang kini duduk disampungku hampir terjatuh dari kursinya. Perlu kalian tahu, selain idiot mereka adalah orang yang menjengkelkan.

“Yak!!” Aku hampir saja menyemburkan makanan yang ada di mulutku. “Apa kau mau kau kukubur hidup-hidup?”

“Oh, lihat saja bagaimana dia berbicara.” kata Luhan yang sekarang sepertinya berpihak pada Jongdae, “Apakah ada yeoja yang berbicara kasar sepertinya.”

“Bukan hanya itu luhan.” Kata jongdae menambahi, cengirannya masih lekat di wajahnya. “mungkinkah dia ternyata menyukai salah satu dari kita?”

“Kalian bercanda.” Kataku jengkel melihat mereka. “Aku tak mau berkencan dengan orang-orang idiot seperti kalian. Karena kalian sepenuhnya bukanlah tipeku.”

“Jadi, kau punya tipe tertentu?” kata luhan langsung pada poinnya.

Aku mengangguk. “Tentu saja.”

“Jadi kau sebenarnya sedang menyukai seseorang?” kata Xiumin berbahaya. Aku membeku, sebenarnya iya. Aku sedang menyukai seseorang tapi mengatakannya pada mereka adalah pilihan terahir yang aku dapatkan, mengingat mereka ceroboh dalam berbicara dan tak dapat menjaga rahasia baik-baik.

“Ah…” kata Luhan menatap tajam padaku, “rupanya benar ada seseorang yang kau sukai?”

“A-ani, hanya saja aku belum mendapatkan…”

“Apakah orang yang kau sukai itu adalah Byun Baekhyun?” ujar Lay innocently yang sukses membuatku menjatuhkan sendok dari genggamanku, membuat suara dentingan yang cukup memekakkan telinga.

“Binggo!” kata Luhan.

“Tidak… aku tidak.” Kataku panic, namun kemudian berjengit setelah Xiumin menepukkan tangannya di bahuku memintaku untuk tenang.

“Kita akan membantumu lil dongsaeng.” Katanya tersenyum, yang lebih seperti seringai. Aku tersenyum getir. Entah kenapa aku punya feeling tak mengenakkan tentang ini.

***

Byun Baekhyun. Harus bagaimana aku mendeskripsikan namja ini?

“Dia tampan, pintar dan sopan. Sudah itu saja yang bisa ku ingat tentangnya. “

“Hanya sebatas itukah perasaanmu padanya?” ucap Jongdae padaku suatu ketika kita berada di kelas, Lee songsanim meninggalkan 20 soal matematika sebelum dia pergi meninggalkan kelas. Dan sekarang, apa yang dilakukan Jongdae? Dia malah mengintrogasiku alih-alih mengerjakan soal yang usai jam pelajaran akan dikumpulkan.

“Apa maksudmu?” ucapku pura-pura tak peduli, sebenarnya mencoba mencari celah untuk mencari topik lain. Namun sialnya Jongdae bukanlah tipikal orang yang gampang dibodohi.

“Ayolah, kau mencintainya bukan?”

“Tidak.”

“Kau berbohong!”

“Jongdae, tidak!”

“Oh, alangkah baiknya kau tutup mulut. Kau benar-benar mencintainya.”

“Kau yang tutup mulut Jongdae.”

“Aku punya ide!” ujar Jongdae keras, separuh kelas memperhatikannya. “Bagaimana kau yang tutup mulut.”

“Kau sudah mengatakannya.” kataku malas menanggapinya. Sudahkah aku katakan, kalau jongdae adalah orang yang paling mengesalkan diantara teman-temanku yang lain hingga ku juluki dia trolldae? Setelah kupertimbangkan nama itu sepertinya cocok juga dengannya, mengingat dia punya bakat menaikkan tensi darah orang begitu cepat dalam waktu singkat.

Beberapa saat berlalu, aku sudah tak peduli apa yang dilakukan Jongdae selanjutnya. Aku hanya menyibukkan diri mengerjakan soal matematika dan kini aku sudah sampai di nomer tujuh, hingga jongdae kembali membuka pembicaraan dengan seringai jahil khas-nya.

“Hei, aku punya ide.”

“Apa kau tak punya ide lain selain menyuruhku tutup mulut?”

Jongdae berdecak tak sabar, kemudian melanjutkan bicaranya. “Ini ide brilian pabo!”

“Oke, kuharap kau tak mengecewakanku. Semoga idemu ini bisa membantu mengerjakan dua puluh soal matematika dalam kurun waktu kurang dari dua jam.” Namun Jongdae menggeleng, apa lagi sekarang?

“Ini lebih penting dari matematika.”

Hei apa yang lebih penting dari matematika? Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang harus kau sandang predikat lulus kalu kau ingin naik tingkat. Jadi apa yang lebih penting selain mengerjakan tugas matematika untuk saat ini?

***

Trolldae adalah orang pertama yang ingin aku ikat dan kulemparkan di kolam penuh ikan piranha. Luhan adalah orang pertama yang ingin aku gantung di tiang pemancar. Xiumin adalah orang pertama yang ingin lipat di dalam koper dan kubuang entah di negara mana. Dan Lay, meskipun sebenarnya dia tidak ikut dalam kekacauan ini, setidaknya dia telah membuatku kecewa karena dia sama sekali tak membantuku tapi malah memberikan kesempatan trio-trouble maker itu, sehingga aku ingin menggigit jarinya sampai putus.

Tapi, itu semua hanya angan saja. Lihatlah apa yang telah mereka perbuat padaku? Lihatlah bagaimana mereka membuatku malu pada diriku sendiri sampai-sampai aku ingin bisa menghilang dan ber migrasi ke exo planet yang demi jenggot merlin planet itu tidak ada. Lihatlah apa yang mereka telah lakukan hingga kakiku bergetar, sampai susuah menopang berat badanku sendiri. Lihatlah bagaimana mereka menertawaiku dibalik semak-semak. Dan lihatlah apa yang mereka rencanakan selama ini.

Mereka menjebakku untuk bertemu berdua bersama Baekhyun.

Gelagat mereka yang aneh sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa hari yang lalu. Mungkin karena sifatku yang terlampau cuek dan tak perduli sekelilingku inilah yang membuat boomerang untukku. Sebenarnya aku tahu kalau mereka merencanakan sesuatu tapi aku terlanjur tak ingin menyibukkan diri  dengan ide konyol jongdae, hingga akhirnya aku tau apa yang mereka rencanakan.

H-2, Luhan diam-diam menulis surat cinta. Demi kaca mata Chanyeol yang hampir patah, luhan menulis surat cinta itu atas namaku yang sepulang sekolah ia selipkan di lubang loker milik Baekhyun. Tentu saja, aku tak tahu hingga sampai saat ini. Kau tau apa yang terjadi keesokan harinya?

Pagi sekali sebelum bell masuk kelas dimulai, Baekhyun menyapaku. Aku yang terheran-heran karena seumur hidup aku mengenal dia aku tak pernah bertegur sapa dengannya, tiba-tiba sepagi itu aku sudah mendapatkan senyuman malaikatnya bersama ucapan selamat pagi. Mungkin teman-temanku mengira kalau aku masih hidup, ya secara jasmani aku masih hidup. Tapi rohku sepertinya sudah melayang menghilang entah kemana setelah eye-contact dengan Baekhyun. Roh ku rupanya kembali setelah pelajaran dimulai dimana Jongdae menyikutku dengan seringai. Sungguh bodohnya aku saat itu, harusnya aku tahu kalau itu semua adalah rencana idiot-idiot itu minus Lay.

H-1, Siang harinya, kali ini Xiumin yang beraksi. Tanpa sepengetahuanku dia bertemu dengan Baekhyun dan mengatakan sesuatu entah apa. Luhan tidak menceritakan detailnya, tapi yang jelas itu adalah salah satu bagian dari rencana mereka. Kalian tau apa yang terjadi berikutnya? Dompetku secara misterius menghilang, otomatis aku tak punya uang untuk membayar bis untuk pulang. Anehnya lagi, Baekhyun secara ajaib tiba-tiba datang bersama mobilnya menawariku tumpangan tepat saat aku akan menelfon Kriss untuk memintanya menjemputku.

Dan hari ini tepatnya saat ini dan detik ini, rencana mereka ada pada puncaknya. Beberapa saat yang lalu aku di seret paksa keluar rumah oleh Xiumin dan Luhan dengan alasan meminta bantuan entah apa. Mereka mendorongku tubuhku kedepan pintu rumah orang yang tak tahu siapa pemiliknya.

“Ini rumah siapa Umin?”

“Ssstt! Tugasmu saat ini hanyalah berdiri disini dan menunggu pemilik rumah membukakan pintunya.” kata Xiumin buru-buru, Luhan beberapa saat mencoba menahan kikik-nya namun tak berhasil. Aku menatap mereka berdua curiga dan merasakan tubuhku seperti tersengat listrik.

Apa ini rumah Baekhyun?

Beberapa saat kami bertiga hanya saling bertatapan satu sama lain. Sedetik kemudian, aku mencoba melarikan diri dari tempat ini sejauh mungkin sebelum si pemilik rumah menyadari kegaduhan kecil telah terjadi di balkon rumahnya. Namun tak berhasil. Luhan dan Xiumin menangkap kedua lenganku masing-masing dikanan dan kiri.

“Ya! Lepaskan aku, kalian pikir apa yang kalian lakukan?”

“Sudah kami bilang, tugasmu hanya berdiri disini.” kata Luhan diantara seringainya. Beberapa saat aku berkutat dengan mereka. Dengan sekuat tenaga aku mengerahkan diriku untuk melawan mereka dan lari dari sini, tapi seorang yeoja melawan dua orang namja sekaligus itu adalah mustahil. Salah satu tanganku telah bebas dari mereka, tapi itu semua terlambat. Luhan telah mengetuk pintu rumah itu beberapa kali. Tanpa kusadari Luhan dan Xiumin seketika berlari dari situ membiarkan aku yang berdiri mematung, terkejut dengan penampakan seseorang yang berdiri di balik pintu rumah itu.

Byun Baekhyun.

Aku terlambat. Ya, aku terlambat berlari dari sini. Oh, lihat saja apa yang nanti aku lakukan pada mereka semua.

“Kau sudah datang rupanya.”

Ha? Apa yang namja ini katakan? Apakah itu berarti dia menungguku?

“Eh, A-aku..” aku tergagap, tak tau apa yang harus aku katakan berikutnya. Isi otakku hanyalah sumpah serapa yang ingin aku ucapkan di depan muka idiot-idiot itu.

“Kau siap kita pergi sekarang?” kata Baekhyun, bahkan kini dia menambahkan senyuman di akhir kalimatnya. Oh apa aku sekarang bermimpi. Tunggu sebentar, dia bilang kita akan pergi?

“Memangnya kita akan pergi kemana?” ujarku Innocently. Jangan salahkan aku pada situasi saat ini sifat dasar Lay menular padaku.

Baekhyun tertawa renyah kemudian mengacak rambutku dengan riang. “Bukankah kita akan pergi berkencan? Temanmu Xiumin yang bilang padaku.”

Xiumin?? oh, Dia sekarang ada di daftar pertama orang yang akan aku bunuh.

“Oh.” kataku nervous, aku tak tahu harus berbicara apa lagi karena saat ini otakku penuh dengan pertanyaan cara apa yang paling jitu untuk membunuh si baozi itu.

“Baiklah ayo kita pergi.” ujar Baekhyun, dia menggenggam tanganku tanpa ragu menarikku berjalan bersamanya. Entahlah bagaimana aku mendeskripsikan perasaan ini. Yang jelas aku senang sekali. Ini adalah pertama kalinya aku berkencan. Meskpun aku sering berjalan berdua dengan namja, entah itu Jongdae, Luhan, Xiumin, atau Lay tapi berjalan berdua bersama Baekhyun rasanya berbeda. Dia memperlakukanku layaknya yeoja, tak seperti teman-temanku yang biasanya memperlakukanku seperti namja. Bahkan parahnya di sela candaan mereka, Jongdae kadang menyebutku Hyung.

Tak banyak kegiatan yang aku dan Baekhyun lakukan saat berkencan. Karena situasi “awkward” menyelimuti kita. Yeah, kita hanya pernah bertegur sapa sekali dan tiba-tiba kita dipertemukan kembali di acara kencan jebakan. Aku benar-benar merasa ingin meminta maaf pada Baekhyun karena sepertinya dia juga menjadi korban dari kejahilan teman-temanku. Haruskah aku berbicara terus terang padanya?

“Baekhyun-shi.” kataku lirih, tak berani menatapnya langsung. Kami berdua kini duduk di bangku taman dipinggir sungai Han, membiarkan matahari sore keemasan menerpa kulit kami.

“Ne?”

“Aku ingin bicara penting. Kuharap kau mendengarkan penjelasanku baik-baik.”

“Ne, aku akan mendengarkan.” kata Baekhyun tenang, disudut mataku aku melihatnya tersenyum meyakinkanku. Oh, lama-lama aku kena diabetes.

“Sebenarnya aku tak mengajakmu berkencan.” keheningan menyusul setelah kalimatku. Dengan canggung aku tetap melanjutkan. “Surat cinta yang ada di lokermu atas namaku itu, juga bukan aku yang menulisnya. Dan Xiumin yang mengatakan kalau aku mengajakmu berkencan itu kesalahpahaman. Xiumin sendiri yang punya inisiatif itu. Dan tadi siang saat aku berdiri di depan rumahmu, Luhan dan Xiumin lah yang menggeretku sampai disitu. Aku tak menyangka kalau itu adalah rumahmu.”

“Joungmal mianhe Baekhyun shi.” ujarku lirih, aku takut kalau perkataanku barusan malah menyakitinya. Aku takut perkataanku barusan malah membuatnya benci padaku bukannya malah suka padaku. Aku takut perkataanku barusan malah membuatnya menjauh padaku disaat aku dan Baekhyun mulai dekat satu sama lain. Aku takut.. takut sekali..

“Aku sudah tau..”

Aku menatap Baekhyun tak percaya. Apa aku tak salah mendengarnya? Baekhyun balas menatapku, dia tersenyum padaku meyakinkan. “Benarkah?”

Dia mengangguk kemudian berkata “Aku tau yeoja seperti apa kau itu, kau adalah salah satu tipe hard to get.”

“Lantas, kalau kau tahu semuanya, kenapa kau mau pergi denganku? Kau bisa menolaknya.”

“Karena…” Baekhyun menghela nafas, dia memenggal kalimatnya sedikit lama.”Aku menyukaimu.”

Jantungku melompat senang seolah ingin keluar dari dada. Aku menunduk, jujur, tersipu malu. Aku yakin banyak darah mengalir disekitar wajahku, yang kini pasti semburat kemerahan. Harus biacara apa lagi aku padanya. Kalaupun Jongdae yang berucap seperti itu, mungkin aku akan mengigit telunjuknya. Tapi kalau Baekhyun yang berkata dia menyukaiku, apakah aku harus menggigit jarinya juga? Oh, lebih baik aku menggigit jariku sendiri.

Disampingku, Baekhyun tertawa. Kulihat dia ternyata memperhatikanku.

“Wae?”

“Kau lucu sekali.” ujarnya. Dia pasti tertawa karena melihatku menggigit telunjukku sendiri. Buru-buru aku melepaskan gigitanku, kemudian dia kembali melanjutkan perkataannya. “Apa kau juga menyukaiku?”

Oke, ini adalah sensasi aneh kedua yang aku rasakan dalam kurun waktu kurang dari setengah jam. Aku merasa perutku jatuh tak nyaman. Aku memang menyukainya, tapi haruskah aku berkata kalau aku juga menyukainya? Aku mencoba untuk menghela nafas namun sepertinya tak bisa. Paru-paruku tak bekerja normal sepertinya. Akhirnya aku hanya mengangguk ringan.

***

“Hey lil dongsaeng, bagaimana pengalaman kencan pertamamu?” ujar Luhan terlampau antusias.

Kini kita berlima dipertemukan kembali di waktu makan siang di meja kantin seperti biasanya. Sebagaian dari mereka menyeringai penuh kemenangan tak terkecuali si lesung pipi Lay.

“Ya.. begitulah.” kataku acuh, kini mulai menyantap hidanganku. Diantara mereka mengeluh tak puas dengan jawabanku.

“Hey, tidak bisakah kau bercerita pada kami?” ujar Jongdae.

“Sehariusnya kau berterimakasih pada kami karena membuatmu dekat dengan Baekhyun.” ujar Luhan

“Setelah ku pikir, harusnya aku menambahkan alat pengintai padamu.” guman Xiumin.

“Apa kau benar-benar pergi berkencan kemarin?” kini Lay ikut berbicara, Jongdae, Luhan dan Xiumin langsung menatapnya tajam “Hey, aku benar-benar tidak tahu.”

“Semuanya dengarkan aku. Aku ingin berbicara penting pada kalian.” Seketika semua perhatian mereka tertuju padaku. Aku tersenyum pada mereka dan mencoba untuk tidak tertawa. Oh, ini adalah hari yang aku tunggu, beberapa saat lagi kalian akan merasakan pembalasanku.

“Aku punya berita bagus. Oppa Kris menyerahkan kepemilikan cafe atas namaku. Dan itu berarti mulai hari ini kalian bekerja di bawah naunganku.” Aku tersenyum penuh kemenangan dan begitu bahagia rasanya melihat ekspresi kecewa mereka.

“Maldo Andwe!!” Ujar Xiumin, mengerang dan menggaruk rambutnya frustasi. Jongdae membenturkan kepalanya di meja makan, Luhan membuka mulutnya lebar sambil menatapku tak percaya. Sedangkan Lay.. “Wah, Selamat, kau sekarang menjadi manajer baru.” dia memberikanku jabat tangan dan dengan senang hati aku terima.

“LAY!!!!”

-End-

Tolong beri tahu aku kalau ini fanficnya nggak gaje-gaje amat.😀 bagian mana yang kalian suka?

Aduh, entahlah kenapa bukannya ngelanjutin fanfic yang ada aku malah bikin satu lagi oneshot gak jelas. haha tapi tak apa lah semoga menghibur reader. Please Read, Like, and Comment ^^

Udah gak tau mau ngomong gimana lagi aku. haha

Anyeong😀

9 thoughts on “I Had a Crush

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s