[Songfict] Last Kiss


image


Author: Shanne Viviana.

Cast: Lee Dong Hae, Park Min Chan, others.

Credit Poster by: Lee Rihyun – Yoora Art Design

Note: red are flashback.
***

Jung-gu, Seoul, South Korea.
January 11th, 2014.

Malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya yang dilalui oleh Min Chan di rumahnya. Sepi. Tak ada siapapun yang ada di dalam kecuali dirinya sendiri. Gadis itu kembali menghela nafas berat—entah untuk yang keberapa kalinya hari ini—setelah sebelumnya menaruh kantong plastik belanjaannya di atas meja makan tanpa berniat mengeluarkan barang-barang yang ada di dalamnya sama sekali.

Gadis itu berjalan ke arah sofa besar yang berada di ruang santai apartemennya kemudian menyalakan televisinya. Tatapannya menatap lurus ke arah layar televisinya. Terlihat seperti sedang benar-benar memusatkan seluruh konsentrasinya pada acara tersebut. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu. Ia bahkan tidak tahu sama sekali apa yang ia tonton, ia melakukannya semata-mata hanya untuk terlihat seperti “manusia normal” lainnya. Melakukan aktivitas mereka seperti biasanya tanpa dibayang-bayangi oleh sesuatu.

Gadis itu berharap ia bisa seperti mereka. Gadis itu berharap agar kehidupannya tidak lagi dibayang-bayangi oleh memori tentang pria itu. Gadis itu berharap agar kehidupannya bisa sama lagi seperti sebelum ia bertemu dengan pria itu. Pria yang sudah berhasil membuat hidupnya terasa seperti bukan hidup sebenarnya jika tanpa pria itu.

Sembilan belas November dua ribu sebelas, jam sebelas lebih lima belas menit. Ia masih ingat jelas tanggal dan waktu itu. Dan ia juga masih mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat itu. Entah itu keberuntungannya atau justru kesialannya. Karena pada saat itu, ia bertemu dengan pria itu. Pria pertama dan satu-satunya yang berhasil membuatnya sekarat seperti ini.

Pertemuan yang mungkin terlihat tidak berarti bagi sebagian orang, tapi itu sangat amat berarti baginya.

Saat itu, ia sedang berlari-lari di tengah kerumunan orang di Pasar Dongdaemun. Seingatnya, saat itu ia sedang melarikan diri dari Bibi penjual jjangmyeon karena ia tidak membayar jjangmyeon milik Bibi itu dengan alasan lupa membawa uang. Tapi memang seperti itu kenyataannya. Ia memang tidak membawa uang pada saat itu—walaupun seingatnya ia membawa uang sebelum pergi ke pasar tersebut, tapi entah kenapa saat ia hendak membayar jjangmyeon itu, dompetnya tidak ada.

Saat ia sedang berlari, secara tidak sengaja ia bertabrakan dengan pria itu. Mungkin saat itu otaknya sedang tidak berpikir dengan jernih. Karena sedetik setelah ia bertabrakan dengan pria itu, alih-alih meminta maaf, ia justru menunjuk pria itu sebagai kekasihnya kepada Bibi penjual tersebut dan berkata kalau pria itulah yang akan membayar makanannya kepada Bibi itu. Tentu saja pria itu terkejut bukan main. Mungkin pria itu belum pernah bertemu dengan gadis segila dirinya yang dengan tidak tahu malunya meminta agar dibayarkan makanannya. Dengan perasaan tidak rela, pria itu akhirnya memilih membayar jjangmyeon tersebut. Setelah Bibi penjual tersebut pergi, ia langsung tersenyum meminta maaf sekaligus berterima kasih kepada pria itu dan langsung bergegas pergi, membuat pria itu semakin mematung dibuatnya.

Pertemuan itu kemudian berlanjut pada pertemuan-pertemuan tidak sengaja selanjutnya. Ia juga tidak tahu apa itu kebetulan atau memang itu sudah takdir yang dibuat sedemikian rupa oleh Tuhan.

Gadis itu tertawa miris ketika pikirannya lagi-lagi melayang pada kejadian itu. Seharusnya ia bisa menghapus memori itu dari otaknya. Seharusnya ia bisa menghilangkan sosok pria itu dari otaknya. Seharusnya ia tidak pernah jatuh cinta pada pria itu. Seharusnya … Seharusnya … pria itu tidak pernah muncul di kehidupannya. Pria yang sangat dibencinya karena ia terus mencintai pria itu, karena ia tidak bisa dan tidak ingin mengganti pria itu dengan pria lainnya, karena … ia hanya menginginkan pria itu. Pria yang tidak bisa ia miliki lagi.

“Aku … mencintaimu,” ujar Dong Hae tiba-tiba tepat di telinga Min Chan, membuat gadis itu sontak saja terkejut dan menatap ke arah pria itu dengan pandangan tidak percaya. Tapi pria itu hanya tersenyum dan kembali mengulang ucapannya. “Aku mencintaimu, Min Chan~a …”

Bahu gadis itu semakin terguncang ketika kilasan memori itu kembali berputar di otaknya. Memori yang seharusnya ia buang, bukan? Untuk apa terus-menerus menyimpan memori yang hanya akan menyakitinya? Tapi … ia tidak mau membuangnya, walaupun ia tahu seharusnya tidak seperti itu. Ia tidak mau memori tentang pria itu terbuang, sedikitpun. Ia tidak mau. Dia … benar-benar seorang idiot, bukan? Menyimpan sesuatu yang hanya akan menyakitinya. Benar-benar bodoh.

I still remember the look on your face.
Lit through the darkness at 1:58
The words that you whispered for just us to know.
You told me you loved me so why did you go away? Away.

~~~

July 9th, 2012.

“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau—“

Ucapan Dong Hae sontak saja terputus saat Min Chan tiba-tiba saja memeluknya, membuat pria itu terkejut dibuatnya. Tubuhnya masih mematung, tidak sanggup berbuat apapun. Tangan kanannya masih memegang erat sebuah payung, membuat tubuh mereka masih terlindungi dari derasnya air hujan yang jatuh saat itu.

“Min Chan~a …”

“Aku kabur dari pesawatku. Bagus, bukan?” ucapnya seraya masih memeluk Dong Hae, membuat suaranya tidak terdengar terlalu jelas.

“Mwo?”

“Aku akan ke Jepang untuk liburan, sedangkan kau akan sibuk dengan pekerjaanmu di Korea. Aku rasa liburanku tidak akan menyenangkan. Jadi lebih baik aku batalkan saja liburanku, ku rasa itu lebih baik. Iya ‘kan?” ucapnya lagi setelah sebelumnya melepaskan pelukannya. Gadis itu menatap wajah Dong Hae lekat kemudian tersenyum. “Kau … terlihat tampan hari ini.”

“Ah, kau baru tahu? Bukankah aku memang selalu terlihat tampan?” Dong Hae mengerling jahil yang membuat Min Chan langsung mendengus, menyesali ucapannya tadi. “Kau akan menyesal karena membatalkan liburanmu, kau tahu?” ucapnya lagi, mendekatkan wajah mereka berdua, membuat hidung mereka bersentuhan.

Min Chan menarik nafasnya dengan susah payah saat ia bisa merasakan dengan jelas hembusan nafas pria itu di wajahnya. Tapi gadis itu sama sekali tidak berusaha untuk mundur, ia masih tetap pada posisinya semula. Bahkan gadis itu sama sekali tidak peduli jika Dong Hae dapat mendengar detak jantungnya yang tidak beraturan saat ini.

“Tidak akan. Aku tidak akan menyesal sama sekali.” Min Chan dapat mendengar jika suaranya memberat saat tadi berbicara. Bola matanya bergerak-gerak, meneliti setiap inci wajah pria itu tanpa berkedip sama sekali. Dan saat itu juga ia tahu bahwa pria inilah yang ia inginkan untuk menua bersamanya. Tidak ada pria lain. Hanya pria ini, Lee Dong Hae.

“Kau bahagia?” tanya Dong Hae retoris.

“Apa kau perlu bertanya?” tanya Min Chan balik seraya memutar bola matanya jengah, membuat Dong Hae terkekeh kecil sebelum akhirnya menyentuhkan bibirnya pada gadis itu. Ia melakukannya dengan lembut, tanpa ada kesan terburu-buru sama sekali. Seperti layaknya ciuman pertama. Karena memang nyatanya itu adalah ciuman pertama mereka.

“Untuk ciuman pertama, kau cukup hebat,” goda pria itu setelah melepaskan ciuman mereka, tanpa menjauhkan sama sekali posisi tubuh mereka.

“Sialan kau,” desisnya pelan, membuat Dong Hae terkekeh saat melihat reaksi yang diberikan Min Chan.

I do recall now the smell of the rain.
Fresh on the pavement, I ran off the plane.
That July 9th the beat of your heart.
It jumps through your shirt, I can still feel your arms.

~~~

January 11th, 2014.

Min Chan memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Gadis itu lantas melemparkan tasnya asal ke atas ranjangnya kemudian mendudukan dirinya di atas ranjang. Kepalanya menoleh ke arah sebuah lemari besar yang berada di sudut kiri kamarnya. Dan untuk kesekian kalinya, pikiran gadis itu kembali melayang kepada pria itu.

“Saengil chukkae!” seru Min Chan begitu memasuki ruangan Dong Hae, membuat pria itu sontak saja mendongak menatap Min Chan dengan pandangan terkejut. Min Chan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, terlihat sekali bahwa ia sedang salah tingkah. “Ehm … Aku tidak tahu apa yang kau suka. Jadi … aku harap kau suka hadiahku,” ujarnya seraya memberikan sebuah bingkisan pada pria itu.

“Baju?” tanya Dong Hae begitu ia membuka bingkisan itu.

“Ah, itu … Kemarin aku tidak sengaja melihatnya dan … kupikir itu cocok untukmu. Jadi—“

Ucapan Min Chan terpotong saat Dong Hae bergerak memeluknya, membuat gadis itu nyaris saja berteriak kaget. “Gomawo,” bisik pria itu tepat di telinga Min Chan. Bahkan pria itu dapat merasakan tubuh Min Chan mengejang kaku saat ia memeluknya secara tiba-tiba seperti ini. Sedetik kemudian, Dong Hae lantas melepaskan pelukannya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Min Chan sampai dahi mereka bersentuhan, mengikis jarak di antara mereka. “Gomawo … Saranghae …”

Gadis itu terisak keras seraya mencengkram erat baju yang kini sedang dikenakannya. Baju yang dulu diberikannya untuk pria itu disaat ulang tahun pria itu dua tahun lalu. Tapi, sekarang baju itu kembali padanya. Bahkan pria itu sendiri yang mengembalikan baju itu padanya. Benar-benar berniat meninggalkannya, sepertinya.

“Ini milikmu, bukan? Sepertinya aku harus mengembalikannya. Dan … aku harap kita tidak akan bertemu lagi,” ujarnya pelan tapi jelas. Pria itu menarik nafas berat sejenak, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan gadis yang sedang terisak itu sendirian.

Susah payah Min Chan menarik nafasnya karena isakannya itu. Sebenarnya ia ingin berhenti untuk menangisi pria berengsek itu, tapi airmata sialan ini tidak ingin menuruti keinginannya. Sebenarnya ia ingin menghilangkan bayangan pria itu dari otaknya, tapi … tidak bisa. Sebenarnya ia ingin mengganti pria itu dengan pria lainnya di luar sana, tapi lagi-lagi ia tidak bisa. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya jika tidak bersama pria itu. Ia sama sekali tidak bisa membayangkannya.

Min Chan tersenyum miris. Lihat? Bahkan tubuhnya sendiri mengkhianatinya. Benar-benar sial!

But now I’ll go sit on the floor, wearing your clothes.
All that I know is I don’t know how to be something you’d miss.
Never thought we’d have a last kiss.
Never imagined we’d end like this.
Your name, forever the name on my lips.

~~~

December 31st, 2012.

Min Chan menghentikan langkahnya saat hendak memasuki sebuah gedung yang lumayan terlihat mewah itu, membuat Dong Hae sontak saja ikut menghentikan langkahnya dan menatap Min Chan dengan tampang penasaran. “Waeyo?”

“Aku rasa ini bukan ide yang bagus. Kau tahu sendiri bukan jika aku sama sekali tidak suka keramaian. Dan lagi, aku sama sekali tidak mengenal orang-orang di dalam sana. Mereka semua ‘kan teman sekolahmu dulu. Aku pasti akan terlihat bodoh di sana,” sungut Min Chan. “Mungkin lebih baik kau saja yang masuk dan … sepertinya aku akan pulang saja,” lanjutnya lagi kemudian berbalik, hendak pergi dari tempat itu. Tapi belum sempat ia melangkah, lengannya sudah lebih dulu dicengkram oleh seseorang, membuat ia menoleh menatap orang tersebut.

“Ayolah. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, eoh?”

“Tapi …” Min Chan menghentikan ucapannya saat melihat Dong Hae mengubah mimik wajahnya menjadi memelas, membuat gadis itu hampir saja tertawa lepas. “Baiklah, baiklah. Aku akan masuk. Aish, jinjja! Aku bisa muntah jika melihat raut wajahmu yang seperti tadi,” desis Min Chan pelan.

Dong Hae tertawa sejenak kemudian mengedikan bahunya. “Yah, setidaknya itu berhasil ‘kan?” ucapnya enteng, membuat Min Chan mendengus.

“Ah, Lee Dong Hae! Lama tidak bertemu! Bagaimana kabarmu?” sahut seorang pria begitu mereka masuk ke dalam gedung itu. Matanya beralih menatap Min Chan penasaran, kemudian kembali menatap Dong Hae. “Kekasihmu?” tanya pria itu seraya melirik Min Chan. Lagi-lagi dengan tampang penasaran.

“Calon istriku,” sergah Dong Hae, meralat ucapan pria di hadapannya itu. “Gadis yang berada di sebelahku ini, dia calon istriku,” lanjutnya, membuat Min Chan sontak beralih menatapnya tidak percaya. Gadis itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

Mereka bahkan belum membicarakan apapun tentang pernikahan sebelumnya. Dan pria itu langsung mengenalkan dirinya sebagai calon istri dari pria itu di hadapan temannya? Astaga! Pria itu sudah gila sepertinya.

“Ah, begitu rupanya.” Pria di hadapan Dong Hae itu kemudian beralih menatap Min Chan dengan senyuman yang terlukis di wajahnya. “Park Jung Soo imnida,” ujarnya seraya mengulurkan tangannya kepada Min Chan.

“N-ne. Park Min Chan imnida,” ujarnya balas menjabat tangan Jung Soo.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang!” seru Jung Soo masih dengan senyumannya sembari berjalan menjauh dari mereka kemudian menghilang entah kemana ditengah-tengah kerumunan orang.

“Apa kau sudah gila?” desis Min Chan pelan begitu pria yang diketahuinya bernama Park Jung Soo itu pergi.

Dong Hae menoleh. “Apa?”

“Mengenalkan aku sebagai calon istrimu. Apa kau sudah gila? Kau bahkan belum melamarku sama sekali.”

“Untuk apa? Aku lamar atau tidak, kau pasti akan tetap bersedia menikah denganku ‘kan?” ujar Dong Hae enteng tanpa menatap Min Chan sama sekali, ia justru sibuk menebar senyum pada teman-teman lamanya yang tidak sengaja melintas di depannya.

“Kalau aku tidak mau?” tantang Min Chan yang kali ini sukses membuat Dong Hae menghentikan aktivitasnya tadi, dan beralih menatap Min Chan lekat.

“Kau harus mau, karena aku sama sekali tidak mengenal penolakan. Atau mungkin … aku akan menyeretmu ke altar saat itu juga. Sepertinya itu bagus juga. Aku akan mempertimbangkannya,” ujar Dong Hae. Terlihat seperti gurauan, memang, tapi dari nadanya sama sekali tidak terdengar seperti gurauan. Malah justru itu terdengar sangat serius. Yang artinya pria itu benar-benar akan melakukan apa yang diucapkannya tadi jika itu diperlukan.

“Kau gila,” gumam Min Chan tidak percaya.

Dong Hae kembali menoleh. Kali ini benar-benar memusatkan pandangannya pada Min Chan. Pria itu kemudian tersenyum simpul. “Berarti kau idiot karena mencintai pria gila sepertiku.”

“Cih! Kau ini benar—“

Belum sempat Min Chan menyelesaikan ucapannya, alunan musik berubah menjadi lebih lembut. Seolah bisa membaca arti dari tatapan Dong Hae, gadis itu buru-buru menolak. “Tidak, tidak. Aku tidak bisa berdansa,” tolaknya. Bahkan sebelum Dong Hae mengajaknya.

“Bukankah sudah kukatakan tadi bahwa aku sama sekali tidak menerima penolakan,” tandas Dong Hae pelan seraya meraih tangan Min Chan, sedangkan gadis itu hanya bisa berdecak kesal. Sepertinya pria itu benar-benar tidak ingin dibantah hari ini.

Min Chan menghela nafas berat sebelum menyambut uluran tangan pria itu yang menuntunnya ke tengah ruangan ini. Sungguh, ia benar-benar membenci hal-hal seperti ini. Dan mungkin, ia akan benar-benar akan mengutuk pria itu jika sampai mempermalukannya dihadapan orang banyak seperti ini.

Jika saja Min Chan tidak mendelik kesal padanya, mungkin Dong Hae sudah tertawa lepas saat melihat raut wajah terpaksa yang gadis itu tunjukan. “Awas saja jika kau berani mempermalukanku, Lee Dong Hae~ssi,” desis gadis itu berbahaya, membuat Dong Hae buru-buru mengangguk—walaupun pria itu masih terlihat menahan tawanya.

Dong Hae meletakan tangan kanannya di pinggul gadis itu, sedangkan tangan kirinya menyentuh jari-jemari gadis itu. Sesaat mereka berdua hanya dapat mematung. Sama sekali tidak dapat berbuat apapun kecuali menatap orang yang berada di hadapannya. Sampai tiba-tiba suara Min Chan membuyarkan semuanya. “Kita … Kita tidak … akan berdiam diri saja disini, bukan?” Suara gadis itu terdengar terbata-bata. Tatapan matanya pun tidak jelas menatap ke mana.

Dong Hae berdehem pelan, berusaha kembali mengendalikan dirinya. “Tentu saja,” ujarnya. “Untuk seseorang yang mengaku tidak bisa berdansa, kau cukup hebat,” ujarnya lagi diiringi kekehan kecilnya, sedangkan Min Chan hanya memutar bola matanya sebagai balasan atas komentar Dong Hae tadi.

“Min Chan~a,” panggil Dong Hae tiba-tiba yang hanya dijawab gumaman oleh Min Chan. “Aku mencintaimu,” lanjutnya pelan yang lagi-lagi dijawab dengan gumaman dan anggukan oleh Min Chan.

“Hmm … Aku tahu,” jawab gadis itu. “Karena aku juga mencintaimu. Untuk hal yang satu ini, kau pasti tahu, bukan?” tanya Min Chan yang dibalas senyuman tipis oleh Dong Hae.

I do remember the swing of your step.
The life of the party, you’re showing off again.
And I roll my eyes and then you pulled me in.
I’m not much for dancing but for you I did.

~~~

January 9th, 2013.

“Kau sudah bangun? Lihat, siapa yang datang,” ujar Sung Wan saat melihat Min Chan sedang berjalan menuruni tangga, masih dengan tampang mengantuknya dan rambut yang setengah acak-acakan. Terlihat sekali bahwa ia baru saja bangun dari tidurnya.

Min Chan mendongak saat mendengar ucapan Appa-nya tadi. Matanya sontak saja melebar saat melihat siapa yang dimaksud oleh Appa-nya tadi. Astaga! Ia tidak salah melihat, bukan? Pria … yang berada di sebelah Appa-nya itu … Dong Hae? Lee Dong Hae? Untuk apa pria itu datang sepagi ini?

“Kau! Sedang apa kau disini?!” tanyanya, setengah berlari menuruni tangga menuju ke arah Dong Hae.

“Tadi Dong Hae ada sedikit kepentingan dengan Appa,” sela Sung Wan masih dengan senyum lebarnya, membuat Min Chan merasa sedikit aneh dengan ekspresi Appa-nya itu. “Ah ya, satu lagi. Sepertinya pernikahan kalian bisa dilangsungkan, sekitar … dua bulan lagi. Bagaimana? Kalian setuju?” lanjutnya yang langsung membuat Min Chan menganga tidak percaya.

“Mwo?” tanya Min Chan, memastikan bahwa ia tidak salah mendengar tadi. Mungkin saja kan telinganya sedang error karena efek baru bangun dari tidurnya.

“Dong Hae datang kemari untuk melamarmu. Dan, Appa pikir, tanpa perlu bertanya pun, kau pasti setuju bukan? Jadi, lebih baik kau bersiap-siap untuk pernikahanmu, dua bulan lagi,” ujar Sung Wan menjelaskan.

Min Chan beralih menatap Dong Hae, seolah meminta penjelasan atas ucapan Appa-nya tadi. Tapi sayang, jawaban yang dikeluarkan pria itu selanjutnya benar-benar jauh dari harapannya. “Wae? Appa-mu saja setuju, masa kau tidak? Lagipula aku sudah berkata padamu sebulan yang lalu bukan, kalau aku sama sekali tidak menerima penolakan?”

Min Chan menatap kedua pria dihadapannya itu dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka membicarakan masalah ini di saat ia sedang dalam keadaan acak-acakan seperti ini? Astaga, ini benar-benar memalukan. Ia yakin sekali, pasti pria itu sedang berusaha menahan tawanya saat ini.

“Tapi Appa …”

“Sebaiknya kau cepat mandi. Kau tidak ingin Dong Hae menunggu lebih lama lagi, ‘kan?” sergah Gi Sook cepat. “Kau ini benar-benar … Kau itu anak perempuan, seharusnya kau terlihat seperti anak perempuan lainnya yang sudah sibuk berdandan sejak pagi. Bukannya seperti ini. Memalukan Eomma saja.”

“Eomma!” protesnya tidak terima. Gadis itu melirik Dong Hae dengan tatapan tajam saat pria itu sedang berusaha menahan tawanya ketika Gi Sook seperti sedang berusaha memalukannya di depan Dong Hae. “Arraseo …” ujarnya pasrah saat Gi Sook kembali menatapnya tajam.

~~~

Myeongdong, Seoul, South Korea.

“Myeongdong? Kau membawaku ke Myeongdong?!” tanya Min Chan dengan mata melebar, sedangkan Dong Hae hanya menatap gadis itu tidak mengerti. “Astaga! Kau tahu sendiri kan kalau aku benci berbelanja. Lalu kenapa kau masih membawaku kemari? Kalau kau ingin membeli sesuatu, beli saja sendiri. Aku disini saja. Aku sedang tidak berminat,” ujarnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada tanpa menatap Dong Hae sama sekali.

“Ikut saja. Arra?” ujar Dong Hae tegas tanpa menggubris sama sekali ucapan Min Chan tadi. Pria itu kemudian keluar, mengitari mobilnya, membuka pintu di samping kursi penumpang, dan dengan seenaknya menarik tangan Min Chan untuk keluar dari mobil itu. Bahkan pria itu sama sekali tidak peduli dengan protesan yang dikeluarkan Min Chan untuk dirinya.

“Memangnya hari ini kau tidak bekerja?” tanya Min Chan tiba-tiba, setelah beberapa menit tanpa ada percakapan sama sekali diantara keduanya.

“Tidak,” jawabnya singkat tanpa menatap Min Chan, membuat gadis itu mendengus kesal melihat kelakuan pria yang saat ini sedang berjalan dengan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celananya.

Min Chan berjalan mengikuti Dong Hae dengan langkah malas. Ia bingung, kemana tujuan pria ini sebenarnya? Sudah dua puluh lima menit, mereka hanya berjalan-jalan saja disini tanpa memasuki toko apapun juga. Pria ini benar-benar … Ingin menguji kesabarannya, rupanya.

“Ya! Lee Dong Hae! Apa maksudmu, sebenarnya? Kita sudah berjalan-jalan selama ini, dan kau bahkan tidak masuk ke satu toko pun? Kau sadar tidak kalau aku sudah sangat lelah saat ini? Masih banyak pekerjaan yang bisa aku lakukan di rumah daripada berjalan-jalan seperti ini. Aku kan sudah bilang sejak awal jika aku sedang malas, dan—“

Mata gadis itu sontak saja melebar saat ia merasakan bibir pria itu menyentuh bibirnya dengan lembut. Bahkan tubuhnya masih mematung sempurna saat pria itu melepaskan tautan bibir mereka. Otaknya seolah sama sekali tidak berfungsi saat ini. Ia tidak bisa memikirkan apapun juga. Benar-benar terlihat bodoh, bukan? Astaga, sejak kapan sentuhan pria itu akan berefek seperti ini pada dirinya?

“Sejak kapan kau menjadi sangat cerewet, hah?” tanya Dong Hae tidak habis pikir. Hal itu hanya berlangsung sedetik, karena detik berikutnya pria itu menatap Min Chan dengan tatapan menyelidik. “Atau mungkin … kau sengaja melakukannya agar aku menciummu seperti itu. Berusaha membuatku menghentikan ucapanmu dengan cara membungkam bibirmu dengan bibirku. Begitu?”

Mata gadis itu mengerjap pelan, berusaha mengembalikan fokusnya saat mendengar tuduhan yang diberikan pria itu kepadanya. “M-mwo?”

“Katakan saja jika kau memang ingin melakukan itu. Tidak perlu bersikap seperti itu.” Nada itu terdengar begitu ringan, sedangkan matanya masih menatap lekat wajah gadis itu. Tidak peduli jika ekspresi wajah gadis di hadapannya ini sudah mulai berubah menjadi kesal, merasa tidak terima dengan tuduhan yang pria itu layangkan untuknya.

“Ya!! Tidak mungkin aku berpikiran sampai seperti itu. Setidaknya otakku masih lebih waras dibanding otak mesummu. Untuk apa kau menciumku di tengah-tengah kerumunan orang banyak seperti ini, eoh? Ingin menjadikan kita tontonan yang menarik, begitu?” seru Min Chan kesal, sedangkan pria itu hanya mengedikan bahunya acuh kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Tapi itu hanya berlangsung beberapa detik, karena setelahnya pria itu kembali menatap gadis itu dengan mata yang disipitkan, membuat gadis itu merasa sedikit risih. “Wae? Kenapa menatapku seperti itu?”

“Kau tidak mengikat rambutmu …” gumam Dong Hae. “Mana ikat rambutmu?” tanya pria itu lagi, sedangkan gadis itu hanya menatap Dong Hae dengan tampang bodohnya, seolah jiwanya masih melayang entah kemana dan hanya meninggalkan raganya saja.

Merasa reaksi yang diberikan gadis itu terlalu lama, pria itu dengan tidak sabar menarik tas selempang gadis itu, merogoh-merogoh isi di dalamnya dan tersenyum simpul—yang persis terlihat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan barunya—ketika ia menemukan benda yang dicarinya. Pria itu mengitari tubuh Min Chan, dan berdiri tepat di belakang gadis itu, mengumpulkan rambut gadis itu dan mengikatnya menjadi satu secara asal, membiarkan anak rambut gadis itu terjuntai di sisi wajahnya.

Dong Hae kembali mengitari tubuh gadis itu, memposisikan tubuhnya tepat di depan gadis itu. Pria itu terkekeh pelan ketika melihat reaksi gadis itu yang masih mematung. Hanya beberapa detik, karena setelahnya pria itu menatap wajah gadis di hadapannya dengan tatapan hangatnya. “Kau mengabaikan perintahku lagi, kau tahu? Kapan kau bisa berhenti melakukan hal itu?”

Min Chan menarik kedua sudut bibirnya ke belakang. Matanya menatap fokus objek di depannya tanpa berkedip sedetikpun. Mengagumi bagaimana pria itu ketika sedang menarik nafasnya. Mengagumi bagaimana pria itu saat ia menarik kedua sudutnya bibirnya, membentuk sebuah senyuman. Mengagumi bagaimana pria itu menatapnya dengan tatapan hangatnya. Mengagumi setiap lekuk wajah pria itu yang membingkai wajahnya dengan begitu sempurna. Astaga, bagian mana dari pria yang tidak membuatnya terpesona?

“Kenapa aku harus menurutinya jika kau bisa melakukannya untukku?”

Because I love your handshake, meeting my father.
I love how you walk with your hands in your pockets.
How you kissed me when I was in the middle of saying something.
There’s not a day I don’t miss those rude interruptions.

~~~

January 11th, 2014.

Min Chan menyembunyikan kepalanya di balik kedua lututnya, sedangkan bahu gadis itu masih terisak kencang sejak tadi. Sebanyak apapun gadis itu mencoba meredam isakannya, hal itu tetap sia-sia. Nyatanya, isakannya sama sekali tidak berhenti. Bahkan cairan bening itu terus terjatuh dari pelupuk matanya tanpa bisa dihentikan. Ia tahu keadaannya sekarang pasti sangat kacau. Wajahnya pasti sudah kotor karena airmatanya, matanya sembab, hidungnya memerah, tapi ia bahkan tidak peduli sama sekali. Satu-satunya yang ia pedulikan saat ini adalah bagaimana caranya agar ia bisa melupakan pria itu.

Bukankah waktu itu mereka sudah sempat membicarakan tentang pernikahan? Bukankah waktu itu pria itu sudah melamarnya? Lalu kenapa satu bulan setelah itu, pria itu justru berkata padanya bahwa … hubungan mereka sudah cukup. Bahwa hubungan mereka tidak perlu dilanjutkan lagi. Apa saat pria itu melamarnya dulu, dia hanya bermain-main saja? Apa pria itu menganggap bahwa pernikahan adalah sebuah permainan? Kenapa … Kenapa pria itu sangat jahat padanya?

“Mungkin … sebaiknya kita berpisah saja.”

Suara itu … Untuk pertama kalinya suara itu terdengar seperti nyanyian kematian di telinganya. Suara yang selalu ia butuhkan untuk menenangkannya, saat itu benar-benar terdengar seperti vonis kematian yang dijatuhkan oleh Hakim. Bahkan saat itu ia seolah lupa bagaimana caranya menarik nafasnya dengan benar. Paru-parunya terasa sesak, pasokan oksigen yang biasanya selalu dengan mudah ia dapatkan, saat itu seperti sesuatu yang sangat langka. Tubuhnya kaku total, bahkan untuk bergerak sedikit saja rasanya sangat sulit. Dan saat itu juga ia tahu bahwa ia baru saja kehilangan penopangnya. Ia tidak yakin bahwa ia bisa hidup tanpa penopangnya, tanpa pria itu disisinya. Pria yang menjadi alasannya untuk terus hidup. Pria itu adalah hidupnya, lalu bagaimana ia bisa melanjutkan hidup tanpa pria itu?

Oh baiklah, katakan ia gila karena sedetik setelah pria itu mengatakan hal itu dan pergi meninggalkannya, gadis itu justru berlari mengejar pria itu dengan tatapan yang benar-benar kosong. Benar-benar memperlihatkan raga yang tanpa ada jiwa sama sekali didalamnya. Ia sama sekali tidak peduli apa pikiran pria itu terhadap dirinya. Ia sama sekali tidak peduli! Ia hanya butuh pria itu agar dapat berbalik dan kembali menatapnya seperti dulu. Ia … sangat membutuhkan pria itu.

“Gajima …” ujar Min Chan nyaris terdengar seperti bisikan. Kedua tangannya melingkar di sekitar perut pria itu, memeluk pria itu dari belakang, membiarkan airmatanya membasahi bagian belakang kemeja pria itu. “Jebal gajima, Hae …” Ia tidak peduli jika pria itu beranggapan dirinya sudah tidak mempunyai harga diri lagi karena dengan begitu mudahnya mengemis-ngemis agar pria itu dapat kembali lagi padanya.

Tangan Dong Hae perlahan berusaha melepaskan tangan Min Chan yang melinggar di perutnya. Tapi alih-alih berbalik seperti yang diharapkan oleh Min Chan, pria itu justru tetap berdiri di tempatnya tanpa berbalik dan menatap Min Chan sama sekali. “Ada gadis lain. Aku jatuh cinta pada gadis lain. Aku tidak bisa hidup tanpa gadis itu.”

Tubuh gadis itu sontak saja mengejang kaku saat rentetan kalimat yang baru saja keluar dari mulut pria itu mengalun di telinganya. Gadis itu menggeleng pelan, tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya seraya menggigit bibir bawahnya, berusaha agar pria itu tidak mendengar isakannya. Ia sebenarnya tidak ingin mempercayai pria itu, tapi ucapan pria itu selanjutnya justru semakin membuat lututnya lemas.

“Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa gadis itu.”

“LALU BAGAIMANA DENGANKU?!! Kau pikir setelah ini aku masih bisa melanjutkan hidupku dengan baik, HAH?!!” Teriakan itu sukses lolos dari tenggorokannya. Nafasnya terengah-engah sembari masih menatap punggung pria itu nanar, karena pria itu yang masih menolak untuk menatap wajahnya.

Akhirnya pria itu mengalah, memilih untuk berbalik dan menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia menghela nafas berat sebelum akhirnya berkata, “Dengar, aku akan tetap melanjutkan hidupku setelah ini, begitu juga kau. Aku yakin itu.”

Gadis itu menatap nanar pria di hadapannya. Tatapan … yang mungkin ia sendiri tidak bisa deskripsikan. Gadis itu menelan ludahnya susah payah, sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang sejak tadi sudah berada di ujung lidahnya. “Aku … hanya ingin bersamamu. Hanya itu, Hae …”

Min Chan meremas baju Dong Hae yang masih dikenakannya seraya menggeleng pelan, seolah berusaha mengatakan bahwa ucapan yang dikatakan pria itu salah. Ia memang tetap melanjutkan hidupnya, tapi ia merasa tidak seperti itu. Ia merasa hidupnya tidak seperti hidupnya dulu saat masih bersama pria itu. Ia … merasa hidupnya tidak benar, tidak seharusnya seperti ini.

Lamunan gadis itu seketika buyar saat mendengar decitan pintu apartemennya yang terbuka. Ia lantas buru-buru menghapus sisa-sisa airmata yang masih berada di wajahnya, kemudian beranjak keluar dari kamarnya, berusaha terlihat seolah dirinya baik-baik saja.

“Eo? Kau sudah pulang? Eomma pikir kau belum pulang,” sahut Gi Sook, mendudukan dirinya di sofa. Wanita paruh baya itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tatapannya berhenti saat ia melihat sebuah foto yang masih terpajang di atas nakas samping ranjang Min Chan, karena pintu kamar itu yang setengah terbuka.

Gi Sook menghela nafas berat saat melihat keadaan anak sulungnya itu. Sudah hampir satu tahun ia melihat keadaan Min Chan yang seperti ini, dan hal itu semakin memburuk setiap harinya. Gadis itu berusaha bersikap baik-baik saja di depan semua orang, tapi ia tahu … Ia tahu kalau sebenarnya gadis itu tidak baik-baik saja. Sama sekali tidak baik.

Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Min Chan dengan tatapan khawatir. “Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Waktu terus berjalan. Eomma dan Appa juga akan semakin tua. Apa tidak sebaiknya kau—”

“Arra,” sela Min Chan cepat. Tatapan gadis itu terus menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang. “Aku … akan melupakannya. Eomma tenang saja.”

And I’ll go sit on the floor, wearing your clothes.
All that I know is I don’t know how to be something you miss.
Never thought we’d have a last kiss.
Never imagined we’d end like this.
Your name, forever the name on my lips.

~~~

January 12th, 2014.
Twosome Coffee, Myeongdong, Seoul, South Korea.

Min Chan menghela nafas berat untuk yang kesekian kalinya hari ini. Berkali-kali ia mengotak-atik ponselnya, untuk mengurangi rasa bosannya karena orang yang sejak tadi ditunggu-tunggunya tidak kunjung datang juga. Ia benci menunggu. Dan kalau tidak salah, orang itu juga tahu tentang hal itu, lalu kenapa dia masih terlambat juga?

Sesaat kemudian, gadis itu justru menyesali keputusannya tadi. Bukannya mengurangi rasa kebosanannya, gadis itu justru merasa nafasnya tercekat saat ia melihat foto-fotonya bersama pria itu masih tersimpan rapi di dalam ponselnya. Foto itu masih disini, masih bersamanya. Tapi pria itu … Ia bahkan tidak tahu dimana pria itu saat ini. Ia tidak tahu bagaimana keadaan pria itu saat ini. Tidak tahu apakah pria itu makan dengan baik atau tidak. Ia sama sekali tidak tahu. Pria itu bagaikan hilang ditelan bumi begitu saja. Setelah hari itu, ia sama sekali tidak pernah melihat pria itu lagi. Pria itu … benar-benar menghilang dari hidupnya.

Min Chan menggeleng. Tidak. Seharusnya ia tidak perlu memikirkan pria itu lagi sekarang. Bukankah semalam ia sudah berjanji bahwa ia akan melupakan Dong Hae? Jadi seharusnya mulai dari hari ini ia tidak boleh memikirkan tentang pria itu lagi, ‘kan? Tapi kenapa rasanya sangat sulit? Entah kenapa, ia juga tidak tahu. Apa karena ia memang tidak bisa atau ia yang tidak ingin untuk melupakannnya? Tidak ingin memori tentang pria itu menghilang—sekalipun mungkin, pria itu sudah menghapus semua memorinya tentang dirinya.

“Maaf, membuatmu menunggu lama.”

Sahutan itu sontak saja membuat Min Chan mendongak, tersadar dari lamunannya. Gadis itu menatap orang di hadapannya dengan raut kesalnya yang dibuat-buat. “Mungkin jika Oppa datang kesini sedikit lebih lama lagi, tubuhku akan berlumut,” sindir Min Chan, berusaha tidak terlihat menyedihkan di depan orang tersebut.

Jung Soo tertawa pelan. “Kalau begitu kapan-kapan aku akan mencobanya,” ujarnya enteng, membuat Min Chan langsung mendelik menatap pria itu. “Tidak perlu menatapku seperti itu. Aku kan hanya bercanda,” lanjutnya.

Perlahan, tatapan gadis itu berubah. Tidak ada lagi tatapan yang tadi diperlihatkannya. Yang ada kini hanya tatapan sayu dan serius, seolah-olah hal yang akan diucapkannya nanti adalah hal yang sangat penting. Hal yang sangat berpengaruh untuknya.

“Dong Hae … Bagaimana keadaannya?” Suara gadis itu sedikit bergetar saat ia mengucapkan nama pria itu. Lee Dong Hae. Ia benar-benar merindukan pemilik nama itu.

Jung Soo menarik nafas berat saat ia kembali mendengar pertanyaan yang sama seperti yang selalu gadis itu tanyakan setiap kali bertemu dengannya. “Dia baik-baik saja,” jawabnya, membuat senyuman itu langsung mengembang di wajah Min Chan, seolah hanya dengan mendengar bahwa pria itu baik-baik saja sudah cukup baginya.

Jung Soo menatap Min Chan dengan tatapan khawatir. Ia khawatir dengan keadaan gadis di hadapannya yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu. Tidak seharusnya gadis itu terus-menerus menyiksa dirinya seperti ini. Dong Hae sudah meninggalkannya. Tidak seharusnya gadis itu tetap memikirkan keadaan pria itu, memastikan apakah pria itu baik-baik saja atau tidak. Tidak seharusnya gadis itu bertingkah seperti ini. Kadang ia juga tidak habis pikir, sebenarnya apa alasan Dong Hae meninggalkan Min Chan? Jatuh cinta pada gadis lain seperti yang dikatakannya kepada gadis itu? Rasanya tidak mungkin jika Dong Hae meninggalkan seorang gadis yang notabene adalah kekasihnya karena ada gadis lain. Itu sama sekali bukan gayanya.

“Jangan menatapku seperti itu, Oppa,” ujar Min Chan, merasa risih saat Jung Soo menatapnya seperti itu.

“Kenapa kau tidak menelponnya sendiri saja?” tanya Jung Soo, mengabaikan ucapan Min Chan sebelumnya. Tatapan pria itu masih terfokus pada wajah gadis itu. Dan, ia bisa melihat dengan jelas kantung mata gadis itu, membuat bagian bawah mata gadis itu terlihat menghitam. Ia tidak tahu, apakah itu karena Min Chan terjaga semalaman atau justru karena Min Chan menangis semalam? Tapi satu yang pasti, semua itu pasti ada hubungannya dengan Dong Hae.

“Oppa keberatan jika aku selalu bertanya tentang keadaannya seperti ini?”

“Tidak! Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja … bukankah lebih baik jika kau sendiri yang menghubunginya? Setidaknya kau bisa mendengar suaranya, ‘kan?” elak Jung Soo, berusaha agar Min Chan tidak salah paham.

Gadis itu kembali menghela nafas berat. “Jika aku mendengar suaranya, maka ada rasa ingin yang teramat sangat untuk dapat melihatnya. Dan sialnya, aku tidak tahu dimana dia berada. Jadi … aku memilih untuk tidak menghubunginya, berusaha agar tidak mendengar suaranya.” Gadis itu menjeda sejenak ucapannya. “Sekalipun sebenarnya aku sangat ingin,” lanjutnya dengan pandangan kosong yang menatap lurus ke depan. Tidak tahu apa yang sebenarnya gadis itu lihat.

“Maaf, seandainya aku tahu. Aku pasti—”

“Arra. Gwaenchana,” sela Min Chan cepat. Suara gadis itu semakin terdengar bergetar. Pandangan gadis itu mulai mengabur karena airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Sebelum kemudian, gadis itu bergumam pelan. Gumaman yang merupakan sebuah sugesti baginya. “Semuanya akan baik-baik saja. Ya. Semuanya akan baik-baik saja.”

So I’ll watch your life in pictures like I used to watch you sleep.
And I feel you forget me like I used to feel you breathe.
And I keep up with our old friends just to ask them how you are.
Hope it’s nice where you are.

~~~

Dongdaemun, Seoul, South Korea.
12.27 PM, KST.

“Ahjumma! Aku pesan yang biasa!” serunya begitu ia masuk ke dalam sebuah kedai jjangmyeon yang biasa ia datangi setiap kali kesini. Gadis itu duduk di tempatnya yang biasa, menarik nafas, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kedai.

Kedai itu masih sama seperti saat ia terakhir kali kesini. Sama sekali tidak ada perubahan apapun. Dulu biasanya, ia selalu datang kemari bersama Dong Hae. Dari kecil, ia memang tidak pernah menyukai apa itu yang namanya restoran mewah. Ia benci jika ia harus bertindak anggun di tempat itu hanya agar tidak terlihat memalukan di sana. Ia tidak suka itu. Ia tidak suka jika segala tingkah lakunya harus diatur oleh sesuatu. Maka dari itu, ia lebih menyukai tempat seperti ini. Dan, kesukaannya terhadap tempat ini semakin bertambah karena secara tidak langsung Bibi penjual inilah yang mempertemukannya pada Dong Hae.

Gadis itu tersentak kaget ketika Bibi Jang—penjual jjangmyeon itu—tiba-tiba saja muncul di hadapannya seraya meletakan pesanannya di atas meja di hadapannya. Min Chan mengelus dadanya tepat ketika Bibi Jang selesai meletakan pesanannya di atas meja, dan kemudian duduk di atas kursi kosong di hadapannya.

“Bibi ini, mengagetkanku saja,” gumamnya pelan, menarik piring jjangmyeon tersebut agar semakin mendekat ke arahnya, mengambil sumpit, kemudian mengaduk-aduk mie itu dan langsung memakannya. Gadis itu menelan makanan yang sudah berada di dalam mulutnya itu ke dalam kerongkongannya, kemudian menatap Bibi itu dengan tatapan senang—walau raut kesedihan itu masih terlihat di wajahnya. “Ini enak sekali, Ahjumma.”

Bibi Jang menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Caramu menggunakan sumpit masih saja aneh.”

“Kau tahu, caramu menggunakan sumpit benar-benar terlihat aneh.”

Tangan Min Chan yang tadinya sedang mengaduk-aduk mie hitam itu sontak saja berhenti. Begitupun dengan mulutnya yang sedang mengunyah makanan itu. Pandangannya menatap mie tersebut dengan tatapan menerawang. Ucapan Bibi Jang tadi, membuat otaknya kembali memutarkan kalimat yang hampir sama seperti yang Bibi Jang lontarkan. Hanya saja … bukan Bibi Jang yang mengatakannya, melainkan pria itu, Lee Dong Hae.

“Min Chan?”

Ia masih ingat betul ketika pria itu juga mengatakan caranya menggunakan sumpit itu aneh. Hampir sama seperti yang dikatakan Bibi Jang tadi. Astaga, tidak bisakah satu jam saja otaknya berhenti memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan pria itu? Pria itu sudah pergi. Pria itu sudah mencampakannya. Pria itu sudah membuangnya. Pria itu … sudah tidak menginginkannya lagi

“Min Chan? Kau tidak apa-apa? Apa ada sesuatu yang salah dengan makanannya?”

Pertanyaan Bibi Jang tadi sontak saja membuat lamunan Min Chan buyar. Gadis itu berdehem sejenak, kemudian mendongak menatap Bibi Jang. “Ani. Gwaenchana,” jawabnya, tersenyum tipis ke arah Bibi Jang, seolah menegaskan bahwa ia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Akhir-akhir ini kau banyak melamun. Apa kau sedang sakit?” tanya Bibi Jang lagi yang dijawab gelengan oleh Min Chan.

“Tidak. Aku baik-baik saja,” ujarnya masih dengan senyumannya. Sedetik kemudian, gadis itu bergumam kecil yang lagi-lagi terdengar seolah sedang men-sugesti dirinya sendiri. “Ya. Aku baik-baik saja.”

And I hope the sun shines.
And it’s a beautiful day.
And something reminds you.
You wish you had stayed.
You can plan for a change in weather and time.
But I never planned on you changing your mind.

~~~

Jung-gu, Seoul, South Korea.
13.16 PM, KST.

Min Chan menutup pintu kamarnya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang benar-benar memekakan telinga. Tubuh gadis itu langsung merosot hingga ia terduduk di lantai, dengan punggung yang menempel pada pintu kamarnya itu. Bahu gadis itu bergerak naik turun tidak beraturan seiring dengan airmata yang jatuh menyusuri pipinya.

Ia tahu, tidak seharusnya ia seperti ini. Waktu terus berjalan, tidak mungkin ia akan terus-terusan memikirkan pria yang bahkan sudah membuangnya. Tapi ia tidak bisa. Sekeras apapun usahanya agar sosok pria itu menghilang dari otaknya, tetap saja tidak bisa. Memorinya tentang pria itu masih saja tersimpan rapi di otaknya.

Ia bahkan tidak yakin apakah ia bisa menepati janjinya pada Ibunya untuk melupakan pria itu. Ia tahu, seharusnya ia tidak berjanji seperti itu jika ia sendiri tidak yakin dengan hal yang dijanjikannya.

Rasanya seperti baru saja kemarin ia mengenal pria itu. Rasanya seperti baru saja kemarin ia jatuh cinta pada pria itu. Rasanya seperti baru saja kemarin pria itu melamarnya, dan sekarang … ia terlihat seperti orang bodoh yang menangisi pria itu. Pria yang sudah meninggalkannya tepat satu bulan sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.

Dua tahun yang lalu, mungkin ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan terduduk di lantai, menangisi pria yang tidak sengaja ditabraknya di Dongdaemun. Pertemuan konyol mereka. Mungkin ia tidak pernah menyangka jika nantinya ia akan menangisi seorang pria seperti gadis-gadis lain. Gadis-gadis yang dulu ia anggap terlalu berlebihan karena mereka menangis hanya karena seorang pria. Tapi lihatlah dirinya sekarang. Benar-benar menyedihkan. Kisah cintanya benar-benar menyedihkan.

Apa sekarang sudah saatnya ia meninggalkan kenangan tentang pria itu dan menatap ke depan? Tapi bagaimana jika ia gagal lagi? Bagaimana jika nyatanya nanti hal itu gagal dan ia akan kembali seperti ini? Apa … Apa ia bisa melupakan pria itu? Melupakan Lee Dong Hae?

So I’ll go sit on the floor, wearing your clothes.
All that I know is I don’t know how to be something you miss.
Never thought we’d have a last kiss.
Never imagined we’d end like this.
Your name, forever the name on my lips.

Just like our last kiss.
Forever the name on my lips.
Forever the name on my lips.
Just like our last…

~~~

Two Weeks Later …

“Ne. Gamsahamnida.”

Min Chan berjalan keluar dari toko sembari membawa dua kantong belanjaannya. Gadis itu mempercepat langkahnya ketika ia merasa bahwa udara semakin dingin. Walaupun ia sudah memakai jaket dan sarung tangan, tapi hawa dingin itu masih dirasakannya. Ia menghembuskan nafasnya, membuat uap berwarna putih itu keluar dari mulutnya.

Gadis itu menghentikan langkahnya begitu ia sampai di halte bis. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, memastikan apakah bis yang ditunggunya itu sudah datang atau belum. Merasa bahwa bis yang akan ditumpanginya nanti belum datang, gadis itu memutuskan untuk duduk.

Belum sampai sepuluh menit ia duduk, bis yang ditunggunya sejak tadi akhirnya datang. Gadis itu memicingkan matanya begitu ia berada di dalam bis, bermaksud mencari tempat duduk. Matanya sedikit berbinar ketika ia berhasil menemukan tempat duduk yang kosong di dalam bis tersebut. Tepatnya di sebelah seorang pria yang kepalanya tertutup oleh tudung jaketnya yang berwarna hitam.

Sepertinya pria itu merasakan kehadirannya, karena sedetik setelah ia mendudukan dirinya tepat di sebelah pria itu, pria itu menoleh ke arahnya. Matanya sontak membulat ketika menyadari siapa pria disebelahnya. Begitupun dengan pria itu, matanya juga membulat menatapnya tidak percaya.

“Min Chan?”

“Dong Hae?”

-THE END-

2 thoughts on “[Songfict] Last Kiss

  1. Huehh… Author. Ini bnr” sedih, angst’y krasa bngt. Oh ya thor, kalo boleh minta sequelnya dong. Dan maaf numpang baca ya. Gamsa

    • Aduh, manggil Sane aja deh drpd author. Agak krg srek gt dengernya hehehe~
      Feel-nya kerasa? Wah, gomawo ya🙂 Padahal menurut aku ini krg kerasa feel-nya.
      Sequel sedang dlm proses ya, ditunggu aja, semoga cepet selesai😀

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s