[TRILOGY] When The Love Falls: I Wish (WOMEN VERSION)


image

Author: Shanne Viviana.

Cast: Lee Dong Hae, Park Min Chan, Luhan, Choi Ji Eun, others.

Credit Poster by: Wolveswifeu – Poster Designer

Recommended Songs:
– Yiruma ~ Kiss The Rain.
4Men ~ Reason (Ost. Secret Garden)
***

November, 2013.

Hari masih terlalu pagi ketika seorang gadis terbangun dari tidurnya. Jalan-jalan di kota Seoul pun masih lenggang. Tidak banyak mobil yang melintasi jalan-jalan tersebut. Hanya ada beberapa orang yang sudah menyibukan dirinya dari berbagai aktivitas yang menyita waktu mereka.

Musim di pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Musim gugur. Daun-daun yang berwarna kecoklatan itu perlahan mulai meranggas, jatuh berserakan di atas tanah. Seolah menunggu angin untuk menerbangkan mereka. Udara masih terasa sejuk, pagi ini. Walau hawa dingin semakin terasa menusuk ketika musim ini datang.

Min Chan berdiri di atas balkon rumahnya sembari menyesap secangkir coklat panasnya. Tangan kirinya yang bebas dari apapun, ia masukan ke dalam saku mantelnya. Berusaha membuat tangannya terasa hangat. Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan, membuat asap berwarna putih itu keluar dari mulutnya. Menandakan betapa dinginnya udara di pagi ini. Tapi gadis itu menyukainya. Tentu saja, ini adalah musim favoritnya. Musim yang sudah ia tunggu-tunggu.

Min Chan tersenyum simpul ketika pikirannya lagi-lagi tertuju pada sosok pria itu. Pria yang sudah lama ia cintai secara diam-diam. Pria itu tidak mengetahui perasaannya, tentu saja. Ia terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya secara gamblang di depan pria itu. Bahkan ketika pria itu secara tiba-tiba muncul di hadapannya, tubuhnya seolah menjadi kaku. Tidak sanggup berbuat apapun juga, selain mematung. Otaknya seolah tidak bisa memberi perintah kepada tubuhnya agar bertingkah biasa saja. Seolah ia tidak mempunyai perasaan apapun pada pria itu.

Tapi, di saat yang bersamaan ia juga meringis sakit dalam hatinya. Pria itu selalu tampak bersama seorang gadis yang entah siapa namanya. Hanya saja, ia selalu melihat gadis itu berada di sisi pria itu. Ia tidak tahu pasti apa hubungan mereka berdua, karena ia memang tidak berminat mencari tahu. Ia hanya takut. Ia takut jika ternyata fakta bahwa gadis itu adalah kekasih dari pria itulah yang ia dapatkan.

Gadis itu terkekeh pelan, ketika ia mengingat alasan ia masuk ke universitas itu adalah karena pria itu. Bahkan ia memilih jurusan yang sama dengan pria itu. Ia melakukan semua itu, semata-mata hanya ingin melihat pria itu. Ia hanya ingin pria itu tetap dalam jarak pandangnya, itu saja. Cukup dengan memastikan pria itu baik-baik itu saja, cukup dengan melihat pria itu bernapas dengan baik saja, maka dirinya akan bisa menjalani hidup dengan baik dan benar. Sesederhana itu saja.

Gadis itu lantas mengeluarkan tangan kirinya dari saku mantelnya. Menatap jam tangan yang terpasang dengan pas di pergelangan tangannya. Sepersekian detik kemudian, ia berbalik dan menaruh cangkir yang digunakannya tadi, sebelum akhirnya menyambar kunci mobilnya dengan cepat.

~~~

Ji Eun merapatkan jaketnya sembari terus menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan apakah bis yang sejak tadi ditunggunya sudah datang atau belum. Sedetik kemudian, ia melangkah mundur dari tempatnya semula dan memilih untuk duduk di halte seraya terus menunggu bis yang akan mengantarnya ke universitasnya.

Gadis itu lantas menggosokan kedua tangannya sembari meniup tangannya. Berusaha membuat tangannya terasa hangat. Ji Eun menundukan kepalanya ke bawah seraya menggerak-gerakan kakinya ke depan dan belakang tidak menentu.

Kepalanya mendongak begitu saja ketika ia mendengar suara klakson mobil yang seolah seperti memanggilnya. Ia memicingkan matanya, berusaha mengenali siapa yang berada di balik kemudi mobil tersebut. Kedua sudut bibir Ji Eun tertarik begitu saja ke belakang, membuat sebuah senyuman tatkala kaca mobil itu terbuka, membuat ia langsung mengetahui siapa orang itu.

“Tunggu apa lagi? Cepat masuk!” seru Dong Hae sembari terus tersenyum ke arah Ji Eun.

Ji Eun bangkit berdiri dari duduknya, kemudian berlari kecil ke arah mobil Audi Q7 milik Dong Hae itu. Gadis itu lantas mendudukan dirinya tepat di samping Dong Hae ketika ia sudah memasuki mobil tersebut. “Cih, tidak biasanya kau baik seperti ini,” cibir Ji Eun dengan nada menyindir. Ia curiga, Dong Hae baik kepadanya saat ini karena ada maksud lain di baliknya.

Dong Hae mendengus kesal, merasa tidak terima dengan tuduhan yang diberikan Ji Eun tadi. “Ck, kau ini selalu saja mencurigaiku,” gumam Dong Hae pelan. “Memangnya salah jika aku mengantarmu? Lagipula tujuan kita berdua sama, bukan?” Dong Hae menoleh, menatap Ji Eun untuk sejenak sebelum kemudian kembali menatap jalanan di depannya.

“Ya, ya, ya, terserah kau saja.”

“Aish! Kau ini selalu saja begitu. Kalau kau bertingkah dingin seperti ini terus, bagaimana bisa pria yang sedang kau incar itu tertarik padamu?” sahut Dong Hae asal yang membuat Ji Eun langsung mendesis kesal. Dong Hae terkekeh pelan, sebelum akhirnya kembali berbicara. “Aku penasaran, siapa sebenarnya pria yang sedang kau incar itu.”

Ji Eun diam, sama sekali tidak berusaha membalas ucapan Dong Hae tadi. Gadis itu hanya menghela nafas berkali-kali kemudian memilih untuk menatap ke luar. Bermaksud menghindari pertanyaan dari Dong Hae, mungkin? Jujur saja, ia sudah lelah mendengar pertanyaan yang sama terus menerus dari Dong Hae. Jadi, lebih baik ia diam. Ia hanya tidak ingin semua orang tahu siapa sebenarnya pria yang ia sukai itu. Hanya itu saja.

“Baiklah, baiklah aku tidak akan bertanya itu lagi.”

Ji Eun masih diam.

Dong Hae menghentikan laju mobilnya ketika mereka sudah sampai di depan sebuah universitas. Pria itu kemudian menghela nafas sejenak dan menoleh menatap Ji Eun yang masih menatap ke luar melalui kaca jendela mobil yang sedang ditumpanginya kini. “Nona Choi, apa kau tidak ingin keluar? Atau kau masih ingin berlama-lama denganku?”

Ji Eun menoleh dengan cepat ketika ia mendengar ucapan Dong Hae tadi. “Mwo? Ya!!! Lee Dong Hae!! Sialan kau!” pekik Ji Eun kemudian segera keluar dari mobil dan langsung berlari mengejar Dong Hae yang sudah melarikan diri.

~~~

Min Chan berjalan keluar dari perpustakaan, kemudian menghentikan langkahnya sejenak. Ia lantas mengedarkan pandangannya ke sekitaran tempatnya berdiri saat ini, bermaksud mencari Luhan. Sampai tiba-tiba sebuah pemandangan yang menyakitkan itu “tertangkap” oleh matanya.

“Mwo? Ya!!! Lee Dong Hae!! Sialan kau!”

Gadis itu … Lagi-lagi gadis itu bersama Dong Hae. Setiap kali ia melihat Dong Hae, maka ia akan melihat gadis itu juga. Apa tidak bisa ia melihat Dong Hae tanpa gadis itu? Walupun hanya satu menit? Tidak bisakah? Di satu sisi, ia senang karena bisa melihat pria itu—walaupun hanya dari kejauhan, tapi di sisi lain, ia benci ketika gadis itu lagi-lagi berada di sekitar Dong Hae. Ia benci, sangat membenci hal itu.

Min Chan menghela nafas berat. Apa yang dipikirkannya barusan? Benci saat melihat gadis itu bersama Dong Hae? Memangnya ia siapa untuk pria itu, sampai-sampai ia tidak suka jika gadis itu terlalu dekat dengan Dong Hae. Bukan siapa-siapa, ‘kan? Jadi seharusnya ia tidak perlu marah, bukan? Tapi kenapa rasanya sulit sekali? Kenapa rasanya … sangat sulit untuk melakukan hal itu?

“Menyedihkan sekali kau, Min Chan. Menatap pria yang bahkan tidak pernah menatapmu sama sekali. Kau benar-benar bodoh.”

“Ya! Apa kemampuan mendengarmu itu sudah berkurang, Nona Park Min Chan~ssi?”

Min Chan tersentak ketika ia mendengar seruan seseorang yang memanggil namanya. Min Chan menoleh, menatap orang yang tadi memanggilnya itu. Detik berikutnya, gadis itu mendengus pelan ketika ternyata Luhan-lah yang memanggilnya. “Kau rupanya. Darimana saja kau? Aku mencarimu daritadi, tahu tidak?” tanya Min Chan mengabaikan pertanyaan Luhan sebelumnya.

“Cih, kau mencariku atau melihatnya?” Luhan balik bertanya seraya menunjuk Dong Hae menggunakan dagunya. Tak lama, ia kembali menatap Min Chan yang kini sedang menatap ke arah Dong Hae. “Berhentilah berpura-pura kau baik-baik saja.”

“Aku memang baik-baik saja,” sambar Min Chan cepat kemudian beralih menatap Luhan. “Aku baik-baik saja, Luhan. Kau tidak perlu khawatir, hm?” sahut Min Chan pelan. Berusaha meyakinkan Luhan bahwa ia baik-baik saja, tidak ada yang perlu yang dikhawatirkan. Walau ia sendiri pun tahu bahwa itu adalah suatu kebohongan besar. Dirinya tidak baik-baik saja.

Luhan menatap Min Chan nanar. “Kau tidak perlu berbohong padaku. Menangislah jika kau ingin menangis, tertawalah jika kau ingin tertawa. Aku akan tetap disini, menemanimu. Jadi jangan membohongi dirimu sendiri, eoh?”

Min Chan mencibir kemudian terkekeh pelan. “Cih, sejak kapan ucapanmu bijak seperti itu? Kau tidak sakit ‘kan?” ejek Min Chan sembari menaruh telapak tangannya di dahi Luhan yang langsung ditepis oleh Luhan. Min Chan tertawa kecil—yah, setidaknya hal ini bisa membuatnya melupakan kesedihannya sejenak.

Luhan mendengus kesal. “Ya! Kau ini! Aku ini sedang berusaha menghiburmu, tahu tidak? Benar-benar menyebalkan,” sungut Luhan sembari menatap Min Chan kesal. Sedangkan Min Chan hanya bisa terkikik geli.

“Sudahlah. Hari ini aku ada kelas pagi. Aku harus masuk.”

~~~

“Aish! Kau ini benar-benar! Aku ‘kan hanya bercanda. Kau tidak perlu …” Dong Hae menghentikan ucapannya ketika ia melihat Ji Eun sama sekali tidak menanggapi ucapannya. Gadis itu justru menatap ke arah lain. “Ji Eun?” Dong Hae sontak menoleh, menatap ke arah yang sama seperti yang Ji Eun tatap saat ini.

Dahinya berkerut sempurna ketika ternyata Luhan-lah yang Ji Eun lihat sejak tadi. Tapi, sedetik kemudian sebuah pemikiran baru terlintas di otaknya. “Ah! Jadi pria yang kau sukai itu Luhan? Kenapa kau tidak mencerita—”

Perkataan Dong Hae langsung terpotong ketika tangan Ji Eun dengan sigap membekap mulut Dong Hae. Sepersekian detik kemudian, Ji Eun menjauhkan tangannya dari mulut Dong Hae yang kemudian langsung disambut pekikan tak terima oleh Dong Hae. “YA!! Apa-apaan kau ini?!”

“Kau gila, hah?!! Kau ingin semua orang disini tahu?!” geram Ji Eun tertahan sembari menatap Dong Hae tajam. Gadis itu mendesis pelan sebelum kemudian memalingkan wajahnya. Lagi-lagi menatap Luhan yang kini sedang bersama seorang gadis—yang kalau tidak salah bernama Park Min Chan.

“Memangnya kenapa kalau orang lain tahu? Tidak ada ruginya untukmu, ‘kan?”

“Jika orang-orang tahu, maka kemungkinan terbesar, dia juga akan tahu.”

“Lalu? Tidak ada perubahan, bukan? Kau tetap hanya bisa memandangnya dari jauh. Apa setelah orang-orang tahu dia akan menjauh darimu? Ck, bahkan sebelum dia tahu pun, dia sudah jauh darimu. Lalu dimana letak perubahannya?” tanya Dong Hae sarkatis.

Ji Eun diam, sama sekali tidak bisa membalas ucapan Dong Hae tadi. Ia sadar, jika apa yang diucapkan Dong Hae tadi itu benar. Tidak peduli, orang-orang akan tahu atau tidak, itu tetap tidak membawa perubahan apapun. Luhan tidak akan menjauh darinya ataupun menatapnya. Semuanya masih akan tetap sama, tanpa ada satupun perubahan.

“Kau benar. Hal itu sama sekali tidak mengubah apapun juga. Lagipula, sepertinya dia mencintai gadis itu dan gadis itu juga sepertinya mencintainya. Benar, bukan?”

“Ji Eun~a …”

“Kalau sudah seperti itu, aku bisa apa selain merelakannya?”

Dong Hae menghela nafas berat setelah sebelumnya, keadaan menjadi hening. Tak ada satupun yang bersuara.

“Menyakitkan bukan?”

Ji Eun menoleh ketika pertanyaan Dong Hae tadi mengalun di telinganya. “Apa?”

“Melihat orang yang kau cintai justru mencintai orang lain tepat di depan mata kepalamu sendiri. Bukankah itu terasa menyakitkan?”

~~~

Ji Eun berjalan menyusuri koridor kampusnya dengan langkahnya yang biasa. Masih terngiang dengan jelas di benaknya, ucapan Dong Hae tadi.

“Melihat orang yang kau cintai justru mencintai orang lain tepat di depan mata kepalamu sendiri. Bukankah itu terasa menyakitkan?”

“Apa pria itu sedang jatuh cinta kepada seorang gadis yang tidak mencintainya? Siapa? Kenapa dia tidak pernah cerita padaku tentang itu?” tanya Ji Eun dalam hati, yang mungkin ditujukan untuk dirinya sendiri. Gadis itu kemudian mengacak rambutnya frustasi. “Aish! Sepertinya aku bisa gila jika terus memikirkan urusan pria bodoh itu.”

Ji Eun terus berbicara pada dirinya sendiri, sampai tiba-tiba terdengar bunyi debuman buku yang jatuh. Ji Eun sontak menoleh, menatap ke arah seseorang yang sekarang sedang memungut buku-bukunya yang jatuh itu. Gadis itu lantas berjongkok, menyamakan posisinya dengan seseorang yang tidak sengaja ia tabrak tadi, sembari membantu memungut buku-buku tersebut.

“Jeoseonghamnida. Aku benar-benar tidak sengaja,” ujar Ji Eun sembari bangkit berdiri dari posisinya tadi.

“Gwaenchana,” jawab orang itu kemudian mendongak menatap Ji Eun. Sedetik kemudian, kedua pasang mata mereka melebar. Tidak menyangka akan bertemu seperti ini. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama karena di detik berikutnya, mereka kembali bersikap biasa saja—atau lebih tepatnya berusaha bersikap biasa saja.

“Ehm … kalau begitu saya permisi,” sahut Ji Eun kemudian berlalu pergi. Seolah tidak ingin berlama-lama bersama gadis itu, Park Min Chan.

“Jeogi!” seru Min Chan tiba-tiba yang langsung membuat langkah Ji Eun terhenti.

Ji Eun menoleh ke belakang, menatap Min Chan penuh tanya. “Ya?”

“Ehm … tidak apa-apa. Lupakan saja.”

Ji Eun mengedikan bahunya acuh, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Ia lantas merogoh sakunya ketika ia merasa ponselnya bergetar. Sayangnya, lagi-lagi aktivitasnya harus terhenti karena seseorang menabraknya. Ji Eun mendesis kesal, kemudian mendongak, menatap orang yang menabraknya itu dengan pandangan kesal dan hendak memaki orang itu, sebelum akhirnya ia mengurungkan niatnya tersebut ketika ia tahu siapa yang menabraknya.

“Jeoseohamnida. Saya sedang terburu-buru tadi, dan …”

Ucapan Luhan tiba-tiba saja terhenti ketika ia melihat siapa orang yang tadi ditabraknya. Pria itu mematung sesaat. Tubuhnya seolah menjadi kaku, tidak sanggup berbuat apapun juga. Begitupun dengan Ji Eun, tubuhnya hanya terdiam di tempatnya tanpa bisa melakukan apapun juga.

Luhan berdehem pelan, yang sontak membuat Ji Eun tersadar. Pria itu kemudian tersenyum kecil ke arah Ji Eun. “Choi Ji Eun, benar?”

Ji Eun mengangguk.

“Aku—”

“Luhan. Aku sudah tahu,” sela Ji Eun cepat. Tapi kemudian ia buru-buru menambahkan. “Tapi, darimana kau tahu—”

“Namamu? Tidak sulit, mengingat hanya kau satu-satu mahasiswi disini yang bernama Choi Ji Eun,” jawab Luhan sembari terus menunjukan senyumnya. “Omong-omong, apa kau tidak ada kelas pagi ini?” tanya Luhan seraya melihat jam tangannya.

“Tidak. Pagi ini aku tidak ada kelas,” ujar Ji Eun. Ia tidak menyangka akhirnya bisa mengobrol dengan Luhan, setelah sekian lama ia hanya bisa melihat pria itu dari kejauhan. Tapi lihat sekarang? Astaga, sepertinya Tuhan sedang berbaik hati padanya hari ini.

“Bagus! Bisa kita bicara sebentar?”

~~~

Library, Namsan-Dong, Seoul, South Korea.
11.30 AM, KST.

Min Chan merogoh tasnya, berusaha mencari i-phone putih miliknya. Gadis itu tersenyum kecil ketika ia berhasil mendapatkan i-phone tersebut. Tepat sebelum ia memasang headset di telinganya, sebuah suara mengalun di telinganya dan sukses membuat ia mengurungkan niatnya tadi. Tapi … sepertinya ia mengenal suara ini. Bukankah ini suara Dong Hae?

Min Chan menoleh cepat, ke arah pria itu. Dan ternyata dugaannya benar. Pria yang baru saja memanggilnya adalah … Lee Dong Hae. Pria yang selama ini selalu ia lihat dari kejauhan. Pria yang menjadi alasannya untuk tetap hidup dengan baik, tetap bernapas dengan benar.

“Apa aku menganggu?” tanya Dong Hae yang dijawab gelengan cepat oleh Min Chan. Pria itu kemudian tersenyum ketika melihat gadis di hadapannya itu masih saja menatapnya. “Apa aku tampak aneh sampai-sampai kau menatapku terus-menerus seperti itu?” tanyanya lagi sambil terkekeh kecil yang langsung membuat Min Chan tersadar.

Min Chan lantas buru-buru memasang headset itu di telinganya kemudian kembali tenggelam dalam bacaannya—yah, walaupun hanya kelihatannya saja, karena sebenarnya pikiran gadis itu sama sekali tidak terfokus pada buku yang kini sedang dibacanya.

Berkali-kali gadis itu berusaha fokus pada bacaannya, tapi berkali-kali juga hal itu gagal. Satu-satunya kegiatan yang ia lakukan sekarang adalah melihat pria itu secara diam-diam. Entahlah, sepertinya tubuhnya hanya mendukungnya untuk melakukan hal itu saja. Apa karena ia baru melihat pria itu berada tepat di hadapannya seperti ini?

Dua puluh menit berlalu dan gadis itu masih tetap pada aktivitasnya semula. Menatap pria itu. Tak ada aktivitas lain, hanya itu.

Dong Hae mendongak, menatap Min Chan ketika ia merasa gadis di hadapannya itu sama sekali tidak membalik lembar halaman bukunya. Dan tentu saja, hal itu langsung membuat Min Chan mengalihkan perhatiannya dari Dong Hae. Gadis itu buru-buru menatap bukunya tanpa tahu apa yang kini sedang dibacanya.

“Apa kemampuan membacamu yang sangat lama atau kau yang sama sekali tidak membaca buku itu?”

“N-ne?” tanya Min Chan tidak fokus.

“Lupakan saja,” ujar Dong Hae. Pria itu kemudian menatap jam tangannya dan bergumam kecil. “Sepertinya aku harus pergi.”

“Jangan!” seru Min Chan seraya bangkit berdiri. Dan, hal itu tentu saja menarik para pengunjung perpustakaan. Merasa diperhatikan oleh seisi perpustakaan ini, Min Chan segera menundukan sedikit tubuhnya sembari menggumamkan kata “maaf”.

Gadis itu mengutuk dirinya sendiri dalam hati ketika ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. “Aish! Bodoh sekali. Sekarang kau terlihat seperti ingin terus bersamanya.”

Dong Hae tersenyum tipis. “Kenapa jangan?”

“Eum … Tidak apa-apa. Lupakan sa—”

“Kau sudah makan?” sela Dong Hae.

“Ne?”

“Sepertinya belum. Bagaimana kalau kau ikut saja denganku. Kebetulan aku juga belum makan. Sepertinya itu bukan ide yang buruk.”

~~~

Cafe, Namsan-Dong, Seoul, South Korea.

“Kau tidak bersama gadis itu?”

Dong Hae menghentikan sejenak kegiatan makannya kemudian menatap Min Chan bingung. Ia sama sekali tidak mengerti maksud pertanyaan Min Chan. Gadis siapa yang dimaksud Min Chan? Rasanya ia tidak pernah bersama gadis manapun, kecuali Ji Eun. Ya, sepertinya satu-satunya gadis yang dekat dengannya hanya Ji Eun.

“Gadis? Maksudmu Ji Eun?”

“Entahlah. Aku tidak tahu namanya,” sahut Min Chan pelan tanpa menatap Dong Hae. Gadis itu berulang kali mengaduk-aduk minuman pesanannya asal, terlihat seolah tidak mempunyai tenaga. Detik berikutnya, Min Chan mendongak, menatap Dong Hae. “Apa dia … kekasihmu?” tanya Min Chan penasaran. Ia sudah tidak tahan lagi. Ia ingin tahu semuanya. Tak peduli jikalau jawaban yang diberikan Dong Hae nanti tidak seperti harapannya. Ia hanya ingin tahu, itu saja.

“Nugu? Ji Eun? Bukan. Dia hanya sahabatku saja.”

“Tapi kalian terlihat sangat dekat,” sambar Min Chan cepat.

Dong Hae terkekeh. “Benarkah? Ah, mungkin karena kami sudah saling mengenal sejak sekolah menengah pertama, jadi kami terlihat sangat dekat,” ujar Dong Hae menjelaskan. “Jujur saja, ini bukan pertama kalinya orang bertanya seperti itu. Sebelumnya, banyak juga yang bertanya seperti itu padaku. Tapi jawabanku tetap sama. Ji Eun hanya sahabatku saja, tidak lebih dan tidak kurang.”

“Kalian sudah berteman selama itu, apa tidak ada … Ehm, apa ya namanya? Apa tidak ada rasa suka sedikitpun?”

“Tentu saja, aku menyukainya. Aku menyukai gadis itu.”

Tubuh Min Chan sontak saja menjadi kaku, kebas. Ia tidak bisa merasakan apapun juga, selain rasa sakit di hatinya. Oh ayolah, ia seharusnya sudah tahu sejak awal. Ia seharusnya sudah menyadari sebelumnya jika Dong Hae menyukai Ji Eun. Lalu kenapa sekarang ia seperti ini? Kenapa ia merasakan sakit yang teramat sangat seperti ini? Ini bahkan lebih sakit dibanding menaburkan garam pada luka. Ya, ini lebih sakit daripada itu.

Bodoh! Apa yang ia lakukan? Seharusnya ia bersikap biasa saja. Seharusnya gadis itu tersenyum, menyemangati pria itu agar bisa mendapatkan Ji Eun, bukannya seperti ini. Bukan dengan menangis di dalam hati. Tidak! Seharusnya bukan seperti itu. Tapi … itu hanya seharusnya bukan? Itu hanya teori. Dan terkadang, teori sangat berbeda dengan prakteknya. Karena nyatanya, hal itu sangat sulit untuk dilakukan gadis itu.

Min Chan tersenyum. Entah, apa arti senyuman itu. Senyum miris, senyum tulus atau yang lain? Entahlah, ia sendiri pun tidak tahu. Ia hanya berusaha untuk tersenyum saja. Berusaha agar pria itu tidak mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Berusaha agar dirinya bisa merelakan pria itu untuk bersama gadis lain. Walaupun ia tahu itu semua hanya akan menyakitinya. Semua itu hanya membawa kesakitan padanya. Tapi rasanya itu akan sebanding jika pria itu bahagia nantinya.

“Ehm … sepertinya aku terlalu lancang sampai bertanya seperti itu.”

Dong Hae tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak keberatan.”

“Sial! Berhentilah tersenyum. Berhentilah membuatku semakin mencintaimu. Berhentilah melakukan semua itu. Itu hanya akan membuatku semakin mencintaimu. Itu hanya akan membuatku terjatuh lebih dalam lintasanmu. Aku mencintaimu. Apa kau tidak bisa melihat semua itu? Apa kau tidak bisa merasakannya? Masih kurang jelaskah? Harus dengan cara apa lagi aku menjelaskannya?”

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih untuk makanannya,” ujar Min Chan sembari beranjak dari tempatnya, hendak meninggalkan tempat ini. Sudah cukup ia mendengarkan semuanya dari Dong Hae. Sudah cukup. Pertanyaan yang sejak dulu mengganggunya, kini sudah terjawab—walau mungkin tidak sesuai keingannya.

Dong Hae yang merasa terkejut karena Min Chan tiba-tiba saja memutuskan untuk pulang, langsung bangkit dari duduknya. Tapi belum sempat Dong Hae memanggil Min Chan, sebuah suara—yang cukup familiar baginya—berhasil membuat ia mengurungkan niatnya tadi sekaligus berhasil membuat langkah Min Chan terhenti.

Gadis itu juga mendengarnya. Mendengar sebuah kalimat yang tidak pernah ia duga akan keluar dari mulut orang itu sebelumnya.

~~~

“Jadi apa maksud kau mengajakku ke tempat ini sebenarnya? Ke kafe ini? Aku tahu bukan hanya karena ingin makan saja, benar ‘kan?”

Luhan mendongak ketika ucapan Ji Eun tadi mengalun di telinganya. Pria itu menatap Ji Eun sejenak sebelum akhirnya berucap, “Yah … bisa dibilang seperti itu,” ujar Luhan. “Kau dekat dengan Dong Hae, bukan?” tanya Luhan langsung sembari terus menatap Ji Eun lekat.

Ji Eun mengerutkan dahinya, merasa tidak mengerti kenapa Luhan bertanya seperti itu kepadanya. Tapi, gadis itu akhirnya mengangguk juga. “Ya. Memangnya kenapa?” tanya Ji Eun balik. Sungguh, ia tidak mengerti kenapa Luhan bertanya seperti itu padanya. Dekat dengan Dong Hae? Untuk apa Luhan bertanya pertanyaan tidak penting seperti itu? Apa ini ada hubungannya dengan Dong Hae?

“Menjauhlah darinya.”

“N-ne?”

“Menjauhlah darinya,” ujar Luhan mengulang ucapannya barusan. Pria itu terus menatap Ji Eun tanpa berniat mengubah objek tatapannya. Seolah-olah tidak ada objek lain di sana selain Ji Eun. Tapi, permintaan Luhan sungguh membuat Ji Eun bingung. Menjauh dari Dong Hae? Kenapa? Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Luhan meminta agar ia menjauh dari Dong Hae?

“Wae? Berikan aku alasan kenapa aku harus menjauh dari Dong Hae? Kita baru bertemu tadi. Jadi, aku rasa kau sama sekali tidak berhak untuk—”

“Karena Min Chan mencintai pria itu. Karena Min Chan mencintai Dong Hae,” sela Luhan yang semakin membuat alis Ji Eun tertaut sempurna.

Ji Eun semakin tidak mengerti apa maksud Luhan. Jika ini semua karena Min Chan menyukai Dong Hae, kenapa harus Luhan yang meminta Ji Eun agar menjauh dari Dong Hae? Kenapa bukan Min Chan sendiri saja?

“Ah, jadi Min Chan menyuruhmu agar aku menjauh dari Dong Hae, begitu? Kenapa tidak dia sendiri saja yang—”

“Dia tidak menyuruhku. Dia tidak menyuruh siapapun juga. Ini murni keinginanku sendiri.”

“Lalu apa hubungannya dengan—”

“KARENA AKU MENCINTAINYA!! Karena aku mencintai Min Chan. Karena aku ingin gadis itu bahagia. Apa kau masih membutuhkan alasanku?”

Jantung Ji Eun seolah lepas dari tempatnya ketika ia mendengar seruan Luhan tadi. Tubuhnya serasa sulit digerakan. Pandangannya perlahan mulai mengabur karena airmata yang menumpuk di pelupuk matanya. Entah, bagaimana keadaannya kini, ia tidak peduli. Lagipula, alasannya untuk tetap hidup dengan baik sudah pergi, sudah tidak bisa ia gapai lagi.

Awalnya, ia sangat bahagia karena ini pertama kalinya ia pergi bersama Luhan. Ia tidak menyangka kalau akhirnya hari ini akan datang. Hari dimana ia bisa bersama dengan Luhan. Tapi lihat sekarang? Semuanya justru menjadi kacau. Ini … ini bukan seperti apa yang diharapkannya. Ini benar-benar jauh dari harapannya. Mendengar pengakuan pria yang dicintainya lebih mencintai gadis lain, itu bahkan lebih menyiksa dibanding terkena hiportemia.

Ji Eun hendak berbicara kembali, tapi seseorang sudah lebih dulu bicara, membuat ia lebih memilih menoleh ke arah orang itu.

“Min Chan? Dong Hae?”

-TO BE CONTINUED-

2 thoughts on “[TRILOGY] When The Love Falls: I Wish (WOMEN VERSION)

  1. Kyaaaaaaaaaaaa!!! ini namanya cinta segi empat.
    kesian jieun, pasti sedih, secara doi suka ama luhan. dasar luhan pabo!:mrgreen:
    kenapa jadi berasa kali minchan ama donghae sama2 suka yah? bener kan? iya donk hehehe~ ditunggu next chapnya😉

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s