Blue Hyacinth (Oneshot)


image

Author : Shanne Viviana.

Cast : Lee Dong Hae, Park Min Chan, Nam Woo Hyun, Victoria Song, others.

Genre : AU, Sad, Hurt, Romance.

Rating : General.

Length : Oneshot.

Disclaimer : FF ini aku publish juga di blog pribadi saya

Credit Poster by : Heerinssi – High School Graphics

***

Hari beranjak pagi. Matahari perlahan mulai terlihat menyinari kota Seoul, menggantikan kelamnya malam. Tapi sayang cuaca cerah itu begitu kontras dengan perasaan seorang gadis yang tengah menatap kertas kanvasnya dengan pandangan kosong. Udara dingin yang memang tidak pernah lepas dari negeri ginseng ini, terasa begitu menusuk dan terkesan menyelimuti dirinya yang mungkin lebih terlihat seperti “mayat hidup” saat ini.

Entah apa yang dipikirkan gadis itu saat ini. Ia seperti kehilangan jiwanya. Raganya memang berada disini, tapi jiwanya mungkin sudah ikut terbang bersama angin. Gadis itu tersenyum kecut ketika ia kembali mengingat angin. Angin, ia mungkin memang bisa menerbangkanmu ke atas langit, tapi angin juga bisa membuatmu sakit. Dan kali ini, gadis itu sudah merasakan kedua-duanya.

Suara decitan pintu tetap membuat gadis itu diam di tempat. Tak bergeming sedikitpun. Merasa tidak begitu peduli akan hadirnya orang lain yang memasuki kamarnya saat ini. Bahkan gadis itu tidak tahu siapa yang masuk. Apakah itu orang yang ia kenal atau justru orang asing yang tidak dia kenal sama sekali.

“Min Chan~a, kau sudah bangun? Apa kau sudah makan?” tanya seorang pria sembari menepuk bahu gadis itu pelan. Min Chan menggeleng. Tatapan matanya masih tertuju pada sebuah kertas kanvas kosong yang bahkan belum ada goresan sedikitpun.

Woo Hyun menghela nafas pelan. “Aku ambilkan makanan, eoh?”

Min Chan masih diam tak bergeming. Woo Hyun hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan. Pria itu tahu bahwa gadis  ini sudah berubah semenjak tiga bulan yang lalu.

Hari itu, ia kehilangan segalanya. Indera penglihatannya, calon suaminya, masa depannya, bahkan jiwanya pun hilang seiring dengan kepergian pria yang paling berharga dalam hidupnya. Seharusnya saat ini marganya sudah berubah. Seharusnya hari ini ia bisa tersenyum melihat wajah yang akan selalu ia rindukan berada di sampingnya. Seharusnya kecelakaan itu tidak terjadi. Terlalu banyak kata “seharusnya” dalam hidupnya semenjak kecelakaan itu.

Tidak, calon suaminya tidak meninggal pada saat kecelakaan itu terjadi—bahkan pria itu tidak pernah mengalami kecelakaan. Hanya saja, pria itu hilang entah kemana setelah kecelakaan yang menimpa Min Chan terjadi. Ia sama sekali tidak menjenguk Min Chan ataupun hanya sekedar menampakan batang hidungnya. Pria itu seperti hilang ditelan bumi setelah peristiwa mengerikan itu terjadi.

Satu bulan lebih Min Chan dirawat di rumah sakit dan kemudian ia keluar dari rumah sakit dalam keadaan tidak bisa melihat atau bisa dikatakan buta. Dan Woo Hyun hanya bisa bersabar melihat keadaan Min Chan yang berubah seratus delapan puluh derajat.

Langkah Woo Hyun terhenti tatkala ia mendengar gumaman lirih Min Chan yang benar-benar terdengar memilukan di telinganya. “Woo Hyun~a, apakah masih belum ada donor mata untukku? Dan, apakah ia sudah menemuimu? Memintamu memberitahukan dimana dia berada sekarang, atau apakah dia baik-baik saja.” Min Chan mengigit bibir bawahnya agar bisa meredam isakan-isakan yang sudah hampir terdengar. “Aku ingin menemuinya. Melihat wajahnya seperti dulu. Aku … benar-benar merindukannya.”

Woo Hyun menatap Min Chan nanar. Gadis di hadapannya ini, benarkah seorang Park Min Chan? Kenapa begitu terlihat lemah saat ini? Sepenting itukah posisi Dong Hae untuk Min Chan? Kenapa hanya Dong Hae yang Min Chan ingat, sekalipun pria itu sudah pergi?

“Tidak bisakah kau melupakannya dan menatapku saat ini? Kenapa hanya dia yang selalu kau pikirkan?”

~~~

-Tokyo, Japan-

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan cepat. Membelah jalanan kota Tokyo. Melewati beberapa bangunan-bangunan yang menjulang tinggi yang tampak berdiri kokoh dan terlihat angkuh itu. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan yang tak kalah tinggi dari bangunan-bangunan yang ia lewati tadi, dan ketika pintu mobil tersebut terbuka, seorang pria dengan rambut coklat kehitamannya itu perlahan mulai berjalan melewati beberapa pegawai yang langsung menundukan tubuh mereka begitu pria itu lewat di hadapan mereka. Tak jarang beberapa pegawai wanita sibuk membicarakan betapa sempurnanya pria itu.

Tampan, pintar, anak dari pemilik Lee Corporation yang tentu saja bisa menjamin masa depan yang mapan, dan segala kesempurnaan lain yang ia miliki sukses membuat wanita manapun pasti akan langsung jatuh hati kepadanya.

Dong Hae melangkahkan kakinya menuju ruangannya dengan wajah dinginnya yang begitu terlihat angkuh. Sepersekian detik kemudian, dahinya berkerut ketika melihat pintu ruangannya terbuka setengah. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju ruangannya dan memasukinya.

Alisnya tertaut sempurna ketika melihat kursi kerja yang biasa ia duduki, sudah lebih dulu diduduki oleh seorang gadis berambut hitam lurus yang saat ini sedang menatap ke layar ponselnya. Merasa ada yang memperhatikannya, gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Dong Hae seraya tersenyum simpul.

“Oppa baru datang?” tanya gadis itu kemudian bangkit berdiri dan melangkah mendekati Dong Hae.

“Sedang apa kau disini?” Dong Hae balik bertanya sembari melepaskan tangan Victoria yang mulai bergelayut manja di lengannya. Ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan tingkah laku gadis ini yang semakin lama semakin menyebalkan saja.

Walaupun status Victoria saat ini adalah tunangannya, tapi ia merasa benar-benar tidak senang dengan kehadiran gadis ini. Bayangkan saja, mereka baru mengenal dua setengah bulan yang lalu tapi ia sudah berani berbuat seperti tadi. Apa namanya kalau bukan tak tahu malu?

“Aku? Aku hanya ingin bertemu dengan oppa saja,” sahut Victoria asal. “Oppa, bagaimana kalau hari ini kita pergi saja, eoh?”

“Aku banyak pekerjaan. Keluarlah,” ujar Dong Hae datar, membuat Victoria mendengus sebal tapi ia tetap menuruti perintah Dong Hae yang menyuruhnya keluar.

Dong Hae mengangkat kepalanya ketika mendengar suara decitan pintu ruangannya yang tertutup. Ia menghela nafas berat seraya memijat keningnya. Pikirannya benar-benar terkuras akhir-akhir ini. Mulai dari orang tuanya yang sibuk dengan bisnisnya yang lain sehingga mengharuskan ia untuk meninggalkan sekolah musiknya dan berpindah untuk mengelola bisnis keluarganya, dan juga masalah percintaannya yang benar-benar hancur berantakan.

Lagi-lagi orang tuanya terlalu memaksanya untuk menuruti perintah mereka. Seakan tidak cukup dengan memaksa Dong Hae “terjun” ke dunia bisnis, sekarang mereka memaksa Dong Hae untuk bertunangan dengan gadis yang tidak ia cintai sama sekali dan harus meninggalkan kekasihnya yang benar-benar ia cintai itu.

Park Min Chan.

Rasanya sudah lama ia tidak melihat pemilik nama itu. Bagaimana keadaannya? Apakah ia baik-baik saja? Dimana dia sekarang? Begitu banyak pertanyaan di kepalanya saat ini. Ia merindukan gadis itu. Sangat merindukannya.

Kabar terakhir yang ia dengar, Min Chan mengalami kecelakaan. Dan itu semua karena dirinya, seharusnya waktu itu ia tidak meminta Min Chan untuk bertemu kalau akhirnya gadis itu kecelakaan. Bodoh, kenapa ia bodoh sekali, sampai-sampai secara tidak langsung ia yang menyebabkan kecelakaan itu? Bahkan ia tidak tahu, apakah Min Chan baik-baik saja saat ini. Bukankah pria itu benar-benar bodoh?

Rasanya ia ingin sekali mengutuk dirinya sendiri semenjak peristiwa naas itu terjadi. Ia yang secara tidak langsung menyebabkan kecelakaan yang dialami Min Chan terjadi, dan sekarang? Dia justru terlihat seperti sedang melarikan diri dari kesalahannya. Rasanya, dia benar-benar menjadi seorang pengecut.

“Min Chan~a … mianhae.”

~~~

“Ne, kamsahamnida.”

Senyum Woo Hyun terlukis sempurna di wajahnya, sesaat setelah ia memutuskan sambungan telephonenya. Pria itu berbalik dan menatap Min Chan yang sibuk menatap ke luar jendela apartementnya.

Woo Hyun berjalan mendekati Min Chan. Ia lantas menepuk ringan bahu Min Chan, membuat Min Chan menoleh. Sedangkan Woo Hyun hanya tersenyum lebar, meski ia tahu bahwa gadis di hadapannya ini tidak bisa melihat dirinya.

“Min Chan~a, sudah ada pendonor mata untukmu,” ujar Woo Hyun riang sembari memeluk Min Chan. Ia benar-benar senang saat ini. Akhirnya, Min Chan akan segera bisa melihat lagi, dan semoga saja kepribadiannya akan kembali seperti dulu lagi.

Min Chan tertegun. Ia tidak menyangka akhirnya akan bisa melihat lagi. “Jinjjayo? Kau tidak berbohong, ‘kan?” tanya Min Chan memastikan. Woo Hyun mengangguk. Tapi sesaat kemudian ia tersadar bahwa Min Chan tidak akan bisa melihatnya.

“Ne. Kau senang?”

“Tentu saja. Ah, akhirnya sebentar lagi penantianku akan terbayar,” ujar Min Chan dengan senyum yang merekah di wajahnya. Woo Hyun terdiam. Ia tahu benar, apa yang dimaksud oleh Min Chan. Lee Dong Hae. Penantian gadis itu adalah Lee Dong Hae. Berharap dirinya bisa melihat pria itu lagi.

“Geurae,” sahut Woo Hyun lemah. Pria itu lantas menundukan kepalanya ke bawah seolah lehernya tidak sanggup lagi untuk menyanggah kepalanya. Min Chan menautkan alisnya tatkala suara lemah Woo Hyun tadi mengalun di indera pendengarannya.

“Wae? Kau tidak senang jika aku bisa melihat lagi?”

“Ne? Mana mungkin? Tentu saja aku senang.” Nada yang digunakan oleh pria itu sangat kontras dengan nadanya tadi yang terdengar lemah. Begitupun dengan wajah pria itu, sangat kontras dengan ekspresinya tadi.

Min Chan tersenyum, menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Sedangkan Woo Hyun, mata itu terus menatap nanar wajah gadis di hadapannya. Sakit. Selalu itu yang ia rasakan setiap kali ia mendapati gadis itu tersenyum sendiri, membayangkan pria itu berada di dekatnya. Gadis itu seolah mempunyai dunia sendiri. Dunia yang tidak mungkin pernah ia jamah.

“Woo Hyun~a … Jika aku sudah bisa melihat lagi, maukah kau membantuku mencari Dong Hae?”

Pertanyaan itu seolah menampar Woo Hyun begitu keras. Menyadarkan pria itu bahwa gadis di hadapannya masih belum bisa melupakan pria yang dulu bersamanya. Sekalipun waktu sudah berlalu. “Tentu saja …” sahut Woo Hyun seolah tidak ingin membuat Min Chan sedih. Gadis itu sudah cukup tersiksa karena Dong Hae, dan ia sama sekali tidak ingin menambah masalah Min Chan lagi.

“Jadi … kapan kita ke rumah sakit?”

“Tiga hari lagi,” ujar Woo Hyun sembari terus tersenyum. Walaupun ia sendiri juga tahu bahwa Min Chan tidak akan bisa melihat senyumannya itu. Hanya saja … entah karena apa, ia bisa merasakan bahwa Min Chan juga bisa ikut merasakan ekspresinya itu, sekalipun gadis itu tidak bisa melihat.

~~~

Seoul, South Korea.
Six months later …

Dong Hae menatap sebuah benda berbentuk persegi panjang—yang kini sedang dipegangnya—dengan pandangan kosong. Pandangannya menerawang tak menentu. Pikirannya terus tertuju pada sosok itu. Sosok gadis yang berhasil membuatnya tampak seperti mayat hidup belakangan ini.

Undangan pernikahan. Entah kenapa ia ingin sekali membuang benda tersebut saat ini. Benda yang seolah berbicara kepadanya bahwa ia tidak akan bisa lagi bersama Min Chan. Tidak bisa mendapatkan gadis itu sekeras apapun usahanya.

Tiba-tiba saja Dong Hae melempar undangan itu entah kemana. Pria itu lantas berteriak kencang, meluapkan seluruh amarahnya. Mata pria itu memanas. Tangannya mengepal sempurna ketika ucapan orang tuanya kembali terngiang di benaknya.

“Berikan ini pada Min Chan.”

Pria itu terus menatap nanar undangan yang sekarang sudah tergeletak di lantai apartemennya. Masih menimbang-nimbang apakah ia akan menyerahkan undangan tersebut pada Min Chan atau tidak. Hatinya memang menolak untuk melakukan hal tersebut, tapi otaknya menyuruhnya agar melakukan hal tersebut.

Jujur, ia sama sekali tidak ingin menyerahkan undangan itu pada Min Chan, karena ia tahu bahwa semua itu hanya akan menyakiti gadis itu. Ia hanya akan membuat penyiksaan gadis itu semakin bertambah. Dan … untuk sekian kalinya ia merasa menjadi seorang pengecut jika menyangkut gadis itu, Park Min Chan.

Dong Hae menghela nafas berat sebelum akhirnya ia memungut undangan itu dan segera menyambar kunci mobilnya. Pria itu lantas keluar dari rumahnya dengan langkah pelan, seolah ia enggan untuk keluar dari apartemennya.

Dua puluh menit kemudian mobil Dong Hae tiba di halaman rumah Min Chan. Pria itu menghela nafas berat sebelum akhirnya membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Dong Hae menghela nafas sejenak kemudian memencet bel rumah itu dengan ragu-ragu. Ia hendak memencet bel itu lagi ketika pintu itu tidak kunjung terbuka. Tapi niatnya itu ia urungkan tatkala pintu itu tiba-tiba saja terbuka dan menampakan seorang gadis yang sudah lama tidak ia lihat.

Min Chan tertegun sejenak. Tatapan matanya beradu menatap Dong Hae yang juga balik menatapnya saat ini. Terlihat sekali bahwa ia benar-benar merindukan pria itu. “Hae …” ujar Min Chan lirih, nyaris tidak terdengar. Gadis itu terus menatap Dong Hae tanpa mengedipkan matanya sedetik pun. Seolah pria itu akan hilang jika ia mengedipkan matanya—walau hanya sedetik.

Dong Hae berdehem pelan. Berusaha mengendalikan dirinya agar tidak menarik Min Chan saat ini juga. Ia merindukan gadis itu, sangat merindukannya sampai-sampai rasanya hampir gila. “Aku tidak akan lama. Aku … Aku hanya ingin menyerahkan ini,” ujar Dong Hae sembari menyerahkan undangan berwarna putih kecoklatan itu.

Pandangan mata Min Chan beralih menatap sebuah benda yang baru saja Dong Hae berikan. Sedetik kemudian, matanya membulat sempurna. Lidahnya terasa kelu, seolah tidak mampu mengucapkan satu kata pun. “I-ini … apa?” tanya Min Chan terbata-bata. Kepalanya mendongak, kembali menatap Dong Hae lekat, membuat tatapan mereka beradu. “Kau … akan menikah?”

“Ya. Aku harap kau bisa datang nanti,” sambar Dong Hae cepat. Berusaha untuk segera pulang. Bukan karena ia ingin mengenyahkan Min Chan dari pandangannya, tapi justru karena ia tidak ingin melihat Min Chan tersakiti lagi. Sudah cukup ia menyakiti gadis itu. Sudah cukup ia menjadi beban bagi gadis itu. Dan … sudah cukup baginya untuk menjadi seorang yang jahat dalam hidup Min Chan.

“Kau … pasti berbohong, bukan?” tanya Min Chan tidak percaya. Air mata itu menggenang di pelupuk matanya. Berlomba-lomba agar segera keluar dari mata indah gadis itu. Tapi sekuat tenaga Min Chan menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan pria itu. Ia tidak ingin tampak seperti seorang yang patut dikasihani di mata pria itu.

“Untuk apa aku berbohong? Lagipula undangan yang berada di tanganmu itu sudah menjelaskan segalanya, bukan?” Dong Hae menghela nafas berat sejenak. Berusaha melepaskan diri dari beban yang terasa seperti menghimpit dadanya. “Aku harus pergi,” sahut Dong Hae kemudian berlalu pergi. Sebelum akhirnya tangan seseorang berhasil membuat langkahnya terhenti. Sepersekian detik kemudian, ucapan lirih itu mengalun begitu jelas di telinganya, membuat Dong Hae menggigit bibir bawahnya. Berusaha menyalurkan segala perasaannya pada bibir itu.

“Wae? Kenapa kau melakukan ini?”

“Sekalipun aku menjelaskannya, itu tetap tidak akan mengubah apapun juga.”

~~~

“Sekalipun aku menjelaskannya, itu tetap tidak akan mengubah apapun juga.”

Ucapan datar itu, seolah seperti nyanyian kematian yang mengalun begitu jelas di telinga Min Chan. Sebuah vonis mati yang tidak akan bisa diganggu gugat sekeras apapun ia berusaha. Seharusnya ia tahu, seharusnya ia sadar sejak awal bahwa hubungan mereka ini tidak akan berhasil. Cepat atau lambat semuanya akan berakhir. Tapi ia tidak menyangka akan secepat ini. Ia belum siap, sangat tidak siap dengan semua ini. Rasanya, ia lebih memilih menjadi buta kembali dibanding harus menyaksikan ini semua.

Min Chan berdiri mematung, menatap punggung Dong Hae yang semakin lama semakin tak terlihat lagi di jarak pandangnya, karena pria itu sudah memasuki mobilnya. Cairan bening itu perlahan terjatuh seiring dengan mobil itu yang melaju kencang menjauhi rumahnya.

“Min Chan~a, siapa yang datang?” tanya Woo Hyun. Ia kemudian beralih menatap Min Chan. Tak lama, dahinya berkerut ketika ia melihat wajah Min Chan yang sudah basah oleh air mata. “Eh? Kau kenapa?” tanya Woo Hyun buru-buru. Ia khawatir sekaligus tidak mengerti dengan keadaan Min Chan kini. Bukankah tadi gadis itu baik-baik saja? Lalu kenapa sekarang seperti ini?

Min Chan diam, tak menjawab pertanyaan Woo Hyun. Tapi, gadis itu kemudian memilih mengalah. Ia menyerahkan undangan itu pada Woo Hyun, membuat dahi Woo Hyun lagi-lagi berkerut. “Ini undangan siapa?” tanya Woo Hyun sembari terus menatap Min Chan, walau kini tangannya sudah memegang undangan tersebut. “Mwo? Lee Dong Hae? Victoria Song? Sebenarnya apa yang sudah terjadi?”

“Dia … akan menikah dengan … gadis lain,” ujar Min Chan lirih tanpa menatap Woo Hyun. Pandangan mata gadis itu masih lurus menatap ke depan, seolah berharap bahwa pria itu akan kembali lagi dan mengatakan kepadanya bahwa itu hanya sekedar bualan belaka. Tapi … nyatanya, pria itu tidak pernah datang lagi, tidak pernah kembali dan mengatakan kepada gadis itu bahwa itu hanya bualan.

“Tapi … bagaimana mungkin …” ujar Woo Hyun masih tidak percaya dengan hal ini. Dong Hae akan menikah. Hal itu terus terngiang-ngiang di benaknya, seperti roll film yang terus berputar di otaknya tanpa bisa ia hentikan.

Sementara itu, di dalam mobil, keadaan Dong Hae tidak berbeda jauh dengan keadaan Min Chan kini. Pria itu lantas menghentikan laju mobilnya dan memukul-mukul setir mobilnya itu. Meluapkan seluruh emosinya pada setir itu. Sedetik kemudian, pria itu berteriak kencang, tapi nada yang pria itu gunakan sarat akan frustasi. Ia merasa menjadi seorang yang tidak berguna karena mengalah pada takdir.

Perlahan teriakan itu berubah menjadi isakan, pukulan-pukulan yang semula kencang kini berubah menjadi pukulan-pukulan kecil yang bahkan terlihat tanpa tenaga sama sekali. Dong Hae lantas menengadahkan kepalanya menatap langit. Berusaha sekuat tenaga agar air mata itu tidak terjatuh dari sepasang matanya. Mau tak mau, pria itu harus sadar bahwa gadis itu kini sudah tidak bisa ia gapai lagi.

~~~

Woo Hyun menatap Min Chan dengan pandangan iba, membuat Min Chan merasa sedikit risih karena ditatap seperti itu. Woo Hyun khawatir dengan keadaan Min Chan saat ini. Gadis itu belum makan sejak tadi pagi, tepatnya semenjak Dong Hae datang ke rumahnya pagi tadi.

“Min Chan~a, kau harus makan, eoh? Kau bisa sakit jika seperti ini terus.” Woo Hyun menatap Min Chan dengan pandangan khawatir. Pria itu lantas kembali mencoba untuk membujuk Min Chan agar gadis itu ingin makan. Tapi gadis itu hanya menggeleng pelan.

“Gwaenchana. Aku tidak akan sakit. Kau tidak perlu khawatir dengan keadaanku,” ucap Min Chan pelan. Gadis itu lantas menoleh, menatap ke arah Woo Hyun sembari tersenyum. Walau Woo Hyun tahu bahwa senyum yang diberikan Min Chan itu terkesan dipaksakan. Min Chan menghembuskan nafas sejenak, sebelum akhirnya kembali bertanya pada Woo Hyun. “Kau tidak pulang?”

“Aku tidak akan pulang sampai kau makan,” ujar Woo Hyun keras kepala. Sedetik kemudian pria itu kembali berucap, ketika Min Chan sama sekali tidak membalas ucapannya. “Baiklah. Aku menyerah.” Woo Hyun menghela nafas berat, kemudian pria itu berdiri, hendak keluar dari rumah Min Chan. Ia tahu bahwa saat ini Min Chan tidak ingin diganggu. Jadi, lebih baik ia yang mengalah.

Langkah Woo Hyun terhenti tatkala tangan seseorang berhasil menggenggam pergelangan tangannya. Pria itu lantas menoleh ke belakang dan mendapati Min Chan sedang menatapnya. Walaupun tatapan gadis itu masih menerawang tak pasti. “Aku ingin makan di luar,” ujar Min Chan pelan, membuat kening Woo Hyun berkerut. Tapi sedetik kemudian, seulas senyuman itu muncul di wajah Woo Hyun.

“Baiklah. Kajja!” seru Woo Hyun bersemangat sembari menarik tangan Min Chan agar mengikutinya.

Sepuluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi Woo Hyun dan Min Chan sudah berada di depan cafe yang letaknya tak jauh dari rumah Min Chan. Woo Hyun menatap Min Chan yang saat ini sedang menatap ke luar melalui kaca jendela mobil yang ditumpanginya kini. Sepertinya gadis itu sedang melamun sampai-sampai tidak sadar jika sedari tadi Woo Hyun terus menatapnya.

“Min Chan~a, kita sudah sampai.”

Min Chan tersentak kaget ketika suara lembut Woo Hyun mengalun di telinganya, membuat lamunannya buyar. “Ne.” Min Chan lantas membuka pintu mobil itu dan keluar dari mobil Woo Hyun dengan gerakan pelan. Seolah ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menyanggah tubuhnya.

Woo Hyun berjalan di samping Min Chan. Sesekali pria itu melirik Min Chan melalui ekor matanya. Memastikan apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak. Walau sebenarnya Woo Hyun sendiri tahu bagaimana keadaan gadis itu yang sebenarnya.

Lagi-lagi langkah Woo Hyun terhenti tatkala tangannya lagi-lagi digenggam oleh Min Chan. Hanya saja kali ini, gadis itu menggenggam tangannya lebih erat dari sebelumnya, membuat Woo Hyun segera menoleh, menatap Min Chan tidak mengerti. Sedangkan Min Chan hanya diam tak bergeming seraya terus menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit diartikan. Woo Hyun lantas menggerakan kepalanya, mengikuti arah pandang Min Chan kini. Matanya melebar ketika ternyata indera penglihatan Woo Hyun itu “menangkap” sebuah pemandangan yang tidak biasa.

“Lee Dong Hae? Benarkah itu Dong Hae?” tanya Woo Hyun sembari menatap Min Chan tidak percaya. Gadis itu hanya diam, sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaan Woo Hyun tadi. Bahkan ia sendiri tidak yakin, apakah ia mendengar pertanyaan Woo Hyun tadi atau tidak.

Min Chan semakin erat mencengkram tangan Woo Hyun ketika pandangannya tidak sengaja beradu dengan pria itu, Lee Dong Hae. Sepersekian detik kemudian, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah tidak ingin melihat gadis itu lagi. Dong Hae lantas berjalan menuju mobilnya sembari terus menggenggam tangan seorang gadis asing yang bahkan tidak Min Chan ketahui siapa namanya.

Min Chan segera melepas genggaman tangannya pada Woo Hyun ketika gadis itu melihat Dong Hae akan pergi dari tempatnya semula menuju mobilnya. Min Chan lantas berteriak kencang—sembari terus berlari, berusaha mencegat Dong Hae yang sebentar lagi akan memasuki mobilnya. Tapi Dong Hae hanya diam, sama sekali tidak berusaha menoleh dan menatap Min Chan.

Victoria menoleh dengan cepat ketika seorang gadis yang tidak ia kenal itu berteriak kencang, memanggil nama tunangannya. Gadis itu menoleh, menatap Dong Hae. Seolah mengisyaratkan Dong Hae agar berbalik dan menatap gadis asing itu. Tapi reaksi pria itu justru sebaliknya, pria itu hanya diam berusaha menulikan telinganya dari teriakan Min Chan dan membutakan matanya dari tatapan mata Victoria yang menyuruhnya untuk menatap Min Chan.

Dong Hae menggigit bibir bawahnya kencang, berusaha menahan dirinya agar tidak berbalik dan memeluk Min Chan saat itu juga. Pria itu sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan Min Chan. Tapi kenapa rasanya sesulit ini? Kenapa rasanya hidup tanpa gadis itu sama sekali bukan hidup?

Akhirnya, Dong Hae memilih menyerah, pria itu memilih berbalik dan menatap Min Chan yang kini sudah berdiri di hadapannya. Min Chan tersenyum, seolah kejadian tadi pagi tidak pernah terjadi, membuat Dong Hae merasa bahwa ia adalah orang paling jahat di dunia ini.

Min Chan tersenyum, walau sebenarnya dalam diri gadis itu kini sedang meringis sakit. Meringis sakit karena pria yang ia cintainya itu sekarang sedang bersama gadis lain. Meringis sakit karena pria itu lebih memilih berpura-pura tuli dan tidak mendengar teriakannya.

“Hae …”

Dong Hae memejamkan matanya sejenak. “Ada apa?” tanya Dong Hae berusaha bertingkah dingin di depan Min Chan. Ia ingin gadis itu sadar bahwa ia bukan pria yang baik untuknya. Ia bukan pria yang cocok untuk berada di sampingnya. Bukan, ia bukan pria seperti itu. Ia hanya sekedar pengecut yang bahkan tidak mampu berkutik apa-apa ketika takdir seolah mempermainkannya. Ia … ingin gadis itu meninggalkannya.

“Bukankah sudah kukatakan kalau aku akan segera menikah sebentar lagi. Kau tidak perlu menyapaku jika bertemu. Anggap saja aku orang lain yang bahkan tidak pernah kau kenal seumur hidupmu.”

Tubuh Min Chan langsung mengejang kaku tatkala rentetan kata itu mengalun begitu jelas di indera pendengarannya. Matanya memanas. Tangannya meremas rok yang dikenakannya begitu erat, seolah menyalurkan seluruh perasaannya pada rok itu. Ia tidak percaya, sangat tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Benarkah … benarkah sosok yang berada di hadapannya kini adalah seorang Lee Dong Hae yang ia kenal?

“Maaf, kami harus segera pergi,” ujar Dong Hae kemudian masuk begitu saja ke dalam mobilnya. Meninggalkan Min Chan sendirian yang masih menatap ke arah mobil yang dikendarai Dong Hae dengan tatapan yang menyiratkan kesakitan yang teramat sangat. Seolah nyawanya baru saja dicabut secara paksa.

Victoria menatap Dong Hae yang saat ini sedang menatap lurus ke depan, seolah memusatkan seluruh fokusnya pada jalanan di depannya. Tapi nyatanya pikiran pria itu sedang melayang, memikirkan gadis itu, Park Min Chan.

“Dia … gadis yang ada di dalam ponselmu, bukan?” tanya Victoria ragu-ragu sembari terus menatap Dong Hae lekat. Sepersekian detik kemudian Victoria kembali menambahkan ucapannya. “Waktu itu, aku tidak sengaja membuka ponselmu dan ternyata foto gadis itu yang kau gunakan sebagai wallpaper di ponselmu.”

“Kau tidak perlu tahu. Lagipula itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu,” ujar Dong Hae datar tanpa menatap Victoria sama sekali. Pria itu terus menatap lurus ke depan, mempertahankan posisinya semula.

“Mwo? Ya! Kau ini bodoh atau apa? Kau tidak lihat wajahnya yang tampak seperti menahan sakit saat kau mengucapkan kata itu tadi?!” seru Victoria tanpa sedetik pun mengalihkan pandangannya dari wajah Dong Hae. Gadis itu menghela nafas berat, merasa serba salah menghadapi kelakukan pria yang kini berada di sampingnya. Tapi beberapa detik kemudian, gadis itu memilih mengalihkan pandangannya. Ia menatap pemandangan di luar melalui kaca jendela mobil yang ditumpanginya.

Dong Hae menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya bergumam lirih, nyaris tidak terdengar. “Benar … Aku memang bodoh.”

~~~

Three days later …
-Wedding Day-

Dong Hae berdiri di depan cermin yang menampilkan pantulan dirinya sendiri. Tatapan matanya menerawang tak menentu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sedang dipandangnya. Bahkan dadanya pun terasa sesak, seolah dadanya dihimpit oleh beban yang sangat berat. Dan satu lagi, entah ini hanya perasaannya saja atau memang jantungnya sedang tidak bekerja dengan baik saat ini?

Hari ini adalah hari pernikahannya, tapi kenapa ia merasa seolah hari ini adalah hari pencabutan nyawanya? Ia merasa jika sebentar lagi, vonis kematiannya akan benar-benar dilaksanakan. Membuat ia merasa enggan untuk menghadapi pernikahannya yang kini sudah tinggal sebentar lagi.

Semua sudah terlambat. Ya, bahkan jika ia ingin membatalkan semuanya, itu semua sudah terlambat. Ia tidak mungkin mempermalukan orang tuanya di depan para tamu, bukan? Jadi, tidak mungkin ia akan melakukan hal se-nekat itu.

“Jika aku pergi darimu, bagaimana?”

“Pergi dariku? Cih, memangnya ada pria yang ingin bersamamu selain aku, hah?”

“Ya! Enak saja kau. Tentu saja ada.”

“Ck, kalaupun memang ada, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Sampai kapanpun juga.”

“Wae? Kenapa kau melakukan ini?”

“Sekalipun aku menjelaskannya, itu tetap tidak akan mengubah apapun juga.”

“Hae …”

“Bukankah sudah kukatakan kalau aku akan segera menikah sebentar lagi. Kau tidak perlu menyapaku jika bertemu. Anggap saja aku orang lain yang bahkan tidak pernah kau kenal seumur hidupmu.”

Dong Hae memejamkan matanya, merasa begitu sakit ketika kilasan peristiwa itu berputar di benaknya, seperti film dokumenter yang menayangkan kembali perjalanan hidupnya bersama Min Chan dari dulu hingga sekarang.

Lamunannya buyar begitu saja tatkala pintu ruangan itu terbuka dan menampakan seorang wanita. “Apa tuan sudah siap? Acaranya akan segera dimulai,” ujar wanita itu seraya terus berdiri di depan pintu. Dong Hae mengangguk lemah, membuat wanita itu segera pergi setelah Dong Hae menjawab pertanyaannya.

Dong Hae menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu.

“Kau … akan menikah?”

“Ya. Aku harap kau bisa datang nanti.”

Dong Hae menghentikan langkahnya ketika bisikan-bisikan itu semakin sering muncul di benaknya. Seolah ingin membuatnya berpikir ulang tentang keputusan yang ia buat tadi. Seolah ingin membuatnya pergi keluar dari tempat ini dan segera menemui gadis itu.

Dong Hae menggeleng. Tidak, kali ini ia tidak boleh membiarkan masa lalunya menghentikan ini semua. Lagipula, kalau dipikir-pikir, semuanya sudah terlambat. Sudah terlambat untuk ia hentikan.

~~~

Min Chan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Berusaha membuat tubuhnya lebih relaks dibanding sebelumnya. Wanita itu lantas memejamkan matanya sejenak. Ia sebenarnya mengantuk, sangat mengantuk, tapi apa boleh buat, ia harus segera mengerjakan project ini. Project fanfiction yang sudah lama “bersarang” di otaknya.

Min Chan lantas kembali menegakan tubuhnya. Menyentuhkan kembali jari-jemarinya pada keyboard laptopnya. Wanita itu hendak mengetik beberapa kata, sebelum akhirnya sebuah suara dari balik tubuhnya berhasil membuat ia tersentak kaget. “Ya! Apa-apaan ini?! Kenapa di cerita ini, aku menikah dengan orang lain?” seru Dong Hae tidak terima ketika dirinya tidak sengaja membaca alur cerita yang saat ini sedang dibuat oleh Min Chan.

Min Chan mendengus kesal. Wanita itu lantas berbalik dan menatap Dong Hae kesal. “Bisakah kau membaca judulnya lebih dahulu, sebelum memberikan protes?” Wanita itu mengambil nafas sejenak, sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya. “Blue Hyacinth. Apa kau tidak tahu artinya?”

Dong Hae menggeleng. “Tidak. Bahasa apa itu?”

“Itu nama bunga, bodoh. Blue Hyacinth berarti kesetiaan,” ujar Min Chan enteng kemudian berbalik begitu saja, membelakangi Dong Hae. Wanita itu lantas kembali mengetikan beberapa kata sebelum akhirnya pekerjaannya kembali diganggu oleh seseorang yang ia ketahui sebagai suaminya itu.

“Ck, memangnya sejak kapan aku mau repot-repot mencari arti nama bunga?” gumam Dong Hae pelan tapi tetap masih bisa didengar oleh Min Chan. Min Chan memutar bola matanya jengah ketika mendengar alasan Dong Hae.

Tidak sampai satu menit, pria itu kembali berucap. “Dan … apa ini? Nam Woo Hyun? Victoria Song? Ya! Kenapa pria itu muncul lagi di ceritamu? Menyebalkan! Dan lagi, Victoria Song? Astaga, sejak kapan gadis itu menjadi pemeran dalam ceritamu?”

“Aku hanya ingin mencoba orang baru saja. Dan soal Woo Hyun, memangnya kenapa kalau ia ada lagi dalam ceritaku? Kau ini benar-benar,” desis Min Chan pelan. Ia merasa jika Dong Hae itu terlalu berlebihan. “Ah ya, apa Super Junior tidak ada jadwal hari ini?” tanya Min Chan sembari berbalik dan menatap Dong Hae lekat.

“Aish, sial. Hari ini aku ada jadwal.” Pria itu menepuk dahinya lumayan keras, merasa bodoh karena melupakan kewajibannya yang satu itu. Ia kemudian segera menyambar jaketnya, bermaksud untuk keluar dari kamar mereka. Tapi, langkahnya sontak terhenti tatkala indera pendengarannya mendengar ucapan Min Chan.

“Kalau begitu, cepat pergi,” tandas Min Chan enteng.

“Ya! Kau mengusirku, eoh?” seru Dong Hae tidak terima sembari berbalik dan menatap Min Chan. Sejenak, ia melupakan niat awalnya yang hendak keluar dari kamar itu.

“Tidak, aku hanya menyuruhmu agar cepat pergi. Sepertinya kau perlu memeriksakan telingamu ke dokter, Hae.”

“Ck, itu sama saja, bodoh!”

“Berarti kau lebih bodoh lagi karena menikahi wanita bodoh sepertiku,” ujar Min Chan yang sukses membuat Dong Hae diam seribu bahasa. Tapi, detik berikutnya, pria itu lantas tersenyum miring. Tiba-tiba saja ide untuk menggoda Min Chan kembali terlintas di otaknya.

Dong Hae berjalan perlahan ke arah Min Chan kemudian membisikan sesuatu di telinga Min Chan yang sukses membuat mata Min Chan sontak melebar. “Yang penting kau tetap mencintaiku, bukan?” Seusai mengatakan itu, Dong Hae langsung berlalu pergi, keluar dari kamar mereka.

Min Chan diam mematung, masih merasa terkejut dengan perlakuan Dong Hae tadi yang berbisik di telinganya. Tapi detik berikutnya, wanita itu tersadar dan langsung berteriak kencang kepada Dong Hae yang sudah keluar dari kamar. “YAK!! LEE DONG HAE!!”

-THE END-

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s