I’am Behind You (그대 뒤에 있읍니다)


i'ambehindyou

Author             : @Ismisangeun

Main cast         : Sandara Park 2NE1. Kwon Jiyoung (G-Dragon) Big Bang.

Other cast        : Park Chundoong (Thunder MBLAQ)

Genre              : Angst,Romance

Rating             : PG-15

 Type                :

Disclaimer       :

            Penggunaan dan karakter pemain hanya karangan author belaka untuk mendukung FF ini *no Bashing*, Bila tema,alur cerita ada kesamaan dengan karya lain itu hanya kebetulan. Karya ini murni asli hasil inspirasiku *NO PLAGIAT*.

 

 

-@@-

            Awan-awan gelap berjalan dengan pasti menyelimuti langit kota Seoul. Beberapa burung terbang panik mencari tempat mereka untuk bertedu. Sesekali angin kencang menghempus keseluruh lorong jalan kota Seoul. Jalanan juga tampak sepi, orang-orang sudah menyembunyikan diri ke tempat yang aman untuk tempat mereka bertedu. Sesekali beberapa petir kecil menyambar tanda hujan lebat akan turun.

 

 

            Chundong sedang berusaha keras melawan penyakit yang selama ini menggrogoti dirinya. Tak lama paras gadis cantik dengan sangat fasion masuk kesana.

“Apa kau sudah minum obat?” Tanya Dara.

“Ne, Nuna~” Chundong tersenyum tipis.

“3 kali terapi lagi pasti akan sembuh?” lanjut Dara mengelus pelan kepala adiknya itu.

“Tapi?” Chundong tampak khawatir.

“Sudah tak apa? Aku akan mengurusnya kau tenang saja.” Hibur Dara.

           

Ya, memang benar keluarga Dara sekarang ini sedang mengalami bangkrut, sekarang hanya rumah yang mereka tempati dan seluruh isinya. Yang mereka punya, tanah dan asset lainnya sudah terblokir renternir untuk membayar hutang perusahaan keluarganya. Kini ‘Hyeosung Corp’ hanya tinggal namanya saja.

            Ayah Dara memandangi papan presdir di depan meja kerjanya. Dara masuk untuk mengecek keadaan ayahnya.

Appa?” Tanya Dara.

“Kemasi semua barang dan asset yang tersisa. Rumah ini selanjutnya kita akan pindah ke Mokpo.” Jawab Ayah Dara.

 

 

            Bagai petir menyambar telinga Dara, kehidupan mewahnya sebentar lagi akan berganti menjadi kehidupan orang miskin setelah tinggal di Mokpo.

“Ne, aku sudah menjual mobil, tas, sepatu dan baju-baju mahalku. Uang ini akan aku gunakan untuk terapi Chundoong.” Jelas Dara kemudian pergi.

 

 

-@@-

 

            Disisi lain seorang pria dari kalangan kolongmerat lainnya sedang menikmati permainan goflnya ditengah cuaca seperti ini.

“Tuan Muda? Anda harus kembali untuk menghadiri rapat?” ucap salah seorang bawahan Ji Young.

“Seung Ri-ah , lanjutkan tembakamu.” Jawab Ji Young tak menghiraukan.

“Tuan Mud~” bawahan Ji Young seketika menghentikan niatannya karena tatapa Ji Young yang mengerikan.

 

            Akhirnya bawahan Ji Young memutuskan untuk pergi karena tak mau berurusan panjang dengan Ji young. Ya, itulah Kwon Ji Young putra dari Kwon Corp, yang menjabat sebagai direktur. Namun jabatannya itu hanya sebagai hiasan bagi Ji Young. Ji Young lebih suka menghabiskan uangnya dengan berhura-hura di dunia luar bisnis. Jelas penyebabnya karena Ji Young jarang sekali berinteraksi dengan kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ia bertingkah seperti ini untuk mengetes apakah orang tuanya masih peduli atau tidak peduli sama sekali. Benar jawabannya adalah Orang tua Ji Young tidak peduli sama sekali. Ji Young terkenal sebagai raja ‘badung’ di kantor tempat ia bekerja.

 

 

-@@-

            Dara dan keluarganya selesai packing, memang ini terasa berat bagi Dara karena meninggalkan rumah sebesar itu.

“Kau tidak apa-apa’kan? Naik kereta Seoul->Mokpo?” Dara memastikan kondisi adiknya.

“Nuna, kau tak usah khawatir selama udara disana tidak dingin.” Balas Chundoong.

Eomma? Appa! Kami sudah siap!” ucap Dara merangku lengan adiknya meskipun Chundoong lebih tinggi.

 

 

-@@-

 

            Kembali pada Kwon Ji Young, kali ini ia menghabiskan waktunya berdisko disebuah diskotik kelas kakap. Ia masih bersama teman setianya Seung Ri.

“Kau lihat gadis itu? dia anak kolongmerat bernama Park Boom.” Ucap Seung Ri.

“Tentu, aku tahu…” Ji Young santai.

“Kali ini apa kau sudah memiliki gadis yang menarik perhatianmu?” Delik Seung Ri.

“Ada~” jawab Ji Young.

 

 

 

-@@-

            *Flashback*

 

Dara dan Ji Young sedang menghadiri acara galeri seniman terkenal. Mereka melihat hasil karya-karya terbaik seniman. Ji Young dan Dara tertarik dengan satu benda yaitu sebuah guci yang dibalut dengan berbagai ukiran dari kertas.

“………………………………..” tangan Ji Young dan Dara memegang benda yang sama.

“……………………………….” Mereka seketika saling menatap dan Ji Young melepas kaca matanya karena pesona Dara.

Mianhae! Tapi ini barang pesananku.” Dara santai.

“Benarkah?” Ji Young penuh selidik.

“Tentu, kau bisa melihat ini?” ucap Dara memberikan kwitansi transaksi.

“Baiklah?” Ji Young kalah.

 

            Mungkin ini terlihat biasa saja tapi bagi Ji Young ini pertama kalinya ia mengalah pada seorang wanita. Ini juga pertama kalinya seorang wanita tidak tertarik dengan pesonanya.

“Eh! Aku harus mendapatkannya.” Pekik Ji Young pelan.

_End Flashback_

 

 

-@@-

 

“Jadi siapa nama gadis itu?” delik Seung Ri.

“Park Sandara? Dia juga salah satu putrid kolongmerat.” Jawab Ji Young memutar Vodca yang ia pegang, sambil memikirkan pertemuan pertamanya dengan Dara.

 

 

-@@-

           

Setelah perjalan kurang lebih 4 jam. Akhirnya keluarga Dara sampai di rumah baru mereka. Rumah ini kecil hanya dengan 3 kamar,dapur,ruang tamu dan kamar mandi. Seperti rumah standar lainnya tidak seperti rumahnya yang dulu dengan taman yang luas, disini hanya ada beberapa tanaman pagar. Tidak ada shower lagi di kamar mandi, tidak ada lagi dapur yang lengkap. Semuanya serba biasa jauh dari kehidupan Dara yang sebelumnya.

“Mianhae? Appa mengacaukan semuanya!” sesal Ayah Dara.

“Ah, gwaenchana Appa! Kami berdua senang kita bisa tetap bersama. Setidaknya kita berkumpul disini aku sudah sangat bersyukur.” Jawab Dara.

“Mianhae anakku!” Ibu Dara kembali terisak.

“Sudahlah, kita memulai dari awal sekarang. Sebentar lagi aku dan Chundoong pergi untuk terapi.” Dara mengalihkan pembicaraan.

 

 

-@@-

 

            Sesampainya dirumah, Ji Young langsung menuju kamar mewahnya ia berendam di bak mandi. Dirumah sebesar itu hanya ada Ji Young dan beberapa pelayannya. Hal ini yang membuat Ji Young sering sebal dirumah karena terlalu membosankan. Ia juga jarang di kantor karena minatnya hanya pada seni sementara pada bisnis tak ada minat sama sekali.

 

 

-@@-

 

            Hujan akhirnya mengguyur hampir sebagian besar wilayah di Korsel. Dara sedang bersama adiknya disebuah rumah sakit kecil di sekitar Mokpo. Angin begitu kencang, suara petir menyambar tanpa henti. Chundoong kembali dari terapinya dan menatap langit yang sedang hujan seakan mewakili suasana hatinya sekarang.

 

 

-@@-

 

            Beberapa pria berotot kekar dengan pakaian seba hitam menuju rumah Dara. Dara sudah memilik feeling buruk dan memutuskan untuk pulang ditengah hujan deras seperti ini. Di tepi rumah sakit ia menghadang taxi yang kebetulan lewat.

            “Chundoong-ya, rapatkan mantelmu kita pulang sekarang.” Ucap Dara

 

 

-@@-

 

            “Apa yang kalian mau!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Ibu Dara kepada pria-pria berotot itu.

            “Serahkan dokumen yang kalian sembunyikan! Rumah ini juga akan kita sita!!!” jawab salah satunya.

            “Ini adalah harta terakhir kita! kalian masih belum puas?” hentak Ayah Dara.

 

 

‘Brak!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!’ beberapa orang mulai mengacak-acak rusuh seisi rumah mencari sesuatu yang mereka cari.

 

 

-@@-

 

“Taxi!” panggil Dara di tepi jalan dengan payung diatasnya, setelah taxi itu berhenti Dara segera mengajak adikny Chundoong masuk dan taxi itu segera melesat menuju rumah mereka yang sekarang sedang terancam oleh beberapa preman.

“Nuna~ apa akan terjadi sesuatu?” delik Chundong.

“Sudah! Kau diam saja, aku harap tidak.” Jawab Dara cemas.

 

 

-@@-

 

“Serahkan dimana!!!” teriak seorang preman sambil merusak sebuah kursi yang otomatis membuat IbuDara histeris.

“Kami tidak pernah membawanya? Silahkan saja acak-acak rumah bersar itu di Seoul.” Elak Ayah Dara.

“Cepattt!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Preman itu benar-benar sudah tidak sabar.

 

 

 

-@@-

 

Dara dan Chundong sama-sama Shock melihat rumah yang baru saja mereka tempati begitu berantakan ditengah hujan lebat seperti ini. Mereka berdua bergegas ke lantaiatas untuk mencari kedua orang tua mereka. Ayah dan Ibu mereka sudah disekap dengan tali dan mulutnya dibungkam rapat.

“Ada apa ini!!” teriak Dara murka.

 

“Oh! Jadi kau? Anak-anak mereka? Tentu? Kalian juga harus mendapatkan imbas atas dosa yang dilaukan kedua orang tua kalian?” ucap salah seorang preman.

“ANDWAE! Menyingkir kalian!”

“Kenapa sayang? Cukup mahal jika kau dijual menjadi pelacur ke tuan Park?”

 

 

DUARRRRRRRRRRR!!!!!!

 

Sebuah peluru melesat ke dada kiri Appa Dara dan menembus hingga dada kiri Eomma Dara. Hal ini yang membuat Chundoong dan Dara membuka mata mereka lebar-lebar memastikan bahwa pembunuhan kedua orang tua mereka ini bukan sebuah mimpi.

“A..aaapppa!” pekik Dara Shock.

“Eom…m..mma…” Chundong tak kalah Shock.

 

 

Sejenak waktu yang sedang mereka jalani seperti berhenti, benar! Dara dan Chundoong butuh mencerna lebih lama tentang pembunuhan tragis yang baru saja terjadi ini. Dara yang ia takutkan benar-benar terjadi, sebelum keberangkatannya ke Mokpo ia tak sengaja mendengar percakapan Appanya dengan beberapa Preman. Memang terjadi sedikit adu mulut disana. Dara memutuskan untuk menyimpan dokumen yang dicari para Preman itu. Sebuah bukti yang menyatakan bahwa Presdir Kwon Corp telah melakukan penghianatan Negara. Seharusnya sejak awal keluarganya menghindar dari kasus kotor itu. Tapi, tadir berkata lain Appa Dara saat itu menjadi saksi transaksi rahasia kalangan kolongmerat dengan beberapa petinggi Korea Utara dengan menjual beberapa rahasia Negara. Kasus ini terendus oleh inteljen handal milik pemerintah, Kwon Ji Yoon yang merupakan otak dari penghianatan ini. Melakukan tindakan cepat dengan menghabisi seluruh keluarga kolongmerat yang saat itu berada disana.

 

Tragis! Dara bermaksud mengamankan bukti itu agar keluarganya aman! Namun, justru yang ia lakukan berbalik menyerang keluarganya. Sekarang, dengan mata kepalanya sendiri melihat kedua orang tuanya dibuhun seperti sebuah tikus dengan peluru panas yang melesat. Dara kehilangan akalnya ia tak mungkin mengeluarkan  bukti ini karena nyawa orang tuanya sudah melayang. Yang ada dipikirannya sekarang adalah menyelamatkan dirinya dan Chundoong untuk menghancurkan kembali Kwon Ji Yoon itu.

 

“Nona cantik sekarang sebutkan dimana barang itu berada?” bujuk Preman dengan tatapa membunuh perlahan mendekat.

 

Disaat yang bersamaan suara petir menyambar, wajah Chundoong sudah pucat pasi.

 

“Barang apa! Kau pikir aku tau? Selama ini aku hanya menghabiskan uang orang tuaku tak lebih! Jadi jangan menanyakan hal bodoh itu padaku!” Dara melawan.

“Nuna!” Chundoong berusaha meredam amarah kakak perepuannya itu.

 

 

‘PRAKKKK!!!!!!!!!!!!!!’

 

Dara mengelurakan salah satu gerakan Judonya dan mengajak Chundoong kabur!. Salah satu Preman sudah siap melesatkan peluru ke Dara.

“Jangan bunuh mereka! Kita harus mendapatkannya hidup-hidup.” Ucap seorang Preman.

 

 

-@@-

 

Dara dan Chundoong berlari ditengah hujan yang tak kunjung berhenti itu. Hal ini cukup membahayakan kondisi Chundoong. Namun, mereka tak ada pilihan lagi selain lari, Dara dan Chundong sama sekali tak menyangka bahwa mimpi buruk ini benar-benar terjadi pada hidupnya.

 

“Chundong-ya? Kau bersembunyilah disalah satu rumah disini! Aku akan mengalihkan pehatian mereka!” ucap Dara ditengah lari mereka.

“ANIYA! Nuna! Aku tidak. Ap.. Uhuuk Uhukkk…”

“Chundong-ya!” Dara panic karena Chundong tak bisa berlari lagi sementara siluet para preman-preman itu sudah tampak.

“Tinggalkan aku Nuna~” Chundong memohon karena ia benar-benar tak kuat berlari lagi.

 

 

‘BRAKKKKKKKKKKKKK’

 

Sebuah hempasan benda keras menimpa punggung Dara, yang tentu membuat Dara kehilangan kesadarannya.

“Chundong-ya!” panggil Dara lemah.

 

 

-@@-

 

Ji Young masih menikmati malam bersama seorang gadis cantik yang tidur disebelahnya. Begitu Kwon Ji Young, direktur muda anak kolongmerat yang tak memiliki impian hidup selain menghabiskan dan menghamburkan uang keluarganya yang berlimpah.

“Chagi! Terimakasih untuk malam ini!” bisik Ji Young di telinga gadis yang tampak tidur pulas disebelahnya itu.

 

 

-@@-

 

Perlahan Dara membuka kedua matanya, ia merasa kepalanya terasa sangat berat. Pandangannya perlahan jelas, ia melihat sekeliling yang gelap dan sangat kotor. Tampaknya benar, ia sedang disekap disebuah gedung tua. Tangan dan kakinya sudah terikat kencang, ia melihat Chundong duduk terikat tak berdaya didepannya.

 

“Chundong-ya?” panggil Dara lirih, air matanya lolos.

“Nuna~, aku tidak apa-apa?” Chundong masih tetap tersenyum.

 

Tampak suara langkah beberapa orang mendekat, benar mereka adalah preman-preman tadi.

“KEPARAT KALIAN!” Dara menatap penuh amarah dan benci.

 

“Uh~ tolong tenang nona cantik!”

 

 

Perlahan preman itu mendekat dan menatap wajah Dara begitu dekat.

 

“Park Sandara! Sekarang aku mempunyai dua penawaran bagus untukmu dan adikmu?”

 

“Tawaran konyol! Aku tak ingin menengarkannya! Dasar KAIMA!” Dara kasar.

 

“Gadis bodoh! Mau tak mau kau harus menerimanya atau adikmu?” Preman itu menatap penuh makna pada temannya yang berada di dekat Chundong.

 

 

BAKKKKKK!’ pukulan keras menghatam pipi Kiri Chundong.

 

 

“Chundong-ya!!!” jerit Dara tak rela.

 

“Sekarang, pilih menjadi pelacur atau pelayan di rumah Presdir Kwon? Menjualmu  sudah cukup membayar kekurangan hutang keluargamu?” Tanya preman itu.

 

“KEPARAT!” Dara marah.

 

 

 

BAKKKKKK! Kali ini menghantam pipi Kanan Chundong.

 

“Bagaimana? Nona cantik?” Preman itu menjambak kasar rambut Dara.

 

Lagi, Preman yang lain terus memukuli Chundong hingga babak belur. Dara hanya bisa meronta percuma karena seluruh tubuhnya sudah terikat.

“Nuna~ jangan lakukan aku tidak apa-apa?” lirih Chundong, yang menyadarkan lamunan Dara.

 

“HENTIKAN!” terik Dara.

 

“Aku akan melakukannya! Kirim aku kerumah Presdir Kwon untuk menjadi pelayan disana!” Dara mengorbankan harga dirinya daripada kesuciannya hilang.

 

 

-@@-

 

“Bibi Seo?” pekik Dara mengetahui bahwa kepala pelayan Presdir kwon adalah bibi Seo. Tetangga Dara dan keluarganya saat di Incheon dulu. Keluarga Dara berjasa besar atas keluarga bibi Seo saat itu.

 

 

“Ne, Eomma aku akan segera menuju kesana?” ucap Ji Young sembari menyetir menuju rumah kedua orang tuanya. Ji Young memang tidak pernah tinggal dirumah sebesar itu karena Ia memiliki rumah sendiri yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun ke 20nya dulu.

 

Para pelayan termasuk Dara hari itu sudah siap berjajar menyambut kedatangan Ji Young, memang ini special karena jarang-jarang keluarga Kwon bisa berkumpul. Lalu, bagaimana dengan Dara? Beruntung! Seo Yi Jin adalah kepala pelayan keluarga Kwon. Dara sudah menceritakan tragedi yang terjadi di keluarganya. Kepala pelayan Seo menerima Dara sebagai pelayan dari preman-preman itu.

 

Nasib Dara tak selalu buruk, bibi Seo menjadikan Dara pelayan paruh waktu disana. Ia sengaja melakukan ini karena tak tega dan melihat Dara harus bekerja part time untuk biaya rumah sakit Chundong yang sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit sekarang. Dara bisa bekerja di keluarga Kwon hingga jam 3 Sore dan setiap Weekend Dara libur.

 

 

-@@-

 

Ji Young, dengan angkuhnya melewati barisan pelayan-pelayan dirumah orang tuanya.

 

“Tuan muda tambah tampan.” Bisik pelayan disebelah Dara kepada temannya.

“Benar…”

 

 

Ji Young menghentikan langkahnya, pelayan tadi mengira ucapannya terdengar. Tapi bukan? Ji Young mengenali wajah familiar Dara kemudian mendekat. Ji Young meraih dagu Dara untuk melihat wajahnya lebih jelas.

 

“Apa kita pernah bertemu?” selidik Ji Young.

“Tidak sama sekali?” Dara memang tak ingat pernah bertemu Ji Young.

 

 

-@@-

 

 

“Apa bibi? Aku menjadi pelayan pribadi di rumah tua muda?” Dara terkejut bukan main.

“Benar, Nona tuan muda sendiri yang memintanya secara Pribadi kepada saya?”

“Baiklah, kau jangan memanggilku Nona lagi. Entah mengapa panggila itu sekarang menyayat hatiku. Sekarang aku bukan seorang tuan putri lagi melainkan pelayan. Bahkan jabatan bibi lebih tinggi dari aku sekarang.” Jelas dar terkekeh.

 

Kwon Ji Young, masih asik memainkan gelas berisi Vodca dihadapannya sekarang. Pikirannya masih melayang mengingat salah satu pelayan dirumah orang tuanya mirip dengan gadis bernama Park Sandara itu.

“Malam ini kau mau ikut bersenang-senang?” Tanya Seung Ri memecah lamunan Ji Young.

“Tentu, kita harus bersenang-senang.”

 

 

-@@-

 

Hari pertama Dara bekerja untuk Ji Young, walaupun sebenarnya ia masih merasa heran mengapa Ji Young memintanya untuk menjadi pelayan Pribadinya.

 

“Jadi kau pelayan itu, siapa namamu?” Ji Young menyidang Dara di kamar pribadinya beberapa Maid  menguping di depan pintu kala itu karena penasaran. Pelayan baru yang bergabung dengan mereka benar-benar cantik.

“……………………………………” Dara masih tak menjawab.

“Park Sandara?” Tanya Ji Young.

 

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Dara balik bertanya.

“Aku hanya ingin memastikan, orang yang aku lihat saat itu apakah kau atau tidak?”

“Benar, namaku Park Sandara. Dimanapun kita pernah bertemu aku sudah tak mengingatnya lagi, karena aku memang tak ingin mengingat semua masa laluku.” Dara dingin.

 

Senyuman puas terbentuk disudut bibir Ji Young “Ah! Semakin mudah aku mendapatkan gadis ini?” batinnya.

 

“Baiklah, kau hanya perlu melayaniku aku rasa kepala pelayan Seo sudah menjelaskan.”

 

Ne, Araseo…

 

 

-@@-

 

Seperti biasa kali ini Dara selalu beristirahat disalah Benteng ‘Hwayoung’ ia berdiri disalah satu tepi benteng itu melihat aliran sungai tak deras dihadapannya. Dipadu lampu-lampu malam yang menambah suasana romantis.

 

Dara kembali menelan pil pahit, seminggu yang lalu ia sudah kehilangan kedua orang tuanya. Hari ini ia kehilangan orang yang ia cintai, Kim Won Bin yang sekarang menjadi mantan kekasih Dara. Benar saja? Sore ini Won Bin datang membawa undangan pernikahannya dengan Na Young. Sial! Ternyata selama ini hubungannya Dara hanya dijadikan sebagai jaminan bisnis. Mengetahui keluarga Dara bangkrut, Won Bin seenaknya mencampakkan Dara.

 

Park Sandara, dia tak bisa menangis lagi. Air mata dan hatinya sudah terlalu beku karena kejadian tragis yang menimpanya.

“Huh? Apa ini yang disebut hidup?” guman Dara tersenyum kecut.

 

 

-@@-

 

“Dimana Dara?” Tanya Ji Young sesampainya dirumah.

“Dia.. Tua..an Dara-Ssi hanya bekerja untuk Anda hingga sore jam 3. Itu karena Dara-Ssi hanya sebagai pelayan paruh waktu?” jelas seorang Maid.

 

“Jadi? Dia hanya melayaniku setiap pagi?”

“Benar Tuan..”

 

“Yeoboseo, Sekertaris Han? Aku ingin kau melakukan sesuatu” Ji Young diujung ponsel

 

 

-@@-

 

Dara kembali menjenguk adiknya yang sekarang sedang sekarat dirumah sakit. Perih? Dara begitu merasa perih melihat Chundong terkulai lemas seperti itu.

“Padahal sebentar lagi kau akan sembuh? Chundong-ya, sekarang kau satu-satunya orang yang aku miliki?” Dara kembali berbicara  pada dirinya sendiri.

 

 

[Next Day]

 

“Tuan Muda tolong bangun!” ucap Dara membagunkan Ji Young.

 

“Tuan Muda!” kali ini kalimat Dara benar-benar membuat Ji Young membuka matanya lebar-lebar. Benar saja, bisikan Dara seperti orang yang akan membunuh Ji Young? Begitu dingin dan kejam.

 

“Saya, sudah siapkan stelan Jass dan coklat hangat sebelum Anda bekerja.” Ucap Dara singkat dan beranjak pergi. Namun, tangan Ji Young tak kalah cepat menahan lengan Dara.

 

“Temani aku hingga coklat hangatku habis!”

“Baiklah tuan muda.”

 

 

-@@-

 

            Dara dengan ekspresi datarnya menunggu Ji Young menghabiskan coklat hangatnya. Ji Young menggunakan kesempatan ini untuk menatap Dara lebih lama, lalu bagaimana dengan Dara?. Dara? Dia berusaha menahan amarahnya setiap menatap anak dari orang yang telah mengahancurkan keluarganya ini.

 

“Kau boleh pergi?” ucap Ji Young setelah puas memandangi Dara.

 

 

-@@-

 

Seperti biasa Seung Ri mengajak Ji Young ke bar miliknya, saat itu Ji Young sedang menatap serius sebuah dokumen di depannya.

 

“Ada apa denganmu belakangan ini?” Tanya Seung Ri duduk di sofa tamu ruangan Ji Young.

“Aku sedang menyelidiki seseorang?”

“Nuguya? Kenapa kau tak pernah mampir tak biasanya?” Seung Ri penasaran.

“Tentu, akan aku beritahu nanti?” jawab Ji Young beranjak sambil membawa dokumen itu.

 

 

-@@-

 

 

04.00 PM KTS

 

Dara tertidur menemani adiknya yang sampai sekarang belum sadarkan diri, bagaimana ini? Dara darimana ia akan mendapatkan uang untuk membayar semua biaya pengobatan adiknya?. Dara sudah bekerja part time sebanyak 3 tempat dalam sehari. Sungguh mengerikan! Dara yang dulu sering menghambur-hamburkan uang demi membeli barang bermerek yang ia incar? Sekarang bersusah payah mendapatkan uang?.

 

Ji Young saat itu akan pergi ke café Seung Ri, di perhentian jalan tanpa sengaja ia melihat Dara di pedestrian.

“Dara? Bukankah itu dia?” guman Ji Young.

 

 

-@@-

 

Ji Young membalikkan mobilnya dan mengikuti Dara, sejenak Dara duduk dibangku pinggir jalan. Ia sesekali memijat kakinya yang terasa sangat pegal dan nyeri, bekerja sekeras itu memang membutuhkan banyak tenaga.

 

“Dasar! Kenapa hidupku seperti ini?” pekik Dara sinis. Kemudian ia beranjak melanjutkan langkahnya menuju café tempat ia bekerja.

 

 

 

-@@-

 

Dua bulan berlalu, para pelayan di rumah Ji Young sangat merasa ini adalah keajaiban. Benar? bagaimana mungkin Tuan Muda mereka bisa pulang tepat waktu?. Selama ini Ji Young sering menghabiskan waktunya diluar. Bahkan pernah seminggu tak pulang sama sekali, yang menjanggal orang tua Ji Young tak pernah menghiraukannya sedikitpun.

 

“Ada apa tuan?” Tanya Dara bingung karena malam-malam begini dipanggil bosnya.

“Mulai besok kau temanni aku makan malam!”

“Tap—pi aku ad—a?”

“Aku akan membayarmu? Ini penawaran yang tak sulit, setelah aku selesai makan malam kau bisa pulang dan lanjutkan pekerjaanmu?” potong Ji Young.

 

“……………………………..” Dara tak bergeming.

 

“Bagaimana Dara-Ssi?”

 

“Ba—aik? ” Dara Pasrah, senyum simpul terbentuk di sudut bibir Ji Young puas.

 

 

-@@-

 

“Ayo! Kau harus makan?” pinta Ji Young.

 

Dara benar-benar muak, kenapa akhir-akhir ini ai sering melihat Ji Young? Melihat saja sudah sangat marah? Sekarang ia makan satu meja dengan Ji Young. Ini lengkap untuk penderitaan Dara sekarang?. Dara, juga merasa risih, kenapa hanya dia yang makan bersama Ji Young sedangkan pelayan lainnya hanya berdiri menatap makan malam ini.

 

Waeyo?

 

“Aniya?” Dara singkat.

 

 

-@@-

 

Dara benar-benar muak! Ia sampai kapan harus menekan perasaan benci ini? Sampai kapan? Sudah sebulan adiknya tak kunjung sadar? Ia bingung harus mengeluh pada siapa? Teman? Ia sudah tak punya teman dengan kastanya yang sekarang. Kekasih? Jangankan menolong melihat saja sudah tak mau. Kekasih, sahabat, teman semuanya sama membuang Dara seperti sebuah sampah yang tak berguna lagi.

 

“Kenapa seperti ini!!!” Dara merintih di tepi sungai Han yang mengalir tenang airnya.

 

Berkali-kali ia menahan air matanya, namun sekarang tak bisa? Hatinya benar-benar terluka dengan semua ini.

 

‘Hkss Hkss Hks….’ Dara menangis sendiri disana.

 

 

-@@-

 

“Bagaimana?” Tanya Ji Young, pada sekertarisnya. Ji Young benar-benar menyelidiki Dara hingga ke akar. Bahkan dalang pembunuhan yang dilakukan pada keluarga Dara ia selidiki. Bukankah ini akan menjadi serangan untuk Ji Young.

 

“Tu—an? Apa harus aku menyerahkan ini?”

 

“Kenapa? Apa ada yang salah?” Ji Young mendekat untuk meraih informasi yang di dapat sekertarisnya itu.

 

“Tu—an in—I?”

 

Ji Young meraih dokumen itu dari tangan sekertarisnya. Benar! Ji Young benar-benar tercengang akan hal ini?. Jelas saja, Ayah kandungnya sendiri yang menjai dalang pembunuhan keluarga Dara!. Park Sandara? Wanita yang telah menarik perhatian dan hatinya untuk pertama kali. Ji Young menyadari bahwa Dara selama ini memang menatap dingin padanya. Dara memang pantas membenci anak dari pembunuh kedua orang tuanya.

 

“DAMN!”Ji Young melempar kasar dokumen itu karena kesal, bukan hanya kesal tapi marah!

 

“Kepala pelayan Seo? Dimana Dara sekarang?” Tanya Ji Young diujung ponselnya.

 

 

 

-@@-

 

Dara lelah menangis, ia duduk di tepi sungai Han yang tampak lengang itu. Menatap air yang mengalir tenang di depannya sekarang.

 

“Jadi, sudah berapa lama kau duduk disini?” ucap Ji Young yang sudah berada di samping Dara.

 

“Tu—an muda?”

“Apa sudah menangis sepuasmu?” Tanya Ji Young melihat mata bengkak Dara.

 

“………………………………………….” Dara tak bergeming.

 

“Ternyata benar?” tebak Ji Young.

 

“Apa tuan menyukaiku?” Tanya Dara tajam.

 

“Benar aku menyukaimu!” Ji Young menatap Dara serius.

 

“Baik memang aku akui? Kau pantas membenciku! Bahkan tatapanmu padaku penuh dendam dan kebencian. Aku yakin kau berencana untuk menghancurkan keluargaku bukan?” perkataan Ji Young ini seketika membuat Ji Young bergidik.

 

“Kau?”

 

“Benar! aku tahu semua tentang dirimu, yang dulu seorang putrid dan sekarang berubah menjadi upik abu dirumahku. Dara-Ssi? Jadilah milikku? Gunakan aku untuk membalaskan dendammu? Hancurkan Kwon-Corp itu?” ucap Ji Young.

 

“Mwo?”

 

Perlahan Ji Young mendekat dan meraih kedua bahu Dara, tatapan mereka saling beradu. Tatapan yang sama sekali tak bisa diartikan seperti apa.

 

“Apa kau gila tuan?” Dara mengejek.

 

“Tidak! Kedua orang tuaku itu bukan manusia? Kau tahu, aku selama ini menahan perasaanku untuk memberontak dari semua ini. Tak peduli apapun yang aku lakukan mereka sama sekali tak peduli! Yang terpenting bagi mereka adalah UANG, uang segalanya! Uang merenggut semua kasih sayang mereka dariku. Sekali-pun aku bunuh diri sekarang? Mungkin mereka tak peduli! Jadi? Kau bisa menggunakan aku untuk menghancurkan mereka? Setelah itu jadilah milikku dan hidup bersamaku?” ucap Ji Young tanpa sadar meneteskan air matanya, akhirnya ia bisa mengekspresikan kesedihannya selama ini.

 

“Kau serius tuan?” Tanya Dara lirih.

 

‘CUP’ kecupan manis bersarang di bibir Dara.

 

“Bahkan aku rela mempertaruhkan hidupku!” jawab Ji Young tak ragu.

 

 

-@@-

 

 

Ji Young dengan membawa sebuah berkas memasuki kejaksaan tinggi Korea Selatan. Senyum kemenangan tergambar jelas disana, benar! Kwon Ji Young membongkar kedok Ayahnya sendiri. Sekarang mereka bertemu di pengadilan untuk mendengarkan keputusan hakim.

 

“Anak tak berguna!” pekik Ayah Ji Young.

 

“Apakah selama ini aku menjadi anakmu? Ayah?” jawab Ji Young sinis.

 

 

-@@-

 

Setelah pulang dari pengadilan Ji Young bergegas menuju rumah sakit tempat Chundong dirawat. Hingga detik ini Chundong tak menunjukkan kemajuan sedikitpun, Dara dengan setia menemani adik yang menjadi satu-satunya keluarga Dara sekarang.

 

“Chundong-ya, kau harus bertahan?” Dara lirih.

 

 

 

‘KLEKKK’

 

Suara pintu terbuka, Ji Young disana setelah kejadian malam itu Dara telah resmi menjadi kekasih Ji Young. Meskipun hanya ada cinta sepihak Ji Young kepada Dara pada hubungan mereka.

 

“Bisa kita bicara?” Tanya Ji Young.

 

 

-@@-

 

Ji Young dan Dara bicara di balkon atas rumah sakit, hanya mereka berdua disana.

 

“Bagaimana?” Dara membuka pembicaraan.

“Ayahku? Dia akan dihukum sesuai hukum militer karena ini menyangkut penghiantan Negara. Juga sudah aku putuskan saham Kwon-Corp akan aku sumbangkan ke panti sosila.”

 

 

DEG’, Dara tercengan mendengar jawaban Ji Young ini, ia benar-benar tak menyangka Ji Young bertindak sejauh ini.

 

“Sejauh ini aku hanya duduk diam dibelakangmu?” sesal Dara.

“Kau tak perlu menyesal! Yang aku inginkan hanya meraih hatimu sekarang?” jawab Ji Young.

 

“Tap—” Ji Young menarik Dara kedalam pelukkannya, ia menyadarkan kepalanya yang terasa berat di bahu Dara. Perlahan Dara menepuk punggung Ji Young, tanpa ia sadari Dara mulai tersentuh dengan ketulusan cinta Ji Young padanya.

 

“Kau pasti lelah?” bisik Dara, Ji Young hanya menggeleng pelan dan semakin mempererat pelukkannya.

 

“Maafkan aku—” lanjut Dara, Ji Young melepas pelukkannya air matany sudah lepas tak tertahanankan karena menanggung sakit di hatinya.

 

“Ini bukan salahmu? Aku yakin sulit bagimu untuk membuka hati pada pria sepertiku?” pekik Ji Young mengerti.

 

“Beri aku waktu! Hentikan semua ini, aku ingin hidup tenang terlepas dari semua dendam dan amarah! Semua itu hanya membuat hidupku tersiksa! Aku ingin mengakhiri semuanya…. Bersamamu… Ji Young-ya?” Dara mulai terisak.

 

Hening’, mereka menangis bersama saling melempar tatapan.

 

“Baik kita mulai dari awal semuanya….” Ucap Ji Young.

 

 

‘Cup~’ kecupan diberikan oleh Dara pada Ji Young.  Dara akan melepaskan kecupan itu, namun Ji Young menahan kepala Dara, membalas ciuman itu.

 

 

‘Jika kau merasa kesepian, Sendiri, menolehlah ke belakang sekarang. Jika merasa sedih, menolehlah ke belakang. Ada seseorang yang hidup dengan hanya melihat dan mengetahui akan dirimu.’

 

 

 

-THE END-

 

 

 

Sebenarnya ini FF request yang sudah aku publish di blog pribadiku, tapi disana nggak ada respon *sedih*. Aku harap disini dapat sambutan yang yang positif terus ini FF pertamaku di sini ^^ aku ada mini sequel incoming jadi ditunggu saja ^^. Jangan lupa tinggalkan jejak yaa ^^ hilangkan budaya Siders. FFku yang lain kunjungi disini

 

See You Next Time ^^

Annyeong (^=^)/

 

Ye_Mi SangEun

2 thoughts on “I’am Behind You (그대 뒤에 있읍니다)

  1. hallo author….aku reader baru…..salan kenal…….woaahhh….ini ff bnr2 keren…salut bgt sam jiyong.
    ditunggu ya sequelnya…..

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s