Can I?


Can I?

Author: Kim Soo Ki

Title: Can I?

Main Cast:

  • Oh Sehun
  • Kim Naura (OC)

Genre: Romance / Sad

Rating: PG-15

 Snow-Rain-Photos-Wallpaper

Jadi, apa aku harus selalu disampingmu? Dan melindungimu?

“Kau benar, Aku memang sedingin salju tetapi salju juga bisa mencair bukan? Salju akan mencair jika terkena matahari. Suatu saat aku akan mencair jika aku menemukan sang matahari” ucap Sehun.

“Aku tidak berharap orang-orang yang kusayang pergi meninggalkanku Naura-ya, tetapi jika Tuhan yang meminta, aku akan merelakannya perlahan. “ 

“Kau tau, kau adalah semangatku untuk bertahan hidup, kau semangatku yang tidak pernah pudar walau musim berganti tahun. “

“Aku berharap aku masih bisa bertahan hingga awal hari musim salju tiba. Dan melihatmu tersenyum menyambutnya.”

“Aku ingin menjadi mataharimu yang mencairkan hatimu yang beku, Sehun-ah

“Aku ingin menjagamu. Aku ingin selalu menjadi semangatmu. Naura-ya, kaulah matahariku dari dulu. Naura-yasaranghaeyo

Naura Kim, berjalan dengan gontai menuju rumah sakit dekat rumahnya yang berjarak 100 m saja. Hari ini ia harus check-up lagi. Entah sudah berapa kali ia melakukan check-up untuk mengecheck keadaannya.

Naura, gadis malang yang ditinggal pergi ayahnya karena penyakit yang ia derita. Kanker usus, sebenarnya penyakit ini ia dapat dari ibunya yang meninggal karena melahirkannya, akhirnya ia tinggal seorang diri. Ia bekerja untuk dirinya sendiri.

Untunglah ia mempunyai tetangga yang sangat baik padanya, ahjumma Oh yang ia anggap sebagai ibu angkatnya dan anaknya Oh Sehun seorang dokter tampan dan pendiam. Dia adalah cinta pertama Naura.

Hanya saja, Sehun adalah orang yang tidak peduli padahal yang berbau cinta. Sehingga Naura tidak berani mendekatinya.

**

Seorang suster rumah sakit menanyainya denga senyum yang mengembang, “Selamat Pagi Naura-sii, anda akan check-up lagi?”.

“Ne,” cuek Naura. Bagi Naura semua suster yang berada dia Rumah Sakit adalah seorang Lucifer yang siap mengambil nyawa pasien-pasiennya dengan perlahan tetapi pasti. Senyuman mereka seakan hanya sebuah topeng yang menutpi kedok asli mereka. Dokter mereka pun sama saja, kecuali dia..

Oh Sehun..

Laki-laki tampan ini berjalan santai mendekatinya. “Kau check-up lagi Naura-ah?” tanya Sehun datar. Seperti biasa. Dengan nada datar dan wajahnya yang datar. Khas seorang Oh Sehun.

“Tentu saja, kau tau penyakit ini semakin menyiksaku saja Sehun-ah” jawab Naura miris.

“Bersabarlah, “ Sehun menatapnya dan mengusap kepalanya pelan. Inilah yang ia suka, ia selalu dimanja Sehun walaupun ia memasang wajah seperti robot atau patung.

Membuat para wanita dan suster rumah sakit melihatnya iri. Bahkan kadang ada yang mencibirnya “Cish, gadis murahan.” “Wanita penggoda!” “Dia tidak pantas untuk Sehun sanjangnim !”

Tetapi Naura hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Tidak ada gunanya ia mendengarkan mereka yang iri padanya.

Jika Sehun mengetahui ada yang mengatakan itu, ia akan melihat sekilas wanita-wanita itu, dan mereka hanya bungkam.

“Bagaimana jika kita ke Taman? Sambil menunggu panggilanmu” ajak Sehun. Naura hanya mengangguk setuju.

**

“Jadi, apa kau selalu dicibir dengan mereka?” tanya Sehun untuk memulai percakapan dengan Naura.

Naura menatapnya bingung, ia tidak mengerti apa yang Sehun bicarakan “Mereka? Nugu?”

“Wanita-wanita itu Naura-ah, apa kau tidak terganggu?” Sehun balik bertanya. “Tentu saja tidak, selama mereka tidak menyakitiku aku tidak akan terganggu. Mungkin karena kau selalu disampingku jika aku disini jadi mereka tidak berani apa-apa,” jelas Naura panjang lebar. Sehun hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan Naura.

Jadi, apa aku harus selalu disampingmu? Dan melindungimu?“ tanya Sehun.

DEG

Naura hanya terdiam mendengar apa yang Sehun ungkapkan, ‘Sehun tidak pernah seperti ini.’ Pikirnya. Naura merasa jantungnya berdegub kencang saat ini. Pikirannya sekarang hanya Oh Sehun.

Naura menghela nafas dan membuang kegugupannya agar Sehun tidak mengetahuinya. “Apa kau bisa Sehun-ah? Kau kan selalu sibuk,”

“Benar juga, aku memang sangat sibuk,” keluh Sehun . “Bercanda ternyata, kupikir betulan,” ucap Naura pelan.

“Mwo? Kau bilang apa Naura-ah?” tanya Sehun. “Aniyo Sehun-ah” sergahnya.

Sehun hanya mengangguk pelan. Mereka berdua saling terdiam, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Hari ini adalah musim panas, musim yang disukai Naura. Musim ini kita dapat melakukan segala hal . Naura menghirup nafas dalam-dalam , ia menyesakki paru-parunya dengan oksigen dari musim panas.

“Kau tidak haus?” ucap Sehun membuka percakapan kembali. “Aniyo, apa kau haus?” Naura berbalik tanya. Sehun kembali menggeleng.

“Sehun-ah, aku ingin bertanya padamu” ucap Naura . Sehun menatapnya dan menunggu pertanyaan dari Naura.

“Musim apa yang kau suka?” tanya Naura. Sehun kemudian tersenyum mendengar pertanyaan Naura. Sehun menatap kedepan.

“Musim Salju,”

Naura mengangguk-angguk sebagai tanda mengerti, “Sehun-ah, kupikir-pikir kau sama sama seperti Musim Salju”

Sehun menatapnya bingung, “Apa maksudmu?”

“Kau tau, Musim Salju sangat dingin , seperti hatimu yang dingin . Dan kau juga pendiam, bukankah sangat mirip denganmu? ” tanya Naura dengan senyum

“Kau benar, Aku memang sedingin salju tetapi salju juga bisa mencair bukan? Salju akan mencair jika terkena matahari. Suatu saat aku akan mencair jika aku menemukan sang matahari” ucap Sehun.

Naura terdiam, apa yang Sehun katakan memang benar. Sebuah salju bisa mencair jika terkena sinar matahari. Ia berharap ialah matahari yang akan mencairkan sang salju.

**

Naura dan Sehun berjalan berdampingan menuju arah rumah mereka masing-masing. “Naura-ah, apa kata Jongdae sajangnim tadi?” tanya Sehun.

“Hanya disuruh istirahat saja, “ Naura tetap menatap lurus kedepan tanpa memperhatikan lawan bicaranya.

“Benarkah? Jika terjadi apa-apa hubungi aku.” ucap Sehun . Naura hanya mengangguk sebagai jawabannya.

Sehun berhenti tepat di depan rumah Naura. “Baiklah, kita sudah sampai. Selamat malam Naura-ah”

“Gomawo~ Sehun-ah, apa yang akan kau lakukan jika kau ditinggal orang yang kau sayang?” tanya Naura .

“Aku tidak berharap orang-orang yang kusayang pergi meninggalkanku Naura-ah, tetapi jika Tuhan yang meminta, aku akan merelakannya perlahan. “ 

“Baiklah, selamat malam Oh Sehun ~” salam Naura. Sehun hanya membalas dengan lambaian tangannya.

Naura memasuki rumahnya dengan rasa pusing yang ia tahan selama perjalan pulang tadi bersama Sehun. Pusing itu membuatnya seakan ingin pingsan saat itu juga, karena ada Sehun ia menahannya. Tetapi sekarang ia dirumah ia tidak bisa menahannya lagi.

Dan saat itu juga ia merasa dunianya serasa berputar-putar , lalu ia merasa semuanya gelap.

**

Naura mengerjapkan matanya, ia merasa anaeh ditempat ini. Ini bukanlah kamarnya. Ini pasti dirumah sakit. Bau dan warna yang khas baginya. Bukankah kemarin ia pingsan didalam rumah? Kenapa ia berada dirumah sakit sekarang?

Ini sebuah peringatan baginya, jika Sehun mengetahui ia dirawat inap, ia akan tau apa yang Jongdae sanjangnim katakan. Jika Sehun yang membawanya mak—.

“Jadi kau sudah sadar, Nona Kim Naura?” Sehun menatapnya tajam. Naura tau dari tatapannya, Sehun telah mengetahuinya, sesuatu yang seharusnya ia tidak tahu.

“Jadi, selama ini kau tidak pernah meminum obat yang diberikan Jongdae sanjangnim? Jadi, itu mengapa kau sering pingsan? “ tanya Sehun datar, tetap dengan tatapannya yang tajam. Naura menghela nafas, malas menjawab pertanyaan pria yang berada dihadapannya ini.

“Ayolah Sehun-ah kau tau aku tidak suka denga—“

“ Jangan jadikan itu sebagai alasan ! Apa kau tidak ingin sembuh huh?” Sehun membentaknya. Tapi seorang Naura tidak akan terpengaruh dengan mudah hal seperti itu.

“Pabo, tidak ada efeknya obat itu. Hanya membuatku semakin sakit. Percuma obat itu tidak akan menyembuhkan seorang penderita penyakit kanker usus stadium 4 ,” ucap Naura sarkatis. Sehun yang mendengar jawaban Naura hanya terdiam.

“Terserah kau saja, pabo” Sehun pergi meninggalkan kamar Naura dengan kasar. Naura hanya melihatnya dengan datar.

Sebenarnya ia tahu, apa yang Sehun lakukan itu untuk ia tidak pernah patah semangat agar tetap hidup di dunia. Tetapi Naura sadar, ia tidak akan lama lagi akan meninggalkan lelaki yang ia sayang itu, Oh Sehun.

Naura menghela nafas, gadis ini menatap jendela kamarnya. Seminggu lagi akan memasuki musim dingin. Musim yang disukai Sehun.

Ia ingin masih bisa bertahan sampai hari itu tiba. Hari dimana salju pertama kali turun.

**

“Maaf, apa anda tau dimana Sehun sajangnim?” tanya Naura, dan suster itu hanya menggelengkan kepala. Ini sudah ke 10 kali ia bertanya kesana-kemari mencari Sehun, tetapi lelaki itu tidak ada juga.

Akhirnya Naura memustukan pergi ke Taman belakang, selama seminggu ini ia tidak boleh pulang kerumah ia harus dirawat inap di rumah sakit. Naura hanya pasrah.

“Lelah sekali, kemana sih Sehun?” keluhnya.

Tiba-tiba seseorang duduk dismpingnya, “Kau mencariku?”

Naura terkejut, ia segera mengendalikan dirinya. “Ne, aku sangat bosan.”

“Sama, dan aku juga lelah. Naura—“ Belum sempat Sehun selesai berbicara, tiba-tiba Sehun tertidur diatas bahu Naura.

“Kau juga lelah Sehun-ah? Kita sama, hanya saja. Aku lelah menanggung penderitaan hidupku ini, aku juga lelah menunggu dan mengejarmu. Kau tau? Aku berharap kau selalu tidur dibahu seperti ini. Kau selalu membuat jantungku berdegup kencang sekali. Apakah kau juga, Sehun-ah?”

“Kau tau, kau adalah semangatku untuk bertahan hidup, kau semangatku yang tidak pernah pudar walaupun berganti musim, tahun. “

“Aku berharap aku masih bisa bertahan hingga, awal hari musim salju tiba. Dan melihatmu tersenyum menyambutnya”

“Aku ingin menjadi mataharimu yang mencairkan hatimu yang beku, Sehun-ah” .

Naura, menangis mengucapkan segala isi hati yang ia pendam. Ia hanya ingin meluapkannya di depan orang yang disukainya walaupun ia tahu orang itu tidak mendengarnya.

Dibalik tangis Naura,

Oh Sehun, ikut menangis, ia mendengar semua isi hati gadis ini. Ia mendengarnya dengan jelas. Walaupun gadis itu tak menyadarinya.

**

1 minggu kemudian..

“Naura-ah, bangun. Bukankah kau menanti salju?” Sehun membangunkannya dengan sedikit suara diperbesar agar menganggunya. Naura mengerjapkannya berkali-kali agar ia segera sadar dari alam bawah sadarnya.

“Ne Sehun-ah, Kau tidak perlu mendesakku agar segera bangun. Aku masih sangat lelah,” keluh Naura dengan sedikit usaha agar tubuhnya tegap. Sehun hanya cengengesan mendengar keluhan Naura.

“Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu berkeliling,” tawar Sehun dengan senyum lebar. Naura menatapnya bingung.

“Ada apa denganmu? Apa aku tidak bermimpi? Kenapa kau baik?” . Sehun mendengus kesal mendengar jawaban Naura

“Jadi kau pikir, aku jahat huh? Ppali naik!” titahnya. Naura hanya terkekeh mendengar omelan Sehun. Naura merasa ini adalah hari yang terbaik untuknya, ia melihat salju di hari pertama, ia digendong dipunggung Sehun.

**

Wanita-wanita / suster-suster yang melihatnya pasti akan mencibirnya dalam hati. Bagaimana tidak? Ia digendong namja tampan, Oh Sehun. Sedangkan mereka hanya menatapnya dengan rasa iri yang luar biasa.

“Sehun-ah~” panggil Naura manja.

“Ne, Naura-ah?”

“Apa kau tidak lelah?” tanya Naura. Sehun hanya tertawa menanggapi pertanyaan yang Naura lontarkan.

“Apa kau bercanda? Ini adalah hari pertama Musim Salju, aku tidak ingin melewatkannya. Lagi pula aku akan melewatkannya dengan seseorang ini,” ucap Sehun riang. Naura hanya mendengarnya, ia tidak menangapinya, karena ia tidak sanggup bicara. Ia merasa pipinya seperti kepiting rebus yang siap dimasak. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya Sehun berbicara seperti itu padanya.

**

“Sehun-ah, terima kasih kau sudah mengajakku kesini dan menggendongku, keke~” kekeh Naura. Sehun menanggapi dengan kekehan kecil, “Ck, tentu saja~”

“Sehun-ah, aku punya rasa denganmu sudah lama lho, kekek~”

“Hha, aigo, Naura-ah jangan bercanda, kita kan teman dekat~”

“Apa tidak boleh?”

“Tentu saja boleh, kau bercanda kan?”

“Aku serius, Sehun-ah. Aku ingin menjadi mataharimu yang mencairkan hatimu yang sedingin es,” ungkap Naura sedih, melihat sehun menggapnya dengan candaan.

“Naura-ah jangan begitu, ini belum saatnya. Ini bukan waktu yang tepat” jelas Sehun. Naura menatapnya kosong, bulir bening yang ia simpan akhirnya tumpah begitu saja. Sehun segera menarik Naura dalam pelukannya. Naura menangis dengan diam.

“Aku sudah tau jika kau akan menolakku, Oh Sehun. Tetapi aku senang sempat menyukaimu dan mengenalmu”

“Sehun-ah, saranghaeyo. Jeongmal saranghaeyo”. Naura menatap Sehun sendu. Ia mengelus pelan wajah Sehun, ia takut menyakiti lelaki tampan dihadapnnya ini. Ia takut kehilangannya.

Tetapi, Tuhan berkata lain. Diburamkan penglihatnnya, dilemaskan semua anggota tubuhnya. Sehun merasakan Naura akan mulai pergi meninggalkannya.

“Naura-ah, bertahanlah. Naura-ah, maksudku adalah ini bukan waktu yang tepat karena aku tidak mau menjadi namjachingumu, aku ingin menjadi pendamping hidupmu. “

Naura masih bisa mendengar apa yang Sehun katakan, walaupun Tuhan mulai membuatnya susah mendengarkan .

“Aku ingin menjadi mataharimu yang mencairkan hatimu yang beku, Sehun-ah” . “Aku ingin menjagamu. Aku ingin selalu menjadi semangatmu. Naura-ah, kau lah matahariku dari dulu. Naura-ah saranghaeyo” bisik Sehun tepat di telinga Naura.

Saat itu juga, Naura hanya dapat mengungkapkan satu kata, “Nado Saranghaeyo Sehun-ah” dan pergi meninggalkan dunia terutama orang yang disayang. Oh Sehun.

One thought on “Can I?

  1. permisi /ketok pintu/
    aku datang mau bawa berita dlm dunia per-ff-an
    buat kamu yg suka menulis n si kutu buku diwajibkan mengunjunginya
    Cek it >> http://fanfictionhere67.wordpress.com/
    Smua ada disini! isinya ff yg beda, top, dan imajinatif🙂
    btw, aku suka sama ff mu😀 terutama karakter sehun
    keep writing ne😉

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s