My Fiancé is my bodyguard – Part 2


 

Author : @lestrina

Main Cast : Park Jiyeon “T-ara”, Lee Jonghyun “CNBLUE”

Additional Cast: Park Jin Young “JYP”, Han Seungyeon “Kara”, Kim Junsu “2PM” as Junsu / Jun-K, Choi Minho “Shinee”

Length: Chapter

Genre : Action, Romance

Rating : PG – 15

Disclaimer : This story is mine. Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.

PS: I apologize for typo. Please feel free to correct me

My Fiance is my bodyguard - Cover FF

PrologPart 1

Part 2

Sejak perasaan itu muncul tiba-tiba, Jiyeon memilih diam untuk menenangkan diri agar dapat melupakannya. Jiyeon tidak ingin teman-temannya dan sahabatnya mengetahui masalah yang dihadapinya dan pada akhirnya mengkhawatirkan keadaan dirinya. Hal itu yang membuat Jiyeon tidak menyukai sikap-sikap mereka yang terlalu protektif terhadap dirinya.

Seungyeon selaku sahabatnya sangat mengkhawatirkan keadaannya, ingin sekali bertanya, apa yang telah terjadi. “Aku akan bertanya setelah Jiyeon membaik tapi apakah dia mau mengatakannya” bathin Seungyeon.

eotteokhae…eotteokhae, aish kenapa begitu memusingkan!! apakah aku harus bertanya sekarang”, gumam Seungyeon dengan mengacak rambutnya hingga berantakan kemudian melirik ke arah Jiyeon yang sedang melihat ke arah depan kelas dengan pandangan yang kosong. Tanpa disadarin gumamannya didengar Jiyeon.

“aku baik-baik saja Seungie” sahut Jiyeon dengan sikap yang tenang.

—***—-

#Another Place

“Kita harus berjaga-jaga di lokasi, jangan sampai mereka mengetahui gerak-gerik kita. Ingat kita membutuhkan mereka hidup-hidup dan Tuan tidak suka kalau pekerjaan kita gagal. Arra!” perintah salah satu dari orang-orang tersebut.

Setelah melihat semua anak buah nya telah siap untuk melaksanakan pekerjaannya. Tuan itu berharap rencananya berhasil. Setelah puas melihat kesiapan anak buahnya, segera meninggalkan mereka dan kembali ke ruangannya.

“Apakah yang lain itu sudah bersiap-siap di lokasi?”tanya Tuan itu kepada pengawal pribadinya

“Mereka sudah bersiap-siap Tuan dan akan beraksi setelah anak-anak itu keluar dari tempat lokasi” jawab pengawal tersebut.

Tok…tok…tok

Suara bunyi ketukan pintu memotong pembicaraan mereka berdua. Tuan itu melirik ke arah pintu, siapa yang telah berani mengusik percakapan dirinya dengan anak buahnya. Ada satu orang lagi selain pengawal pribadinya yang berani menganggu dirinya, orang itu Tuan Kim yang merupakan sekretarisnya yang sudah menemaninya selama beberapa tahun.

“Tuan…. orang itu sedang dalam perjalanan menuju kesini” ujar Tuan Kim.

“Apabila dia sudah tiba disini, langsung bawa dia menghadapku. Aku ingin berbicara dengannya dan jangan ada yang mengusik pertemuanku dengannya dan segera cancel semua pertemuanku hari ini dengan orang-orang tersebut, Arra!”, perintah Tuan itu kepada Tuan Kim.

“Baiklah Tuan”, balas Tuan Kim dan segera meninggalkan ruangan Tuannya.

“Tuan, saya harus kembali ke markas untuk bersiap-siap” ijin pengawal tersebut. Tuan itu mengangguk dan menggerakkan tangannya untuk segera meninggalkan ruangannya tersebut. Pengawal segera meninggalkan ruangan setelah mendapat persetujuan dari Bosnya.

“Akhirnya dia datang juga, Aku harus membuatnya ikut ke dalam rencanaku. Rencanaku harus berhasil dan tidak boleh ada yang mengagalkannya, aku akan membunuh siapapun yang ingin mengagalkan rencanaku. Aku sudah merancang semuanya dengan sempurna dan usaha ini kubangun dari nol hingga sekarang ini, langkah menuju kesuksesan sudah berada ditanganku. Korea…korea, kehancuranmu telah tiba….” gumam Tuan itu sambil mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah.

Kebencian yang dimiliki oleh Tuan itu terhadap negara Korea Selatan sangat mendalam, tidak ada kata memaafkan untuk mereka. Dia berencana membuat korea selatan hancur dengan cara merusak sistem pemerintahan Korea Selatan. Hal yang pertama dia lakukan adalah menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap pemimpin negara mereka.

Rasa sakit yang dimilikinya sangat besar sudah menciptakan api kemarahan dan kebencian yang mendalam, hal itu mengingatkan kejadian yang terjadi di beberapa tahun yang lalu.

15 tahun yang lalu

#Seoul, Korea Selatan

Seorang namja muda belia yang tampan dan yang sedang beranjak dewasa. Dia dibesarkan dengan sistem kemiliteran, meskipun masih belia pemuda itu sangat menikmati kehidupan tersebut tanpa ada rasa mengeluh dalam dirinya.

Di usia yang sangat muda, pemuda itu memiliki kepintaran yang sangat luar biasa sehingga dapat meraih posisi kemiliteran yang tinggi. Pemuda itu sangat dihormati bukan karena kepintarannya saja tetapi karena kebaikan yang dimilikinya dan sifat ramahnya terhadap semua orang.

Orangtuanya sangat menyayangi pemuda tersebut, Appanya seorang Menteri Ekonomi dan Eommanya seorang Dokter, yang mana kedua orang tersebut telah mengabadikan dirinya kepada negaranya melalui pekerjaannya. Mereka adalah Tuan dan Nyonya Jung. Pemuda itu merupakan putra tunggal dari Tuan dan Nyonya Jung.

Pemuda itu dikenal dengan Jung Junior, sifatnya dan wajahnya memiliki kemiripan dengan Appanya.
Pemuda itu sangat menyukai dunia kemiliteran sehingga memutuskan untuk mengikuti pelatihan menjadi agen khusus pemerintah.

Tuan Jung mengajak putranya dalam acara malam natal keluarga besar pemerintahan. Disana awal pertemuan secara langsung antara putra Tuan Jung dengan Tuan Park. Pemuda itu sangat menikmati acara pesta yang dihadiri oleh orang-orang penting dalam pemerintah, dia melihat sekeliling ruangan yang telah didekorasi dengan suasana malam natal yang indah. Tanpa di dikompromi kedua matanya memandang sosok yang dikaguminya, orang itu merupakan namja paruh baya yang sedang berbicara dengan beberapa orang lainnya yang ikut hadir dalam acara tersebut. Sosok tersebut telah menjadi panutan bagi dirinya dan telah membuat dirinya menyukai dunia kemiliteran hingga memutuskan bergabung dalam kemiliteran.

Pemuda itu memperhatikan setiap gerak-gerik namja paruh baya tersebut. Tuan Jung melihat putranya yang begitu tertarik memperhatikan seorang namja paruh baya yang tak lainnya rekan kerjanya yaitu Tuan Park. Hubungan pertemanan mereka baru terjalin sejak Tuan Park ditugaskan ke Seoul.

“Apa kau begitu mengagumi sosok namja tersebut nak” kata Tuan Jung

Pemuda itu mengangguk.

“Kau boleh memanggilnya Tuan Park atau Ahjussi, dia rekan kerja appa dikantor. Semua orang sangat mengaguminya karena kepribadian yang sangat baik. Kajja, appa akan mengenalkanmu pada Tuan Park dan keluarganya” jelas Tuan Jung kepada putranya. Pemuda itu mengangguk dan mengikuti appanya ketempat yang dimaksud.

“Hi Tuan Park” sapa Tuan Jung
“Tuan Jung, Merry Christmas“, sapa Tuan Park dan kemudian memeluk Tuan Jung. Mereka berbincang-bincang dengan memamerkan senyum dan tawa mereka hingga melupakan sosok pemuda yang hanya diam dan tersenyum. Pemuda itu tidak mengetahui apa yang dibicarakan mereka berdua, dia berpikir itu pembicaraan khusus orang dewasa.

Tuan Park menyadari bahwa ada seorang pemuda yang memperhatikan gerak-geriknya dan malu-malu seperti namja yang sedang mencuri-curi pandang calon kekasihnya. Tuan Park tersenyum dengan gelinya melihat sikap pemuda itu yang ketahuan karena tindakannya. Pemuda itu merupakan putra temannya yaitu Tuan Jung.

“Hi…. Son” sapa Tuan Park.

Nde… ” jawab pemuda itu karena shock ditegur oleh Pujaannya.

“Tuan Jung, putramu sangat tampan sekali. Beruntung sekali memiliki putra tampan seperti dirinya” ungkap Tuan Park sambil melirik pemuda tersebut yang shock dan tersipu malu karena dipuji.
Tuan Jung hanya tersenyum melihat wajah putranya yang malu karena dipuji oleh pujaannya.

“Yunno..kau tidak membalas sapaan pujaanmu. Bukannya kau ingin mengenalnya lebih dekat dan ingin menjadi putra kesayangannya atau calon menantunya” ujar Tuan Jung yang sedang mencoba mengoda putranya.

Pemuda itu semakin shock mendengar kalimat perkataan terakhir appanya, hingga kata-kata yang keluar dari mulutnya itu “MWO” jawab pemuda tersebut.

Tuan Jung dan Tuan Park tertawa melihat ekspresi pemuda itu. Pemuda tidak berpisah berkata-kata karena malu, dia hanya menunduk karena tidak berani memandang appanya dan Tuan Park.

Sejak acara malam natal tersebut hubungan Tuan Park dengan putra Tuan Jung semakin dekat dan akrab. Tuan Park menganggap putra Tuan Jung seperti putranya. Pemuda itu juga sangat mengenal baik Nyonya Park dan putrinya Jiyeon. Hari demi hari keakrabannya semakin panjang sebelum kejadian yang menimpa keluarga Jung.

Beberapa bulan kemudian

Malam hari

Kebersamaan keluarga Jung yang sangat indah ditemani oleh canda tawa, tanpa mereka sadari bahwa malam ini adalah malam terakhir mereka berkumpul bersama. Hingga akhirnya kebersamaan mereka terganggu karena suara ketukan pintu yang berbunyi.

Tok tok tok

“Siapa yang ingin bertamu di jam malam ini” tanya nyonya Jung kepada suami dan putranya. Yang ditanya pun hanya menggelengkan kepalanya menandakan mereka tidak mengetahui juga. Sewaktu nyonya jung ingin berdiri dari duduknya, langkahnya terhenti karena salah satu pelayannya berkata “nyonya jung teruskan makan anda, biar saya saja membuka pintu”

“Baiklah” sahut Nyonya Jung.

“Selamat malam, apakah Tuan dan Nyonya Jung ada di rumah” tanya salah satu orang berpakaian hitam dengan senyum ramahnya.

“Iya, selamat malam. Ada keperluan apa tuan-tuan bertemu dengan Tuan Jung dan bisa dijelaskan siapa kalian semua?” tanya Pelayan tersebut kepada orang-orang berpakaian hitam.

“Katakan kepada Tuan Jung, kami membawa pesan penting dari Presiden” jawab salah satu dari mereka.

“Baik, saya akan sampaikan kepada Tuan Jung. Tunggu disini tuan-tuan” kata pelayan Tuan Park. Sebelum pelayan tersebut masuk ke dalam ruangan, salah satu dari mereka segera menumbangkan ahjumma tersebut dengan satu kali tembakan dari senjata kendap suara.

“Apa yang kau lakukan BODOH” hardik salah satu dari mereka.

“Segera bereskan yeoja itu dan berjaga-jagalah diluar jangan sampai ada orang yang mencurigai kita” perintah salah satu dari mereka yang merupakan pimpinan mereka.

Appa… Ahjumma lama sekali membuka pintu” tanya putra Tuan Jung.

Appa cek dulu ke depan, apa yang sedang terjadi disana” ujar Tuan Jung. Sebelum Tuan Jung berdiri, beberapa orang berpakaian hitam sudah berada di hadapan mereka. Tuan Jung beserta istri dan putranya kaget melihat mereka yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah mereka dengan membawa senjata untuk bersiap membunuh mereka.

“Tuan-tuan ini siapa dan apa tujuan kalian berada di rumahku” tanya Tuan Jung dengan raut wajah yang waspada dan ketakutan melihat senjata di tangan orang-orang berpakaian hitam.

“Kami akan jawab pertanyaan anda, Tuan Jung. Kami diperintahkan oleh Presiden untuk melenyapkan kalian. Kalian adalah pengkhianat negara yang menjual data rahasia negara kepada teroris. Jadi bersiaplah kalian untuk menerima hukuman” setelah menjelaskan, pemimpin tersebut memberikan tanda untuk segera membereskan Tuan Jung sekeluarga.

“Tunggu…jelaskan maksud kalian, kami berhak memberikan pembelaan dan bukan dengan jalan ini kalian harus menghukum kami. Kami tidak pernah melakukan hal sekeji itu dan mengapa Pak Presiden tidak langsung berbicara kepada saya, bukan seperti ini tindakan kalian kepada kami. Apa motif kalian kepada kami?? tanya Tuan Jung dengan penuh emosi dan murka.

“Banyak bicara kau, kita habisin sekarang mereka Bos” sahut salah satu dari mereka dan bersiap-siap melepaskan peluru dari senjata yang berada di tangannya.

“Tunggu!” teriak pemimpin mereka tapi terlambat peluru sudah bersarang di jantung Tuan Jung.

Appa… yeobo” teriak Nyonya Jung dan putranya bersamaan melihat Tuan Jung langsung roboh seketika, mereka langsung menjerit dengan kencang.

“Kalian berengsek, apa salah kami. Kami tidak melakukan hal itu” teriak Nyonya Jung dengan murka dan menatap mereka dengan tajam.

“Menyusahkan saja, sekarang giliranmu Nyonya” sahut salah satu orang tersebut yang telah menembak Tuan Jung dan langsung melepaskan pelurunya tetapi tembakannya melesat dan mengenai pada salah satu dada Nyonya Jung.

“Kau..” teriak Nyonya Jung sambil mengarahkan telunjuknya kepada orang-orang berpakaian hitam. Nyonya Jung menahan rasa sakit yang dideritanya karena peluru telah bersarang di tubuhnya. Tubuhnya tidak kuat untuk berdiri hingga akhirnya roboh dan putranya berhasil menopangnya dengan tangannya.
Eomma… Eomma! Bertahanlah! Jangan tinggalkan aku” pemuda itu menangis dan menguncang-guncang tubuhnya Eommanya.

Nyonya Jung memulai membuka perlahan-lahan kedua matanya dan melihat putranya berada di hadapannya yang sedang menangis.
“Yunno, kau harus hidup dan balaskan dendam kepada orang-orang yang telah memfitnah keluarga kita dan melakukan hal ini kepada kita. Ingat itu, yunno!” ujar Nyonya Jung sambil melirik orang-orang berpakaian hitam.

“Kami tunggu itu nak” sahut pemimpin mereka dengan tiba-tiba.

“Kajja, kita tinggalkan mereka” kata pemimpin itu sambil berjalan dahulu untuk meninggalkan kediaman Tuan Jung.

“Tapi bos, kenapa kita tidak menghabisi putranya sekalian” tanya salah satu dari orang-orang berpakaian hitam dengan menunjuk ke arah putra Tuan Jung

“Tidak perlu dan biarkan dia hidup. Aku menunggunya untuk membalaskan dendamnya pada kita dan pemimpin kita” jawab pemimpin itu dengan tersenyum licik sambil melirik ke arah putra Tuan Jung yang sedang menangis.

Pemuda menangis meraung-raung melihat orangtua meninggal karena terbunuh dan tidak bisa berbuat apapun untuk menolong orangtuanya. Beberapa jam kemudian datanglah beberapa polisi untuk menangani kejadian tersebut.

Kebencian yang tidak diundang kedatangannya telah muncul dan tumbuh di dalam hati pemuda tersebut, kebencian yang baru lahir akan tumbuh berkembang pesat dan meledak di saat pemiliknya menginginkannya. Hanya waktu yang dapat menjawabnya dan yang menentukan siapa saja yang akan menjadi korban dari kebencian yang dimiliki oleh pemuda itu.

Kejadian yang menimpa keluarga Jung telah membuat jiwa pemuda tersebut tergoncang. Orangtuanya dibunuh tepat dihadapannya oleh orang-orang misterius karena kesalahnya yang tidak mereka lakukan. Tuan Park tidak tega melihat putra temannya terus menerus sedih atas kejadian tersebut. Dia berencana untuk menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya tanpa sepengetahuan siapapun.

Tuan Jung dikenal dengan kejujurannya dan setiap pekerjaannya selalu bersih, tidak ada campur tangan orang jahat. Tetapi dibalik kejujuran yang dimilikinya membuat beberapa orang membencinya hingga ingin melenyapkan hidupnya.

Sebagai rekan kerja dan sahabatnya, Tuan Park berjanji akan mencari tahu siapa pelaku yang sebenarnya dan akan menghukum pelaku tersebut dengan hukuman mati. Peristiwa ini membuat Tuan Park harus memikirkan rencana yang harus dijalankan untuk penyelidikan nanti, karena terlalu serius berpikir, Tuan Park tidak menyadari bahwa putrinya memanggilnya beberapa kali hingga akhirnya putrinya memutuskan memanggil appanya dengan menarik ujung pakaiannya yang terletak pada jas kerjanya. Karena tindakan putrinya yang sedikit menganggu bagi dirinya yang sedang berpikir, Tuan Park segera mengalihkan pandangan ke arah putrinya.

Appa… Oppa terus menangis tiada henti-hentinya, Jiyeon mau menghibur oppa” ujar yeoja kecil kepada Tuan Park untuk menanti persetujuannya. Tuan park tersenyum melihat keinginan putri kecilnya dan menganggukkan kepalanya.

“Hiburlah oppamu…pergilah Jiyeon~ah” jawab Tuan Park kepada putri kecilnya.

Oppa… jangan menangis terus ya, Jiyeon akan selalu ada buat oppa” hibur yeoja kecil dan memberikan kehangatan dengan tersenyum dan mengelus pundak pemuda tersebut. Pemuda tersebut tersenyum karena yeoja kecil yang dikenalnya mencoba menghiburnya, yeoja kecil itu Park Jiyeon yang merupakan putri dari Tuan Park. Pemuda itu merasa nyaman karena tindakan yang dilakukan putri Tuan Park.

“Jiyeon~ah gumawo… Oppa baik-baik saja” jawab pemuda dengan tersenyum.

2 tahun kemudian

Sudah 2 tahun berjalan sejak peristiwa pembunuhan Tuan Jung dan istrinya. Tuan Park belum menemukan siapa pelaku sebenarnya dan mereka sangat ahli dalam menyembunyikan kebenarannya.

Pemerintah telah menetapkan bahwa Keluarga Jung bersalah karena telah mengkhianati negara, semua bukti mengarah kepadanya. Dan pemuda itu di keluarkan secara tidak hormat karena dirinya dianggap putra pengkhianat. Pemuda itu tidak terima orangtuanya dianggap pengkhianat dan dicemooh oleh banyak orang, hingga akhirnya kebencian yang tidak pernah ada dalam diri pemuda tersebut muncul seketika karena kekecewaan yang dialaminya. Pemuda tersebut berjanji akan menghancurkan setiap orang yang telah menghina orangtuanya dan menganggap mereka sebagai pengkhianat negara.

Tetapi sebelum rencana itu berjalan, orang-orang misterius kembali berencana melenyapkan pemuda tersebut. Kejadian itu terjadi saat pemuda tersebut kembali dari base camp kemiliteran, mereka menculik pemuda tersebut dan kemudian menyekapnya. Mereka melakukan penyiksaan agar pemuda itu menderita secara perlahan-lahan sampai kematian menjemputnya.

Karena penyiksaan yang mereka lakukan terhadap dirinya telah membuatnya pasrah terhadap penderitaannya. Tidak ada yang dapat membantunya bahkan mengkhawatirkan dirinya. Saat memejamkan kedua matanya untuk mengurangi kelelahan pada tubuhnya, sosok yeoja kecil hadir dalam mimpinya sedang memberikan senyuman dan pelukan hangat pada dirinya. Dia sangat merindukan sosok tersebut, tanpa disadarinya di matanya mengeluarkan tetes demi tetes air yang terus mengalir tiada hentinya. Dia menangis tanpa bersuara, kerinduan terhadap orangtuanya dan sosok yeoja yang ada di dalam mimpinya.

Appa…Eomma….Ahjussi…Jiyeon~ah, apakah kalian merindukanku??” Jerit pemuda itu dalam hatinya.

1 tahun kemudian

Sudah 1 tahun, pemuda tersebut disekap dan disiksa, hal tersebut membuat hatinya berubah menjadi sedingin es dan tebalnya seperti baja yang tidak bisa ditebus apa pun. Selama di sekap, dia membuat rencana untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah membuat dirinya menderita. Agar rencananya berhasil, dia harus bisa bebas dari siksaan ini. Melarikan diri adalah cara yang harus ditempuh. Pemuda terus berpikir bagaimana cara melarikan diri dan tidak tertangkap, dia harus melewati beberapa penjaga yang selalu siaga menjaganya di luar ruangan.

Rencana melarikan sudah ditangan tinggal menunggu waktu melaksanakannya, waktu yang ditunggu akhirnya tiba.
Hey…boy” panggil salah satu pengawal yang membawa makanan untuk disantap pemuda itu.
Pengawal menyodorkan makanan yang dibawanya ke atas meja dan meninggalkan makanan tersebut. Pengawal tersebut tidak peduli apakah pemuda itu makan atau tidak.

“Inilah waktunya, gumam pemuda itu.
“Arrrghhh dadaku… Penjaga..! penjaga!! Da…da…dadaku sakit sekali, aku tidak kuat bernafas. Ohhss…huffffttt…pengawal…pengawal”pemuda itu berteriak sambil memukul dadanya dengan pelan seolah-olah itu semua benar terjadi.

Penjaga-penjaga yang sedang berjaga didepan ruangan kaget karena mendengar suara teriak pemuda yang mereka sekap, mereka terkejut melihat keadaan pemuda itu dan segera membawanya ke tempat aman untuk diobatin tetapi sebelum mereka membawanya, salah satu dari mereka memberitahukan kepada pemimpin atas keadaan pemuda itu.

“Bawa pemuda itu ke rumah sakit segera” perintah pemimpin mereka
Setelah mendapat instruksi dari pemimpinnya, penjaga tersebut membawa pemuda ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa.

“Langkah pertama berhasil, langkah ke dua harus ku jalani sekarang” kata pemuda itu dalam hati. Mereka dengan tergesa-gesa membawa pemuda ke dalam mobil, saat pemuda berada di pintu mobil, dia menyandarkan dirinya dekat dengan ban mobil, tanpa mereka sadari pemuda tersebut melakukan aksinya dengan menusuk ban sebelah kiri dengan garpu yang ada di tangannya. Garpu yang digunakan diambil dari piring penjaga sewaktu mereka membawa dirinya keluar dari ruangan.

Dia sudah memperkirakan bannya yang hancur beberapa kilometer setelah keluar dari tempat persembunyian mereka, di saat lengah barulah pemuda kabur melarikan diri. Dia sudah mempersiapkan dirinya untuk berkelahi melawan 4 orang penjaga yang terdiri dari 2 orang yang bersamanya dan 2 orang yang berada di kursi pengemudi dan disebelah pengemudi.

Pemuda itu mulai menghitung waktu, tinggal sedikit lagi untuk mempersiapkan langkah berikut. Sepanjang jalan yang sudah dilewati, tanpa disadari oleh pengemudi kondisi ban sebelah kiri mulai mengkikis hingga persediaan angin dalam ban mulai habis perlahan-lahan.

Pemuda itu memulai menghitung “Han… Dul… Set… Gottcha” sesuai dengan perhitungannya terdengar suara ban pecah dan membuat posisi kendaraan berat sebelah. Penjaga yang merangkap sebagai pengemudi segera turun dari mobil untuk memeriksa berapa besar kerusakan yang terjadi.

“Apa yang terjadi” tanya salah satu penjaga yang menjaga pemuda itu dan segera keluar dari mobil untuk ikut memeriksa keadaannya.
“Kerusakannya parah juga, ban pecah dan sepertinya besi yang dibawah juga patah. Apakah tadi kita menabrak sesuatu hingga parah kerusakannya??? Awasilah pemuda itu jangan sampai dia melarikan diri dan aku membutuhkan satu orang untuk membantuku” ucap penjaga tersebut.

Penjaga yang ditanyakan oleh salah satu temannya hanya mengangguk dan segera memberitahukan 2 orang temannya. Tanpa mereka sadari, pemuda itu sudah siap melakukan rencananya untuk melarikan dirinya. Dia melihat ke sekeliling sekitarnya untuk mencari alat untuk digunakan sebagai senjata pertahanan.

I get it” Dia melirik ke arah benda yang ditemukan yang berada di atas kursi, dimana benda tersebut berada di dalam pakaian jas salah satu penjaga.

“Dasar bodoh! mereka meletakkan senjata di tempat yang dapat ku jangkau” gumam pemuda itu. Dengan cepat pemuda itu mengambil senjata itu dan menyembunyikan di balik pakaiannya.

Hi Boy ikut kami keluar, kita tunggu di luar saja. Mobil ini harus diperbaiki agar kita bisa mengantarkanmu ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan dirimu” ucap penjaga itu dan mendorong tubuh pemuda itu keluar dari dalam mobil.

Pemuda itu hanya menuruti apa yang diucapkan penjaga tersebut. Penjaga itu membawa pemuda itu menuju pohon besar untuk beristirahat. “Istirahat disini supaya kondisimu kembali membaik” ucap penjaga itu kemudian ikut beristirahat dibawah pohon.

“Berapa lama kita menunggu mereka memperbaiki kerusakan yang terjadi”tanya pemuda itu kepada penjaga yang berada di sebelahnya.

“Hmm… Aku tidak tahu, lebih baik kau istirahat saja. Aku lelah sekali” jawab penjaga itu dan segera memejamkan kedua matanya.

Pemuda itu memperhatikan sekitarnya yang sepi, penjaga yang sibuk memperbaiki mobil yang rusak dan salah satu penjaga yang telah tidur terlelap. “Inilah kesempatanku harus melarikan diri dari sini” pikir pemuda itu.

Tanpa disadari oleh penjaga-penjaga, pemuda itu secepatnya melarikan diri dan menghilang dari hadapan mereka.
Akhirnya pekerjaan tersebut terselesaikan juga meskipun memakan banyak waktu. Mereka berencana untuk memanggil salah satunya temannya untuk kembali ke dalam mobil.

Hyung..hyung” panggil penjaga lainnya sambil menguncang-guncang tubuh temannya agar bangun.

Aish..tidak bisakah, Engkau membiarkanku tidur sebentar saja. Aku lelah sekali” jawab penjaga itu dan melanjutkan tidurnya.

Hyung… Kemana anak itu hyung?”teriak penjaga lainnya dengan panik. Dia melihat sekelilingnya mencari keberadaan pemuda yang mereka jaga. Teman-temannya mendengar teriakan salah temannya segera menghampirinya dan ikut mencari keberadaan pemuda itu yang telah cukup lama menghilang.

“Mana pemuda itu, apakah kau tidak bisa menjaganya hanya sebentar saja. Lihat anak itu sudah kabur, apa yang harus kita katakan pada bos mengenai keberadaan anak iu. Aish… Kalian tidak becus menjaga satu orang saja” teriak salah satu penjaga yang merupakan dari mereka. Mendengar amarah pemimpinnya, mereka hanya terdiam dan tidak berani menyahut. Apabila hal itu terjadi mereka akan kena amarah pemimpin mereka.

Pemuda itu berhasil melarikan diri dari mereka dengan tenang karena para penjaga sudah menyerah untuk mencari keberadaan pemuda itu.

Flashback off

“Sudah cukup lama hidupku dipenuhi dendam, keberuntunganku telah datang dengan sendirinya. 10 tahun lebih aku menunggu orang itu, hidupku berubah karena peristiwa yang telah menewaskan orangtuaku dalam semalam dan harus berpisah dengan orang yang kusayangi. Bersiap-siap kau mengikuti rencanaku, kau sudah mau masuk perangkapku” gumam Tuan itu yang penuh amarah yang siap meledak.

——— ###——–

#University of Harvard, USA

Siang hari

“Akhirnya selesai juga, hmm membosankan sekali hari ini. Jiyeon~ah, aku lapar. Kita ke kantin ya, kajja” ajak Seungyeon

“Cish…pikiranmu yang ada hanya makanan saja”, Jiyeon melihat tingkah sahabatnya yang cukup santai seperti tidak ada beban yang dimilikinya. Andaikan aku bisa bersikap seperti itu, jiyeon berkata dalam bathinnya.

“Seungie, apakah tugas yang diberikan Prof. Willmard sudah kau berikan?? Sebelum kita ke pergi lab, data itu harus sudah ditangan Prof untuk di review” tanya Jiyeon.

“Aku sudah membereskannya dengan tepat waktu, meskipun otakku isinya hanya makanan, aku selalu bisa mengerjakannya” jawab Seungyeon.

Jiyeon mendengar penuturan Seungyeon hanya tersenyum dengan gelinya melihat sikap sahabatnya dan berbicara dengan mulut yang penuh makanan. “Habiskan dahulu makanan yang ada di dalam mulutmu setelah berbicaralah” Seungyeon hanya mengangguk setelah mendengar perkataan jiyeon.

Jiyeon dan Seungyeon menghabiskan makan siangnya dengan tenang serta diselingin obrolan ringan. Tanpa mereka sadari ada beberapa orang misterius yang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Orang-orang misterius telah menyamar menjadi mahasiswa agar tidak diketahui identitas dan kegiatan yang mereka lakukan.

“Ssstt…” Salah satu dari orang-orang misterius menyenggol temannya untuk memberitahukan bahwa targetnya bersiap-siap ingin meninggalkan ruangan kantin.

“Seungie…”panggil Jiyeon. Seungie menoleh ke arah Jiyeon.

“Kita harus berangkat sekarang, bereskan barang-barangmu” Seungie mengangguk dan segera memasukin barang-barangnya seperti buku dan macbook ke dalam tas. Mereka bergegas meninggalkan kantin campus menuju ke tempat dimana mereka biasa kumpul dengan anggota-anggota lainnya.

Jiyeon dan Seungyeon tidak menyadari ada beberapa orang yang sedang mengikutinya sejak mereka keluar dari campus hingga ke tempat yang akan mereka tuju.

Gerak gerik mobil yang berada tepat dibelakang mobil Jiyeon dan Seungyeon sangat mencurigakan. Hal ini membuat salah satu dari mereka menyadari keanehan pada mobil yang berada tepat di belakang mobil mereka.

Ketika Seungyeon sedang bercermin untuk merapikan rambutnya yang berantakan, tanpa sadar dia mulai melihat sebuah mobil yang gerak-gerik sangat mencurigakan.

“Jiyeon~ah…jiyeon~ah” panggil Seungyeon.

“Ehmm…”sahut Jiyeon yang tetap focus menyetir.

“Lihat mobil yang ada di belakang mobil kita, aku perhatikan mobil itu selalu mengikuti kita. Gerak-geriknya sangat mencurigakan, ada beberapa orang berada di dalam mobil dan pakaian mereka seperti mafia saja” ucap Seungyeon yang masih tetap memperhatikannya melalui kaca spion.

Jiyeon memikirkan semua perkataan Seungyeon, hal itu telah mengusik pikirannya. “Mereka telah kembali!! apa yang mereka inginkan, sampai-sampai mereka terus mengintai dan mengikuti hingga ke tempat ini. Aku tidak ingin identitasku terungkap dan mencelakakan diriku. Hal itu tidak akan terjadi, apakah mereka mengetahui project rahasia yang sedang kami kerjakan” ucap Jiyeon dalam hati dan mengeleng-gelengkan kepalanya.

“Argghhhh…. Ini membuatku frustasi” teriak Jiyeon dan memukul dashboard mobil.

“Jiyeon~ah…Ji. Aku baik-baik saja Seungie” Jiyeon langsung menjawab pertanyaan Seungyeon karena sudah mengetahui apa yang akan diucapkannya. Jiyeon mengetahui dengan jelas bahwa sahabatnya sangat mengkhawatirkan dirinya.

Seungyeon mengangguk setelah mendengar jawaban Jiyeon yang sangat lembut meskipun dengan terpaksa. Seungyeon sangat mengetahui bahwa Jiyeon tidak suka membahas masalah yang sedang dihadapinya dan lebih terkesan tertutup.

Tidak ada hal yang perlu dibicarakan, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing hingga mereka tiba di depan sebuah rumah yang merupakan tempat kediaman Prof. Willmard yang memiliki ruang khusus

“Jiyeon~ah…kajja, Professor dan yang lainnya sudah menunggu kita di dalam” ucap Seungyeon dan meninggalkan Jiyeon berada di luar.

“Masuklah duluan, aku harus mengambil barang-barangku di jok belakang mobil” sahut Jiyeon

Jiyeon memperhatikan keadaan sekelilingnya, dia merasakan dirinya sedang diawasin. Sebuah bayangan peristiwa yang akan terjadi tiba-tiba melesat dalam pikiran Jiyeon, “sungguh aneh, apakah hanya perasaanku saja” gumam Jiyeon sambil berjalan menuju kedalam rumah Prof. Willmard dan mengeleng-gelengkan kepalanya untuk menepiskan bayangan tersebut.

Beberapa menit kemudian setelah keadaan sekitar rumah Prof. Willmard aman, muncullah beberapa orang misterius berpakaian hitam yang menyembunyikan wajahnya dan membawa senjata canggih ditangannya masing-masing.

“Bersiap-bersiaplah malam ini kita beraksi. Pastikan aman sekitar kita, jangan biarkan oranglain kabur dari tangkapan kita” perintah salah satu dari mereka yang merupakan peminpin kelompok tersebut. Mereka mengangguk karena setuju dan segera mengamankan daerah sekitarnya.

—— *** —–

Malam hari

#Kantor pusat – The Pentagon, Arlington County, Virginia

“Hi… Jong” sapa salah satu rekan se-team dengan menepuk punggung Jonghyun. Jonghyun yang disapanya menoleh dan tersenyum ke rekan se-team kemudian memutuskan kembali focus dengan dokumen-dokumen yang berada di hadapannya.

Beberapa teman-temannya hanya bisa mengelengkan kepalanya karena sudah terbiasa akan kesibukan Jonghyun dan akhirnya mereka ikut bergabung duduk diantara Jonghyun.

“Minho…apakah kau sudah menyelesaikan laporan yang ku minta” tanya Jonghyun.
Minho mengambil dokumen yang berisikan laporan, yang berada di dalam tasnya dan memberikan langsung kepada Jonghyun.

“Thanks Bro” sahut Jonghyun dan tersenyum melihat laporan yang dikerjakan Minho.

Minho sudah saling mengenal Jonghyun sejak mereka duduk di bangku sekolah. Minho bertemu Jonghyun sebagai siswa pindahan dari Kota Busan di Korea. Jonghyun merupakan sosok yang ramah, bersahabat, siswa yang cerdas dan memiliki rupa wajah yang sangat tampan, itu menurut pandang Minho. Persahabatan mereka membuat mereka saling memahami dan mengenal baik & buruk sifat yang ada pada diri mereka masing-masing tetapi ada satu hal yang Minho tidak ketahui yaitu kisah percintaan Jonghyun, yang Minho tahu Jonghyun tidak pernah berhubungan dekat bahkan intim dengan yeoja manapun.

“Jong…Jonghyun~ah” panggil Minho.

“Hmm….”sahut Jonghyun.

“Aku ingin memastikan, apakah kau menerima tugas yang diberikan Jendral Kim ke Korea” tanya Minho.

“Ya benar, aku sudah menyetujuinya dan mengenai waktunya kita akan berangkat bulan depan” jelas Jonghyun.

“Kita…ki..MWO” teriak Minho. Jonghyun terkekeh geli melihat keshockan Minho setelah mendengar penjelasannya. “Iya, kita berdua. Hmm… Kau tahu, di Korea banyak yeoja-yeoja cantik. Salah satunya artis member girl band, namanya Yoo…” goda Jonghyun. Jonghyun senang sekali menggoda Minho sampai dirinya kesal dan melihat Minho merajuk.

“Aish… Namanya Im Yoona, dia salah satu member girl band SNSD atau dikenal dengan nama Girls Generation. Kau ini, senang sekali menggodaku” sahut Minho dengan kesalnya dan mulai menunjukkan sikap kekanak-kanakan dengan menyandarkan kursinya ke tembok menggunakan tubuh kemudian menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dan mengerucutkan bibirnya.

Jonghyun melihat sikap sahabatnya yang lucu langsung tertawa dengan keras dan tak henti-hentinya,
“Ha…ha…ha..,haha. Minho~ah mimikmu menggelikan sekali. Aku tidak bisa menghentikannya” ucap Jonghyun yang masih tertawa dan memegang perutnya yang mulai sakit karena tertawa tak berhenti.

“Tertawalah terus Jonghyun~ah” sahut Minho dengan ketus dan cemberut karena kesal.
Mereka tidak menyadarinya sudah menjadi tontonan gratis bagi orang-orang yang ada disekitarnya yang merupakan anak buahnya dan junior-juniornya baik laki-laki maupun perempuan.

Hi guys… Lihat disana” tunjuk salah satu junior yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Mayor Jendral Lee dan Brigadir Jendral Choi” jawab temannya yang berada di sebelah kirinya.
“Baru kali ini ku melihat Mayor Jendral dan Brigadir Jendral kita saling bercanda dan tertawa… Ternyata mereka sangat tampan dan cute apabila mereka seperti itu” sahut seorang junior wanita yang tiba-tiba memotong perkataan temannya.
Mereka mengangguk kepalanya masing-masing karena setuju dengan perkataan yang telah mereka dengar dan lihat sendiri sikap kedua pimpinan mereka tersebut.

Entah kenapa Jonghyun tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Sikapnya membuat Minho memperhatikan sikapnya dan mendengar gumaman Jonghyun dengan jelas meskipun suaranya kecil. “Mengapa perasaan ini muncul lagi”gumam Jonghyun sambil memijit-mijit keningnya.

“Jonghyun~ah, gwenchana” Tanya Minho
Jonghyun mengangguk dan tersenyum pada Minho, tiba-tiba perasaan tersebut kembali muncul beserta bayangan wajah seorang yeoja yang sangat dikenal dan dicintai di belakang Minho. Tanpa disadarinya menyebut nama yeoja itu.
“Jiyeon… Jiyeon” gumam Jonghyun, yang tetap focus melihat ke arah bayangan Jiyeon muncul yang berada pas di belakang Minho.
“Jiyeon… Siapa Jiyeon” tanya Minho dan menoleh ke belakang untuk melihat apa yang dilihat oleh Jonghyun.

Kajja Minho~ah, kita kembali ke kantor untuk mengecek laporan yang telah kau buat” ucap Jonghyun untuk mengalihkan pertanyaan Minho.

——****——-

Malam hari
# Kediaman Prof. Willmard

Suasana malam yang sunyi, dingin, yang ditemani oleh suara nyanyian dari daun-daun yang bergerak sesuai dengan irama yang diberikan oleh angin yang selaku sebagai pengiring alat musik. Suara musik yang diciptakan kreasi angin dan daun-daun, seakan-akan ingin mengundang sosok manusia yang bersedia menikmati acara yang mereka buat selamanya. Bila manusia mendengar suara musik tersebut, seakan-akan mengiringnya menuju pintu kematian.

Suasana yang tidak biasanya di sekitar kediaman Prof. Willmard mencekam rasa ketakutan yang sangat dalam.
Suara musik berhenti tiba-tiba karena ada satu not yang salah dimainkan.
“10 menit lagi kita akan menerobos masuk ke dalam. Saya tidak mau ada kegundahan disekitar sini dan kalian tetap bersiaga menjaga di luar. Apakah kalian sudah siap” jelas salah satu dari mereka yang merupakan pemimpinnya.

——- tbc ——–

Sekali lagi mian yang untuk readers, baru bisa updatenya sekarang.
Jangan bosan untuk menanti ff yang gaje, abal dan bla bla bla 😊
Ditunggu RCL ya

2 thoughts on “My Fiancé is my bodyguard – Part 2

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s