[ONESHOT] Just Once


564273_369498939758222_182726157_n

Title (*)           : Just Once

Author (*)        : Black Scratch

Main Cast(*)   :

  • Shin Taeju (OCs)
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Kim ‘Key’ Bum (SHINee)

Support Cast    :

  • Kang Jieun (OCs)

Length(*)         : Oneshoot

Genre(*)          : AU, Sad Romance, Angst

Rating(*)         : PG

Summary         : “Aku ingin mengatakan aku mencintai mereka. Aku ingin mereka tahu apa yang kurasakan sekarang. Aku ingin memiliki mereka. Aku ingin merasakan mereka.. Hanya sekali.”

Disclaimer       : FF ini sebelumnya udah author post di blog pribadi author http://blackscratch099.wordpress.com/ dan beberapa blog lainnya dengan nama yanng berbeda. Jadi kalo ngliat plot atau ff author ditempat lain dengan cap black scratch, itu berarti punya author😀

UNTUK FLASHBACK DI DALAM FLASHBACK ITU BERGARIS MIRING. MOHON DIMENGERTI KARENA MEMANG AGAK MEMBINGUNGKAN

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

TaeJu’s POV

Cairan hangat itu tiba-tiba keluar lagi. Di atap gedung yang sudah mulai terlihat lusuh dan tak lagi kokoh karena sudah semakin tua dirinya. Sudah sekitar 10 tahun semenjak terakhir kali ia mengajakku kemari. Masih teringat wajahnya yang tampan, namun saking tampannya itu, ia menjadi seperti wanita.

Hembusan angin yang sama seperti yang menerpaku 10 tahun lalu. Lorong yang mulai meredup warnanya itu mengingatkanku pada lorong yang masih baru.

Apakah salah jika aku mencintainya sampai sekarang? Ya, aku memang tak tahu malu. Aku memang tak ada harga diri lagi. Aku sudah mempunyai suami yang tampan dan anak yeoja yang sangat menggemaskan. Namun cintaku masih melekat padanya. Aku belum bisa meninggalkan rasa ini. Belum saat ini, ataupun selamanya.

Taeju’s POV End

Flashback

Lorong sempit yang diapit dengan gedung-gedung putih dengan jalanan yang sepi. Seorang yeoja, dengan hoodie hitam dan celana jeans serta sepatu supra berwarna hitam berjalan malas di lorong itu. Ia memutar-mutarkan tas sandang kecilnya.

“Argh!!” Seorang namja berteriak. Mengingat tas sandang yeoja ini terlempar dan pas mengenai kepala si namja yang berambut merah itu.

Aish! Neommu babo, Taeju-ah!” Ia memukul pelan kepalanya sambil berjalan menunduk mendekati tasnya.

“Ini punyamu?” Tanya namja itu. Yeoja yang menamai dirinya Taeju itu mengangguk.

“Apakah tasmu ini tas gwishin? Kenapa bisa mengenaiku?” Ucap namja itu sambil memberikan tasnya lalu kemudian diterima oleh Taeju.

Mianhae… Aku hanya––”

“Sudahlah. Lagipula benjolan dikepalaku ini tak mungkin bisa disembuhkan dengan maafmu.”

Mianhae… Tadi aku… Tadi aku sedang memutarnya, aku tak tahu jika kau ada disana.”

Wae? Kau sedang kesal? Wajahmu berlipat, seperti bulldog.”

“Ya! AishAnni. Masalah keluarga.”

“Kukira urusan apa. Bila urusan keluarga, aku hanya bisa pasrah. Aku pergi dulu.. Jalgayo!” Namja itu menghilang dari pandangan ke balik gedung yang ada di depan Taeju dengan cepat. “Jakkaman! Hah… Aku lupa menanyakan namanya.” Sesal Taeju kemudian berjalan malas dan kembali memutar tas sandangnya yang berbentuk mobil itu.

***

“Kalau begitu cobalah untuk mengurus anakmu! Jangan hanya bekerja untuk uang!”

“Aku bekerja untuknya! Bila kau tidak setuju, kau cari namja yang sesuai denganmu! Dan pergilah mencari kerjaan sendiri! Aku yang akan membawa Taeju!”

“Aku yang melahirkannya, jadi kau tak punya hak untuk mengambilnya!”

APPA! EOMMA! KKEUMANAE!” Taeju yang baru saja terbangun karena teriakkan dari orang tuanya itu akhirnya angkat bicara. “Aku tak akan dibawa oleh siapapun! Bila kalian belum bisa baikkan juga, lebih baik aku pergi dan mencari oppa!” Taeju menutup pintu kamar dengan kasar dan membantingkan dirinya di kasur lalu menangis sepuasnya ditutupi oleh bantal.

“ARGH!!” Suara teriakkan Taeju tertutup oleh bantal yang menumpuk kepalanya. Terkadang ia menyesali memilih ikut dengan orang tuanya dulu, ketimbang dengan oppa-nya. Oppa-nya yang memilih pergi karena alasan yang sama, tak tahan terhadap sikap kekanak-kanakkan dari orang tuanya. Begitulah yang ia dengar dari pembantu rumahnya.

Kecelakaan yang menimpanya dan oppa-nya 5 tahun lalu… Menyebabkan otaknya melemah dan sebagian memorinya hilang begitu saja. Untung ada pembantunya yang siap menjadi orang yang dipercaya menceritakan kebenaran.

Taeju, tanpa melewati pintu kamarnya melainkan jendela kamar mandinya, keluar untuk menenangkan diri. Udara disana sepertinya menggambarkan membekunya hati Taeju. Entah ia berjalan kemana, Tapi… Yang pasti ia berharap bertemu seseorang yang bisa mencairkan hatinya sebelum hatinya bertambah beku dan dingin.

“YA! Kau yang disana!” Seorang namja berteriak dari belakang Taeju. Sepertinya agak jauh dari Taeju. Taeju membalikkan punggungnya dan melihat namja kemarin.

“Ah… Namja itu.” Taeju mendekati namja yang berlaku hal yang sama sepertinya.

“A… A… Aku hanya ingin menanyakan siapa namamu.” Dengan salah tingkah, Taeju memulai pembicaraannya.

Wae? Masih merasa bersalah soal kemarin? Memang sakit, tapi… Gwenchana.” Namja itu mendekatkan kepalanya pada Taeju. Taeju yang masih menunduk malu itu memundurkan kepalanya sedikit. “Choneun Taemin imnida. Lee Taemin. Kau?”

“Ahh… Ne Taemin-ssi. Choneun Taeju imnida, Shin Taeju.”

“Merah… Kau habis menangis?”

“He? A… Anni...”

“Jangan bohong. Matamu, hidungmu, bahkan pipimu, semuanya memerah.”

“Masalah itu…”

“Bila itu memang masalah keluargamu, lebih baik kau simpan itu baik-baik.”

“He? Orang biasanya langsung penasaran dan malah menyarankan untuk bercerita, tapi kau––”

“Masalah keluarga adalah masalah pribadi. Tak ada yang boleh mengetahuinya. Bila itu masalah yang besar, bisa-bisa nama baik keluargamu bisa tercoreng.”

“Mungkin ini masalah besar.”

Arasso. Kalau begitu kau wajib ikut aku.”

“Ke.. Kemana?”

Ice cream… Sudah… Jangan banyak omong!”

Taemin mengajak Taeju ke tempat es krim langganannya yang berada di lorong dimana pertama kalinya mereka bertemu. Satu cup choco banana ice cream sudah cukup untuk mereka berdua. Hidung yang merah perlahan kembali normal, tangan yang bergetar perlahan tenang, hati yang membeku perlahan mencair. Hanya karena satu cup choco banana.

Di tengah-tengah kegiatan mereka memakan choco banana itu, Taeju bertanya, sesuap demi sesuap di dalam hatinya, siapa sebenarnya namja yang ada disini sekarang? Mengapa ia begitu membuatnya nyaman?

“YA! Wae? Kau kekenyangan ya?” Tanya Taemin yang sukses membuat sendok yang ada di mulut Taeju terlepas dan jatuh.

“Wuahh… Jatuh…” Gumam Taeju dengan wajah yang sedih.

Say AAAA…” Taemin mencoba menyuapi Taeju. Taeju yang sempat bengong seperti orang bodoh itu akhirnya melahapnya dan kembali tersenyum. Sama persis seperti anak kecil.

Aegi…” Gumam Taemin.

Mwo? Mworago?” Tanya Taeju yang mendengar jelas kata-kata Taemin.

Aegi… Kau seperti anak kecil yang tak sengaja menjatuhkan es krimnya. Lalu kembali ceria karena ada yang menggantikannya kembali.”

“Tapi aku ‘kan sudah dewasa…” Rengek Taeju.

“Kau bahkan belum dewasa. Berapa umurmu?” Tanya Taemin.

“18…”

“Kau masih kecil… Kau bahkan tak lebih dewasa daripada aku. Aku 20.”

“Ha? Kupikir kau masih 18, oppa.”

“Kekeke… Aku memang awet muda rupanya.”

“Ahh… Aku amnesia mendadak. Aku tak jadi berbicara itu. Ahh… Kau terlihat sangat dewasa, oppa. Seperti 50 tahun.” Ujar Taeju heboh sendiri di dalam toko yang membuat semua orang melihatnya miris.

“Hah! Dasar kau anak kecil! Sudah makannya? Ayo pergi, aegi!” Taeju menggeleng pelan. Taemin berpikir sejenak lalu menarik Taeju dan mengikut sertakan cup es krim bersama mereka.

Oppa… Kita mau kemana?” Tanya Taeju yang pasrah dikendalikan oleh Taemin.

“Disana…” Ia menunjuk atap gedung putih yang paling tinggi di lorong itu.

“Memang ada apa di atas sana?” Tanya Taeju menghentikan langkahnya.

“Ada banyak hal yang bisa dilakukan disana, aegi. Sudah jangan bawel.” Taemin lagi-lagi menarik Taeju. Sekarang ia menarik sambil berlari memasukki gedung.

“Apa yang bisa dilakukan disini?” Taeju berkeliling sambil berlari di atap gedung yang terbilang luas itu.

“Salah satunya yang sedang kau lakukan itu.” Taemin berjalan sambil menunjuk Taeju yang berlari-lari. “Dan juga… Kau bisa berteriak dan meluapkan perasaanmu disini. Tanpa ada seorang pun yang mendengarkan. Pastinya, kecuali aku.” Ujar Taemin sambil mendorog Taeju melihat ujung dari atap gedung putih itu.

“Aku bahkan tak tahu lorong sesepi dan sesempit ini mempunyai gedung yang begitu tinggi dan bisa melihat semua aktivitas lorong disini…” Taeju duduk perlahan di pinggiran atap dan menikmati indahnya pemandangan lorong serta hembusan angin lembut.

Joasso?” Bisik Taemin. Taeju mengangguk dan menutup matanya perlahan. Merasakan nikmatnya angin sejuk yang tadinya dingin untuknya. Taemin duduk disebelah Taeju dan melihat wajah Taeju yang mungil dan berparas wajah cantik.

Siang itu sangatlah tenang. Taemin juga berlaku hal yang sama. Menikmati hembusan lembut angin yang menerpa rambut merahnya. Suara lambaian dedaunan yang diterpa angin, suara burung-burung yang menari di atas kepala dua insan yang sedang mensyukuri alam, kesunyian lorong yang hanya sedikit orang saja yang lewat itu semakin membuat hati Taeju semakin normal. Hatinya dibuat nyaman, hangat. Taeju tersadar dari surga dunia yang ia rasakan itu, melirik ke arah Taemin yang masih menikmati semua keindahan. Ia tersenyum kecil melihat rambut merah Taemin yang membuat namja itu sangatlah tampan dari sudut pandang Taeju. Pikiran Taeju menanyakan pertanyaan pada hati kecilnya. Akankah ini namja yang bisa mengisi ruang kosong yang sudah membeku untuk orang lain? Benih-benih cinta yang telah lama layu kini seperti mendapat pupuk yang cocok dengan benih yang hampir mati.

“Aku tampan bukan?” Suara dalam namun lembut keluar dari mulut Taemin dengan bibir berwarna merah muda yang sukses membuat Taeju salah tingkah. Dengan mata yang masih tertutup. “Iya ‘kan? Aku tampan ‘kan?” Tanya Taemin sekali lagi langsung menghadap wajah Taeju. Wajah Taeju seperti tomat yang siap di panen.

“Iya. Kau memang tampan. Tapi tanpa rambut merahmu itu, kau seperti yeoja. Sangatlah cantik. Jadi kusarankan, agar tetap seperti itu.” Ucap Taeju.

“YA! Aku manly! Ingat, aku manly! Bukan cantik!” Bentak Taemin. Bibirnya mengerucut dan pipinya menggembung. Taeju tertawa melihat Taemin yang seperti itu.

Oppa, aku harus pulang.” Ia berhenti tertawa saat melihat jam. Ternyata sudah waktunya ia pergi ke suatu tempat.

“Perlu kuantar?” Tawar Taemin.

“ Tak usah… Gomawo for this morning…” Ia membungkuk lalu berlari pergi. Senyuman serta manik mata Taemin mengikuti Taeju hingga ia menghilang di balik tangga turun. “Annyeong, oppa!!” Teriak Taeju dari bawah gedung. Taemin tersenyum dan melambaikan tangannya. Taeju berlari secepat kilat hingga Taemin tak bisa melihatnya lagi.

Taeju’s POV

Inikah rasanya cinta pada pandangan pertama? Jantung rasanya berdegup lebih kencang dari biasanya, mata tak bisa beralih dari dirinya, bernafas pun rasanya susah setengah mati. Aku belum pernah merasakannya. Ya, ada masalah denganku? Aku belum pernah berpacaran. Ssttt!! Jangan banyak bicara. Dengarkanlah saja aku yang ingin berbicara dengan kalian.

Bibirnya yang yang berwarna merah muda, suaranya yang lembut, matanya yang.. Cantik, genggaman tangannya yang hangat, aigo! Aku bisa gila bila memikirkannya! Tapi bagaimana pun, aku sudah jatuh. Jatuh terlalu dalam sekarang. Aku tak mungkin jatuh terlalu cepat seperti ini. Bagaimana bisa? Tapi, bukankah itu hal yang wajar? Namun bagaimana bisa? Aku bahkan belum pernah merasakan seperti ini… Aigo! Aku bisa gila.

“Psst… Psst…” Seseorang terdengar. Aku mencari darimana sumber suara itu. Jendela kamar mandi menjadi target utamaku. Ternyata benar. Taemin oppa! Bibirku melengkung manis. Pipiku memerah. Ia tersenyum dan menyuruhku keluar. Aku mengambil tas mobilku dan keluar dari jendela kamar mandi dengan bantuannya.

“Bagaimana oppa tahu rumahku?” Tanyaku baru sadar. Ia bahkan belum pernah ke rumahku. Kami saja bertemu di lorong. Lorong itu agak jauh dari rumahku.

“Menurutmu?” Tanya Taemin oppa. Jadi ia mengikutiku? Aish.. Dia memang berbeda. “Aku akan memperkenalkanku pada teman-temanku. Kau mau bertemu mereka? Lalu baru kita pergi ke taman ria bersama. Jadi?” Ide yang bagus. Aku bosan disini. Berdua saja tentu tidaklah menyenangkan.

“Call. Jadi, tujuan pertama kita akan––“

“Ke toko es krim kemarin.” Jawabnya. Aku dan Taemin oppa berjalan dengan santainya ke lorong tempat dimana toko es krim kemarin. Biasanya aku paling malas yang namanya berjalan. Tapi, melihat kenyataan bahwa dia ada disebelahku, membuat semangatku untuk berjalan kaki terisi.

“Apakah aku akan menjadi anak kecil di kalangan kalian?” Tanyaku mengingat ia akan mengenalkanku pada seseorang. Chingu-nya pastilah seumuran dengannya.

“Tentu saja, aegi. Kau pasti akan menjadi anak kecil. Uri aegi…” Ia berbicara sambil mencubit pipiku lalu mengacak-acak rambutku.

Ia berbicara terlalu jujur rupanya. Aku mengembungkan pipiku yang sudah kelewat melar itu. Ia hanya tertawa kecil lalu menggenggam tanganku. Pipiku seketika itu juga memerah. Aduhh! Harus apa sekarang aku? Kenapa dia menggenggam tanganku begitu erat? Aish! Aneh-aneh saja!

Sekitar 30 menit berjalan, efek dari berjalan yang lambat dengan jarak yang jauh, akhirnya toko es krim yang menjadi tujuan kami itu mulai terlihat dari kejauhan. Taemin oppa semakin menggenggam tanganku erat dan mengajakku berlari tanpa kuizinkan terlebih dulu. Sambil berlari, ia melambai pada dua orang yang sedang duduk di luar toko es krim. Terlihat 2 gelas kopi di mejanya.

“Taemin-ah… Inikah aegi yang kau ceritakan pada kami?” Tanya seorang yeoja yang pada akhirnya menyerangku dengan mencubit pipiku. “Kyeopta! Aku ingin punya dongsaeng sepertinya.” Teriak yeoja itu sambil terus mencubit pipiku. Ku tebak pipiku sudah memerah.

Namja yang duduk di sebelahnya itu tetap duduk sambil teurs melihatku. Tatapannya sangat lembut namun dalam. Sepertinya orangnya cukup tahu soal fashion. Namun, dari sikapnya sekarang, ia sangatlah diam, tidak peduli akan apa yang ada di sekitarnya, dan juga sedikit dingin.

Choneun Key imnida.” Ia tersenyum. Senyumnya sangat manis. Namun tetap saja, caranya berbicara sangatlah dingin. Ia membelai rambutku dengan lembut. “Tak jauh berbeda dengan pikiranku. Kau bahkan sama seperti apa yang kupikirkan.” Ujarnya.

Choneun Jieun imnida. Kuharap aku punya dongsaeng sepertimu.” Ternyata fase perkenalan berlangsung lama, namun baik.

Aish! Ya! Kkeumanae… Lihat pipinya sudah memerah, Jieun-ah…” Akhirnya Taemin oppa menyelamatkanku dari serangan Jieun eonnie. Aku memutuskan untuk duduk di sebelah Key oppa.

“Kau mau apa?” Tanya Taemin oppa yang baru saja duduk lalu kembali berdiri. “Ahh… Aku tahu itu. Kali ini yang kecil saja. Hanya kau ‘kan yang mau memakannnya?” Aish! Oppa! Aku memang ingin memakannya, tapi tidakkah kau ingin juga?

“Taemin-ah. Lebih baik yang besar dengan 4 sendok.” Haaa… Key oppa tahu apa yang inginkan. Gomawo oppa.

Arrasso. Tunggu sebentar, ne?” Ia berjalan kedalam dan memesan choco banana yang kemarin kumakan bersamanya.

“Jadi, bagaimana kau bisa bertemu dengan Taemin?” Tanya Jieun eonnie.

“Aku malu menceritakannya. Aku bertemu dengannya dengan kesan yang sangat buruk, eonnie. Aku sedang memutar tas mobilku yang ini dan tak sengaja terlempar dan headshot.” Ujarku. Aku menutup wajahku karena aku tahu pasti wajahku sudah memerah. keduanya tertawa. Tak kusangka, Key oppa tertawa sangatlah lembut.

Taejin’s POV End

Hari yang dingin bagi sebagian orang, dirasa berbeda bagi Taejin. Baginya udara yang sejuk adalah udara yang ia rasakan saat ini. Apalagi ia ditengah-tengah Key dan Taemin. Tangannya terasa hangat mengingat dirinya yang digenggam oleh kedua namja tampan. Taemin digesernya oleh Jieun. Jadilah Jieun yang menggandeng Taejin. Taejin hanya tertawa dan meninggalkan Taemin bersama Key dan Jieun yang terpatung karena tergeser oleh Jieun. Taemin hanya mengangguk dan berjalan menyamai langkahnya dengan ketiga orang yang menertawakannya tadi.

Sepertinya taksi menjadi kendaraan yang tepat.

“Taejin-ah… Sini. Kau di tengah.” Jieun meminta Taejin lagi untuk berada di tengah-tengah Key dan Jieun. Sementara Taemin dibiarkan duduk di depan bersama supir. Sepanjang jalan sepertinya kegiatan seperti Jieun yang selalu bertanya akan Taejin, dan Taemin yang selalu mencegah Jieun untuk mencubit Taejin, serta Key yang hanya bisa tertawa menjadi kegiatan yang paling digemari. Bukan hanya di taksi, sedari tadi pun, semenjak mereka berjalan, hanya itu yang dilakukan oleh keempat orang yang bertujuan ke taman ria itu.

“Huwaa… Kita sampai Taejin-ah. Ayo masuk.” Lagi-lagi Jieun yang memegang kendali Taejin. Taemin dan Key yang tidak tahu ingin berbuat apa itu akhirnya saling bergandengan dan berjalan ke pintu masuk.

“Ya! Kali ini biarkan aku mengajaknya. Waktu sewamu sudah habis.” Ujar Taemin lalu membawa Taeju lari. “Jadi, kita mau kemana sekarang?” Tanya Taemin sambil mengatur nafasnya sehabis melarikan diri dari Jieun dan Key.

Oppa bukan orang yang penakut ‘kan?” Tanya Taeju.

“Tentu saja bukan!” Ujar Taemin yakin.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita naik itu saja?” Taeju menunjuk ke arah roller coaster yang baru melihatnya saja sudah membuat pusing.

Kajja! Tapi,tinggimu sampai tidak?” Ucap Taemin mengejek.

“Ya! Oppa kira tinggiku berapa?!” Taemin menjitak Taeju lalu berlari menuju antrian.

“Pakai ini. Setidaknya kau hangat dengan ini. Diatas nanti pasti sangat dingin” Taemin melepaskan sweater yang sedari tadi dipakainya lalu memakaikannya pada Taeju. Taeju tahu pasti wajahnya sudah memerah dan hangat. Namun ia bersikap senormal mungkin.

Selesai dengan roller coaster-nya, memang sudah seharusnya Taemin sial hari ini, mereka berempat bertemu lagi di flying ducthman.

“Kali ini dia milikku.” Key, ternyata diam-diam menginginkan dirinya yang bersama Taeju juga.

“Kali ini biarkan dia yang mengambil alih Taeju. Dia belum pernah.” Ujar Jieun sambil menepuk-nepuk punggung Taemin. Taemin mengangguk dan berjalan seiringan dengan Jieun. Teriakkan keluar dari mulut Taemin dan Jieun. Berbeda halnya dengan Key dan Taeju. Mereka cenderung terus tertawa sambil bergenggaman tangan.

“Yang tadi itu belum cukup. Aku hanya merasakan hembusan anginnya saja. Itu tidak menyenangkan.” Taemin dan Jieun menganga ketika mendengar pernyataan dari anak berumur 18 tahun ini ditambah anggukan setuju dan bersemangat dari Key. Sementara kedua insan itu mengambil ancang-ancang muntahnya. Dan lebih baik cerita ini sampai disini daripada kalian harus membaca hal yang membuat kalian akan protes karena Taemin akan tersiksa disini.

***

Keempat orang itu semakin dekat lantaran mereka tak ada hari tanpa bermain. Selalu ada tempat yang menarik yang mereka kunjungi setiap harinya. Aegi alias Taeju, rasa yang ia rasakan sekarang bertambah besar terlebih lagi, melihat setiap perhatian yang lebih terhadap dirinya. Namun perhatian Key terhadapnya jauh lebih terlihat dibandingkan Taemin yang cenderung cuek walaupun ia perhatian.  Malam ini, tepat di gedung dimana mereka berdua menikmati hembusan angin, Taeju akan berteriak saranghae di gedung itu. Tak peduli harga dirinya akan jatuh jika ia ditolak.

Ia meminta bantuan Jieun untuk melakukan apa yang harusnya dilakukan. Jieun dengan senang hati membantunya. Tidak perlu sebegitu romantisnya untuk yeoja bila menyatakan cinta pada namja. cukup dengan aegyo dan kata-kata yang sudah tersusun rapi. Jangan lupa, kata inti ‘saranghae’. Setidaknya itu yang Taeju pelajari dari Jieun yang sudah senior dalam hal ini.

Menunggu bukanlah hal yang menyenagkan. Tapi menunggu dalam bidang ini sekarang jauh berbeda. Karena Taeju berharap waktu berlalu begitu lambat sehingga begitu lambat juga ia akan mengatakan saranghae pada Taemin. Sekitar pukul 8 malam, Taemin datang dengan berjalan kaki yang terlihat oleh Taeju dari atas gedung. Taemin terlihat sangat bersemangat dan senang.

Aegi!” Teriak Taemin dari dalam gedung hendak keluar ke atap. Taemin berhenti sejenak lalu berlari dan memeluk Taeju. Taeju terkejut setengah mati dan mematung disana.

“Aku sangat senang hari ini. Aku baru saja mempunyai yeojachingu baru!”

DEG

Taeju terkejut. Ia hanya diam. Untung ada hujan yang menyelamatkan dirinya dari tetesan air mata yang keluar seenaknya. “ OppaChukkae…” Bisik Taeju menahan tangisnya. “Gomawo, aegi…” Balas Taemin.

“Aku harus pergi, aegi. Aku ada janji dengannya malam ini. Annyeong aegi!” Taeju terduduk seketika sesaat setelah Taemin pergi dari gedung itu. Jieun yang melihatnya hanya bisa menggeleng dan dan sesegera mungkin berlari dan memeluk Taeju.

“Taeju-ah.. Jangan menahan tangismu. Menangislah ketika kau memang memerlukannya.” Seketika itu juga suara tangisan Taeju meledak.

Taeju’s POV

“Taeju-ah… Jangan menahan tangismu. Menangislah ketika kau memang memerlukannya.” Seketika itu juga suara tangisanku meledak. Aku bahkan belum mengatakan apa-apa padanya. Aku tak bisa menahan air mataku yang terus menerus keluar. Bukankah itu bagus untukku dan untuknya? Aku belum mengatakan apa yang harusnya kukatakan. Itu berarti, hancurnya hatiku tak begitu berarti. Begitu juga dengannya. Ia pasti akan salah tingkah bila mengetahui bahwa dongsaeng-nya mencintainya. Namun kenapa tetes air mataku bertambah deras seiring dengan hujan yang terus menghujamku?

Taeju’s POV End

Jieun’s POV

Aku meninggalkan Taeju yang masih menangis di tengah hujan ke dalam gedung.

“Key! Taeju… Tolong datang kesini bilak kau ingin melihat bagaimana keadaan orang yang kau cintai!” Teriakku di telepon. Aku tak menyangka ini akan terjadi. Kurang baik apa Taeju pada Taemin? Bagaimana bisa Taemin tidak tahu keadaan ini? Bukankah… Ia juga mempunyai rasa yang sama?

Tak lama setelah aku menelpon Key, ia datang. “Apa maksudmu di telepon tadi?” Tanya Key. Suara panik terdengar jelas di telingaku. Aku menunjuk yeoja yang sedang terduduk dan tertunduk sambil menangis. Aku yang menghalangi jalannya digeser dan ia segera menemui Taeju. Taeju yang melihat Key berjalan ke arah dirinya, langsung memeluk Key. Begitu melihat mereka berpelukan, apalagi melihat Key langsung mengeratkan pelukannya ketika menyadari bahwa sekarang ia dipeluk oleh orang yang dicintainya, aku hanya bisa menangis sambil tersenyum.

Menangis, karena pada faktanya sekarang, tidak ada satu pun cinta yang terbalas. Ya, termasuk aku. Termasuk aku yang mencintai Key. Begitu bodohnya kami sehingga bisa mencintai satu sama lain. Namun, inilah hidup. Dan disini, kami bertiga tak ada yang mendapatkan cinta satu pun.

Jieun’s POV End

Key mempererat pelukannya. Ia membelai lembut helaian rambut yang berat karena hujan yang belum juga berhenti. Hangatnya tubuh Key membuat Taeju kembali tenang.

“Jieun-ah!” Teriak Key. Jieun berlari ke rain-area. “Tolong bawa dia ke toko eskrim. Aku akan menyusul kalian disana.”

Oppa… Kau mau kemana?” Tanya Taeju sambil memegang lengan Key. “Hanya sebentar, aegi… Hanya sebentar…” Balas Key lembut lalu berlari keluar gedung kosong itu.

“Kajja, aegi.” Jieun membantu Taeju yang berjalan menuruni tangga.

***

Key’s POV

Aku berlari kembali ke rumah dan mengambil motorku. “ Taemin-ah. Eoddieya?” Tanyaku lewat ponsel sebelum aku memutuskan untuk menyusulnya. “Jembatan dekat rumahku? Tunggu disana.” Kuakhiri pembicaraanku dengan Taemin lalu berangkat kesana.

Kulihat dirinya bersama mobil birunya yang sedang menunggu disana dari kejauhan. Aku mempercepat kecepatan. “Kau tahu bagaimana perasaannya padamu?” Aku refleks memeras kerahnya yang mulai basah. “Siapa? Apa maksudmu?” Tanyanya linglung. Entah itu semacam linglung atau hanya berpura-pura bodoh. Tapi yang pasti, aku tak terima melihat Taeju yang menangis.

“Aku tahu kau mencintai orang lain, aku tahu kau menganggapnya sebagai yeodongsaeng-mu, tapi tolong hargai dirinya.. Kau berkata kau mempunyai yeojachingu baru, iya ‘kan?” Ucapku. Matanya terbelalak. Jadi benar ‘kan apa kataku? Dasar tak punya hati. “Seperti ini saja. Kau ingin menemui dan meminta maaf pada Taeju sekarang, atau menemui yeojachingu-mu itu?” Tanyaku langsung pada intinya. Ia berpikir sejenak. Terlihat dari wajahnya yang bingung.

Key’s POV End

***

Taeju mematung. Ponselnya lepas begitu saja. Jieun yang melihat Taeju bertambah panik.

Wae, aegi? Wae?” Tanyanya panik.

“Aku bahkan belum mengatakannya eonnie… Aku belum mengataknnya pada mereka berdua. Aku mencintai mereka berdua. Aku mencintai mereka!” Teriak Taeju tak terkontrol di luar toko eskrim.

Wae?!” Jieun bertambah panik setiap kali Taeju berteriak tak terkontrol. “OppaOppa… Mereka kecelakaan di jembatan dekat rumah Key oppa…” Dada Jieun tiba-tiba sesak. Ia tak sanggup lagi berkata apa-apa. Ia langsung menarik Taeju dan menghadang taksi.

Sesampainya disana, mereka hanya melihat semua orang-orang berseragam biru dan suara sirine yang memekakan telinga. Taeju dan Jieun pastinya berlari mendekati mobil dan motor yang berasap di bawah terpaan hujan.

Terlihat Taemin yang baru saja dibawa oleh tim medis. Dan Key yang masih terjepit di antara mobil biru Taemin dan motor merahnya. Darah terus mengucur lantaran ia terjepit dan standard dari motornya menancap dadanya tepat di tengah. Hujan bertambah deras. Memudahkan cairan merah pekat untuk keluar dari area kecelakaan.

Flashback

 

Mata Taemin terbelalak. Key menunggu jawaban dari Taemin.

“Jadi dia benar-benar mencintaiku?” Tanya Taemin.

“Tentu saja, babo!” bentak key.

“Tapi itu tak bisa… Dia… Dia…”

“Dia kenapa?!”

Aku sangat amat mencintainya. Tapi ini tak mungkin terjadi! Dia yeodongsaeng-ku! Dia yeodongsaeng kandungku!”

Imposibble! Bagaimana mungkin kau yakin?!”

“Aku bertemu orang tuanya yang ternyata orang tuaku saat aku membawa Taeju pergi berdua. Eomma menitipkannya padaku. Karena yang kudengar, memorinya sempat hilang total karena dirinya yang harus mengoprasi otaknya. Marganya yang sekarusnya Lee akhirnya diganti menjadi Shin karena ketakutan eomma dan appa akan teringatnya ia padaku. Mereka takut akan kehilangan anaknya lagi! Dia yeodongsaeng-ku! Aku berbohong soal yeojachingu-ku! Aku berbohong aku bahagia! Karena ini tak mungkin terjadi! Dia harusnya mencintaimu! Bukan aku! Aku tak pernah berkata jujur karena eomma yang menyuruhku!” Taemin kemudian berlari menuju mobilnya lalu mengendarainya. Key menyusul Taemin yang kelihatannya tak punya akal sehat untuk  mengendalikan mobilnya. “Taemin-ah! Jakkaman! Taemin-ah! Kau mau kemana?!” Key terus berteriak memanggil Taemin walaupun ia tahu Taemin pasti tak mendengarnya.

 

Jalan begitu licin sehingga mobil yang dipakai Taemin tergelincir dan menyebabkan motor Key terdorong oleh mobilnya. Mobil Taemin terbalik beberapa kali dan menimpa motor Key beserta orangnya yang sedang terseret motor. Kejadian begitu cepat dan jalanan begitu sepi. Taemin yang sudah berada diluar kaca depan mobil sementara Key yang sudah tak berdaya menunggu ajal terjepit oleh standard motornya sendiri.

 

“Tuhan, bila kau tak mengizinkanku hidup untuk melihatnya sekali saja tersenyum dihadapanku dan berkata ‘saranghae’, biarkanlah seseorang mengembalikan senyumnya untukku. Bila tidak ada yang melakukannya, suruhlah aku menjemputnya…” Seperti itulah kira-kira kata-kata terakhir yang diucapkan Taemin.

 

Flaskback End

 

Flashback End

Taeju’s POV

Kalian tahu? Aku sangat bahagia karena mengetahui bahwa Key oppa ternyata mencintaiku. Aku juga bahagia mengetahui Taemin oppa adalah benar-benar oppa kandungku. Cinta itu terlalu indah bukan? Namun, cinta itu akan menjadi jahat ketika ia sudah tiada. Maka dari itu, demi cinta, aku memutuskan untuk melakukan hal ini.. Aku ingin mereka tahu bagaimana perasaanku sebenarnya pada mereka. Dan setelahnya, aku akan tersenyum dengan mereka. “ SaRangHae… “

Taeju’s POV End

“Berita kali ini dari seorang yeoja yang bekerja sebagai staff SM Ent., Shin Taeju, meninggal di tempat, tepatnya di gedung putih kosong tua tak terpakai karena terjun bebas. Kecelakaan yang terjadi di jembatan 10 tahun yang lalu menjadi alasan kenapa yeoja ini memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Yeoja berumur 28 tahun dan mempunyai 1 anak yeoja berumur 1 tahun itu meninggal pukul 2 dini hari waktu setempat.”

<<<>>>

END

2 thoughts on “[ONESHOT] Just Once

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s