[Ficlet] It’s Hurts


It Hurts (Cover)

Title: It’s Hurts || Author: eyinzz || Main Cast: SNSD’s Jessica & Super Junior’s Donghae || Genre: Sad, Romance, Teenlife || Leght: Ficlet || Rating: Teen || Disclaimer: This is my own story and beside from the real life.

“You don’t know, what I feel…”

 

-==-

Gadis berambut blonde itu tersenyum manis saat sebuah boneka beruang -penambah koleksi Forever Friend miliknya yang sudah menumpuk di lemari rumahnya- disodorkan tepat oleh seorang lelaki yang kini sedang tersenyum lembut melihat ekspresi gadisnya. “Donghae-ya, gomawo. Aku kira kau tak mengingat 2nd Anniversary kita. Tidak terasa bukan, jika kita sudah bersama selama 2 tahun?” Ujar gadis itu sambil memainkan boneka berbulu lembut kesukaannya. Perlahan senyum yang mengembang di wajah namja itu menghilang seiring berhembusnya angin sepoi-sepoi pada malam ini. Digantikan ringisan menyiratkan dia lupa tentang peristiwa hari ini, sayangnya gambaran itu luput dari gadis dihadapannya.

“Jujur saja, aku tidak habis pikir kamu bakal memberiku kejutan hari ini. Menyuruhku ke bukit belakang sekolah seusai makan malam lalu memberikan sebuah boneka kesayanganku di hari yang menggenapkan dua tahun hubungan kita.”

Jessica –nama gadis itu- menyenderkan kepalanya ke bahu kekar milik kekasihnya. Matanya terus menelurusi lampu-lampu malam khas kota Seoul yang bagaikan bintang tumpah jika dilihat dari atas bukit belakang sekolah. Benar-benar pemandangan romantis. Membuat dua ujung bibirnya tak lelah untuk tertarik.  “Jess..,”

“Ehhmm?”

“Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu,.”

Dua alis indah milik Jessica menyatu, “Katakan saja Donghae-ya. Aku mendengarmu.”

“Aku..,” Donghae menarik nafas panjangnya sebelum melanjutkan kembali kalimatnya, “Ingin kita berakhir sampai sini saja.”

Refleks Jessica menarik diri dan menatap dalam wajah tampan milik namjachingu-nya, berusaha menemukan sesuatu kebohongan atau kejailan. “W-Wae?” Dari seribu pertanyaan yang berterbangan di otaknya, hanya satu itu yang berhasil keluar. Lidahnya terlalu kelu. “Aku tak bisa memberitahukan alasannya padamu Jess. Mian.”

Jessica’s POV

“Tapi..- Tapi kenapa harus meminta putus?” Air mataku sedikit demi sedikit menumpuk di pelupuk mata, mengaburkan pengelihatanku dalam sekejap. Donghae terdiam, tak menjawab bahkan lelaki itu memutus kontak kami dan lebih memilih memandang pemandangan kota. “Ak- Aku sudah terlanjur mencintaimu Donghae-ya.”

“Lupakanlah aku Jessica. Kau bisa mendapatkan namja yang lebih baik dariku.”

Andwe. Aku sudah terlanjur mencintaimu Hae. Kau bercanda bukan? Ini hari Anniversary bukan? Apa kau mengerjaiku? Tapi ini tidak lucu Donghae. Keumanhae~” Tetesan liquid bening berkejar-kejaran di pipi milikku, membentuk sungai kecil disana.

“Berhentilah berkata omong kosong Jessica. Aku sama sekali tidak bercanda atau mengerjaimu. Hari Selasa ini, tepat pada Anniversary kita, aku Lee Donghae ingin kita mengakhiri hubungan ini.” Tegas Donghae sekali lagi.

Kali ini, isakan tangis keluar dari bibirku, mematahkan usahaku mengigit bibir agar isakan pilu itu tak terdengar. Aku benar-benar menunjukkan kelemahan untuk yang pertama kali dihadapan seorang lelaki –kecuali Ayahku-. “Donghae, hikss… Setidaknya beri aku alasan.. hiks.. Kenapa kau hiks… meminta berpisah? Apa aku melakukan kesalahan? Hiks…”

Donghae menoleh, memberikan tatapan datarnya ke arah aku, –mantan- kekasihnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang. “Bukankah sudah kubilang? Aku tak mempunyai alasan khusus untuk memutuskanmu. Aku memiliki hak atas itu.” Dia beranjak dari duduknya, membersihkan sedikit jeans biru dongkernya lalu meninggalkanku. Aku tak tinggal diam. Kubangkitkan badanku sebisanya, berjalan terhuyung ke arahnya dan pada akhirnya terjatuh tepat di belakang kakinya, saking lemasnya tubuhku.

“Jess! Gwenchana?!” Donghae berbalik, menolongku, memperlihatkan raut khawatirnya akan keadaanku. Apa aku harus sakit terlebih dahulu agar ia memperhatikanku?

Aku memeluknya, berusaha mencari kehangatan dalam balasan peluknya. Tapi aku tidak menemukan apa-apa, kehangatan itu sudah tidak muncul. Menyisakan kehampaan yang begitu menyiksa di dadaku. “I’m fine, Donghae-ya.” Bisikku lemah tepat di telinganya. Dirinya melepaskan pelukan, memberi jarak yang cukup agar bisa melihat wajahku seksama. “Please tell me the truth, Jess. Are you okay?”

Andai saja dia bukanlah orang yang kucintai. Andai saja dia bukanlah sosok yang sangat amat ku sayangi. Mungkin aku sudah memakinya mendengar perkataan terakhirnya. Dia mempertanyakan apa aku baik-baik saja? Ketika aku telah diputuskannya secara sepihak? Dan tadi aku memohon-mohon padanya agar tak sampai berpisah. Tapi lelaki keras kepala itu masih saja kekeuh memutuskanku. Andai saja dia bukanlah Lee Donghae. Sayangnya dia adalah Lee Donghae, pusat letak kelemahanku.

“Kau tak tau apa yang kurasakan sekarang Donghae-ya. Aku baik-baik saja.”

Tangannya nampak mengepal, “Aku tau segalanya tentangmu Jessica Jung!” Katanya penuh penekanan padaku. Melihat itu hatiku teriris, namun malah kekehan merendahkan yang terukir di bibirku.

Mwo? Tau segalanya tentangku, huh?” Decihan licik dariku menghiasi pertengkaran kami. “Apa kau tau apa yang kurasakan sekarang Donghae-ssi?” Pertanyaan yang awalnya ditujukan untukku sekarang terbalik untuknya. Ia hanya diam, berusaha mengetahui apa yang kurasakan sekarang melalui manik mataku. Sengaja kuputus kontak kami, segera berdiri dan beranjak meninggalkannya. Memang nyatanya hatiku berontak untuk tetap tinggal, tapi aku tidak bisa. Dia sudah terlalu menghancurkanku dengan cara seperti ini.

“Aku tau kau sekarang dalam keadaan tidak baik-baik, Jess. Kau harus belajar jujur pada dirimu sendiri Jessica. Sejak kapan kau menjadi pembohong begini?”

 

Aku sudah jujur aku tidak baik-baik saja sekarang. Hanya saja ketidakpekaan mu itu mengaburkan segalanya…

 

“Ya, mungkin karna bersamamu aku jadi pandai berbohong.”

Rahang Donghae mengeras, sayangnya dia tak mampu berbuat apa-apa selain meredamnya. “Ini semua karna YoonA. Ya, aku menyukai temanmu itu.” Pernyataan Donghae mampu membuat langkahku berhenti mendadak. Hatiku bagai diremukkan begitu saja. Lagi-lagi air mata yang sudah mengering itu kembali tanpa persetujuan. “Setelah mendengar fakta ini apa yang dirasakan oleh Jessica Jung?”

Aku memunggunginya, memberikan sumpah serapah atas nada entengnya ketika mengatakan seuntai kalimat yang berhasil menghancurkan seluruh perasaanku dan memberantakan semuanya. Kata orang bila seseorang yang jatuh bakal menemukan sebuah kekuatan dalam dirinya untuk memberontak dan itu benar. Semuanya terbukti sekarang, “Mau tau apa yang kurasakan setelah mendengarnya Donghae-ssi?” Pancingku lalu berbalik menatapnya tajam. Dapat kulihat letupan-letupan kemarahan di kedua manik matanya.

“Jujur saja kau terlalu bodoh untuk menanyakan hal seperti ini setelah kau memutuskan hubungan kita karna menyukai temanku sendiri. Seharusnya kau sudah bisa menerka, aku sakit sekarang. Semua tindakanmu hanya dapat menyakitiku, mungkin kamu tidak pernah merasakannya. Ini sakit, sangat sakit. Hatiku retak bahkan menuju keambang kehancuran. Sehabis percakapan ini selesai aku harus berusaha bangkit dan menata kembali hatiku yang telah kau buang.”

Kemarahan itu hilang, terganti oleh keteduhan matanya. Tatapan inilah yang membuatku jatuh hati kepadanya, tatapan ini juga yang telah memberiku kekuatan, namun tatapan lembut ini pula yang memporak-porandakan kehidupanku hingga kini. “Itulah mengapa aku tidak ingin berkata jujur padamu Jessica. Karna aku tau ini akan tambah menyakitimu.” Lirihnya.

Pertahananku hancur, air mata ini menguak keluar. Dia masih memperhatikanku, mencemaskanku, tapi tak bisa kupungkiri secercah rasa iba menelusup di tatapannya. Dia hanya mengasihanimu yang lemah ini Jessica, bukan lagi cinta. Suara-suara itu menghempaskanku ketitik tergelap hidupku, menyelimutiku dengan kepedihan dan kedinginan tak berujung. Menyadarkanku akan cintanya yang telah lenyap, membuatku terpaku dalam keterpurukan menyesali diriku yang telah jatuh padanya si Cassanova di sekolahku.

“Kau salah Donghae-ssi! Setelah kau memberi tau yang sebenarnya padaku, ini lebih baik daripada sebelumnya. Walaupun aku tambah sakit, setidaknya aku tau bahwa akhir dari ini bukan karna kesalahanku. Melainkan karna sifatmu yang selama ini tidak pernah berubah, kau terus ber-kamuflase untuk mendapatkan hati seorang wanita. Lalu menghancurkannya setelah kau bosan. Aku memang bodoh telah menerima sampai-sampai mencintaimu padahal jelas-jelas predikat playboy mu terus menempel padamu. Terimakasih atas semuanya Donghae-ssi. Terimakasih atas kenangan indah selama ini. Terimakasih atas luka dalam yang telah kau torehkan. Terimakasih karna tanpa kejadian ini aku tetap terjebak pada kata-kata manismu.”

Sesak ini berangsur menghilang walau tak sepenuhnya. Hatiku begitu ringan mengeluarkan semua teriakan-teriakan pedih dalam hatiku yang selama ini selalu kutelan dalam kepahitan. Aku memutar tubuhku, berniat pergi. Aku tau aku tidak sekuat di hadapan Donghae, aku lemah. Aku akan melampiaskan semua tangis di dalam kamar nanti, karna aku tidak mau memperlihatkan kehancuran diriku, cukup kelemahanku saja yang ia tau. Keinginanku kuurungkan sebentar, ku tolehkan sebentar wajahku menghadapnya.

“Oh ya, Donghae-ssi. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa sakit hati tidak bisa terobati hanya dengan hadiah atau mungkin uang berjuta-juta. Aku tau kau kaya, tapi kau harus mengerti tentang hati seorang yeoja tak bisa pulih hanya dengan sebuah boneka mahal kesukaannya. Itu semua terkesan kau terlalu menyepelekannya, seakan-akan kau dapat membeli rasa sakit tersebut.”

Setelah selesai mengutarakan kata-kata yang ‘sedikit’ menyinggungnya tersebut. Aku segera pergi, tanpa menoleh lagi. Aku sudah tidak peduli tentang kemungkinan ia akan tersinggung, toh dalam hal ini akulah pihak paling tersakiti. Berusaha menguatkan diriku sendiri dan berusaha menata hatiku agar tidak terlalu lama terjerat dalam kesedihan ini agar tak menimbulkan trauma tersendiri bagiku, lebih penting daripada memikirkannya. Ku yakin dia sebentar lagi langsung dapat bersenang-senang atau parahnya lagi mendekati temanku itu. Tapi tidak denganku, karna alasan yang sama. Aku yang tersakiti. Hatiku remuk. Perasaanku terluka. Jiwaku hilang dan rasa ini sungguh menyakitkan.

 

Do you know? It’s hurts.

.

.

.

END

.

.

,

Waks.. Maaf kalo nih FF aneh banget. Aku post-nya aja curi-curi waktu.
Karna aku sekarang lagi UAS dan mungkin aku bakal aktif lagi setelah UAS atau pas liburan Desember.

Nih FF ku persembahkan buat permintaan maafku karna udah lama ngga buat FF untuk kalian semua. Bye,, ketemu nanti yaa!

2 thoughts on “[Ficlet] It’s Hurts

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s