Mistake #1


Mistake

 

Title: Mistake || Author: Eyinzz || Requester: Theresya || Main Cast: FT Island’s Jonghoon & Park Shin Hye || Genre: Sad, Romance, Friendship || Leght: Short Chapter|| Rating: PG-15

.

.

My Mistake is Loving You…- Park Shin Hye

My Mistake is Let You Go..- Choi Jonghoon

But, I will never let you go again. I will cherish you and loving you forever.

.

Happy Reading

.

“Jonghoon?”

Aku terperangah melihat sosok dirinya yang sedang berusaha masuk ke dalam kamarku melalui jendela berukuran sedang yang terbuka. Dia hanya menampakkan cengiran sebagai jawaban atas pertanyaanku tadi. Setelah berhasil masuk, dia mengeluarkan setengah badannya ke luar jendela -seperti mengambil sesuatu. Keterkejutanku kian bertambah saat dia ternyata mengambil sebuah tas besar yang berisi baju yang tak tertata rapi sama sekali. “Shin Hye-ah, aku mulai sekarang akan menginap disini.” Jelasnya tanpa rasa sungkan sedikit pun. Tentu saja aku kaget, tapi dengan cepat aku menjaga ekspresi datarku. Ya, ini bukanlah yang pertama kalinya Jonghoon menginap dirumahku, melainkan sudah berkali-kali dengan alasan yang sama; bertengkar dengan orang tuanya. Untung sajaEomma dan Appa sedang dinas ke luar kota, sehingga kali ini aku agak bebas menampung sahabat karibku.

“Aissh.. Terserahlah! Aku harap kau tak tinggal disini terlalu lama.” Ucapku cuek lalu kembali melanjutkan kegiatanku sebelumnya. Jari-jariku terus menari-nari diatas keyboard laptop, sesekali berhenti untuk berfikir kelanjutan apa yang kutulis. Aku memanglah seorang novelis yang baru debut beberapa bulan yang lalu, membawakan buku berjudul “Because you’re mine”. Sekarang aku sedang sibuk-sibuknya membuat novel keduaku.

Jeng… Jeng… Jeng… Jeng…

“YA! CHOI JONGHOON!” Pekikku ketika ia memetik senar gitar akustiknya dengan nada yang tak beraturan. Aku memandangnya kesal, tatapan tajamku beradu dengan bola mata polos miliknya. Ingin sekali aku menelannya hidup-hidup saat ini, karna usahanya menggangguku sangatlah sukses! “Mwoya? Aku tak melakukan apa-apa dan kau memarahiku?” Tanyanya dengan tampang tanpa dosa. Andai saja dia bukanlah sahabat sejak kecil sekaligus tetanggaku, mungkin aku akan melemparnya ke tong sampah sekarang juga. “MWO?! Kau bilang TAK mengganggu? Kau SANGAT mengganggu Choi Jonghoon!” Balasku dengan penekanan di beberapa kata. Lagi-lagi dia menampakkan cengiran khasnya, membuatku muak.

“Shin Hye-ahEomma dan Appa-ku ingin bercerai.” Katanya tiba-tiba membuat kegiatanku berhenti untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini aku diam terpaku, dengan mataku memandang kosong layar laptop. “Menurutmu aku harus ikut dengan siapa saat mereka benar-benar berpisah? Eomma selalu menanyakan itu padaku.” Tanyanya pasrah. Keadaan seperti ini sangat jarang ditemui, karna Jonghoon yang ku kenal bukanlah orang yang mudah putus asa.

“Ya. Jangan berkata seperti itu. Yakinlah bahwa orangtuamu tak akan berpisah dan berdoalah pada Tuhan semuanya tak akan pernah terjadi.” Aku mengelus pundaknya pelan, seakan menyalurkan semangat pada lelaki itu.

GREB

Mataku membelalak, tubuhku langsung menegang saat dia tiba-tiba menarikku dalam pelukannya. Jikalau aku punya penyakit jantung mungkin aku akan mati sekarang. Aku tak membalasnya, bahkan bergerak pun enggan. Aku cukup sibuk menormalkan jantungku yang berdegup dengan cepat, agar Jonghoon tak dapat merasakannya. Lelaki memang tak peka, buktinya sahabatku ini malah mengeratkan dekapannya. Bagaikan ada beribu-ribu kupu-kupu berterbangan di perutku, saat merasakan sentuhannya.

Kurasa, aku memang menyukainya.

-=-=-

Author’s POV

“HEI! Pagi-pagi sudah melamun!”

Shin Hye terlonjak kaget mendengar suara cempreng sahabatnya yang entah kapan sudah berada di sebelahnya, lalu mencibir pelan tentang kebiasaan Jonghoon yang sangat suka sekali mengagetkan orang. “Jonghoon-ah, aku sangat tak beruntung memiliki teman sepertimu.” Pria itu menaikkan kedua alisnya, mengisyaratkan tanda tanya tentang perkataan Shin Hye barusan. “Ck! Kau lemot sekali. Bagaimana bisa beruntung bila setiap hari harus terkejut karenamu? Apa kau benar-benar ingin membuatku jantungan, eoh?” Yeoja itu mengerucutkan bibirnya sambil meminum Melon Juicepesanannya. Tanpa disangka Jonghoon malah terkekeh melihat ekspresi kesal yeoja disebelahnya.

Aigoo.. Kau lucu sekali.” Kata Jonghoon mengacak pelan rambut sahabat kecilnya. “YA! Rambutku sudah kutata serapi mungkin.” Protes Shin Hye tak terima, sedangkan yang diprotes malah melihatnya tak peduli seakan ia tak punya salah. Mereka tenggelam pada pikiran masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan namun itu sukses membiarkan keheningan mengambil alih suasana mereka. “Shin Hye-ah, Uee sangat cantik bukan?” Celetuk Jonghoon memecah keheningan yang tercipta. Iris hitamnya tak lepas dari sosok wanita yang baru saja masuk ke area kantin Seoul High School bersama gengnya,After School.

Shin Hye yang tak tertarik hanya memutar bola matanya kesal. “Asal kau tau Jooyeon lebih cantik.” Jawab perempuan itu sekenanya. Jonghoon mendengus kesal, sahabatnya selalu menjadi menyebalkan ketika sudah menyinggung tentang Uee –yeoja yang sudah lama ia sukai-. “Tsk, bilang saja kalau cemburu.” Spontan Shin Hye menolehkan kepalanya, menatap tajam ke arah Jonghoon. Bukan karna apa, dia hanya takut perasaan sebenarnya sampai terdeteksi. Alis tipis yang menaungi matanya menyatu meneliti raut muka Jonghoon, ia tak menemukan keseriusan di ucapan Jonghoon barusan; hanya sebuah senyuman jail yang terpampang disana. Untuk sementara ia dapat bernafas lega. “Ya, kau tau? Aku sudah menyatakan perasaanku padanya.” Jonghoon melanjutkan ucapannya, tanpa memedulikan bagaimana keadaan sahabatnya.

MWO?!” Kaget? Tentu saja! Shin Hye hampir saja menyemprotkan Melon Juice yang sedang ia minum saking kagetnya, untung saja ia dengan cepat mengurungkan niatnya dan menelannya dengan susah payah. “Kenapa kau begitu kaget?” Jonghoon hanya memasang raut polosnya. Ingin sekali Shin Hye memukul wajah tampan lelaki disampingnya, sayangnya rasa cintanya terlalu dalam kepadanya. “Kemarin aku menaruh surat cinta di loker miliknya. Entahlah, dia sudah membacanya atau belum. Aku akan mendapatkan jawabannya minggu depan, tepat pada hari kelulusan sekolah.”

Bagaikan tersambar petir pada siang bolong. Ingin sekali ia tak mempercayai sahabatnya, tapi kenapa rautnya sangat menunjukan bahwa dia serius? Yeoja itu menunduk, menyembunyikan lapisan bening yang sudah berada di pelupuk mata –membuat kemampuan melihatnya berkurang. Hatinya sakit, terlampau amat sakit. Dulu ia kira rasa sahabatnya terhadap salah satu idola perempuan di sekolahnya hanyalah sebuah rasa kagum saja. Namun semua dugaannya selama ini salah, perasaan lelaki itu melebihi dari rasa kagum. Tentu saja rasa tak percaya menyergap hatinya, rasa antara tak percaya dan tak terima dengan kenyataan ini. Park Shin Hye, yeoja satu-satunya yang selalu berada di samping Jonghoon kapanpun laki-laki itu mau. Dia juga, yeoja yang selalu menyemangati Jonghoon saat dia lemah dan terpuruk dengan keadaan keluarganya. Dia adalah tempat Jonghoon mengeluarkan semua unek-unek dan keluh kesahnya.

Tapi tanpa disangka semua yang Shin Hye simpulkan salah besar. Ia kira dulu dia adalah perempuan paling berharga di hidup Jonghoon –selain ibunya-. Karna dia adalah orang pertama yang selalu dihubungi namja itu ketika dia dalam keadaan senang maupun susah. Ia kira dulu ialah satu-satunyayeoja yang berhasil mengisi relung hati Jonghoon. Ia salah, salah besar. Kesimpulannya sendiri yang membawanya harus menelan rasa pahitnya ditolak secara tidak langsung, kepercayaan dirinya-lah yang menuntunnya menuju dalam lubang kegelapan. Shin Hye tau, rasa sakit yang ia rasakan bukan murni kesalahan Jonghoon. Melainkan dirinya juga turut andil dalam menyiptakan perih ini, bisa-bisanya jatuh dalam pesona sahabatnya. Mencoret arti suci persahabatan yang seharusnya tak ada rasa cinta di dalamnya.

Ini juga semua berawal dari kesalahannya. Kesalahannya karna mencintai Jonghoon, sahabatnya sendiri. Andai kata ia tak pernah jatuh cinta padanya. Andai saja ia jatuh cinta pada orang lain. Mungkin semuanya tak akan menjadi serumit dan sesakit ini.

-=-=-

TOK.. TOK.. TOK..

Yeoja muda itu kembali menghembuskan nafasnya, mencoba mengusir rasa gugup sekaligus takut yang menyandera batinnya sedari tadi. Entah mungkin karna patah hati yang membuatnya cukup gila, hingga ia mencoba melakukan aksi yang cukup nekat. Ia merutuki kebodohannya yang terlalu gegabah tadi. Awalnya memang ia dengan penuh rasa percaya diri bertekad untuk menyelesaikan masalah ini. Namun setelah sampai di depan bangunan bergaya eropa klasik dengan ukuran yang tak terlalu besar itu, nyalinya langsung ciut seketika. Pintu besar bertekstur kayu itu terbuka perlahan, menampakan seorang wanita diusia akhir 40-an sedang membuka pintu. Senyuman merekah bertengger di wajah ayu-nya, menyembunyikan kenyataan sebenarnya.

Aigoo.. Shin Hye-ah! Tumben sekali kau datang? Masuk dulu, Eommonim akan membuatkan minuman.” Dengan malu perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah itu mengangguk dan masuk ke dalam, tak lupa menutup pintu. Tak lama wanita dengan rambut yang disanggul asal, keluar dari arah dapur menuju ruang tamu, membawa minuman untuk tamu dan dirinya sendiri. “Cha! Minumlah dulu selagi hangat.” Ucap wanita itu ramah. Park Shin Hye hanya tersenyum dan mengangkat mug bermotif bunga sakura. Mendekatkan pada bibirnya lalu meniup permukaannya sebelum langsung meminum cokelat panas yang dibuat ibu sahabatnya. Itung-itung untuk melembabkan tenggorakannya yang sudah mengering saking gugupnya.

Perlahan Shin Hye meletakkan mug tersebut ke atas meja. Matanya melirik ke arah wanita diseberangnya yang menunduk, dapat terlihat jelas gurat kesedihan dan ketertekanan dari sana. Suasana sangat canggung saat itu, membuat gadis muda itu bingung mau memulai pembicaraan dari mana.

“Shin Hye-ah, Jonghoon…” Perkataannya menggantung di udara. Dia terlihat menelan dengan susah saliva-nya sebelum melanjutkan perkataannya tadi. “Apakah dia tinggal dirumahmu?” Suaranya terdengar bergetar, Shin Hye tau jelas bahwa wanita yang ber-status Ibu Jonghoon itu pasti sangat merindukan anak lelakinya. Tapi dengan keadaan seperti ini tak memungkinkan untuk mereka kembali berkumpul. “NdeEommonim. Dia tinggal denganku sementara. Dan dia… Dia menceritakan semuanya padaku. Mianhamnida..” Gadis ber-pipi chubby itu menggigit bibir bawahnya pelan, ia takut Ibu Jonghoon tidak menyukai keadaannya yang terlalu jauh mencampuri urusan keluarga Choi. Diluar dugaan, Ibu Jonghoon itu malah tersenyum lembut mendengarnya.

Gwenchana. Jonghoon membutuhkan teman untuk bercerita dan dia sangat beruntung memiliki teman seperimu, Shin Hye-ah. Aku tau masalah ini sangat berat untuknya. Tapi sungguh aku tak tau harus bagaimana lagi menghadapi Appa-nya.” Shin Hye terdiam sejenak, tak menyangka Nyonya Choi dengan mudah terbuka padanya yang masih dapat disebut orang asing dalam keluarganya. Suasana menjadi canggung, sebelum sebuah suara memecah kecanggungan tersebut.

Appa-nya selalu pulang malam dengan keadaan mabuk. Menghambur-hamburkan uang, padahal tabungan sudah semakin menipis. Dia berubah semenjak perusahaan kami bangkrut. Aku sangat memahami perasaannya, tetapi dia semakin menjadi-jadi.”

Wanita itu mulai terisak pelan, kedua tangannya menutupi wajahnya yang sudah basah dengan air mata. Hati yeoja berumur 17 tahun terenyuh mendengar tangisan pilu dari Ibu sahabatnya. Walaupun ia tak pernah merasakan itu –bahkan dia belum pernah memiliki pacar- tetapi sebagai seorang perempuan dia sangat tau perasaan sakit itu. Dia beranjak berjalan pelan dan pindah duduk di samping Nyonya Choi; merangkulnya seakan memberikan kekuatan pada wanita itu agar lebih tabah menjalani kehidupan ini. “Eommonim, aku tau Abeonim masih sangat tertekan dengan keadaannya. Cobalah untuk membicarakannya baik-baik dan aku yakin Abeonim pasti akan mengerti.” Saran Shin Hye menenangkan.

Aniya Shin Hye-ah. Itu semua tak seperti yang fikirkan. Sudah berkali-kali aku berusaha bicara dengannya, namun dia akan marah. Aku tak kuat lagi Shin Hye-ah, aku ingin segera bercerai, ini terlalu berat bagiku.” Shin Hye menghela nafas, ia sendiri bingung harus berkata apa lagi. Namun ini adalah keputusannya untuk datang kesini –membantu keluarga Choi menyelesaikan masalahnya- dan ia harus mengembalikan keadaan seperti semula; tenram, bahagia, tanpa pertengkaran.

Eommonim harus kuat. Bagaimana dengan Jonghoon nantinya? Eommonim harus berfikir tentang batinnya yang tertekan walau ia selalu menampakkan senyum. Pertahankanlah pernikahan kalian demi Jonghoon. Sebentar lagi dia lulus dan akan mengikuti tes untuk masuk kuliah. Dia pasti akan sangat tertekan dengan keadaan keluarganya.” Tangisan Nyonya Choi makin keras dan meraung-raung, selama ini ia tak sempat berfikir akan anaknya. Ia kira anak semata wayangnya tersebut akan baik-baik saja walaupun mereka bercerai. Buktinya ia selalu tersenyum manis saat ditanya tentang rencana perceraian. Ternyata dia terlalu tidak peka, hingga tak tau bahwa itu semua palsu.

Gomawo Shin Hye-ah..” Ucap Nyonya Choi sembari memeluk sahabat anaknya.

~.~.~

Seorang lelaki tampak sedang berbaring sambil memainkan gantungan kunci berbentuk kartun kesukaan sahabatnya –Spongebob-. Gurat ketegasan tercetak jelas di wajah tampannya, mulutnya mengatup rapat sedari tadi. Matanya yang sedari tadi melirik jam yang tergantug di dinding kamar bernuansa Hijau itu mengkilat , bagaikan ada sesuatu dibalik kornea hitam kelamnya.

Ckleekk…

Seorang yeoja membuka pintunya perlahan dan terlonjak melihat laki-laki yang ber-status sahabatnya sedang berbaring di kasurnya. “Sangat tidak sopan sekali. Masuk ruangan disaat pemiliknya sedang tidak ada.” Komentar gadis itu bermaksud menyindir orang tadi. Tapi tak ada balasan apapun dari yang disindir. Orang itu tetap diam, memerhatikan sosok yeoja yang sedang sibuk menyalakan laptopnya. “Shin Hye-ah, orang seperti apa kau?”

Tangan mungil yeoja itu yang sedang menggerakan Mouse berhenti, heran akan pertanyaan yang dilontarkan Jonghoon –orang tadi-. “Musun suriya? Sudahlah, jika kau ingin bermain teka-teki kapan-kapan saja. Aku sibuk sekarang, bulan depan novelku harus diserahkan pada editor.” Jawab yeoja itu tak peduli bahkan tak menganggap serius pertanyaan tadi. Namja berambut hitam itu tersenyum sinis mendengarnya, matanya memandang remeh yeoja yang duduk membelakanginya. “Apa kau orang yang selalu mencampuri urusan orang lain?”

DEG..

Park Shin Hye, gadis itu terdiam. Badannya menegang, seperti maling yang tertangkap polisi, ia takut kelakuannya terendus Jonghoon. Pemuda itu bangkit dari tidurnya, berjalan santai ke belakang perempuan yang ditanyainya. Matanya yang tajam tetap memandang remeh yeoja tersebut. “Wae? Tak bisa menjawab Nona Park? Eoh, ternyata kau memang seorang pe-ne-lu-sup ya? Mencampuri urusan keluarga orang lain? Berpura-pura ingin menjadi penolong agar dibanggakan? Cih, cara murahan.” Sindir Jonghoon tajam. Shin Hye menelan ludahnya dengan susah payah. Perkataan itu, terlalu menyakiti perasaanya. Terlalu tajam untuk hati lembutnya. Kedua tangannya yang mengepal, bergetar hebat. Menunjukkan ketakutannya sekarang. Setelah mengumpulkan sedikit keberanian, Shin Hye bangun dan berbalik. Menunduk dalam, tak berani membalas tatapan Jonghoon.

“Jonghoon-ah, ak-aku hanya ingin  me-membantumu. Hanya itu. Aku tak bermaksud mencampuri urusan keluargamu.” Balas Shin Hye terbata-bata. Bahkan untuk mendongak saja sangat susah untuknya.

“Tsk! Alasan Nona Park! Dan ingat, aku tak pernah memintamu untuk mencampuri masalahku, apalagi masalah keluargaku. Aku bisa menyelesaikan semuanya tanpa bantuanmu! Kau hanyalah orang lain di mataku!” Geram Jonghoon, rahangnya makin mengeras.

“Mi-Mian.. Aku hanya tak kuat melihatmu se-seperti kemarin. Aku..–”

PLAK

“Kau yeoja yang mengerikan Nona Park! Aku menyesal mempunyai sahabat sepertimu! Nappeun yeoja!” Desis Jonghoon penuh amarah. “Lebih baik kau tak usah menampakkan sosokmu di hadapanku lagi! Membuatku muak melihatmu!” Katanya dingin lalu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

Sedetik sepeninggalan Jonghoon. Pertahanan Shin Hye rubuh seketika. Badan mungilnya jatuh terduduk di lantai kamarnya. Cairan bening terus mengalir deras, tak mau berhenti. Hatinya yang sudah rapuh sekarang semakin remuk. Saking sakitnya, sampai-sampai ia tak merasakan apapun pada pipinya yang baru saja ditampar. Ia menyesal telah mencampuri urusan keluarga Jonghoon, namun apa salahnya? Malam itu pun ia lewati dengan isakan dan raungan tangis yang sangat menyayat hati.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N: Anneyeong! Aku kambek dengan FF Request dari Teresya eonni. Maaf ya eon karna nih FF jadinya lama banget J Gimana ceritanya? Moga aja suka :’)

5 thoughts on “Mistake #1

  1. Anyyeong eonnie, aq readers baru nih. . . Daebak, jeongmal daebak ff eonnie. Emosinya dpet bangeettt, penulisan’a jg rapi eonnie, kagak brantakan. Pertahankan y eonnie. Aku akan tunggu kelanjutan’a. Fighting!!

  2. Hallo autornim..

    Berawal dari seacrh ff yang ada shinhye-nya, terus main ke sini.. Dan… Terpesona…🙂
    Alurnya oke, pemilihan kata, dan penyusunan kalimat oke bange.. Dan, sedihnya itu…hiks sedih banget jadi shinhye😦

    Trims buat karyanya…🙂

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s