The Choi’s Little Sister [Sooyoung]


The Choi’s Little Sister|Drama, Family|PG-13

Sooyoung menenggelamkan wajahnya makin dalam di atas bantal. Basah air matanya membajiri. Semua sudah berkorban untuknya hidup, semua

.

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

.

The Choi’s Little Sister

Choi Sooyoung and the other Choi artists

Standard Disclaimer Applied

2013©Ninischh

Present

.

SEDARI awal mestinya Siwon sadar, bahwa ikut Sooyoung jalan-jalan di Orchard Road adalah sebuah kesalahan besar.

Hukumnya sama seperti mentraktir Sulli di Fell+Cole (toko es krim termahal di Seoul), atau pun bencana yang akan datang bila ia menghilangkan kunci motor Minho (cinta adiknya pada motor kan nggak wajar). Terutama karena Siwon sadar Sulli nggak akan berhenti makan es krim sampai tokonya tutup, dan karena motor merah Minho adalah hadiah ulang tahun ke enambelasnya dari Choi Seunghyun.

Mestinya tadi ia ikut kedua orangtuanya dan sang bibi saja ke pesta perayaan sebuah perusahaan apa itu yang Siwon tak hapal namanya—daripada mengajukan diri untuk menjaga tiga adiknya (dengan sukarela pula).

Marc Jacobs Small Fulton Satchel diskon sepuluh persen, aaakhhh!!!”

Ommo, eonni!” Sulli, yang lengan kanannya sedari tadi digandeng Sooyoung, ikut terseret ke toko di sebelah kiri trotoar. Adik bungsunya itu memekik kaget sebelum kejedot pintu masuk toko.

Siwon menghela napas. Ia lalu melirik Minho, berharap pemuda yang satu ini merasakan bosan yang sama, sebelum menggeleng lagi. Minho asyik telponan dengan pacarnya. Sekarang jam dua sore, berarti di Seoul jam tiga. Jahat banget dia, ngebiarin si Krystal langsung telponan dengannya begitu pulang sekolah begini.

Putra tertua dalam keluarga itu menghembuskan napas pelan (lagi) dan membiarkan Minho di luar toko sementara kakinya melangkah masuk. Nampaknya gadis—ah tidak, bukan gadis saja. Tante-tante juga—yang gila belanja dan setipe dengan Sooyoung bertebaran di seluruh penjuru Orchard Road. Terbukti dari suara pekikan yang bersahutan ketika mereka memegang sebuah tas, sepatu, baju, atau apalah itu Siwon tak peduli.

Toko yang menjual produk Marc Jacobs dari berbagai pelosok dunia itu disesaki wanita—tentu saja. Ruangannya yang sangat besar bahkan tak cukup menampung pembeli yang terus berdatangan.

Siwon baru menarik napas dan hendak menghampiri Sulli yang benjol dahinya karena kejedot pintu barusan, sebelum tiba-tiba sebuah wajah mulus berambut panjang muncul di depannya.

Oppa,” panggil Sooyoung manja. Matanya berkedip centil, wajahnya dibuat seimut mungkin. Siwon langsung terbayang tante-tante genit ketika ia sadar Sooyoung baru saja memanggilnya oppa. Gadis itu tidak pernah memanggilnya seperti itu—Akh, kecuali ada maksud tertentu.

Siwon cuman bisa nyengir kecil. Modus banget, nih. “Apa?” sahutnya.

“Siwon oppa, Fultonicchi barusan ketemu sama mama Sooyoung dan dia langsung jatuh cinta sama Sooyoung. Fultonicchi pingin ikut mama Sooyoung pulang ke rumah, dia nangis pingin dibawa pulang sama mama Sooyoung. Siwon oppa baik, kan? Tolong, ya? Please, Fultonicchi udah kebelet cinta sama mama Sooyoung, nih.”

Sebelah alis Siwon naik, memperhatikan adik sepupunya yang menyodorkan tas ungu dengan lambang khas produk Marc Jacobs di depannya. Cewek ini bahkan sudah menamakan tas yang baru dilihatnya beberapa detik! Siwon melipat bibir ketakukan.

“Siwon oppaaa~”

Tiba teringat dengan rengekan Sulli, jantung Siwon berpacu lebih cepat. Siwon salah apa? Kenapa gadis-gadis seperti mereka ini tak henti muncul di hidupnya? Kurang baik apa Siwon pada mereka?

“Oppaaa!”

Orang beriman, tolonglah Siwon sekarang juga.

The Choi’s Little Sister

Sooyoung pov

Hei, di sini Choi Sooyoung. Salam kenal semua, senang berkenalan~

Kadang ngeliat Jinri yang bergurau sama Siwon bikin iri juga. Bukan karena aku suka Siwon atau apa (well, sebenarnya aku suka Siwon, sih. Dia sempurna banget, waktu bayi bahkan pernah makan BAB nya sendiri, uh). Tapi semua itu karena mereka bersaudara, satu ikatan darah.

Tapi perasaan itu hanya muncul kadang-kadang lho, ya. Kadang—sangat jarang sekali banget. Mereka kan keluargaku juga, haha.

Soalnya kakak, adik, bahkan ayah pun sekarang aku nggak punya. Tiap hari diriku yang cantik jelita ini hanya tinggal berdua dengan ibu—eommaku. Itu pun bukannya tiap hari bertemu, mengingat ibuku adalah salah satu pemimpin perusahaan dari grup besar milik keluarga (Choihwang itu).

Ibuku hebat, kan? Nggak semua wanita di dunia bisa berkarir sesukses dirinya. Itu ibuku coy, bangga banget aku jadi anaknya. Dan karena itu, bukan masalah buatku kalau cuman bisa ketemu ia barang seminggu tiga kali. Asal ibuku senang, bahagia dan yah—menikmati hidupnya? Apa sih yang nggak untuknya?

Di dunia ini hanya ada satu orang yang aku punya untuk kusayang dan kujaga: eomma.

Karena aku tahu semua derita yang ditempuhnya hanya untukku bertahan hidup. Segala perjuangan itu yang dilaluinya untuk hidupku.

Kecil dulu, ketik aku kelas satu sekolah dasar—dan namaku masih Jung Sooyoung, semua peristiwa itu terjadi.

Aku sama kayak anak kecil pada umum lainnya. Suka minta dibelikan berbagai hal. Mainan, makanan, semua yang temanku punya ingin kumiliki juga. Tapi eomma selalu punya berbagai alasan untuk menolak membelikan apa yang kupinta—punya banyak uang bukan berarti harus selalu membeli semua yang diinginkan, kan?

Termasuk salah satu yang sering dibilangnya adalah, “Coba Sooyoung minta sama appa. Eomma lagi nggak punya uang nih, sayang.”

Otomatis aku pergi menghampiri ayahku, Jung Jinwoon, untuk minta dibelikan boneka Barbie. Biasanya appa akan menggendongku dalam pelukannya, dan berkata, “Tunggu appa jadi pemimpin Choihwang ya, Sooyoungie. Tunggu sebentar lagi.”

Aku mengangguk saja, menurut. Menjadi pemimpin Choihwang berarti punya banyak uang, aku akan menunggu.

Ketika itu aku masih kecil. Nggak ngerti apa maksudnya jadi pemimpin Choihwang atau apalah itu. Kakekku adalah pemimpin sebuah perusahaan bernama Choihwang, dan ia hebat karenanya (juga jadi punya banyak uang). Hanya sebatas itu yang kupaham. Jelas nggak tahu bahwa ayahku benar-benar berambisi untuk menjadi pemimpin Choihwang, menggeser posisi kakek.

Tinggal di rumah utama ada keluarga kecil kami, beserta kakek dan nenek. Kami berlima serumah. Sementara paman Seunghyun dan bibi Park Bom menempati rumah yang ukurannya lebih kecil, tepat di sebelah. Bukan jarang aku pergi ke sana untuk main dengan Minho dan Jinri kecil, kadang juga dengan kakak mereka, Siwon—sepupuku.

Beberapa bulan menjelang kenaikan kelas, appa jarang ada di rumah—berminggu-minggu tidak pulang. Bingung, kutanya pada eomma di mana ayahku. Ia hanya akan menjawab, “Appa sedang bekerja nak, sedang bekerja.”

Eomma menjawab dengan ekspresi sedih, membuat aku kecil semakin bingung.

Lalu eomma juga mulai menjauh. Setiap hari pulang malam dengan bercucuran air mata. Nenek menemaniku selama eomma tak ada, juga bergantian hadir Siwon dan Minho. Tapi aku nggak mau mereka. Aku pinginnya ada di samping eomma, dengan appa juga, bertiga, menemani kesedihan eommaku yang alasannya tak kuketahui.

Selama beberapa bulan kedepannya, banyak orang berlalu-lalang di kompleks rumah kami. Kakek dan paman Seunghyun sibuk ke sana kemari. Appa tidak ada. Eommaku menangis hampir setiap hari.

Malam-malam masih terdengar tangisan eomma, membuat tidurku semakin tak nyenyak. Meskipun Siwon dan Minho tidur di kanan-kiriku, atau pun bibi Park Bom yang sebelumnya menina bobokanku, semuanya tetap tak membuatku tenang. Aku tahu eomma ditemani nenek di malam hari, dan melalui seluruh waktu siang harinya dengan bibi Park Bom, tapi tetap saja.

Aku ikut menangis.

Bukan karena tidurku terganggu gara-gara banyak orang itu yang ribut di lantai dasar. Atau pun karena rinduku pada appa—seperti yang berkali dibilang nenek. Tapi aku menangis karena melihat eommaku sedih. Aku ingin melihatnya tersenyum, membuatkanku kue, mengajakku membeli mantel tuk sambut musim dingin seperti biasa.

Aku ikut sedih melihat eomma sedih.

Lalu suatu hari eomma mengajakku pergi di akhir pekan. Ia membelikanku sepatu baru dan kami berjalan-jalan di sepanjang etalase pusat perbelanjaan Seoul, hanya melihat-lihat sambil tertawa. Rasanya semakin lengkap ketika kami pergi ke taman bermain, dan aku bertemu dengan appa yang sudah berbulan-bulan tak kutemi sosoknya.

“Main yang puas ya, sayang. Eomma akan menunggu di sini.”

Saat itu rasanya bingung luar biasa. Kami sudah lengkap bertiga, berkumpul lagi seperti dulu—setelah sekian lama. Tapi kenapa eomma justru menyuruhku bermain berdua saja dengan appa? Kenapa kita tidak main sama-sama saja?

“Appa sudah jadi pemimpin Choihwang, Sooyoung ah,” katanya ketika kami sedang bermain kincir raksasa, dari atas memandang langit. “Jadi appa bisa membelikanmu semua maninan yang kau inginkan sekarang.”

Aku tersenyum senang. “Semuanya? Semua yang Sooyoung mau?”

Appa tertawa, dan ia mengangguk mengiyakan, sebelum membelikanku barbie itu setelahnya.

Hari itu memang menyenangkan. Setelah dengan eomma, soreku habis bersama appa—menikmati wahana di taman bermain. Matahari nampak tenggelam di ufuk. Aku menatap sinarnya kelelahan. Dalam gendongan dan peluknya, appa berbisik padaku, selagi berjalan menghampiri eomma.

“Jadilah gadis yang kuat, Sooyoung. Terus tersenyum dalam setiap situasi, jangan mudah menyerah. Kau kuat,” katanya pelan. Aku mengeratkan pelukanku, sementara langkah appa sudah kian dekat mencapai eomma.

“Lindungi ibumu,” katanya lagi. Tidak tahu kenapa saat itu aku ingin menangis.

Appa berhenti berjalan, tepat ketika rasa kantuk beserta air mataku tak tertahankan lagi. “Sekarang namamu adalah Choi Sooyung, nak. Sooyoung tahu kalau appa selalu sayang Sooyoung, kan?”

Aku mengangguk kecil, tak kasat.

Appa lalu menyerahkanku dalam pelukan eomma. Aku menangsi tak ingin berpisah dengan appa, sampai eomma memaksaku pergi dan mengajakku makan di salah satu restoran favoritnya sambil menenangkan tangisku.

Dan di sanalah ia mengatakan hal itu. Tentang appa, dan kepergiannya yang membuatku menjerit sedih.

“Kenapa appa nggak ikut sama kita, eomma? Kenapa eomma ninggalin appa sendirian di sana?” ujarku bingung. Eomma cuman tersenyum miris.

“Sooyoung ah, mulai hari ini appa tidak akan tinggal bersama kita lagi,” ucapnya. “Tapi bukan berarti appa tidak menyayangi kita. Ia tentu sayang padamu, sangat sayang malah. Hanya saja appa akan tinggal di rumah yang berbeda.”

Aku berhenti makan. Mulai bertanya macam-macam alasan atas ucapannya itu. Tapi eomma memang pintar merangkai kata. Ia berhasil meyakinkanku bahwa ayah sungguh sayang aku dimana pun ia berada, tanpa perlu tinggal bersama kami lagi.

Sejak saat itu appa memang tak pernah lagi pulang ke rumah. Semua barang-barangnya entah kenapa sudah raib dimakan waktu—atau ikut dibawanya pergi saat itu juga. Aku menganggap appa sebagai penjahat. Dengan sengaja ia meninggalkanku berdua dengan eomma.

Tapi eomma selalu membela appa, ia berkata bahwa appa masih sangat menyayangi kami. Ia pergi karena terpaksa, meksipun sebetulnya appa juga tak ingin pergi. Aku tahu eomma bohong, terbukti dari pedih yang ada di iris eomma.

Setelahnya baru aku tahu mereka bercerai, yang tak aku mengerti alasannya juga sampai sekarang. Saat itu keluarga kami kacau. Kakek berubah jadi jahat, ia memarahi nenek dan eomma sepanjang hari. Banyak pegawai perusahaan dan wartawan berkerumun di depan gerbang rumah. Membuatku, Siwon juga Minho jadi libur sekolah selama beberapa hari.

Tahun depannya, ketika keadaan sudah agak tenang, kakek meninggal. Lagi-lagi terjadi peristiwa persis seperti tahun lalu, semua orang sibuk, ribut, berlari ke sana kemari menyelesaikan masalah sementara kami sekeluarga sedang berduka. Ketika kepergian appa, otomatis puncak pimpinan Choihwang kembali pada kakek. Sampai akhirnya ia meninggal dan paman Seunghyun diangkat menjadi pemimpin Choihwang, menggantikan ayahku. Mereka pindah ke rumah tempatku dulu tinggal, dan aku, eomma, juga nenek tinggal di rumah sebelah, rumah paman Seunghyun dulu.

Aku nggak terima.

Setelah kepergian appa, meninggalnya kakek, kami malah diusir dari rumah. Paman Seunghyun justru mengambil semua milik appa. Mengambil rumah kami, juga bersenang-senang menjadi pemimpin Choihwang, mimpi yang selalu ingin diraih ayahku.

Aku nggak lagi percaya pada Paman Seunghyun, bibi Park Bom, juga anak-anaknya. Sebenarnya aku benci pada mereka, kesal luar biasa pada Siwon, Minho dan Jinri (meskipun anak kecil itu lebih nggak ngerti apa-apa dibanding aku). Tapi aku tetap tersenyum dan tertawa, main dengan mereka setiap hari. Semua karena appa yang menyuruhku begitu—untuk tetap tersenyum.

Nenek tinggal bersamaku dan eomma di rumah sebelah. Kala aku sudah mulai dekat dengan nenek, ia pergi menyusul kakek ke surga, meninggalkanku berdua dengan eomma.

Karena itu aku akan menjaga dan melindungi eomma. Ialah milikku yang tertinggal, satu-satunya di dunia ini yang masih sayang dan peduli padaku.

The Choi’s Little Sister

BEGITU melangkah keluar dari kamar mandi, wajah Jinri bersemi. Bukan karena malu atau apa, tapi panas dari wajahnya menguar. Warnanya merah muda, beneran deh. Persis buah jambu.

“Huah, cuapeeek,” ucapnya, sudah lengkap dengan piyama. Menghempaskan diri di atas kasur di tengah kamar. Jinri berguling-guling, ke sana ke mari, ke atas bawah, ke kanan dan ke kiri. “Enaknyaaaa,” sambungnya lagi.

Aku terdiam. Tiba-tiba ngerasa bego banget berdiri di pintu kamar dan merhatiin cewek enam belas tahun yang lagi guling-gulingan di kasur, sambil terpana pula.

“Cie yang udah mandi. Gantian dong, cantik,” gurauku. Langsung saja menyambar handuk di gantungan dan berjalan menghampiri kamar mandi. Baru lima kakiku melangkah, waktu membalikkan badan ngeliat Jinri udah bikin pulau aja di seprai kasur (baca: iler).

Cepet banget migrasinya ke pulau kapuk. Emang udah teler kayaknya si Jinri itu.

Memang hari yang sangat melelahkan (apalagi setelah insiden kepintaran Siwon dan Minho membeli kaos murahan. Mau-maunya mereka ditipu pemilik toko buat ngebeli kaos, padahal jelas harganya jauh lebih murah dari yang ditawarkannya. Terpaksa Choi Sooyoung yang baik hati dan rajin menabung ini dengan tulus turun tangan membantu mereka membeli kaos yang murah dan benar-benar berkualitas).

Kesepuluh jemari tanganku bahkan nggak cukup lagi ngebawa semua tas belanjaan barang-barang yang kubeli. Udah 40 jari malah! (ditambah jari Minho, Siwon dan Jinri), tapi tetep aja rasanya masih banyaaaaaaak barang yang belum kesampean juga kubawa pulang. Padahal suara merdua mereka sudah memanggil-manggil namaku.

Besok sebelum pulang ke Seoul, mampir lagi ke Orchard Road kayaknya seru juga.

Puas berkeliling Orchard Road, kami mampir sebentar ke China Town dan ke Little India. Kami pura-pura jadi turis yang sedang melakukan wisata kuliner. Kucoba hampir seluruh makanan aneh yang dijual—habis tiga bersaudara itu dengan sukarela membiarkanku membersihkan sisa piring mereka, sih. Sayang juga kalau nggak ada yang ngabisin, kan.

Besok masih berencana ke Merlion, terus main-main juga di Universal Studios. Sebelum hari berikutnya balik lagi ke Seoul. Maka berakhirlah masa bolosku yang menyenangkan bukan main.

Setelah mandi rasanya memang hangat dan segar. Wajahku juga ikutan merona waktu kucek melalui kaca di atas wastafel. Tiba-tiba kepikiran iler Jinri yang udah kayak pulau di kasur, bikin aku nyengir sendiri. Pasti heboh kalau aku foto dan kukirim ke pacarnya yang sok cool itu. Asyik banget kalau Jinri langsung diputusin gara-gara sebuah foto saja (jadi semacam skandal artis papan atas gitu, kan).

Tapi waktu ngebuka pintu kamar mandi, Jinri udah nggak ada di atas kasur. Yang ada malah eommaku, sedang melihat-lihat hasil belanjaanku yang bertebaran di lantai kamar.

“Eomma?” ujarku bingung. “Si Sulli ke mana?”

Bisa dibayangkan susahnya berjalan hanya sekedar untuk menghampiri kasur dengan seluruh belanjaan yang menutupi lantai. Beneran ketutup semua lantai, semua. Aku duduk di atas kasur sambil mengeringkan rambut dengan handuk, setelah sebelumnya meraih remot dan menyalakan tivi.

“Eomma suruh pindah ke kamar sebelah,” sahut ibuku, masih sibuk memilah tas, baju, sepatu, atau ke semua belanjaan itu di lantai. Baru aku mau bertanya alasannya kenapa, eomma ikutan duduk di atas kasur dan menunjukkan sesuatu di depan wajahku.

Aku mengangkat alis.

Michael Kors Large Selma Top-Zip Satchel! Hampir keluar bola mata ini saking kagetnya diriku. Tas cokelat itu, tas Michael Kors itu, sudah kuincar sejak hampir enam bulan lalu. Bertiga dengan Tiffany dan Yuri kami keliling Seoul dan online shop cuman buat beli tas itu. Ya ampun. Aku meraih itu, memeluknya. Man, sumpah deh.

“Pulang acara tadi eomma lihat ada pelelangan produk Michael Kors di koran. Eomma cari daftar barang yang dilelangnya, dan ternyata, tas favoritmu ini juga dilelang,” eomma mengangkat bahu. Aku menatapnya terharu, langsung berhambur dalam pelukannya.

“Eomma, saranghae,” bisikku. Aku mengangkat wajah. Sadar satu hal. “Kenapa eomma nggak ngajak aku ke sana juga? Haish, ada pelelangan Michael Kors tapi aku nggak sempet beli apa-apa. Cuman dapet Top-Zip Satchel ini dari eomma.”

Aku menatap tas itu berkaca-kaca.

“Hei, memangnya kau ingin menghabiskan seluruh uang eomma hanya untuk tasmu? Jangan sampai harta tujuh turunan ini habis untuk tas dan sepatumu itu saja, Sooyoung ah. Bisa tekor eomma dibuatmu,” gerutunya, bercanda. Aku cuman bisa meringis, tersenyum polos khas Choi Sooyoung sambil teratawa manis sekali.

“Jadi ini apa? Hadiah ulangtahun?” ulangku, beneran nggak bisa berhenti ngagumin tekstur tas yang begitu lembut dan halus dirasa.

Eomma tersenyum. “Sooyoung pikir kita ke Singapura mau ngapain? Ngerayain ulangtahunmu?”

Aku meringis, mengangkat bahu. “Mungkin? Kan ulangtahun Sooyoung, Sulli, Siwon, sama bibi Park Bom belom dirayain, eomma~”

Aku langsung kena tempeleng.

Jelas-jelas awal Maret kemarin kami sudah merayakannya. Sebenarnya ini ide bibi Park Bom. Jadi kami sekeluarga memberikan dua kotak brownies kukus untuk seluruh karyawan di kantor pusat Choihwang. Bibi Park Bom juga mengadakan makan siang bersama dengan semua pelayan di rumah. Beberapa hari setelahnya acara makan siang yang sama dilaksanakan bersama pegawai di beberapa pabrik perusahaan Choihwang terdekat, lengkap dengan seluruh keluarga mereka.

Semua itu, dalam rangka mensyukuri ulangtahun kami berempat. Begitulah. Acaranya asyik banget, soalnya makanannya enak semua, perutku jadi nggak penuh-penuh saking nikmatnya.

“Sebenernya tujuan eomma mengajakmu ke sini, untuk melakukan apa yang sebelumnya sudah dilakukan Seunghyun pada Siwon,” eomma menatapku serius. Aku langsung bergidik. Entah kenapa tas Top-Zip Satchel jadi nggak terlihat menarik lagi.

“Eomma akan memberitahumu semua tentang keluarga kita, Sooyoung ah. Jadi dengarkan dengan baik, oke?”

Aku baru saja mau ngangkat tangan, kepikiran buat minta jus jeruk sama popcorn dulu sebelum eomma mulai cerita. Tapi langsung urung begitu lihat mata eomma. Itu—mata kepedihan itu, mata yang persis sama seperti waktu appa pergi dulu.

“Semua berawal dari kakekmu, Sooyoung ah. Keluarga Hwang sejak jaman buyutmu pun sudah menjadi saingan bisnis keluarga kita. Selain karena nama grup kita, yah, Choi-‘hwang’, juga karena persaingan ketat antar kedua kubu. Ketika kekuasaan menurun pada kakekmu, mereka bahkan membawa kasus ini ke pengadilan. Membuat kakek terpaksa melakukan satu hal,” potongnya

Aku mengangkat alis penasaran. Tiba-tiba terbesit sahabatku, Tiffany, dan berandai apakah ini menyangkut dirinya juga.

“Grup besar ini sudah akan bangkrut kalau kakekmu tidak mengajukan permohonan untuk meredakan perseteruan kedua kubu dan menjadikannya satu, dengan perjodohan,” eomma menatapku sambil tersenyum kecil. Tapi di mataku itu ekspresi merana, dan aku tanpa sadar sudah mengucapkannya.

“Perjodohan… Paman Seunghyun dengan Bibi Park Bom?”

Eomma tertawa. “Tentu saja bukan. Kakekmu menjodohkan ibumu ini dengan putra tertua keluarga Hwang. Kakek bahkan sudah mempertemukan kami sejak kecil, memaksa eomma dan appa terpaksa bertemu tiap saat.”

Aku mengerutkan alis. Menggigit bibir, tidak bisa terima.

“Tapi nama appa Jung Jinwoon! Ia bukan Hwang Jinwoon!”

“Keluarga Hwang tidak punya putra, sayang. Meskipun ada pamanmu, Choi Seunghyun itu, mereka bersikeras untuk menjadi keluarga dari mempelai pria. Karenanya mereka memilih Jung Jinwoon, anak angkat keluarga Hwang, untuk disandingkan dengan eomma. Masuk akal, mengingat mereka hendak mengambil alih Choihwang dengan cara mendudukkan Jinwoon di puncak kekuasaan kedua grup.”

Aku menggeleng. Bukan, cerita ini beneran nggak ada hubungannya dengan Tiffany.

“Remaja dulu eomma jelas jatuh cinta padanya. Pemuda tampan, pintar, dan memang dilahirkan untuk menikah dengan eomma kelak. Siapa yang tidak ingin dekat dengannya coba?” eomma tersenyum kecil.

Mendengus aku, sadar hidup selama delapan belas tahun ini belum pernah sekali pun berpacaran. “Maka dimulailah kisah romantis antara Jung Jinwoon dan Choi Gina?” tawaku.

Kali ini ibuku menggeleng. “Nggak. Kami memang sering mengobrol, berdiskusi tentang banyak hal, dan karena kami dijodohkan—kami dipaksa untuk menghadiri berbagai acara resmi perusahaan bersama. Tapi ia tak pernah menyinggung soal pernikahan sama sekali.”

“Ayahmu entah kenapa memilih jalan menjadi dokter, yang anehnya juga tak ditolak oleh kedua keluarga. Eomma memasuki dunia bisnis, yang memang sedari awal jadi favorit eomma. Sampai dewasa pun, kami tetap dekat—lagi-lagi hanya karena faktor keluarga” lanjutnya. “Sampai kami akhirnya menikah, dan mendapatkanmu, Sooyoung ah.”

Wajahku pasti merah sekarang. Tapi lagi-lagi, karena aku membaca ekspresi menyakitkan eomma, aku tidak merasa tersipu. Klimaksnya bukan di sini.

“Eomma sangat bahagia kala itu, tentu saja. Bisa kau bayangkan atmosfer menyenangkannya.” Aku ikut tersenyum. “Awalnya eomma pikir ayahmu merasakan hal yang sama, dinilai dari senyum dan perhatiannya pada perkembanganmu. Tapi nyatanya tidak.”

Eomma tahu ia sudah membongkar kalimat ‘kasih sayang appa pada Sooyoung’, sebagaimana sepuluh tahun terakhir ini ia membohongiku. Aku sadar, dan diam tanpa berniat untuk merespon.

“Ayahmu tahu perjanjian antar dua keluarga itu. Pernikahan, maka peleburan kedua grup jadi satu kan terlaksana. Ia paham betul apabila hal di atas itu terjadi, maka di atas segalanya adalah Jinwoon sebagai ketua. Karenanya ia sabar menanti, sampai umurmu lima tahun—ia hanya menjadi penonton dalam proyek penggabungan kedua grup.”

“Sampai akhirnya peristiwa itu terjadi,” kata eomma lagi dan rasanya perasaanku berubah nggak enak. “Ia bermaksud mengambil alih dua perusahaan secara paksa. Caranya memang unik dan kreatif, tapi tetap saja itu tidak benar. Semua kalang-kabut dibuatnya. Kakekmu tahu rencana itu, membuat Seunghyun terpaksa ikut andil dalam penggagalan setiap rencana appamu.”

Eomma menarik napas pendek. “Ayahmu juga ternyata telah memiliki kekasih lain, jauh sebelum ia menikahi ibumu ini—dan masih berhubungan dengannya sampai sekarang. Kakekmu semakin gusar dan menumpahkan segalanya pada ayahmu, juga keluarga Hwang,” wajah eomma hampir hendak pingsan. Aku menahan napas, menutup telinga nggak percaya.

Bohong. Wanita ini pasti (untuk yang kesekian kalinya dalam hidup) membohongiku lagi. Nggak benar, nggak.

“Kau masih ingat bagaimana sedihnya ibumu ini ketika itu, kan? Bahkan hidup tak lagi terasa menyenangkan, tahu bahwa eomma sudah dibohongi olehnya setengah dari umur eomma sendiri,” ibuku menunduk, nampak menghapus air matanya. “Akhirnya kami bercerai, proyek peleburan kedua grup gagal, dan begitulah,” lanjutnya lagi, masih menahan tangis.

Hening.

Aku nggak kuat mendengar kelanjutannya lagi—apa pun yang hendak eomma ceritakan padaku selanjutnya.

“Setelah rentetan kejadian itu, ia pergi. Kakekmu tidak mau menerimanya lagi, begitu juga keluarga Hwang—yang tiba-tiba berdalih bahwa appamu tak ada hubungan darah dengan keluarga tersebut. Mengusirnya jauh, menganggapnya aib keluarga,” eomma sudah bisa mengontrol emosinya, tangisnya.

“Melihatnya menderita membuat eomma semakin sedih, tidak tahu apa yang harus dilakukan bersamamu dengan cinta eomma padanya,” ibuku menatap kedua mataku. “Tapi setelah kakek meninggal, yang paling menderita adalah pamanmu.”

Aku menggeleng, menolak. Nggak, ini semua bohong. Paman Seunghyun—tentunya ia bahagia menjadi presiden direktur setelah kepergian appa dan kematian kakek.

“Selama ini tak pernah terbesit di kepalanya untuk jadi pemimpin selain Jung Jinwoon sebagai penerus. Pamanmu bukan orang seperti itu, ia tidak tertarik akan besarnya kekuasaan, jumlah harta. Mengambil alih kursi pimpinan karena kematian ayahnya, mengusir kakaknya dari rumah, ia terpaksa melakukannhya. Dulu ia mirip Minho, bisa Sooyoung bayangkan apa yang terjadi jika Minho tiba-tiba jadi pemimpin Choihwang?”

“Kacau,” bisikku. Eomma mengangguk, mendengus lucu.

Eomma ikutan melipat bibir, matanya berkaca-kaca. “Bertahun-tahun berikutnya, ketika ayahmu datang lagi pada keluarga kita dan bertemu pamanmu, meminta untuk kembali pada keluarga kita. Kau tahu apa yang dilakukannya?” aku menggeleng kecil. “Seunghyun menganggap Jinwoon sebagai kakaknya, panutannya. Tapi ia menolak menerima appamu kembali, Sooyoung ah, justru memberikan padanya sebuah rumah sakit secara cuma-cuma, agar appa bisa meneruskan hidup dengan cara yang lebih baik.”

Aku menarik napas. Mataku terasa berat. Tidak, tidak.

“Keluarga Hwang ternyata juga datang kembali, meminta perjanjian yang sama seperti dulu. Dan seperti janji Seunghyun pada kakekmu, ia melaksanakannya,” Eomma lagi-lagi mengelap air mata. “Awalnya mereka menginginkanmu untuk dipasangkan dengan Hwang Leo.” Eomma mendengus, tertawa kecil seraya bangkit berdiri. “Tapi pamanmu menolak.”

Aku menelan ludah, menggeleng untuk yang kesekian kalinya.

Nggak, ini nggak benar. Bohong banget. Semua hal menyusahkan ini nggak ada hubungannya dengan Tiffany. Nggak ada, nggak ada sama sekali.

“Seunghyun mengajukan untuk menjodohkan Siwon saja ketimbang dirimu, juga untuk mempertemukan kedua belah pihak setelah mereka cukup dewasa, bukannya sejak kecil seperti kasus ibumu ini,” eomma tersenyum kecil. “Dan setelah bicara dengan Siwon, sepupumu itu bersedia menggantikanmu untuk dijodohkan dengan adik Hwang Leo secara sukarela.”

Tidak, tidak.

“Paman Seunghyun tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi, Sooyoung ah. Karenanya ia memilih Siwon, mempersiapkan sepupumu sebaik mungkin untuk memimpin bisnis payah ini, juga untukmu.”

Eomma memelukku sesaat. Merasakan hangat sentuhannya dengan dadaku yang sesak. Oksigen sialan. Bahkan bernapas pun susah. Memikirkannya saja membuatku pusing. Sooyoung bodoh, bodoh.

Ibuku melepas pelukannya setelah beberapa saat. Ia menatapku sambil tersenyum. “Eomma yakin kau sudah cukup dewasa untuk mendengar hal ini, sayang. Karenanya eomma menceritakan hal ini padamu, karena eomma percaya padamu.”

Setelah berbisik, “Selamat malam,” eomma pergi menutup pintu kamar.

Tiffany dan Siwon…

Yang benar saja. Jadi untuk apa selama ini aku dengan bodohnya melarang Siwon untuk mendekati Yoona? Berlagak sok melindungi Tiffany, sok dekat dengan Siwon dengan mendeklarasikan hubungan mereka pada Yoona—ah, tidak, bukan hanya Yoona, pada semua yang mengincar Siwon. Tanpa tahu semua yang telah pemuda itu lakukan untukku.

Aku meraih bantal, memeluknya erat.

Dipikir lagi selama ini akulah yang banyak menyusahkan Siwon. Meledeknya setiap hari, ikut campur hubungan asmaranya, memintanya mengantarku pergi ke sana ke mari, bahkan melarangnya berhubungan dengan Yoona… Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang sudah Siwon korbankan untukku—lagi-lagi demi aku.

Pemuda itu merelakan hidupnya sebagai pimpinan Choihwang, takdirnya, menggantikanku dalam perjodohan. Semua, semuanya.

Aku menenggelamkan wajah makin dalam di atas bantal. Basah air mataku membajiri. Paman Seunghyun yang melindungiku, Minho yang setia di samping membuatku selalu tertawa, Jinri yang tak kapok kupermainkan.

Semua sudah berkorban untukku hidup, semua

Rasanya hanya dengan mengucap rasa syukur dan terima kasih di tiap detik pun tak cukup bagiku untuk membalas mereka.

The Choi’s Little Sister

“…NI! Sooyoung eonni!”

Aku tersentak lalu seketika mengangkat wajah. Tersenyum. “Iyaaa, Sulliku sayang?” sahutku.

“’Sulliku sayang?” Sulli menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya bikin aku pingin ketawa. Persis wajah anjing Siwon di rumah, kalau lagi mau buang air besar. “Eonni kenapa, sih? Dari tadi melamun terus, udah mau nyampe, nih.”

Aku cuman bisa cengengesan kecil.

Semalam aku nggak bisa menangis dan merenungkan semua yang eomma sampaikan padaku dengan tenang. Masalahnya di suite yang kami sewa hanya ada 3 kamar (Eomma berdalih nggak sanggup menyewa suite yang 4 kamar, bohong banget), dan kami berdelapan. Keluarga Jinri ada lima, aku dan eomma, terus Seungri ahjusshi numpang liburan gratis juga ke Singapura.

Aku nggak bisa menangisi kisah keluarga kami dengan puas sementara si Minho tereak-teraeak di ruang keluarga. Belum lagi Jinri yang udah tidur ikutan kebangun, makin parah didukung suara frustasi manjanya yang biasa. Nggak tahan, akhirnya terpaksa aku ikut tawuran. Masalah selesai dengan kamar utama yang ditempati Paman Seunghyun dan bibi, kamar kedua eomma, dan kamar ketiga Seungri ahjusshi.

Ternyata di kamar ketiga ada 2 kasur, jadi kami berebut lagi. Si Siwon menang. Sebenarnya bisa saja aku tidur dengan eomma, tapi aku lagi nggak mood bicara dengannya lagi setelah cerita itu. Karena nggak bisa tidur, di ruang keluarga kami nonton sampai suntuk.

Waktu bangun aku ada di sebelah Jinri, di kamar utama. Ternyata sia-sia semalaman kami demo, akhirnya semua laki-laki juga pada tidur di ruang keluarga suite. Sekarang, selagi menunggu kereta sampai di Universal Studio, barulah aku bisa merenung dengan tenang, menangis dalam diam.

Tapi kalau kami lagi ngumpul itu memang nggak ada yang namanya nggak bisa nggak diam. Sialnya, selalu saja ada yang ngajak rusuh.

Kayak anak satu ini, yang barusan bilang, “Masih kepikiran es krim tadi, tuh.”

Sebelum naik Mass Rapid Trans ini kami beli es krim potong dulu, yang mangkal di sekitar taman nggak jauh dari stasiun MRT tadi. Dan di tengah jalan es krimku jatuh.

“Cuman es krim doang. Apalah arti sebuah es krim,” kataku bijak, membuat Minho yang nanya langsung bungkam. “Dari tadi aku bingung merhatiin itu noh, tali sepatu si Sulli lepas,” tunjukku pada Chanel Spring 2013 Collection putih, yang baru dibelinya kemarin, di kaki Sulli, ngarang alasan. Hoki banget, ternyata memang lepas talinya.

Lagi-lagi para orangtua berdalih nggak sanggup nyewa mobil, jadi kami naik kereta. Karena ini akhir pekan, cukup banyak penumpang yang naik MRT. Berderet aku, bibi Park Bom, juga eomma yang dapat kursi untuk duduk. Sisanya berdiri, termasuk Jinri yang masih asyik menikmati makanan favoritnya di seluruh angkasa (baca: es krim).

Baru saja suasana hening, ketika aku siap mendekap tas Alexander Wang
Black Washed Lambskin Marti Backpack dan mulai merenung lagi, suara mikrofon bergema mengaung dalam kereta. Paman Seunghyun dan Seungri Ahjusshi mendengarkan seksama suara dalam bahasa Inggris tersebut (yang saking cepatnya aku nggak ngerti. Hei, aku ini langganan remedial bahasa Inggris). Sebelum akhirnya paman bergumam, “Akh, itu tujuan kita.”

Eomma dan bibi bangkit berdiri. Aku sontak ngikut, takut ketinggalan dalam kereta asing dengan nilai bahasa Inggrisku yang senantiasa menunggu untuk diremedial.

Aku diam berdiri. Baru saja mau kembali memikirkan nasib menyedihkan Choihwang kami, tiba-tiba Siwon berkata, “Sooyoung,” sambil menarik kaos Alternative Apparel Super Destroyed Deep V Pocketku.

Dia menariknya! Sial nih, tangan kotor Siwon terlalu berdosa hanya sekedar untuk memegang Deepy V ku (meskipun ia sudah berkorban banyak untukku, tapi kalau soal koleksi barangku, sori ya, aku nggak mengampuni).

“Apa?” kuhempaskan tangannya dari Deepy V. Kereta ikut bergetar begitu aku menghadap Siwon dengan kacamata Classic Francis dari SUPER yang bergantung di wajahnya. Nggak ganteng banget, sumpah.

“Kamerenya boleh aku saja yang bawa, nggak? Biar aku bisa fotoin kamu di Universal Studios nanti,” katanya. Kalimat terakhirnya itu ngerayu banget, dan aku nggak bisa ngapa-ngapain selain duduk lagi di kursi dan ngeluarin kamera DSLR Nikon D90 dengan lensa yang panjang itu dari tas.

Suara dari mikrofon bergendang lagi. Kali ini aku yakin dia bilang kalau kami sudah sampai di stasiun tujuan kami, dan mempersilahkan kami untuk turun.

“Sip,” Siwon langsung mengalungkan kamera itu di lehernya. “Ayo, Sooyoung ah,” ajaknya. Aku bangkit berdiri dan mengikuti Siwon menuju pintu keluar kereta yang sudah bergeser.

Orang berbondong-bondong mau keluar, tapi nggak sampai berebutan, mereka tertib. Siwon di depanku, dan Minho menyusul di belakangku. Jinri dan eomma nampaknya sudah turun duluan, dan aku ngerasa aman di apit dua sepupu ini dalam puluhan orang yang mau keluar.

Sebentar lagi kami sampai di pintu exit. Palangnya pun sudah kelihatan.

Aku nyengir kecil, sudah bisa ngebayangin serunya seharian main di US dan foto dengan gaya apa saja yang bakalan aku upload ke instagram. Aku menarik lengan tasku, mengeratkannya—tas, tasku! Tasku mana?

Aku berhenti berjalan dan menggigit bibir panik. Tanganku meraba ke belakang, terkejut luar biasa begitu tas Lambskin Marti yang tadi dipunggungku nggak ada lagi di tempanya. Kami sudah sampai di pintu exit, tinggal menunggu giliran turun. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Siwon sudah turun.

Tapi tasku belum ketemu! Dan aku nggak bisa turun! Itu tas Martichi yang aku beli dengan antri 3 hari 2 malam di depan tokonya dua tahun silam. Nggak akan aku biarin tas itu hilang begitu saja.

Mataku melotot. Lambskin Marti kesayanganku ternyata nangkring dengan santainya di kursi kereta, tempatku duduk tadi. Sial, sial. Minho sudah di sampingku, bersiap mau turun juga.

Noona, ayo—“

“—Minho, tolong, tolong. Tasku ketinggalan. Itu di kursi, itu,” aku menarik kaos Louis Vuitton Keepall with shoulder strapnya panik. Respon Minho secepat angin. Begitu ia melirik tasku di kursi yang tadiku duduki, kakinya langsung lari dan meraih tas itu dalam hitungan detik.

Setelah itu semuanya terjadi begitu cepat.

Begitu Minho berhasil meraih tasku, pintu keretanya sudah bergeser hendak menutup lagi. Tanganku terjulur melewati pintu, memajukan sebelah kaki untuk melangkah turun sambil berteriak, “Siwon, tunggu!!”

Tinggal selangkah lagi sampai aku turun di bawah. Tapi lengan besar Minho malah mendorongku masuk lagi ke dalam kereta, membuatku terduduk dan terhempas mundur beberapa meter di lantai.

Pintu berdesing menutup dan kereta kembali berjalan. Aku menganga sampai rasanya mau nangis.

Aku kejebak dalam kereta! Di Singapura! Dengan nilai bahasa Inggrisku yang layak di remedial seribu kali! Sendirian! (Minho terlalu pintar, dia nggak ngebantu) Tanpa Siwon sang penolong! Aaakh!

Aku menarik napas. “MINHO PINTER BANGET!!” seruku frustasi. “Sekarang kita ketinggalan rombongan! Berdua saja aku yang cantik ini dengan si pintar Choi Minho, aaakh! Salah apa aku sama Martichi?! Kenapa aku ditinggal sendirian!!”

Pasti sengaja si Minho ngedorong aku masuk lagi ke dalam kereta tadi supaya dia nggak sendirian kesesat di dalam kereta. Tersesat! Sekarang kami tersesat di pedalaman Singapura! Tidak!

Minho masih menganga di depan pintu keluar kereta.

“Kalau tadi kamu nggak dorong aku ke dalam, pasti sekarang aku sudah foto-foto di depan globe besar Universal Studios! Minho ya, salahmu, nih!” kutarik-tarik lagi lengan kaosnya kesal. Kayak kesetrum, Minho lalu berbalik menatapku. Mata besarnya makin besar. “Noona… kita ketinggalan, ya?”

Choi Minho pinter banget! Sudah kubilang, saking pinternya dia kami nggak bakal keluar kereta ini hidup-hidup!

Minho menyerahkan Martichi dalam genggamannya kembali padaku. “Telpon, noona, telpon,” katanya cepat. Aku merangkul lagi tasku ke pundak, sekarang kugenggam erat-erat supaya nggak lepas lagi tasnya.

Masih berdiri berdua di depan pintu exit. Begitu mengeluarkan ponsel dari dalam tas, rasanya aku pingin nangis beneran.

“SOOYOUNG NOONA PINTER BANGET!” Minho memelototi ponselku dengan baterai nolnya, sudah seratus persen gelap layarnya. “Akh, Sekarang kita kesesat di Singapura!” pekikku ikutan histeris.

“Noona sih, pake tasnya ketinggalan segala.”

“Coba tadi kamu nggak dorong aku masuk lagi ke dalem waktu pintunya mau nutup, aaakh!”

Lima belas menit si Minho ngajak berantem. Sampai akhirnya cowok itu capek sendiri dan ngajak aku duduk di kursi dekat pintu. Begitu melewati stasiun terakhir tadi, penumpang di gerbong kami ini berkurang lebih dari tujuhpuluh lima persen. Aku sudah pingin nangis, beneran. Tapi pingin doang. Dari kemarin air mata ini nggak ada keluar barang setetes pun.

“Oh iya, aku kan juga punya ponsel, noona.”

Mendengarnya aku baru sadar betapa pintar sepupuku ini. Minho melepas headphone diddybeats by Monster dari telinganya.

Harapanku sudah melambung setinggi langit begitu Minho memanggil kontak ayahnya di ponsel. Sampai terdengar, “Maaf, pulsa dalam kartu prabayar anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Silahkan isi ulang kartu prabayar anda—“

“Payah, Minho.”

Hening.

Ini mestinya jadi saat yang paling kutunggu sedari malam kemarin. Diam dan tenang, membuatku bisa merenungkan dan menangisi hidupku sepenuhnya. Apalagi ditambah situasi kami kejebak dalam kereta ini, tambahlah hasrat ingin menagisku harusnya timbul. Tapi nggak ada. Malahan kepikiran hal ini konyol banget.

Begitu hening, baru sadar aku kami paniknya lebay banget. Kalau diem dan dipikirkan baik-baik masalah ini, pasti solusi itu datang.

“Ayo kita tanya. Kita harus pulang,” putusku akhirnya. Minho berdiri dan cengiran kudanya beserta kalimat, “Nah, ini baru sikap yang sesuai dengan umurmu, noona,” bikin aku kesel makin menjadi-jadi.

Minho menghampiri salah seorang ahjumma dengan anak kecil di sebelah kirinya, aku ngikut di belakang. Pemuda itu memperkenalkan diri dulu sebelum bertanya bagaimana cara kembali ke Universal Studio dalam bahasa Inggris.

“Huánqiú yǐng chéng (Universal Studios) yǐjīng guòqùle. Rúguǒ nǐ yào dào nàlǐ, zàixià yí zhàn xià chē, huàn lìng yīliè huǒchē (Universal Studios sudah lewat. Kalau mau ke sana, turun di stasiun depan dan ganti kereta yang lain.).”

Aku dan Minho menganga sampai rasanya mau pingsan.

“Bahasa apaan? Mandarin?” bisikku.

“Yīngjùn de niánqīng nánzǐ cóng hé ér lái? Yào xiǎoxīn, zài xīnjiāpō, shì (pemuda tampan berasal dari mana? Hati-hati di singapura, ya),” ahjumma itu lalu menepuk lengan Minho senang. Meskipun beda bahasa, sekali lihat saja aku paham ahjumma itu suka sama Minho karena dia ganteng.

“Tanya orang lain aja, yuk,” bisikku lagi. Minho mengangguk padaku, cengengesan sedikit menanggapi ahjumma itu dan mengucap terima kasih, lalu pergi. Masih sempat-sempatnya juga sang ahjumma mata sipit tersenyum manis, melambai pada Minho dengan anaknya.

“Kamu ngerti nggak apa yang dibilangnya tadi?” kataku begitu jauh. Minho, yang lebih tinggi beberapa senti dariku, menggeleng. “Katanya dia suka aku, aku ganteng, sih,” jawabnya, membuatku tak elak menertawainya habis-habisan.

“Tanya bapak itu aja, kayaknya dia ngerti bahasa Inggris,” tunjukku pada seorang ahjusshi dengan kemeja biru muda bergaris. Ia membawa tas, nampaknya seorang karyawan. Pasti bisa kami tanyain.

Lagi-lagi Minho mewakiliku bertanya arah.

“Universal Studios?” tanya sang ahjusshi. “Eeh, you don’t know where is Universal Studios anot?”

Minho mengangguk dan bilang kalau kami turis, dan kami bingung mau turun di mana. Ahjusshi itu nampaknya paham. Hmn, pinter ngomong juga Choi Minho ini.

Ahjusshi itu lalu bicara, dan lagi-lagi aku terpana dibuatnya.

Gini-gini aku yang langganan remedial bahasa Inggris, masih bisa ngomong meskipun sedikit. Tapi yang tadi itu jelas bukan bahasa Inggris! Bahasa alien!

Aku melirik Minho. Pemuda itu juga sama terpananya denganku. “Pardon?” ulang Minho.

Wah seh, you won’t understand I say try-try so many. You just change MRT to Universal Studio dat one!”

Aku membeku. Bahasa alien, bahasa alien.

Ca-can’t you just speak normal English?” kata Minho lagi. “What? Dun you understand? Just change! Change! Aah, dun know lah. Just go lah!

Ahjusshi menggerakan telapan tangannya, mengusir kami pergi. Aku mundur selangkah, baru mau mundur lagi sampai rasanya menumbur sesuatu. Aku membalikkan badan, ternyata aku menabrak orang! Ya, ampun.

“Ah, maaf,” bisikku, langsung membungkuk. Sadar baru saja bicara dengan bahasa Korea, aku mengulang. “I’m sorry, sir,” kataku lagi.

“Nggak apa-apa,” sahutnya, dalam bahasa Korea. Waktu mengangkat wajah, aku terkejut.

Di kepalanya, itu di kepalanya. Cowok dengan Giorgio Brato Jacket dan sepatu Converse CT Classic Boot Hi Nubuck Sneakers in Athletic Navy itu nggak ada apa-apa dibanding topi abu-abu wol dengan tulisan ‘New York’ di depannya, dari Marc Jacobs X New Era, koleksi colaborasi tahun 2011 kemarin! Bahkan di toko Marc Jabos kemarin topi itu udah sold out!

Minho ikut membalikkan badan, tekejut mendengar ada yang berbahasa Korea.

“Ah, anda orang Korea?” tanya Minho sopan. Pemuda itu menggeleng pelan, menjawab dalam bahasa Inggris kalau dia kebangsaan China, tapi bisa sedikit bahasa Korea. Selanjutnya aku nggak paham apa yang mereka bicarain, dalam bahasa Inggris sih. Tapi yang jelas karena bantuan cowok itu lah, kami bisa balik lagi ke Universal Studio setelah ganti kereta.

Selama perjalanan, nggak bisa satu detik pun aku berpaling menatap topinya. Aku mau topi itu. Dalam telinga ini bahkan sudah bergema topi itu memanggil-manggil untuk kubawa pulang. Aku menggenggam lengan tasku kuat-kuat, nggak mau kelihatan nggak sopan dengan tiba-tiba meraih topi itu dari kepalanya dan membawanya pulang.

Begitu kami sampai di depan globe besar Universal Studio, pemuda itu pamit pergi. Ia tersenyum padaku, dan rasanya aku nggak mau melambai untuk membiarkannya pergi.

“Cie, noona, naksir ya sama dia? Orang Kanada tuh, katanya,” bisik Minho, dari ekor mataku eomma dan bibir Park Bom sudah lari mendekat, juga dengan anggota keluarga lain.

Aku menarik napas pendek. “Orang Kanada? Bukannya China?” Minho mengangkat bahu. “Nggak tahu juga, pokoknya dia pernah tinggal di Kanada, semacam itulah.”

“Siapa namanya?”

“Wu Yi Fan? Atau Wu Fan? Gitu deh, lupa aku.”

Waktu eomma memanggilku panik, suaranya nggak terdengar di telingaku. Rasa syukurku setelah kami keluar dari kereta dan terselamatkan pun jadi nggak berarti lagi. Pikiranku penuh dengan topi itu. Topi.

Tekadku bulat. Pokoknya aku harus ketemu pemuda itu sekali lagi, dan membeli topi Marc Jacobs X New Era itu darinya, apa pun yang terjadi.

Harus!

The Choi’s Little Sister

“Hari ini presdir Jung sedang keluar. Ia mungkin akan kembali sekitar jam—ah, itu dia. Yang mengenakan kemeja putih dengan jas itu,” aku menyipitkan mata mengikuti arah tunjuk suster di resepsionis.

Seorang ahjusshi melangkah keluar dari lift, berjalan dengan papan jalan di tangan melewati bangku tunggu yang berderet. “Itu?” tunjukku. Suster tersebut mengangguk. Aku mengucap terima kasih sambil kembali ke depan Yoona, tak melepaskan pandanganku pada pria itu.

“Sooyoung ah, beneran, nih?” Aku berbalik menghadap Yoona. Gadis dengan TANKUS Peach Jacket with Inner Polka Dot Sleeves warna cream ini entah kenapa baik banget denganku, semenjak insiden Rumah Hantu itu terutama. Ia bahkan degan sukarela mau menemaniku ke sini, ke Rumah Sakit ini.

Aku mengangguk. Kuyakinkan diriku dengan menarik tas Coach Legacy Perforated Leather Romy Top Handle tahun 2010 ku di pundak. “Aku harus ketemu dengannya. Tunggu di sini, oke?”

Yoona baru hendak bicara lagi, tapi aku keburu pergi. Jantungku berpacu seiring langkah yang aku ayun mendekati ahjusshi itu. Berulang kali kuulang dalam hati bahwa yang kulakukan ini adalah benar. Bicara dengan Gikwang ahjusshi dan Hara ahjumma beberapa kali di rumah pun, bisa kudapat informasi mengenai nama rumah sakit ini dengan cepat.

Aku harus bertemu dengannya, ayahku itu.

“Uhmn, permisi, Presdir Jung,” panggilku. Aku menelan ludah begitu ahjusshi ini menatapku. Wajahnya. Melihat wajah itu yang keherenan menatapku—tanpa sadar sama sekali bahwa aku ini Choi Sooyoung—membuatku makin yakin bahwa aku sudah melakukan hal yang benar.

“Halo, apa kabar?” aku membungkuk di depannya, menahan hati. “Namaku Choi Sooyoung, putri Choi Gina. Selama sepuluh tahun terakhir sejakmu pergi kami hidup dengan baik dan bahagia. Semoga… semoga….”

Aku melen ludah.

“Semoga appa juga hidup dengan baik dan bahagia. Aku… permisi dulu.”

Berikutnya aku bisa mendengar appa berteriak dan memanggil namaku. Yoona yang sedari tadi memperhatikan kami juga menyambutku begitu aku menghampirinya. Ekspresinya tak terbaca. “Ayo, pulang,” ajaknya. Aku mengangguk dan berlari menuju lift.

Setidaknya aku sudah bertemu dengannya. Bagaimana pun ia masih ayahku, seburuk apa pun hal yang sudah ia lakukan pada keluarga kami di masa lalu.

Semoga setelah ini keluarga kami bisa… hidup dengan baik dan bahagia. Iya, betul.

End. :)

Halo~

sebenarnya part Sooyoung ini sudah lama kupublish di blog pribadiku hehe. maaf baru bisa post di sini sekarang ya (:

anyway cerita ini belum berakhir kok. masih bersambung seratus persen! jadi mohon ditunggu aja ya kelanjutannya. thank you!

*btw yang kalimat bahasa mandarin dan singlish (Singapura-English) itu aku cari pake google translet jadi tenang aja oke. haha :p

4 thoughts on “The Choi’s Little Sister [Sooyoung]

  1. Ohhhh gitu toh cerita keluarga choi , tapi kasian juga yaaa sama siwon , dia rela dijodhin sama tiffany karna amanat dr ayahnya , brarti sbenernya siwon gaa suka sama tiffany dong mlainkan sama yoona ,🙂 wahhh dtunggu lanjutan critanya ? thor gmna klanjutan hub yoona sama siwon , apa siwon bkal tetep nikah sama fany atauuuu ????

  2. Good…,tpi jngn trlalu sering ngenalin brand brandnya…
    Itu malah yng agak ngeganggu…
    Maaf tpi itu pndpat q aja ….:)
    Gomawo…

  3. Wak q new reader nh.salam kenal…
    Hah jdi slama ini soo slh sangka tuh sma paman dan kakeknya tuh.
    Hmm kasian juga sh eomma soo. Trnyata suaminya sndiri mlh nipu..ukh
    ‎​:)ђέ‎​ђέ:)«{^⌣^}»‎​:)ђέђέ:) ada kris nh btw sookris bisa ketemuan lagi gak yah ?
    Smoga aja bsa

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s