OneShot


Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Jung Yunho [TVXQ], Kim Jaejoong [TVXQ]

Genre: Sad Romance

Rating: General

Type: Yaoi – Straight version here!

Length: Vignette

oneshot

Copyright&Crossposting by Goetary

“Kau pernah mencintaiku?”

Suara itu bergema dalam benaknya. Untuk kesekian kalinya.

“Kau pernah mencintaiku?”

Tanya suara itu lagi, kini lebih tegas. Membuatnya ragu apa benar orang itu memang menginginkan sebuah jawaban, atau tidak.

Seberkas sinar keemasan membuat pola-pola tak beraturan mengikuti corak tirai penutup jendela. Dengan gerakan malas ia menutup mata dengan sebelah lengan. Rasanya lelah sekali.

Yunho berguling ke samping tempat tidur, bagian yang pernah dimiliki seseorang itu kini terasa sedingin es. Kulitnya yang tidak siap sontak menegang. Ia mendengus kasar, menutupi kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya. Bibirnya mengerut.

“Yunnie…”

Suara itu lagi.

“Kita berpisah saja.”

“Kenapa?”

“Karena aku akan segera menikah dengan orang lain. Seperti maumu…”

Dengan gerakan secepat kilat ia melompat dari tempat tidur, tergesa-gesa ke kamar mandi. Yunho segera membasahi wajahnya dengan air dari washtafel, berkali-kali, sampai ia merasa kedinginan. Sambil memandangi pantulan wajahnya di cermin, Yunho menyeringai.

Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas. Kelopak matanya terasa berat dan bengkak karena sudah berhari-hari tidak tidur.

“Sudah kubilang jangan suka begadang, lihat matamu.”

Refleks ia menoleh ke arah sumber suara tadi. Berharap bisa melihat sosok itu di sana. Walau hanya sekedar bayangannya saja. Tapi ia cuma sendiri, mulai sekarang, tak akan ada yang masuk ke kamarnya tanpa permisi.

“Kumohon… berhenti, Jungie… berhenti, jangan lagi…,” bisiknya terbata-bata.

 

G  O  E  T  A  R  Y

Jejung sudah tidak di ranjang ketika Yunho bangun di hari sabtu pagi itu. Dia melihat pria itu menangis semalam tapi tidak berkomentar apa-apa, karena dia tahu bahwa berbicara hanya akan membuatnya menangis juga. Namun hal tersebut malah membuat perasaannya tak keruan, akibatnya ia tidak tidur sampai berjam-jam lamanya.

Sebaliknya, ia berbaring dengan mata terbuka ketika Jejung tertidur di pelukannya. Ia merapatkan diri ke tubuh Jejung, seakan berusaha menebus tahun-tahun yang akan hilang di kemudian hari, ketika mereka tidak lagi bisa bersama.

Jejung sudah membawa pergi pakaian kotor Yunho, dan menggantung setelan baru yang diperlukannya di pegangan lemari. Setelah mandi dan berganti pakaian, Yunho bergegas turun ke lantai dasar.

Pria itu sedang di dapur, berdiri dekat kompor sambil mengaduk sup ayam di panci. Dua cangkir kopi terletak di meja di sampingnya. Sewaktu Jejung membalikkan badan, Yunho bisa melihat mata pria itu sembab.

“Selamat pagi,” sapa lelaki itu.

“Pagi,” jawab Jejung muram, seraya memalingkan muka. Dia mulai menggoreng telur di atas wajan datar. “Aku membuat sup dan telur orak-arik, kalau kau mau roti panggang bisa kubuatkan juga.”

Yunho menghampiri Jejung. “Itu sudah cukup.”

Lelaki itu seolah tak mendengarkan, dan Yunho menaruh tangannya di punggung Jejung. Sesaat ia mendengar Jejung mendesah gemetar, seakan-akan sedang berusaha menahan tangis.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja,” bisik Jejung.

“Sungguh?”

Jejung mengangguk sambil mengangkat penggorengan dari kompor. Sementara menyeka matanya, dia menghindari tatapan Yunho.

Jungie… jangan…”

Jejung berbalik. “Jangan apa? Sedih? Jangan menangis? Aku akan segera menikah dengan orang lain dan kekasihku tak sanggup berbuat apa-apa. Jadi kenapa aku tidak boleh merasa sedih?” ujarnya ketus.

“Aku tidak bilang kau tak boleh merasa begitu, tapi…”

“Itu sebabnya aku sedih, Yun. Karena aku juga tahu apapun yang kukatakan sekarang tak akan bisa membuatmu melakukan sesuatu…”

Jejung segera berhenti bicara ketika melihat ekspresi terluka di wajah Yunho. Ia sendiri berusaha keras untuk tidak menangis lagi setelah semalam.

Meski sadar Yunho tak bisa melakukan apa-apa, Jejung seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau lelaki yang kini berdiri di hadapannya mampu melakukan sesuatu. Apa saja. Asalkan ia tidak menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Namun Yunho bergeming.

Dan ia tahu. Mereka tahu. Semua yang akan terjadi memang seharusnya terjadi.

Pagi itu mereka menghabiskan sarapan bersama-sama dalam diam. Jejung sama sekali tidak merasa lapar namun memaksakan diri untuk tetap makan. Yunho makan sedikit-sedikit, ia perlu waktu lebih lama dari biasanya untuk mengosongkan piringnya, dan ketika sudah selesai, mereka membawa piring-piring tersebut ke bak cuci.

Di ruang tamu Yunho menunggu Jejung berganti pakaian. Ia mengenakan setelan jas yang sudah disediakan Jejung sambil memegang bros bunga untuk di selipkan di jas lelaki itu nanti. Jantungnya berdegup tak keruan seperti saat pertama kali mengantar Jejung ke pesta dansa SMU.

Jejung menuruni anak-anak tangga tanpa gairah. Tangannya sibuk mengancingkan jam tangan di lengan. Wajahnya dibiarkan polos tanpa bedak, tapi toh Jejung memang tidak membutuhkannya sama sekali. Ia selalu nampak menakjubkan. Dan Yunho tergila-gila padanya.

Yunho menghampiri Jejung ketika ia sampai di anak tangga terakhir, ia mengulurkan tangannya. Jejung membalas uluran tangan Yunho, namun terhenti sesaat ketika melihat keragu-raguan di wajah lelaki itu. Yunho kemudian menunduk dalam balutan tuksedonya, lengannya terangkat sebagai isyarat meminta lelaki itu berjalan mendahuluinya.

Mobil pengantin sudah menunggu mereka sejak tadi, Jejung duduk di kursi belakang limusin hitam milik hotel tempat ia akan melangsungkan pernikahan. Ketika Yunho akan beranjak, Jejung meraih tangan lelaki itu.

“Duduklah di sini denganku,” bisiknya.

Entah berapa lama mereka hanya saling berpandangan, namun ketika akhirnya Yunho menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman, kekakuan menyelimuti atmosfer di antara mereka. Dengan berat hati Yunho melepas tangannya dari genggaman Jejung, sekali lagi ia menunduk.

“Kau akan baik-baik saja,” katanya. “Kita akan baik-baik saja,” lirihnya sekali lagi, dalam hati, berharap apa yang ia katakan memang benar.

Yunho menarik napas dalam-dalam, dia menoleh sejenak ke samping, kemudian kembali menatap lelaki yang akan segera menjadi pengantin seseorang sambil menyeka matanya yang basah. Susah payah ia tersenyum lalu segera meluruskan punggungnya. Yunho mundur dari pandangan Jejung dan segera menutup pintu.

 

G  O  E  T  A  R  Y

Yunho keluar dari kamar setelah mencuci muka dengan perasaan nelangsa. Kepalanya berdenyut-denyut. Seluruh tubuhnya terasa sakit, tapi ia tak yakin dari mana asalnya.

Yunho mendorong rolling door yang menutupi garasi mobil ke atas, membuat otot-otot lengannya berkontraksi, kemudian masuk ke dalam untuk memanaskan mobil-mobil milik majikannya. Mesin mobil sedang menyala ketika ia mulai membersihkan bagian luarnya dengan kain basah. Tidak memedulikan peluh yang menetes di wajahnya, Yunho menyelesaikan pekerjaan tanpa mengeluh.

Matahari sudah cukup tinggi saat ia keluar dari garasi dengan kedua tangan menjinjing ember berisi air dan sabun, namun hari masih cukup pagi untuk minum secangkir kopi.

Jadi Yunho kembali masuk ke dalam rumah, menyeduh secangkir kopi untuk dirinya sendiri serta memanaskan roti isi sisa semalam dari dalam kulkas. Dia duduk di samping jendela, menyesap kopinya sementara mulutnya masih sibuk mengunyah. Tepat di saat itulah Yunho melihat sosok Jejung keluar dari pintu belakang rumah besar di depan rumahnya.

Buru-buru lelaki itu menghentikan sarapannya dan berhambur keluar. Mengendap-endap mengikuti Jejung dari belakang. Berusaha tidak mengusiknya.

*

Matahari bersinar terik, hangat namun udara masih terlalu dingin untuk keluar tanpa jaket. Bunga-bunga dan rerumputan terlihat segar sepagi ini. Dari belakang, pria itu nampak begitu bahagia. Sesekali ia berhenti untuk membaui bunga-bunga mawar milik ibunya di sepanjang jalan setapak di kebun belakang rumah mereka.

Jejung terus berjalan, sepertinya tidak menyadari kehadiran seseorang yang mengikutinya dari belakang. Senyum di wajahnya tersungging ketika sinar matahari membelai kulitnya. Jejung menghirup udara dalam-dalam, merasakan keharuman di sekelilingnya. Damai.

Pagi itu damai, pikirnya.

*

Dia sontak berhenti melangkah waktu Jejung berhenti di depan bunga-bunga mawar yang bermekaran. Meskipun sangat ingin berada di dekat pria itu, Yunho tetap berusaha menjaga jarak sambil berharap-harap cemas agar pria itu tidak menoleh ke arahnya.

Namun selang berapa lama, Jejung kembali berhenti. Kali ini, sambil menyebut namanya.

Yunnie…”

Jantung Yunho berdegup demikian cepat. Rasanya seperti pencuri yang kepalang basah sedang mengincar harta paling berharga milik tuan rumah. Ia membeku di tempatnya.

Yunnie…” Jejung kembali bersuara. Kepalanya meneleng ke samping, namun ia tidak menoleh untuk mencari lihat Yunho. Ia sadar lelaki itu ada di sana.

“Hmm?”

“Rindukah kau padaku?”

Yunho tidak menjawab. Seharusnya tadi ia sudah pergi dari sana sebelum Jejung menyadari kehadirannya. Seharusnya ia tidak meninggalkan roti isi serta kopinya yang sekarang mungkin sudah tidak enak lagi. Seharusnya ia tidak menjawab panggilan Jejung. Karena sekarang ia bingung harus apa. Tak mungkin bisa lari dari kenyataan.

Jejung memutar badannya, bibirnya melengkung membentuk senyuman. Serupa dengan bulan purnama semalam yang ia pandangi dari teras. Indah, namun terlalu jauh sehingga tak bisa digapai.

“Apa kabar?” tanya lelaki itu, yang tiba-tiba tersedak oleh tawanya sendiri.

Yunho memandangnya heran.

“Lucu yah?” lirihnya. “Kau tidak kelihatan baik-baik saja, tapi aku malah bertanya bagaimana kabarmu.” Jejung menggeleng-geleng tak percaya. Senyum indah itu masih menghiasi wajahnya. Namun, saat Jejung menoleh ke arahnya, saat itulah Yunho melihat air mata mengenang di matanya.

“Aku baik-baik saja,” kata Yunho. Heran bagaimana ia sanggup berbicara setenang itu.

Jejung menggigit bibir, lalu mengangguk, lagi, dan lagi. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha tidak menangis.

“Ayahmu mungkin sudah siap, aku harus pergi.”

Jejung mendongak mendengar ucapan Yunho. Lama mereka hanya saling menatap. Tiba-tiba perasaan aneh menjalari tubuhnya, membuat Jejung bingung. Sudah selama apakah ia tidak melihat Yunho? Dia baru pulang dari bulan madu selama dua minggu, dan mendadak ia merasa seperti sedang melihat orang lain. Bukannya lelaki yang sudah dikenalnya hampir seumur hidupnya.

Yunho melangkah mundur. Tapi langkahnya tertahan. Seakan sedang menunggu keajaiban dari langit, berharap Jejung mau menahannya. Mengajaknya menghilang dari dunia ini. Lalu hidup bahagia selamanya. Bodoh, makinya pada diri sendiri.

“Kau terlihat baik,” bisik Yunho. Yang dijawab dengan anggukan singkat. Dia kembali mundur, kali ini dengan sekuat tenaga. Namun lagi-lagi, mengurungkan niatnya.

“Aku mencintaimu…”

Ucapan itu hanya berupa bisikan. Jarak antara mereka berdiri hampir sepuluh kaki, namun bagi keduanya, ucapan tersebut terdengar seperti sebuah pengumuman yang disampaikan dari pengeras suara milik pelatih olahraga SMU mereka.

Baik Yunho maupun Jejung bergeming di tempat masing-masing. Menimbang-nimbang sesuatu di pikiran mereka. Mencoba mencerna pengakuan tadi.

Jejung kembali buka suara, hanya karena ia tak senang dengan kesunyian di antara mereka, “kau pernah mencintaiku?”

“Jae…”

“Jawab aku, Yun,” potong Jejung cepat. “Aku hanya butuh satu jawaban dari sekian pertanyaan yang tidak kau jawab.”

“Jangan… jangan memaksaku, itu tidak adil,” Yunho hampir tersedak oleh air matanya sendiri, namun ia memaksa menatap lelaki berwajah secantik bidadari di hadapannya.

Jejung mendesah, nampak asap putih bergumpal dari mulutnya. Udara memang dingin, tapi tidak ada yang sedingin hatinya kini. Tak ada.

“Kau tahu aku selalu begitu… cinta… aku selalu mencintaimu. Tapi aku tidak boleh begitu,” Yunho kembali bicara. Meski terbata-bata ia berhasil menyelesaikan kalimatnya. Setidaknya, pikirnya, untuk sekali ini ia ingin Jejung tahu perasaannya yang sebenarnya. Walau tak akan merubah apa-apa.

“Aku tahu, sekarang aku tahu,” bisik Jejung. Air mata mengalir di pipinya. Jejung nampak menggigil di balik mantel bulunya. Jejung merapatkan mantel tersebut dan melipat tangan di depan dada. “Ayahku mungkin mencarimu. Sebaiknya kau segera kembali.”

Yunho mengangguk, ia baru saja akan berbalik pergi ketika Jejung bergegas berjalan melewatinya. Tanpa sadar tangannya meraih pergelangan Jejung.

Pria itu memandangi pergelangan tangannya. Dadanya berdesir rindu. Air mata kembali lagi. Tapi kemudian Yunho bicara. Lebih banyak dari biasanya.

“Aku baik-baik saja. Jadi, kau juga harus…”

“Bahagia?”

Yunho mengangguk bisu. Menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Perlahan ia melepaskan genggamannya, membiarkan Jejung pergi. Dan air mata serta-merta jatuh berderai. Untuk pertama kalinya sejak ia dipaksa berhenti memiliki perasaan untuk Jejung. Harusnya ia merasa lega, tapi yang ia rasakan justru jauh dari kata puas.

Jejung berjalan hampir berlari. Meninggalkan jalan setapak kebun bunga ibunya. Menyongsong kebahagiaan yang dijanjikan orang tuanya, bersama seseorang yang lebih layak. Bukannya bersama anak supir yang terpaksa menggantikan tugas ayahnya setelah beliau meninggal seperti Yunho.

Dulu ia sering marah pada ibunya, karena selalu melarangnya berteman dengan Yunho. Padahal Yunho selalu satu sekolah dengannya, selalu mengantarnya kemana saja, jadi itu bukan alasan untuk menjauhkan mereka.

Belakangan ia baru sadar, kalau seorang pelayan tidak seharusnya bergaul dengan orang-orang terpandang seperti mereka. Yunho hanya seorang penjaga pribadi yang diberikan ayahnya secara suka rela. Tapi Jejung tak pernah keberatan. Ia justru bahagia, tapi itu dulu. Sekarang, ia ingin semua hal berbeda.

Dulu, tidak, setidaknya beberapa saat yang lalu Jejung merasa dirinya sanggup meyakinkan Yunho untuk membawanya melarikan diri. Yakin lelaki itu juga mencintainya. Tapi sekarang, semua itu hanya menjadi sekedar masa lalu. Dan saat ini ia sedang berlari menjauhi masa itu. Menghindar dari jawaban yang baru ia terima.

Sementara itu, di taman, di tengah kebun bunga mawar yang sedang merekah, Yunho menengadah memandang langit. Air mata masih menghiasi wajahnya, namun ia tak berusaha menghapusnya. Biarlah sekali ini ia menangis sepuas hati, karena sebentar lagi ia harus kembali pada kewajibannya.

Lalu tanpa bisa di tahan, Yunho meringis kesakitan, kepalanya berdenyut-denyut, hatinya pilu, tubuhnya lunglai. Untuk beberapa saat Yunho seakan lumpuh, tapi ia tidak tersungkur di tanah, hanya saja tubuhnya tidak bereaksi. Tidak merasakan apa-apa. Kebas.

Jika ia bisa terbang, maka saat ini rasanya seperti sedang melayang-layang di udara. Membiarkan grafitasi melempar tubuhnya kesana-kemari. Yunho mengangkat sebelah tangannya, menekannya di dada, kemudian terisak tanpa suara.

Di taman yang hanya ada dirinya dan bunga-bunga mawar yang indah sebagai saksi, Yunho menangis tersedu-sedu, memukul dadanya berkali-kali, mencabik rambutnya, menggigiti bibirnya yang berdarah, tapi apapun yang ia lakukan untuk membuatnya merasa kesakitan tidak berhasil. Sampai akhir ia tidak lagi bisa merasakan apa-apa. Seakan jiwanya menghilang bersamaan dengan kepergian Jejung ke rumah barunya bersama seseorang yang kini telah resmi menjadi pasangannya untuk sehidup dan semati.

 

The End

Author Note: Ini sebenarnya bagian dari BTS [B.A.P The Series] yang tujuannya hanya untuk 6 alien tersebut😆 , tapi karena saya rasa part ini cocok buat Yunjae, jadilah di transfer ke versi Yunjae:mrgreen:

Kalo ada yang ingin melihat keseluruhan BTS then come to my blog please😉

2 thoughts on “OneShot

  1. Pingback: OneShot | Gita Oetary

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s