Gray Paper (Part 1) | 기대 (Expectation) |


image

Author : Shanne Viviana.

Cast : Kim Jong Woon, Shim Ae Sung, Choi Si Won, Im Jin Ah, Shim Sung Mi, others.

Genre : AU, Sad, Hurt, Family, Romance.

Rating : General.

Length : Chapter.

Credit Poster by : YooSpencer Art

Disclaimer : FF ini juga di publish di blog pribadi saya.
=======

Tidak semua dongeng berakhir dengan kebahagiaan, bukan?

Begitu pula dengan hidupku.

Jadi, kali ini biarkan aku bahagia.

Bahagia karena bisa bertemu denganmu …

Bahagia karena bisa mencintaimu semampuku …

Bahagia karena bisa membuat senyum itu merekah di wajahmu …

Sebelum akhirnya takdir memisahkan kita berdua …
***

Seoul, South Korea.
05.30 PM, KST.

Hari sudah sore. Matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya. Tetapi jalan-jalan kota Seoul masih saja ramai dengan beberapa kendaraan yang masih saja berlalu lalang. Tak jarang para pejalan kaki pun berjalan kesana kemari. Benar-benar menampilkan kota metropolitan yang sangat amat sibuk. Tak peduli kapanpun waktunya.

Lain halnya dengan jalanan kota Seoul yang terdengar berisik dengan suara-suara kendaraan dan suara beberapa pejalan kaki yang saling mengobrol satu sama lain, keadaan di dalam sebuah cafe yang terletak di salah satu daerah Gangnam begitu canggung. Bukan, bukan untuk seluruh pengunjung cafe tersebut, melainkan hanya terjadi pada dua orang yang kini saling enggan menatap satu sama lain. Suasana di dalam cafe memang ramai. Tapi bagi mereka keadaan seperti ini benar-benar sangat canggung.

Seorang gadis berparas cantik dengan rambut ber-gelombangnya yang berwarna merah kecoklatan dan dibalut dengan dress soft pink yang terlihat simple itu semakin menambah kecantikannya. Gadis itu terus menatap ke arah gelas yang berisi latte pesanannya itu dengan perasaan campur aduk. Sedangkan seorang pria dengan wajah yang bisa dibilang sangat tampan itu, duduk tepat di hadapan gadis itu. Matanya terus menatap lekat gadis di hadapannya seakan-akan gadis itu akan hilang jika ia mengedipkan matanya walau hanya sedetik saja. Tidak peduli dengan para pengunjung di dalam cafe tersebut yang terus berdecak kagum melihat dua orang yang terlihat begitu serasi itu.

Entah apa yang dipikirkan mereka berdua, tapi yang pasti mereka benar-benar tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Dengan ragu-ragu gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap pria di hadapannya dengan tatapan sedikit takut. “Jadi, apa benar kau Choi Si Won?”

“Ne. Kau Shim Ae Sung, bukan?” Gadis yang diketahui bernama Ae Sung itu hanya mengangguk, membenarkan pertanyaan Si Won yang ditujukan untuk dirinya.

Si Won menyesap cappucino pesanannya kemudian tersenyum hangat. Menampilkan lesung pipinya yang membuat Ae Sung terpana—walaupun hanya sepersekian detik “Kau terlihat lebih cantik dibanding di foto.”

“Ne?” Ae Sung menahan napasnya seraya terus menatap Si Won yang masih menatapnya lekat-lekat. “Ah, ne. Gomawo, Si Won~ssi.”

“Jadi, apa kau menerima perjodohan yang orang tua kita buat ini?” Tanya Si Won ragu-ragu. Ia takut jika ternyata jawaban yang dikeluarkan oleh gadis itu benar-benar tidak seperti harapannya.

“Molla.” Ae Sung kembali menatap cangkirnya lattenya yang sekarang hanya tersisa setengah. Hening. Tak tahu lagi apa yang harus dibicarakan.

Jika orang-orang berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih, berarti mereka salah besar. Mereka hanyalah dua orang yang tidak saling mengenal sebelumnya, kemudian dipertemukan dalam suatu perjodohan yang memang sudah dirancang sebelumnya oleh masing-masing keluarga.

Awalnya, Ae Sung menolak ketika orang tuanya menjodohkannya karena ia masih ingin menikmati masa-masa mudanya. Tapi entah kenapa tiba-tiba ia menyetujui perjodohan tersebut. Mungkin ia merasa bersalah karena harus menolak permintaan orang tuanya yang telah merawatnya sampai saat ini. Berbeda dengan Si Won yang langsung menyetujui perjodohan itu begitu orang tuanya memberikan foto Ae Sung kepadanya. Entahlah, dia merasa ada suatu magnet yang menarik dirinya ketika ia melihat wajah itu.

Ae Sung mendongak, kembali menatap Si Won yang tengah menatapnya juga sekarang. Ia bisa melihat tatapan kecewa itu di mata pria yang duduk di hadapannya. Seolah tidak ingin menyakiti perasaan pria itu, Ae Sung kembali berkata dengan senyum manis yang terlukis di wajahnya. “Tapi … aku akan mencoba.”

~~~

Cheonan, South Korea.

Hari semakin sore, membuat cahaya matahari yang tadinya bersinar terang kini semakin menghilang dan digantikan kelamnya malam. Hangatnya cuaca pun kini telah berganti menjadi dinginnya malam yang mencekam, seolah-olah mencerminkan perasaan seorang pria yang saat ini sedang duduk di teras rumahnya dengan pandangan kosong. Jelas sekali, ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang.

Seorang gadis yang kini duduk di samping pria itu pun sama sekali tidak berbuat apapun. Hanya sesekali melirik ke arah pria di sampingnya dengan pandangan … iba. “Oppa, sebaiknya oppa masuk sekarang, eoh? Cuaca semakin dingin. Aku tidak mau oppa sakit.” Ujar Jin Ah lembut sembari menatap pria di sampingnya dengan penuh kasih dan terlihat khawatir.

“Shireo. Aku masih ingin disini. Kalau kau lelah, kau bisa pulang. Tidak perlu menungguku.” Ujar Jong Woon datar tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Baginya semuanya sama saja, tidak menarik. Kecuali jika gadis itu bersamanya sekarang. Ia tidak butuh apapun sekarang, cukup gadis itu saja. Jika gadis itu berada dalam jarak pandangnya maka ia akan baik-baik saja, cukup itu saja. Terlalu berlebihan kah jika ia menginginkan gadis itu disisinya? Terlalu berlebihan kah, sampai-sampai Tuhan tidak mengabulkan keinginannya?

Jin Ah hanya bisa menghela nafas berat melihat pria di hadapannya kini begitu keras kepala. Kadang ia berpikir, benarkah … benarkah dia, Kim Jong Woon? Benarkah dia, pria yang selalu tersenyum hangat pada siapapun? Kenapa rasanya berbeda? Kenapa hanya raganya saja yang sama, sedangkan rohnya seakan tertukar dengan orang lain?

“Sudah cukup! Dia sudah pergi, oppa! Berapa lama lagi kau akan terus menunggunya seperti ini?! Dia sudah pergi untuk selamanya!” Pekik Jin Ah kehilangan kendalinya. Ia lantas bangkit berdiri dari duduknya seraya terus menatap Jong Woon dengan pandangan yang sulit diartikan. “Sadarlah … jangan terus menyakiti dirimu sendiri seperti ini …” Kali ini nada yang digunakan Jin Ah lebih lembut daripada tadi. Sungguh, dia benar-benar tidak sanggup melihat pria yang dia cintai seperti ini. Jika boleh memilih, lebih baik ia yang tersakiti seperti ini.

“Aku hanya menginginkannya. APA AKU KETERLALUAN JIKA MENGINGINKANNYA?!!!” Runtuh, pertahanan pria itu runtuh. Ia menangis sejadi-jadinya. Meluapkan semua yang ia rasakan selama seminggu ini. Ia … tidak bisa menjabarkan semuanya. Semua ini terlalu sulit ia jabarkan. Kehilangan orang yang kita cintai, tepat sebulan sebelum pernikahan itu dilaksanakan. Sial, bukankah dia orang paling ter-sial di dunia ini? “Seandainya waktu itu aku bisa mencegatnya untuk menaiki pesawat naas itu, hal ini pasti tidak akan terjadi. Seandainya … aku melarangnya waktu itu. Seandainya …” Kata-kata itu terputus karena ia tahu akan terlalu banyak kata seandainya jika ia meneruskannya.

“Geumanhae, oppa. Aku mohon … jangan terus seperti ini. Oppa harus menjalani kehidupan oppa selanjutnya, jangan seperti ini. Neul Sang Eonni juga pasti sedih melihat oppa terus seperti ini.”

“Kau menyuruhku untuk menjalani hidupku dengan baik. Sedangkan satu-satunya orang yang bisa membuat hidupku menjadi baik hanya dia. Lalu, aku harus bagaimana? Katakan, aku harus bagaimana?” Bibir Jin Ah terkatup rapat. Kali ini ia tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi ucapan Jong Woon. Bisu, ia benar-benar seperti orang bisu sekarang.

Kumohon, Tuhan … bisakah Kau kembalikan Lim Neul Sang ku? Cukup itu saja, aku tidak akan meminta hal lain.

~~~

Ae Sung menghembuskan nafas lelah kemudian menaruh tasnya secara asal di ranjangnya. Ia lantas menjatuhkan dirinya sendiri di ranjang berwarna putih miliknya. Ia bosan, benar-benar bosan dengan keinginan orang tuanya yang seolah selalu ingin ia untuk cepat menikah. Berkali-kali orang tuanya menjodohkannya dengan berbagai pria yang tentu saja terjamin masa depannya. Tampan, pintar, kaya, dan satu lagi yang paling ia benci yaitu mencoba untuk bersikap keren. Astaga, apakah setiap pria yang ia temui selalu seperti itu? Jika iya, itu benar-benar membosankan. Ia hanya menginginkan pria yang apa adanya, bukan yang berpura-pura seperti itu. Dan karena alasan itu pula ia menolak beberapa pria yang hendak dijodohkan oleh orang tuanya.

Kepala Ae Sung menoleh dengan cepat ketika ia mendengar bahwa pintu kamarnya terbuka. Sedetik kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya ketika ia mendapati adiknya lah yang memasuki kamarnya. Lagi, adiknya datang saat ia baru saja kembali dari pertemuannya dengan orang yang hendak dijodohkan dengannya. Dan ia sudah cukup hapal dengan kebiasaan adiknya itu. “Eotthe? Apakah menarik? Aku baru saja melihat wajahnya dari foto yang diberikan eomma. Ia cukup tampan, menurutmu?”

Ae Sung menghela nafas pelan ketika pertanyaan yang sama itu kembali terdengar di indera pendengarannya. “Lumayan. Tidak mencoba untuk bersikap keren di depanku. Mungkin aku akan mempertimbangkannya. Tapi, tetap saja tidak sesuai dengan harapanku.” Tutur Ae Sung pelan kemudian meniup poni yang sudah menutupi matanya, membuat ia merasa sedikit tidak nyaman.

“Hahh … eonni ini benar-benar. Padahal semua pria yang dikenalkan oleh eomma semuanya tampan. Kenapa eonni menolaknya? Memangnya eonni mau sampai kapan akan terus melajang seperti ini? Eonni tidak sadar kalau umur eonni sudah dua puluh enam tahun? Bagaimana kalau aku sampai mendahului eonni?” Tanya Sung Mi—adik Ae Sung—asal. Kadang Sung Mi berpikir kalau kakaknya itu benar-benar aneh. Sudah berapa banyak pria tampan yang ia tolak? Sebenarnya pria seperti apa yang ia inginkan?

“Cih, kau bahkan belum mempunyai kekasih jadi mana mungkin kau akan mendahuluiku? Lagipula pria yang tadi aku temui itu, Choi Si Won … dia lumayan baik. Dan ingat, bagiku tampan itu tidak cukup. Dia harus pria yang apa adanya, arra? Astaga, harus berapa kali aku mengatakannya padamu?” Tanya Ae Sung tidak habis pikir dengan adiknya itu. Ia sudah berulang kali berkata seperti itu, tapi lagi-lagi adiknya itu terus bertanya pertanyaan yang sama padanya.

“Mungkin saja. Min Chan saja sudah akan bertunangan besok.” Ujar Sung Mi seraya mendudukan dirinya di ranjang milik Ae Sung.

Mendengar ucapan Sung Mi tadi, Ae Sung sontak bangun dari posisi berbaringnya tadi dan menatap Ae Sung tidak percaya. “Benarkah? Astaga, aku melupakannya.” Sahut Ae Sung sembari menepuk dahinya pelan. Ia benar-benar tidak ingat jika besok adik sepupunya itu akan bertunangan.

Sung Mi menatap Ae Sung yang—sepertinya—masih sibuk berpikir itu dengan ragu-ragu. “Eonni~ya … apa eonni yakin dengan pria bernama Choi Si Won itu?”

Ae Sung menoleh, menatap ke arah Sung Mi aneh. Tentu saja ia merasa aneh, beberapa menit yang lalu Sung Mi menyuruhnya untuk cepat-cepat menikah. Tapi sekarang? Sung Mi justru menanyakan hal yang menurutnya benar-benar kontras dengan perintahnya tadi. “Memangnya kenapa? Bukankah tadi kau menyuruhku untuk cepat-cepat menikah? Dan sekarang, saat aku menyetujuinya, kau justru membuatku merasa ragu dengan pilihanku tadi. Apa … ada hal yang mengganggu pikiranmu sekarang?”

“Aniyo, hanya saja … pernikahan itu bukan hal yang main-main, eonni.” Ujar Sung Mi pelan. Ae Sung mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh dengan tingkah laku adiknya ini.

“Apa kau demam? Ucapanmu aneh sekali. Tidak biasanya kau seperti ini.” Ucap Ae Sung sembari menaruh telapak tangannya di dahi Sung Mi, membuat Sung Mi merasa tidak nyaman dengan perlakuan Ae Sung tersebut. Dan dengan cepat menyingkirkan tangan Ae Sung yang menyentuh dahinya.

“Ya! Eonni, singkirkan tanganmu. Itu benar-benar menggangguku, tahu?” Sung Mi menghela nafasnya pelan kemudian bangkit berdiri dan kembali memandang Ae Sung. “Sudahlah, aku lelah. Aku ingin tidur.” Seusai mengatakan itu, Sung Mi segera beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Ae Sung sendiri dengan tubuh yang mematung.

“Astaga, ada apa dengan anak itu? Aneh sekali.”

~~~

Cheonan, South Korea.
07.00 AM, KST.

Jin Ah menghembuskan nafasnya pelan kemudian mengembangkan senyum cerianya sebelum akhirnya mengetuk pintu berwarna coklat kehitaman itu. Hatinya sedang diliputi perasaan senang sekarang, dan ia ingin sekali membagi itu semua dengan orang yang ia cintai. Walaupun … orang itu sama sekali tidak mencintainya, bahkan hanya menganggapnya sebagai adik.

Jin Ah menggeleng. Tidak, ia harus menghilangkan hal itu dari pikirannya sehari ini saja. Ia sama sekali tidak ingin merusak harinya yang bahagia saat ini.

Hari ini ia akan ke Seoul, dan itulah yang membuatnya sangat bahagia hari ini. Ia bahkan tidak bisa menghalau perasaan bahagia yang begitu meluap-luap di hatinya hanya karena memikirkan bahwa ia akan pergi ke ibukota Korea Selatan itu.

Senyum Jin Ah semakin mengembang lebar tatkala pintu itu terbuka lebar dan menampakan seorang pria berperawakan tinggi memandang dengan alis tertaut. Tapi, lagi-lagi Jin Ah mendapati tatapan itu di wajah tampan pria itu, Kim Jong Woon. Tatapan lelah, dan putus asa, seolah-olah pasrah terhadap takdir hidup yang akan membawanya. Jika sudah seperti itu, ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat kepribadian pria itu kembali lagi.

“Ada apa?” Tanya Jong Woon datar dan terkesan dingin dengan ekspresi yang tak kalah datarnya. Ia bahkan tidak ingin repot-repot menyapa gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri itu. Hidupnya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Berubah total tanpa bisa ia cegah.

Bukankah … bukankah ia sudah berkata kepada gadis itu agar tetap berada disisinya, tetap bersamanya tanpa mengenal batas waktu? Lalu kenapa gadis itu meninggalkannya begitu mudah. Bahkan ia meninggalkannya begitu cepat tanpa berpamitan dulu kepadanya. Ini … bahkan sama sekali tidak pernah ia duga. Apa mencintainya harus sesakit ini? Kenapa rasanya seperti ini? Jika begini caranya, itu sama saja membunuhnya secara perlahan. Membuat kesakitan itu ia rasakan secara berkelanjutan. Mungkin rasanya akan lebih baik jika gadis itu disisinya, tapi sekarang? Ia harus mengatasi rasa sakit itu seorang diri.

Ia bahkan rela melakukan apapun asalkan gadis itu bisa kembali lagi padanya. Ia rela jika harus menukar semua yang ia miliki agar gadis itu tetap berada di sisinya seperti dulu. Tidak apa jika ia menerima kesakitan apapun, asalkan gadis itu tetap berada di sampingnya. Tetap menjadi miliknya seperti dulu. Ia merindukannya. Sangat merindukannya sampai rasanya ingin gila.

“Oppa, aku akan ke Seoul hari ini untuk menghadiri pesta pertunangan temanku dulu.” Ujar Jin Ah riang sembari terus menatap Jong Woon yang hanya memberikan tatapan datarnya kepada Jin Ah. Tidak seperti biasanya, memang. Tapi sepertinya mulai detik ini ia harus bersiap-siap dan mengerti jika pria itu memberikan tatapan datarnya kepada dirinya. Walaupun sebenarnya ia khawatir, sangat khawatir dengan keadaan pria itu saat ini. Tapi, memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan selain mengerti dengan keadaan Jong Woon?

“Oh. Sampaikan salamku padanya kalau begitu.” Ucap Jong Woon acuh. Sedetik kemudian ia berbalik dan hendak melangkah memasuki rumahnya, sebelum akhirnya suara seseorang berhasil membuat ia menghentikan langkahnya.

“Ani. Oppa akan memberi selamat kepadanya secara langsung nanti.” Sahut Jin Ah sembari menggeleng dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Ia membayangkan jika ia pergi berdua, hanya berdua dengan Jong Woon pasti akan sangat menyenangkan dan menjadi hari paling bahagia sepanjang hidupnya.

Jong Woon berbalik dan menatap Jin Ah tidak mengerti. “Maksudmu?”

“Oppa akan ikut denganku ke Seoul hari ini.”

Seoul.

Nama salah satu kota di Korea Selatan itu terus terngiang-ngiang di benaknya. Bagaikan sebuah kaset rusak yang terus menerus berputar di benaknya. Ia masih mengingat dengan benar bahwa kekasihnya meninggal karena dia pergi ke kota itu. Jika saja gadisnya itu tidak pergi ke Seoul untuk menaiki pesawat yang melakukan penerbangan ke New York, maka gadisnya itu tidak akan meninggalkannya secepat ini.

Pesawat itu meledak tidak lama seusai lepas landas. Dan gadisnya, Lim Neul Sang … berada dalam pesawat tersebut. Naasnya lagi, tidak ada yang selamat dari peristiwa tersebut. Tentu saja termasuk Neul Sang. Dan hal itulah yang membuat Jong Woon seperti saat ini. Ia seolah kehilangan arah tujuannya.

“Tidak. Sampai kapanpun aku tidak ingin datang ke tempat itu.” Ucap Jong Woon tegas. Ia sudah membulatkan keputusannya. Ia tidak akan pernah pergi ke kota itu. Kota itu membuatnya mengingat kenangan buruk itu lagi.

“Ayolah, oppa … tidak ada yang menemaniku ke sana.” Jin Ah mulai merajuk. Tidak, Jong Woon tidak boleh membiarkannya pergi kesana sendirian. Ia harus ikut dengannya ke Seoul. Bukankah Neul Sang sudah tidak ada lagi? Jadi, otomatis kesempatannya untuk mendapatkan Jong Woon semakin besar. Dan ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bagus ini.

“Bukankah kau bisa kesana sendiri?”

Jin Ah menggeleng. “Aku takut ke sana sendirian.” Ia menghembuskan nafasnya pelan kemudian kembali menatap Jong Woon dengan wajahnya yang tersenyum. “Jadi, bagaimana? Apa oppa ikut denganku?”

~~~

“Eonni~ya … cepatlah bangun!” Seru Sung Mi sembari mengoyang-goyangkan tubuh Ae Sung yang saat ini sedang berbaring di atas ranjangnya. Berusaha membangunkan kakak perempuannya yang saat ini sedang tertidur pulas.

“Aish, jinjja. Kau ini mengganggu saja. Memangnya ada apa, eoh?” Tanya Ae Sung masih dengan wajah baru bangun tidur dan matanya yang masih sipit. Ia lantas menyandarkan punggungnya pada dasbor ranjangnya sembari terus memandang Sung Mi kesal. Tentu saja, bagaimana tidak? Sung Mi sudah mengganggu tidur nyenyaknya dan membangunkannya tanpa alasan yang jelas.

“Ada … Si Won Oppa di bawah.”

Sontak saja mata Ae Sung yang tadinya masih setengah terbuka tiba-tiba saja langsung terbuka lebar begitu mendengar penuturan Sung Mi yang memberitahunya bahwa Si Won ada di bawah. “Mwo? Aigoo, eottheokhe? Lagipula untuk apa dia disini?” Dengan gerakan cepat Ae Sung segera turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak di salah satu sudut kamarnya.

“Tentu saja untuk mengantarkan eonni ke pesta pertunangan Min Chan.” Sahut Sung Mi pelan seraya menundukan kepalanya.

Sontak saja langkah Ae Sung terhenti ketika mendengar ucapan yang lebih menyerupai bisikan itu. Ae Sung berbalik dan menatap Sung Mi penuh rasa penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sung Mi? Kenapa akhir-akhir ini ia terlihat seperti orang yang tidak mempunyai semangat? Bahkan nada yang tadi Sung Mi gunakan sungguh tidak seperti biasanya. Tapi sepersekian detik kemudian pemikiran baru mulai tercipta di otak Ae Sung. Ada satu hipotesisnya yang sangat amat mungkin terjadi di diri adiknya itu dan ia yakin itulah alasan dibalik perubahan sifat adiknya selama ini.

“Apa … kau menyukai pria itu, Choi Si Won?”

Sung Mi mendongak, menatap Ae Sung gugup seolah ia baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu. “Ne? A-aniyo. Tidak mungkin aku menyukainya. Eonni ini ada-ada saja.” Ujar Sung Mi terbata-bata. Tatapan matanya selalu menghindari tatapan mata Ae Sung yang seakan menyelidikinya. Berusaha mencari kebohongan di mata adiknya.

Ae Sung tahu ada sesuatu yang salah pada adiknya itu sejak semalam. Ia bukanlah orang yang baru saja mengenal Sung Mi, ia sudah cukup hapal dengan kepribadian Sung Mi karena ia sudah mengenal gadis itu semenjak kanak-kanak. Jadi, tentu bukan hal yang sulit bagi Ae Sung untuk tahu apa yang sedang disembunyikan oleh Sung Mi. Termasuk pada saat ini. “Jangan berbohong padaku. Dengar, aku juga tidak begitu menyukai pria itu. Jadi, aku akan membuat rencana agar kau bisa dekat dengan dia.”

Mata Sung Mi sontak membulat sempurna mendengar penuturan Ae Sung. Ia tidak percaya, sangat tidak percaya. Bagaimana mungkin kakaknya bisa berpikir untuk mendekatkannya dengan Si Won? Ya, walaupun ia tidak bisa menampik sebagian dirinya yang saat ini sedang bersorak gembira karena hal itu. Yah, setidaknya masih ada harapan untuknya agar bisa bersama pria itu ‘kan? “Mwo? Astaga, bagaimana jika hal ini diketahui oleh eomma?” Tanya Sung Mi khawatir. Ya, memang itulah yang sedari tadi bersarang di pikirannya. Ia memikirkan bagaimana jika orang tua mereka sampai tahu hal ini. Tentu saja, bukan hanya Ae Sung yang terkena imbasnya tapi dia juga.

“Kau tenang saja. Serahkan saja semuanya padaku.”

~~~

“Eomma!” Teriakan seorang gadis yang baru saja menuruni tangga rumahnya itu, berhasil membuat Jung Min Young—yang tidak lain adalah ibu dari Sung Mi dan Ae Sung—menoleh dan menatap Ae Sung dengan pandangan terkejut. Jelas sekali terlihat ia benar-benar terkejut dengan teriakan Ae Sung tadi.

“Ah, kau sudah siap?” Tanya Min Young yang dibalas anggukan oleh Ae Sung. “Bagus. Kalau begitu kau cepat pergi bersama Si Won. Eomma, appa, dan Sung Mi akan menyusul kalian,” ujar Min Young dengan senyuman khasnya.

Tubuh Ae Sung dan Sung Mi langsung mengejang kaku ketika mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh ibu mereka. Satu mobil dengan Si Won? Astaga, kenapa mereka harus merencanakan hal ini? Ia yakin, Sung Mi pasti sangat kecewa ketika mendengar hal ini. Dengan ragu-ragu, Ae Sung melirik Sung Mi melalui ekor matanya dan tepat seperti dugaannya, Sung Mi hanya mampu berdiri kaku di tempatnya tanpa menampilkan ekspresi apapun.

Ae Sung kembali menatap ibunya meminta penjelasan. Ia tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti kenapa orang tuanya tidak membicarakan ini dulu dengan dirinya sebelumnya. “Keunde, eomma … kenapa harus terpisah seperti itu? Bukankah lebih baik jika bersama-sama saja?” Tanya Ae Sung, berusaha mengubah pemikiran orang tuanya itu.

“Aniyo, kalian berdua perlu lebih banyak waktu bersama jadi lebih baik seperti ini.” Ujar Min Young sembari menatap Ae Sung dan Si Won bergantian. Dan pernyataan itu disetujui oleh ayah Ae Sung.

“Tapi, apa tidak lebih baik jika Sung Mi juga ikut?” Lagi-lagi Ae Sung berusaha mengubah rencana awal orang tuanya. Tentu saja, bukan ini yang diharapkannya. Ia ingin mendekatkan Sung Mi dan Si Won bukannya semakin menjauhkan mereka berdua. Jelas, ini sangat amat jauh dari harapannya.

“Tidak, Sung Mi akan ikut dengan kami nanti.” Ujar Min Young tegas tanpa bisa dibantah. “Kalian cepatlah, sebentar lagi acaranya akan dimulai. Kau tidak mau terlambat di pesta pertunangan adik sepupu mu sendiri, bukan?”

Ae Sung menghela nafas berat mendengar ucapan ibunya. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menolak permintaan tersebut. Jadi, mau tidak mau ia harus menerimanya—walaupun dengan berat hati. “Baiklah.”

~~~

Si Won melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Seoul yang tidak begitu padat seperti biasanya. Sesekali ia melirik Ae Sung yang berada di sampingnya melalui ekor matanya. Gadis itu tampak melihat jalanan di luar melalui kaca jendela mobil yang ditumpanginya.

Keadaan di dalam mobil Si Won begitu sunyi. Semenjak mobil itu meninggalkan halaman rumah Ae Sung, tidak ada obrolan sama sekali yang terjadi diantara keduanya. Walaupun sejujurnya, ia sangat ingin sekali membuka pembicaraan diantara mereka. Karena bisa dipastikan Ae Sung tidak akan memulai pembicaraan lebih dahulu.

“Ehm … sepertinya tadi kau terlihat sangat terpaksa saat Min Young Ahjumma menyuruhmu untuk satu mobil denganku. Apa ada masalah dengan hal itu? Apa kau merasa keberatan?” Tanya Si Won pelan tanpa menatap Ae Sung. Pandangannya masih terfokus pada jalanan di depannya.

Ae Sung menoleh dan menatap Si Won serba salah. Di satu sisi, ia merasa tidak tega jika harus mengatakan yang sejujurnya kepada Si Won. Karena tentu saja ia akan menyakiti hati pria itu. Jujur saja, sebelumnya ia tidak pernah merasa kasihan terhadap pria-pria yang hendak dijodohkannya. Ia merasa bahwa pria-pria itu tidak pantas dikasihani, tapi entah kenapa untuk kali ini, hal itu seperti tidak berlaku. Baginya, Si Won lebih baik dari pria-pria yang hendak dijodohkan dengannya sebelumnya. Tapi di sisi lain, ia juga tidak tega jika harus melihat hati adiknya sakit saat gadis itu baru pertama kalinya merasakan cinta. Mungkin jika itu terjadi padanya akan terasa sangat menyakitkan. Karena, ia juga belum pernah merasakan apa yang namanya itu cinta. Dan lagi, ia sama sekali tidak ingin memberikan harapan palsu pada pria itu.

“Tidak, hanya saja aku merasa sedikit canggung jika hanya berdua saja dengan orang yang baru kukenal.” Ujar Ae Sung tidak sepenuhnya berbohong. Yah, setidaknya ia memang berkata berdasarkan kenyataannya. Walaupun sebenarnya bukan itu alasan ia menolak permintaan orang tuanya.

Dua puluh menit berlalu dengan keadaan sunyi sama seperti sebelumnya. Sampai akhirnya kecepatan mobil itu perlahan melambat sampai akhirnya mobil tersebut benar-benar berhenti di depan sebuah rumah yang tak kalah megah dari rumah mereka berdua.

Ae Sung hendak membuka pintu mobil itu sebelum akhirnya suara Si Won berhasil membuat ia mengurungkan tindakannya itu. “Tunggu sebentar. Biar aku saja.” Ae Sung menoleh menatap Si Won tidak mengerti.

Si Won berjalan keluar dari mobilnya kemudian berjalan menuju pintu mobil yang tadi hendak dibuka oleh Ae Sung. Ia lantas berdiri di depan pintu itu dan tanpa berlama-lama lagi segera membuka pintu itu dengan gerakan pelan.

“Gomawo, Si Won~ssi. Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini. Merepotkanmu saja.” Sahut Ae Sung ketika sudah keluar dari mobil milik Si Won tersebut. Sejujurnya, ia tidak suka diperlakukan seperti ini. Tapi, apa boleh buat lagi? Semuanya sudah terlanjur.

“Gwaenchana. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Ah, ya, jangan memanggilku terlalu formal. Umurku hanya dua tahun lebih tua darimu, ‘kan? Kalau begitu panggil saja aku ‘oppa’, aku tidak begitu menyukai panggilan yang terlalu formal.”

Ae Sung hanya tersenyum kaku menanggapi ucapan Si Won tersebut. Karena pandangannya seolah terkunci ketika ia melihat seorang pria berambut hitam dengan tatapan matanya yang tajam dan dingin itu berjalan menuju pintu masuk rumah Min Chan. Pria itu tidak sendirian, tapi ada seorang gadis yang berjalan di sampingnya.

Tubuhnya sontak menjadi kaku ketika tatapan matanya beradu dengan tatapan pria itu. Entah apa yang ia rasakan kini, tapi satu yang pasti. Jantungnya … jantungnya kenapa bisa berdetak sekencang ini? Ia sama sekali belum pernah merasakan yang seperti ini. Astaga, sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya?

Lagi. Tubuhnya kembali mengejang kaku tatkala pria itu berjalan—setengah berlari—ke arahnya kemudian memeluknya begitu erat, seolah tak akan pernah ia lepas. Ia bahkan bisa merasakan detak jantung pria itu yang bergerak seirama dengan detak jantungnya. Sama-sama berdetak tidak terkendali dan terkesan berlebihan. Ia juga bisa merasakan deru nafas pria itu yang dihembuskannya secara teratur. Tapi satu kalimat yang dikeluarkan pria itu sukses membuatnya seolah tertampar keras dan kembali ke kenyataan.

“Neul Sang~ah … aku benar-benar merindukanmu.”

-TO BE CONTINUED-

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s