[Drable] KyuYoung – You, in My World


yimw

 

Tittle : You,in My World

Author : Fatminho

Length : Drabble

Rated: 15+

Genre : Sweet Romance, family, married life

Main cast : Cho Kyuhyun,Choi Sooyoung

Disclaimer  : This Plot is Main.

Note :

Sebenarnya nih ff sudah lama banget aku buat. Telah tersimpan rapi di dalam note book kesayanganku. Sialnya, aku lupa pernah membuatnya.

Cerita manis dalam keluarga kecil ini bermula saat aku membayangkan harmonisnya kehidupan pasangan muda. Well, tentu saja disini aku menggunakan karakter bias-ku. KyuYoung! Aigoo… aku selalu berdebar-debar membayangkan mereka. hehehe

Geuraesso…

Check this story out!

Happy Reading (^,^)

***

Seorang wanita berumur seperempat abad lebih, terlihat masih berkutat di depan laptop empat belas inchi-nya. Kacamata yang bertengger dimata sesekali ia betulkan posisinya. Bukan hanya di depan laptop, kepala dan matanya sesekali berpindah ke beberapa dokumen dan kertas karton putih yang menampakkan gambar beberapa rancangan busana. Ia teliti gambar itu da nada beberapa titik yang langsung ia perbaiki. Lalu ia kembali lagi ke laptopnya. Hal itu selalu ia lakukan. Takut hasil kerja kerasnya berantakan dan tidak perfect seperti yang ia inginkan, maka ia rela melanjutkan semua pekerjaan butiknya di rumah. Alhasil, ia selalu mengabaikan anaknya untuk sementara waktu.

Cklek!

Suara pintu ruang kerjanya terbuka, terdengar keras. Namun, tetap saja ia fokus pada pekerjaannya. Sampai akhirnya, suara anak kecil menyapanya. “Mma…” suara balita itu terdengar lelah, kesal, dan sedih.

Sooyoung mendengar suara putranya. Ia langsung menoleh melihat kearah pintu ruang kerjanya. Dan sekarang matanya menatap sendu wajah balitanya yang sedang mangantuk disana. Tangan balita itu pun masih tergantung di gagang pintu. Sooyoung menarik nafas dan melunglaikan kedua bahunya yang sempat tegang dan berjalan menemui balitanya.

“Tuan muda Hyunsoo sangat rewel nyonya. Ia memaksa saya untuk mengantarnya menemui anda. Saya sudah mencegahnya, tapi tuan muda semakin merengek hingga ia menangis. Jadi-“

“Arraseo ahjumma.” Potong Sooyoung cepat saat melihat cara ahjumma, pengasuh Hyunsoo, terlihat takut menjelaskan semuanya. Sooyoung tersenyum pada wanita muda itu dan langsung berpaling menatap balitanya. “Hyunsoo sudah mengantuk, hn?” tanyanya yang dibalas dengan anggukan kecil.

Sooyoung mengangkat tubuh kecil jagoannya setelah balita itu menguap kantuk. “Kajja kita tidur.” Segera balita itu mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher jenjang sang eomma dan kepalanya bersandar nyaman di bahu datar itu.

Sooyoung berlalu dari ruang kerjanya dan berjalan menuju kamar Hyunsoo yang diikuti ahjumma muda  dibelakangnya. Ia sempat melihat jam yang tertempel di ruang keluarga saat berlalu disana. Jam Sembilan malam, pantas saja balita ciliknya mengantuk.

Setelah sampai di kamar Hyunsoo, segera Sooyoung tidurkan anaknya di ranjang empuk yang biasa dipakai Hyunsoo. “Tidurlah, eomma disini” Sooyoung mulai menepuk-nepuk pelan lengan balitanya. Tidak lama kemudian, balita itu terlelap pulas.

Kau boleh pulang sekarang. Bawalah kue yang aku beli sore tadi. Aku sengaja membelikannya untukmu.” Jelas Sooyoung.

“Ah, gamshamida. Baiklah saya pulang dulu.” Pamit Kimi dan segera berlalu pulang.

Sooyoung menatap pintu kamar anaknya hingga tertutup kembali. Lalu ia kembali menatap putranya yang mulai menggeliat bangun, mungkin ia mendengar suara pintu tadi dan merasa terganggu. Segera Sooyoung merebahkan diri dan memanjakan Hyunsoo.

“Hyunsoo-ah, eomma saranghae. Kau adalah pelengkap hidup eomma.” Ucap Sooyoung yang sedang memandangi wajah Hyunsoo, anak pertamanya. Ia juga mengecup dalam dahi balita itu. Balita berusia satu setengah tahun itu terlihat sangat nyaman dan pulas bila sang ibu ada disampingnya.

Sooyoung menepuk lembut lengan kecil putranya. Ya, hanya dengan cara itulah Hyunsoo bisa terlelap kembali, mengingat ia telah menghabiskan waktu seharian untuk bermain puas bersama Minho, adik kandung Sooyoung. Dan pastinya dalam pengawasan Kimi.

“Maaf, eomma terlalu sibuk mengurus butik hingga jarang menemanimu, sayang. Eomma janji, ketika ada waktu luang, eomma akan sempatkan menemanimu.” Lirih Sooyoung yang sudah mulai hanyut dengan semua kesalahan-kesalahan yang ia buat. Bagaimana sibuknya menjadi wanita karier dan sedikit memiliki waktu untuk anak dan suaminya.

“Ne eomma. Aku memaafkanmu.”

Mendengar bisikan namja yang menyahuti lirihannya tersebut, Sooyoung langsung menoleh dan mendapati suaminya tengah berdiri dibelakangnya dengan badan yang sedikit membungkuk karena baru saja membisik di telinganya. Ia juga langsung mendapat kecupan kilat di bibirnya. Sooyoung yang memang setengah berbaring diujung ranjang pun langsung bangkit dan memeluk suaminya.

Kyuhyun tersenyum lebar menerima sikap manis istrinya. Sebelum ia membalas pelukan tersebut, Kyuhyun meletakkan tas kerjanya di atas meja yang ada di sebelah ranjang Hyunsoo. Dengan cepat ia membalas pelukan tersebut dengan sangat erat. Berapa kali pun mereka melakukan hal-hal kecil seperti berpelukan ini, rasa sayang, cinta, kasih, hingga rasa rindu pun tetap terasa. Bahkan semakin membeludak. Mengingat waktu untuk mereka bersama sangat jarang didapat.

Author’s POV end

 

***

 

Kyuhyun’s POV

Jam setengah sebelas malam. Hari ini jadwal meeting sangat padat. Terlebih lagi tempatnya berbeda-beda dan lumayan jauh. Entahlah, jika di suruh memilih antara pekerjaan atau keluarga, pasti aku memilih keluarga. Namun, pekerjaan pun sangat penting untuk menghidupkan keluarga tercintaku.

Resiko menjadi anak laki satu-satunya di keluarga Cho membuatku mengerjakan sesuatu yang abeoji dulu lakukan. Kalau sudah ada proyek baru, jadilah aku pulang terlalu larut. Kalau normalnya, aku bisa makan malam dirumah. Bahkan untuk menemani sang jagoan Hynsoo-ku menonton kartun favoritenya pun aku bisa.

Geunde, kita sebagai manusia biasa memang harus memilih satu diantara beberapa pilihan, bukan? Yah, memilih untuk tetap bekerja keras walau waktu untuk keluarga agak terbatas-lah yang menurutku terbaik.

Aku berjalan masuk kedalam rumah minimalis keluarga kecilku. Lampu sudah dipadamkan semua, kecuali lampu diteras dan di balkon, juga lampu kecil di setiap sudut rumah. Aku tidak melihat keberadaan istriku di ruang kerjanya saat aku melalui ruangan tersebut. Aku hendak menengok jagoanku yang sudah tertidur, ternyata aku pun mendapatkan Sooyoung, istri tercintaku, sedang menepuk-nepuk halus lengan Hyunsoo. Aku berjalan masuk secara pelan agar Sooyoung tidak menyadari kehadiranku dan agar Hyunsoo tidak terbangun.

“Maaf, eomma terlalu sibuk mengurus butik hingga jarang menemanimu, sayang. Eomma janji, ketika ada waktu luang, eomma akan sempatkan menemanimu.” Aku mendengar istriku bergumam demikian saat aku hendak mengecup pipi bulatnya.

“Ne eomma. Aku memaafkanmu.” Jawabku tepat ditelinganya, bermaksud mewakilkan jawaban Hyunsoo.

Aku tetap membungkuk dibelakang punggung istriku ketika kulihat ia berbalik dan menatapku sendu. Ah… sepertinya ia sangat kelelahan. Aku tersenyum melihat bibirnya yang berwarna merah muda. Langsung saja ku kecup singkat bibir itu. Namun, aku langsung menegakkan tubuhku saat Sooyoung mulai bangkit dari ranjang empuk Hyunsoo.

Tubuhku sedikit kaget saat ia memelukku dengan erat dan hangat. Aku tersenyum dengan kebiasaannya yang satu ini. Ya, istriku ini selalu memelukku saat ia merasa terlalu lelah. Tanpa berpikir lagi, kuletakkan tas kerjaku di atas meja yang memang terletak disebelah ranjang Hyunsoo. Kemudian, kubalas pelukan istriku dengan lebih erat dan semoga saja terasa hangat untuknya.

“Kau lelah, hn?” tanyaku, berbisik tepat ditelinganya karena aku tengah menenggelamkan wajahku dilehernya, sama dengan yang ia lakukan. Kurasa kepalanya mengangguk-angguk. Segera kutegakkan lagi tubuhku dan menarik kepalanya agak menjauh dariku. Kupandangi wajah cantiknya. Aku tersenyum dan berkata, “Bagaimana pun keadaanmu, entah sedang lelah atau tidak, kau tetap terlihat cantik.” Ucapku serius.

“Yeobo-ah…” desahnya ditengah rona merah wajahnya.

Aku tertawa kecil melihat wajah imutnya saat sedang tersipu itu. Namun, cepat-cepat kukulum tawaku dan meraih pinggangnya dengan tangan kiriku, membimbingnya menatap Hyunsoo yang sangat nyenyak. Jagoanku memang terlihat keren.

“Oppa, mandilah dulu. Aku akan siapkan bajumu, nde?”

“Ne, baiklah Nyonya Cho. Geunde, sepertinya malam ini lebih baik kita tidur disini saja bersama jagoan kita, eotte?” tawarku.

Kulihat mata Sooyoung berbinar-binar. Maklum saja, sejak umur Hyunsoo satu tahun, aku yang membuat ide agar balita cilik itu mulai tidur di kamarnya sendiri. Awalnya Sooyoung juga tidak setuju, tapi akhirnya ia pasrah dan terbiasa dengan membiarkan Hyunsoo tidur sendiri. balitaku itu benar-benar jagoan. Ia tidak pernah nangis ditengah malam seperti kebanyakan balita lain. Tentu saja ada alasannya. Hyunsoo harus tidur dengan sekaleng coklat atau biskuit untuk dijadikannya cemilan tengah malam. Aku tahu betul kebiasaan ngemil tengah malamnya itu. Yang lebih menggemaskan lagi, ia akan segera terlelap setelah memakan cemilannya. Alhasil, biscuit dan coklat masuk dalam daftar belanja bulanan kami.

Puas memandangi anakku, kulirik kesamping. Wajah istriku masih senyum-senyum dipelukanku. Kukecup dahi indahnya lalu kulepar pelukanku dipinggangnya. “Baiklah, aku mandi dulu.” Aku berlalu dari kamar Hyunsoo ke kamar utama.

Cepat-cepat kuselesaikan acara bersih-bersih badanku ini. saat keluar dari kamar mandi, kulihat Sooyoung menyiapkan piyama tidurku. Segera kudekati istriku tersebut dan memeluknya dari belakang dalam keadaan tubuhku yang setengah nack.

“Oppa, kau mengagetkanku saja.” Ia berputar balik menghadapku. Tanganku masih melingkar di tubuhnya. Kupandangi wajahnya yang juga sedang memandangiku.

Cho Sooyoung, semenit saja aku tidak melihatmu, rasa rinduku sudah menyesakkan. Bagaimana dengan hari-hari kita ini, yang selalu membuatku melihatmu dengan batasan waktu. Dan kau tahu, rasa rinduku sudah meluap sejak tadi. Kau tahu, kau adalah nafas di hidupku?

“Bogoshipeo chagie-ah.” Bisikku lagi sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dahi kami sudah menyatu, bahkan hangat nafasnya bisa kurasakan. Dan tentu, jantung ini tidak pernah berhenti berdetak kencang.

“Na do bogoshipta.” Bisiknya saat hidung kami bersentuhan.

Cho Sooyoung! Bibirmu sangat menggodaku.

Chu:*

Ku kecup ringan bibirnya beberapa kali sebelum melumatnya pelan. Beberapa menit kami tenggelam dalam hangatnya tautan bibir ini. Merasa cukup, kuhentikan kenikmatan ini. kukecup dahinya lembut.

“Oppa, pakailah bajumu sebelum kau masuk angin.”

Aku terkekeh dan tetap dalam posisiku. “Pakaikan bajunya. Aku sudah lama tidak bermanja dengan istriku ini, hn?” godaku.

“Baiklah, tapi lepas dulu pelukanmu.” Balasnya.

Aku menggeleng dan tetap dalam posisi. Sepertinya ia lelah, hingga akhirnya ia pasrah dan memakaikanku piyama yang diambilnya tadi. Setelah selesai dengan pakaian tidur, kutarik tangan Sooyoung menuju kamar Hyunsoo. “Kajja!”

Kyuhyun’s POV end

***

Sooyoung’s POV

Aku merasa sangat lelah sebelum suamiku tercinta, Cho Kyuhyun, tiba di rumah. Mungkin ini memang kehendak Tuhan yang menakdirkan kebiasaan aneh untukku. Ya, aku akan merasa kelelahanku seharian ini bisa sedikit memudar ketika memeluk suamiku. Entahlah, apa karena tubuh bidangnya atau aroma tubuhnya, yang jelas aku nyaman berada di dalam dekapannya. Seperti sekarang. Walau ada sosok malaikat kecil ditengah kami, aku akan tetap merasa nyaman karena kepalaku tetap mendapat bantal ternyaman sedunia. Apalagi kalau bukan lengan suamiku. Tangannya yang satu juga tetap mengelus punggung tangan kiriku yang ada di lengan Hyunsoo. Ia tersenyum kepadaku. Senyuman yang begitu manis. Jujur, apapun ekspresi yang ia keluarkan, aku tetap suka.

“Apa hari ini pekerjaanmu padat?” tanyanya dengan suara pelan.

Aku mengangguk dan menjawab, “Ada pelanggan yang memintaku mendisain gaun wanita dan kemeja pria yang lebih stylish. Up to date. Dan bodohnya aku yang menyanggupinya dengan batasan waktu tiga hari. Jelas saja aku harus lembur.”

Ia tersenyum dan kini tangannya yang tadi mengelus punggung tanganku sudah pindah ke wajahku. Ia mengelusnya perlahan, hingga kurasakan kehangatannya. Kupejamkan mataku sejenak guna menyerapi rasa hangat yang kuterima.

“Andai waktu itu aku membiarkanmu melanjutkan karier modelmu, apa sekarang kita bisa berkumpul seperti ini? jadi perancang saja jadwalmu sudah sangat padat, bagaimana jika menjadi modelnya? Hmm… gomawo yeobo.”

Lirih Kyuhyun yang diakhiri dengan mengecup dahiku agak lama. “Mwoga gomawo, oppa?” tanyaku heran setelah ia melepas ciumannya.

Ia tersenyum lagi dan menjawab, “Karena sudah mengorbankan dunia yang kau su-“

Chu:*

Belum ia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah membungkam bibirnya. Aku tahu apa yang akan ia katakan itu. “Jangan dilanjutkan lagi. Sudah kukatakan berkali-kali, aku lebih suka di dunia yang ada oppa didalamnya. Bukan dunia bising nan ramai yang tidak menemukanku dengan oppa. Aku lebih suka di duniamu dan Hyunsoo. Dunia kita bersama. Jadi, jangan katakana itu lagi, arra?”

Kulihat senyuman Kyuhyun semakin lebar hingga menampakkan deretan giginya. “Arraseo Nyonya Cho. Tidurlah, jaljayeo chagie.” Ucapnya seraya mengecup bibirku singkat.

Kubalas perlakuan manisnya tersebut, lalu berkata, “Jaljayeo yeobo…”

Setelah itu, tidurku benar-benar lelap. Sungguh, selama ada suami dan anakku, aku yakin aku akan selalu mendapatkan kenyamanan yang tak bisa dibeli dengan uang atau barang berharga lainnya. Karena yang paling berharga adalah kebersamaan kami. Kyuhyun, Hyunsoo, dan tentu saja aku sendiri.

 ***

_END_

 

Gimana? Kena gak romansa manisnya? Hihihi

So,

Don’t forget to write your opinion about this story, nde?

 

Gomawoo . . . \(^,*)/

 .

.

.

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s