[BTS] Rain Sound


Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Zelo Choi Junhong [B.A.P], Tia Hwang [Chocolat]

Length: Vignette

Type: Songfic

Soundtrack: Rain Sound by B.A.P

BTS rain soundCopyright&Crossposting by Goetary

This weather, this temperature, this passing wind, will I remember it?

Hujan sudah turun sejak kemarin tanpa sedikit pun menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Di kota Seoul yang muram karena seharian tidak terkena matahari, lelaki berkaki panjang itu berlari menerobos derai air yang turun demikian deras dari depan stasiun kereta. Tapak kakinya yang lebar memecah genangan berbentuk pola-pola tak beraturan di sepanjang trotoar pejalan kaki.

Dengan jaketnya yang basah ia memasuki pintu masuk Menara Seoul. Tempat dimana terkenal sebagai tujuan wisata bagi turis maupun penduduk setempat yang letaknya tak begitu jauh dari salah satu universitas ternama.

A bright red umbrella

Wet and drenched clothes and sneakers

Jantung pemuda itu mendadak berdentam tak keruan ketika matanya menangkap sosok wanita muda berdiri di dekat sebuah pohon dengan memakai terusan selutut berwarna coklat serta cardigan berlengan panjang di bawah payung merah.  Gadis itu sepertinya tidak menyadari kedatangan Zelo.

On a rainy day, I fell for you

Zelo tersenyum malu-malu. Merasa bersalah sudah membuat kekasihnya menunggu terlalu lama. Gadis itu memandang Zelo dengan wajah datar ketika akhirnya ia melihatnya.

“Maaf aku datang terlambat.”

Zelo bergegas menghampiri gadis berdarah campuran Korea-America itu. Yang memiliki wajah yang sangat cantik, dengan rambut panjang sehalus sutra. Saat Tia tidak membalas senyum di wajah Zelo, tanpa sadar pemuda itu meringis. Yakin keterlambatannya kali ini bisa membuat gadis itu meledak.

Plakk.

Tamparan itu mendarat begitu saja. Suaranya memang tidak terlalu keras, namun entah mengapa dunia di sekitar mereka berdua mendadak bisu. Dengan mata nanar ia memandangi wajah tampan Zelo, mencari sesuatu—apa saja—di sana. Namun tak ada apa pun yang ia temukan. Zelo menatap kosong ke arahnya. Seolah ia tak pernah ada.

Zelo menyentuh pipinya yang terasa perih. Ia kembali memandang gadis di depannya. Wajahnya memerah menahan malu. Menatap Tia menuntut penjelasan atas tamparan yang tak ia harapkan.

“Aku sudah menunggu lebih dari dua jam,” pekik gadis itu dengan suara tertahan. Suaranya bergetar menahan tangis dan rasa kecewa yang sudah sekian lama ia pendam sendiri. “Kalau Oppa memang tak bisa datang seharusnya kabari aku. Kau punya handphone, kan!?”

Zelo menghapus air hujan dari wajahnya. “Aku kan sudah minta maaf,” balasnya keras kepala.

A girl like you is such a confusing set of questions and answers

“Jadi menurutmu aku ini apa? Kalau Oppa berencana terus begini seumur hidup lebih baik kita tidak usah bersama. Aku lelah harus terus-terusan menunggu tanpa kepastian.”

“Kau tahu aku sibuk, Tia…”

Tapi Tia tidak lagi mau mendengar penjelasan apa pun dari Zelo. Dengan mata merah menahan air mata ia melangkah pergi setelah sebelumnya melempar dua kepingan besi ke arah pemuda bertubuh jangkung itu.

We used to love each other so much

It didn’t seem like we had to do this

Zelo menunduk setelah tak lagi melihat bayangan Tia di antara kabut. Dua buah gembok berwarna putih dan hitam berbentuk telur dengan ukiran saling mengunci di bawah kakinya. Zelo mengambil gembok-gembok tersebut, perasaannya campur-aduk. Ia memang sudah berjanji akan datang tepat waktu hari ini, bahkan berjanji untuk merayakan satu tahun jadian mereka dengan memasang gembok di atas menara tempat para pasangan mengikrar janji mereka.

Dengan penyesalan tiada tara ia mendesah, mengerjap-ngerjapkan matanya yang basah.

Whatever I do, my heart hurts so much

Is that how I feel or is it not?

 

G  O  E  T  A  R  Y

I walk alone on the streets

I go to the cafe I used to go a lot, I go watch a movie

“Zelo… ayo pulang.”

Pemuda itu segera terenyak dari tidurnya yang singkat ketika suara bariton Yongguk membangunkannya. Masih dengan kesadaran yang belum pulih benar Zelo mengerjap-ngerjap ke seluruh ruang tunggu studio rekaman.

I lock even myself in the memories

“Ayo,” lagi-lagi Yongguk buka suara. Tapi Zelo masih terlalu lelah untuk bisa disadarkan sepenuhnya. “Yang lain sudah menunggu di mobil, Zeloya.”

Pemuda yang rambutnya di cat merah itu mengangguk, masih nampak mengantuk. Dengan penuh pengertian Yongguk membantunya berdiri. Zelo terseok-seok dengan Yongguk mengapit lengannya supaya ia terus berjalan.

A person to be forgotten like a passing by black and white film

Di dalam mobil yang hangat ia mengambil tempat duduk di kursi paling belakang sebelah kiri dekat jendela. Di mana Jongup dan Himchan sudah lebih dulu terlelap di sampingnya sementara Yongguk duduk di depan dekat kursi pengemudi.

From the beginning, I held you in the left side of my heart and you thickly remain

Now you remain as a broken fragment that’s deeply engraved inside

Van mereka perlahan beranjak keluar dari area parkir basement. Sekali lagi Zelo terenyak dari lamunan yang hampir membawanya kembali ke alam mimpi ketika hujan lebat menerpa atap mobil, meninggalkan suara gemuruh samar.

Is this sound of the rain? Your voice?

Mendadak kesadarannya pulih sepenuhnya. Kantuk yang tadi menyergapnya kini hilang tak bersisa. Zelo memandang keluar jendela. Mobil-mobil pribadi terlihat berbaris dengan tertib ketika lampu lalu lintas berganti merah.

Mobil mereka lalu berbelok. Melewati jalanan yang amat ia kenali, tempat sebuah kafe yang biasa ia datangi bersama Tia saat mereka masih bersama.

Is this a sound that calls to me? Am I the only one thinking of you?

Zelo mengunci pandangannya pada sebuah tiang penyangga bangunan di dekat taman, tempat biasa Tia bersandar sepulangnya dari kampus seraya menunggunya. Biasanya walau ia datang terlambat gadis itu selalu melemparkan senyuman yang sehangat matahari di musim panas, yang seindah sakura di musim semi.

Will this rain comfort me?

Namun kini, jangankan melihat senyuman gadis itu, melihat sosoknya lagi saja rasanya sudah tak mungkin. Rasa bersalah mendadak menghampirinya. Walau ia tahu penyesalan tak lagi ada gunanya. Tia sudah pergi. Gadis itu, untuk selamanya, tak akan lagi pernah menunggu dirinya. Dimana pun.

 

G  O  E  T  A  R  Y

Hari sudah malam ketika mobil yang ditumpanginya memasuki halaman rumah. Hujan sempat reda dan meninggalkan jejak basah serta kumpulan genangan air di tanah, teras licin karena basah. Zelo bergegas memasuki rumahnya tanpa mempedulikan anggota yang lain. Mendadak merasa sangat lelah.

Outside the window, the sound of the rain rings

I remember the memories of us

Zelo melempar tas punggungnya ke atas ranjang, membuka sepatu dan kaos kakinya seraya duduk di pinggir tempat tidur. Dengan perasaan hampa ia membaringkan punggungnya ke ranjang yang empuk.

In the wee hours of the night, it’s perfect for thinking about you

Dia menutupi matanya dengan sebelah lengan. Lelah sekali, pikirnya. Namun matanya tak mau memejam. Hati dan pikirannya tetap terjaga. Zelo membalik tubuhnya, berusaha membenamkan wajahnya di bantal.

In this place without you, I fight with loneliness

Entah sudah berapa kali Zelo membolak-balikkan tubuhnya di ranjang, mencoba mencari posisi yang tepat untuk sekedar menghilangkan rasa penat walau sejenak. Namun hingga beberapa saat kemudian, ketika suara hujan kembali terdengar di balik tembok kamarnya, lelaki itu menyerah. Ia beranjak bangun dari tempat tidurnya.

Hal pertama yang ada dalam pikirannya adalah ia ingin melihat kondisi di luar rumah. Jadi Zelo menyibak tirai dan mendorong daun jendela. Udara dingin seketika menerpanya, ia menggigil. Namun matanya terpusat ke suatu tempat di luar sana.

Seseorang mengetuk pintu kamar, Zelo sontak menoleh. Dari balik celah daun pintu yang sedikit terbuka, nampak kepala Jongup. Lelaki bermata sipit itu menebar senyum sumringah, mau tak mau membuat Zelo ikut tersenyum membalasnya.

“Masuklah, Hyung,” ajak Zelo.

Jongup masuk ke dalam kamar, ia membawa dua cangkir coklat panas. Salah satunya ia sodorkan pada Zelo.

“Terima kasih,” kata Zelo menerima cangkir tersebut.

Jongup duduk di tepi ranjang, sesekali menyesap minumannya. Sementara Zelo kembali ke dekat jendela.

“Ada masalah?” tanya Jongup tiba-tiba.

Zelo menggeleng. “Aku baik-baik saja.”

“Lapar tidak? Himchan Hyung menyuruhku mengajakmu makan malam,” Jongup berhenti sejenak untuk menghirup coklat panasnya, lalu kembali berkata, “Hyung masih masak, jadi sebentar lagi. Semoga saja coklat ini tidak membuatku cepat kenyang.”

Zelo tidak mendengarkan ucapan Jongup. Ia membenamkan wajahnya di balik cangkir berisi coklat panas kesukaannya sambil kembali menoleh keluar jendela. Yang membuatnya heran adalah, tak peduli berapa lama hujan mengguyur halaman, semua tanaman nampak baik-baik saja. Basah memang, namun entah mengapa, rasanya mereka terlihat bahagia. Berbanding terbalik dengan keadaannya sendiri.

Dia menoleh ketika Jongup membaringkan tubuhnya di atas ranjang, berguling ke samping. Zelo tersenyum melihatnya. Jongup selalu kerasan berada di mana saja, dan bersamanya Zelo pun mau tak mau merasakan hal yang sama.

Ia menutup daun jendela namun membiarkan tirai tetap terbuka, cangkirnya yang sudah setengah kosong diletakkan di atas meja nakas. Zelo menghampiri Jongup lalu berbaring di dekatnya.

Hyung.”

Jongup menoleh memandang Zelo, lantas bergumam, “hmm?”

“Tia meninggalkanku.”

Ada sesuatu yang menekan dadanya. Rasanya jelas sekali. Ia yakin itu. Perasaan yang sudah berusaha ia sembunyikan rapat-rapat di dasar hatinya, ketika terucapkan malah terasa semakin nyata. Air mata membayang di wajah Zelo, tapi bibirnya berusaha tersenyum walau pada akhirnya ia terpaksa mengulum bibir dan menggigitnya.

“Aku tahu,” Jongup tiba-tiba menjawab.

Zelo memandanginya tak percaya. Lelaki itu sontak bangkit, “Hyung tahu?” tanyanya ragu.

Jongup ikut-ikutan bangun dan duduk di tepi ranjang. Kepalanya mengangguk mantap, tapi senyumnya terasa hangat. Dengan gerakan kaku ia menaruh tangannya di pundak Zelo, sambil menepuk ia berkata, “semua tahu. Yongguk Hyung yang menyuruhku kemari untuk membantumu bicara.

“Lagipula memangnya kau pikir kenapa Himchan Hyung tiba-tiba membuatkan kita coklat panas tanpa diminta?” Jongup terkekeh pelan menyelesaikan ucapannya.

Tanpa sadar Zelo membelalak. Kontan hal itu membuat air mata jatuh di pipi. Ia menyekanya cepat-cepat, tak mau disebut cengeng. Tapi kali ini, ketika ia mengusap pipinya, air mata kembali lagi. Semakin deras seiring sapuan jemarinya.

“Tidak apa-apa, Junhonga…” Jongup meraih tangan Zelo, mengajaknya duduk di sampingnya. “Suatu saat nanti, kau pasti akan baik-baik saja.”

“Seperti Hyung?”

“Seperti aku.”

Jongup mengangguk mantap. Matanya memandang lurus ke mata Zelo. Dan seketika lelaki itu sadar, kalau semuanya pasti akan baik-baik saja. Jadi ia mengangguk, kali ini sambil tersenyum.

“Pasti berat untuk Jongup Hyung waktu itu,” bisik Zelo setelah berhenti menangis.

Jongup mengangguk ragu, “lumayan.”

“Tapi Hyung kuat, tidak seperti aku.”

Mendadak Jongup tertawa terbahak-bahak.

“Ada apa?” tanya Zelo heran.

“Aku ini Montoss, tahu! Baby tidak menjulukiku demikian tanpa sebab,” tukasnya tiba-tiba bersemangat.

Ekspresi di mata Jongup perlahan menjalari tubuh Zelo, membuat perasaannya berangsur-angsur membaik.

Jongup sadar kalau Zelo butuh waktu sendiri, jadi ia bangkit dari tempat tidur, mengambil cangkir yang entah sejak kapan isinya tandas. “Aku akan memanggilmu setelah makanan siap,” katanya.

Zelo menoleh.

“Kalau kau takut sendirian, aku bisa menemanimu, tapi nanti, setelah makan malam.”

Zelo tertawa, lalu mengangguk. “Aku baik-baik saja. Terima kasih Hyung.”

 

G  O  E  T  A  R  Y

Outside of window, the sound of the rain rings

I remember the memories of us

I can’t live without you

Zelo meraih ponsel dari atas ranjang dan membawanya ke birai jendela. Ia kembali membuka daun jendela, kali ini tanpa menggigil. Zelo memejamkan matanya sesaat, membiarkan tampias hujan memerciki wajah tampannya.

On rainy days, I miss you and our kiss

Jemarinya menekan layar telepon genggam, dan mendekatkannya ke telinga. Dalam sekali dering sambungan terangkat dari seberang.

Yoboseyo…” suara itu terdengar lembut di telinganya. Membuat dadanya berdesir rindu.

Yobseyo,” balas Zelo.

“Ada apa, Oppa?” tanya Tia terdengar ragu-ragu.

The sound of the rain rings

And I remember the memories of us

“Mmm, aku hanya ingin mendengar suaramu.”

On rainy days, I always run into you

Oppa, baik-baik saja?”

Zelo membisu sejenak. Sambil menghirup udara dalam-dalam pandangannya melayang ke dedaunan di dekat tembok di bawah lampu taman yang berwarna keemasan dalam rinai hujan. Derai hujan tampak seperti debu ketika melewati sinar lampu.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?” tanyanya kemudian.

 

G  O  E  T  A  R  Y

 

Dear sky… please help me

Please stop this rain

So I can forget her

Dear sky… Please stop this rain…

-Rain Sound by B.A.P-

 

-The End-

It’s B.A.P The Series Yess Sir!! Thank you for reading :mrgreen:

8 thoughts on “[BTS] Rain Sound

  1. Pingback: [BTS] Rain Sound | Gita Oetary

  2. Author satu ini paling jago banget bawa imajinasiku kemana-mana. Penggambarannya itu kena banget thor. Ending gantungnya emang bikin hmmm rada ga bisa tidur tapi yaaah kayanya emang bagus kalo endingnya begitu thor hehe.

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s