Mistake #2


Mistake

 

Title: Mistake || Author: Eyinzz || Requester: Theresya || Main Cast: FT Island’s Jonghoon & Park Shin Hye || Genre: Sad, Romance, Friendship || Leght: Short Chapter || Rating: PG-13

A/N: Anneyeong! Aku kambek dengan FF Request dari Teresya eonni. Maaf ya eon karna nih FF jadinya lama banget J

.

.

My Mistake is Loving You…- Park Shin Hye

My Mistake is Let You Go..- Choi Jonghoon

But, I will never let you go again. I will cherish you and loving you forever.

.

Happy Reading

Sinar sang surya menembus jendela yang tak tertutupi tirai. Sang pemilik kamar itu menggeliat ke kanan kekiri, terganggu akan ‘pembangun’ alami manusia. Kedua matanya mengerjap, berusaha mengatur intensitas cahaya yang masuk dalam pupilnya -agar tak membuat matanya perih. Menangis semalaman membuat kepalanya saat bangun terasa berat dan pusing. Kata-kata Jonghoon masih terngiang-ngiang di telinganya, membuka luka yang sempat ia lupakan saat tidur. Ia turun dari kasurnya, berjalan perlahan menuju cermin di pojok ruangan. Shin Hye menelisik wajahnya sendiri yang sangat berantakan. Matanya masih sembap dan sekarang membesar akibat menangis. Apalagi pinggiran matanya dihiasi sebuah lingkaran hitam yang membuat penampilannya makin hancur. Bibirnya pucat, mungkin karna kurang tidur.

Dengan langkah gontai ia mengambil handuk dan menghilang dibalik pintu kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Shin Hye sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang bisa dibilang cukup simple. Hanya sebuah kaos biru tua dan jeans panjang yang membalut kedua kakinya, sangat sederhana bukan untuk hari libur seperti ini. Tak lupa ia membubuhkan bedak tipis di wajah serta lehernya dan mengolesi sedikit lipstick bewarna soft plum di bibirnya –menutupi kepucatannya-.

 

Kau yeoja yang mengerikan Nona Park! Aku menyesal mempunyai sahabat sepertimu! Nappeun yeoja!

 

Perkataan Jonghoon kemarin terus saja berputar di kepalanya, walau sudah beberapa kali ia usir tapi tetap saja tak berhasil. Sungguh, semua begitu menyakitkan jika diingat kembali. Dengan gontai yeojatadi turun ke lantai bawah rumahnya, menuju meja makan yang disana sudah duduk pasangan paruh baya. Alisnya sedikit terangkat ke atas sebentar, namun seulas senyum rekah menyusulnya. “Eomma!Appa!” Sapanya riang, tepatnya berpura-pura riang. Yeoja itu duduk di salah satu kursi setelah berhasil mengecup kilat orang tuanya. Tangannya mencomot setangkup roti isi dengan selai coklat di dalamnya. “Shin Hye-ah, kau mau masuk Universitas mana? 5 hari lagi sudah pengumuman kelulusan.”Yeoja itu diam –tanpa berhenti mengunyah- bingung akan keputusannya.

“Kau ingin kuliah di Korea atau di Jepang? Appa-mu ada tawaran pekerjaan disana. Kalau kau mau, kita bisa melanjutkan hidup disana. Kalau kau tetap ingin di Seoul, kau bisa tinggal sendiri bersama bibi Han.” Lanjut Mrs. Park sambil tersenyum manis. Sedangkan anak tunggal mereka masih bungkam, tak mau menanggapi usul mereka.

 

Lebih baik kau tak usah menampakkan sosokmu di hadapanku lagi! Membuatku muak melihatmu!

 

Lagi-lagi kalimat lain yang tak kalah menyakitkan seakan berbisik di telinganya tajam. Yeoja itu menutup kedua matanya sebentar, mencoba menguatkan hatinya agar pertahanannya tak runtuh sekarang. Kepalanya berfikir keras untuk mengambil keputusan tepat yang akan ia ambil. Jujur saja, ia tak ingin hidup sendiri di Kota metropolitan macam Seoul; bahaya selalu mengintainya. Tapi berat juga meninggalkan teman-temannya, atau lebih tepatnya Jonghoon. Lelaki itulah yang memberatkan sebelah hati Shin Hye untuk memutuskan. Namun kejadian semalam cukup menghilangkan sebagian beban tersebut. Lagipula yang diberatkan, toh juga tidak akan peduli dengan kepergiannya.

Aniya, aku akan ikut Eomma dan Appa ke Jepang.”

 

~.~.~

Jonghoon’s POV

 

Drrtt.. Drrtt.. Drrtt

Tanganku menggapai-gapai ponsel milikku yang terletak di meja kecil tepat disebelah kasur yang kutiduri. Aku mengangkat telfon itu tanpa melihat nama yang tertera di layarnya. Ini masih jam 3 pagi dan tidurku harus terganggu karna penelfon tak bertanggung jawab tersebut. Jika itu adalah penyampaian yang tidak penting atau mungkin operator yang menghubungi tentang masa aktif yang mau habis, aku benar-benar akan membunuh mereka! “Yoboseyo?” Jawabku dengan suara berat dan serak khas orang bangun tidur.

Yoboseyo? Jonghoon-ah!”

Mataku yang awalnya hanya tersisa 5 watt, tiba-tiba terbuka secara sempurna. Rasa kantuk yang tadi menyerang entah hilang kemana mendengar suara yang benar-benar familiar di telingaku. “Eomma?” Tanyaku memastikan nama kontak penelfon. Benar saja, itu memang ibuku. Sangat jarang sekali ibuku menelfonku apalagi pada jam tidur seperti ini. “Jonghoon-ah, pulanlah nak. Eomma dan Appamengkhawatirkanmu.”

“NDE?!” Spontan aku langsung berdiri mendengarnya. Bukan karna kata ‘mengkhawatirkanmu’ yang memang hampir tak pernah ku dengar semenjak menginjakkan kaki di SMA, karna aku tau Ibu telah menganggap diriku sudah besar dan bisa bertanggung jawab. Tapi aku kaget dengan sisipan kata ‘Eomma dan Appa’ disana. Mungkin kalian menganggap biasa dengan itu, namun bagiku itu adalah sebuah sebutan yang penuh arti dan –ku kira- keramat untuk diucapkan, mengingat hubungan orang tuaku ada di ujung kehancuran.

“Apa sinyal disana jelek? Kau tak mendengarku? Aku menyuruhmu pulang! Aku dan Appa-mu mengkhawatirkan keberadaanmu. Apalagi saat aku tau bahwa kau telah pergi dari rumah Shin Hye.”

Eomma.. Ap-Apa yang terja-jadi? Apa kau….. dengan Abeoji…??” Tanyaku tanpa mengindahkan suruhannya. Aku shock berat saat ini.

Gurae, Aku dan Appa-mu sudah memperbaiki hubungan kami. Appa-mu berjanji akan bangkit dari keterpurukannya dengan membuka perusahaan kecil-kecillan dan melupakan kebiasaan jeleknya.”Jelas Ibu panjang. Sedangkan aku? Hanya dapat diam saking kagetnya. Ku kira hubungan kedua orang tuaku sudah sangatlah parah hingga susah di perbaiki. Namun nyatanya? Dengan mudahnya mereka mengatakan bahwa mereka sudah berbaikkan? Apa mereka tak memikirkan aku yang masih terpatung dalam diam. Bahkan aku dulu sudah hampir putus asa dengan keadaan ini. Benar-benar mengangumkan. “Asal kau tau saja. Semuanya berkat Shin Hye. Tanpa dia mungkin keluarga kita benar-benar hancur sekarang.” Lanjutnya membuatku semakin terpukul.

“Aku tau kau kaget. Yang penting pulanglah terlebih dahulu. Eomma akan menceritakan semua yang terjadi.” Aku mengangguk walau ku yakin Ibu tak akan bisa melihat anggukan samarku.

“Jangan lupa sampaikan terima kasihku pada Shin Hye. Ku tutup telfonnya.”

Sedetik kemudian sambungannya terputus. Aku masih tetap pada posisiku. Nama Shin Hye menggerayangi otakku, menggerogoti perasaanku. Aku benar-benar bersalah, meninggalkan rumahnya setelah berbicara kasar padanya dan akhirnya tidur sementara di tempat Lee Hong Ki, teman satu band SMA ku.

Raut wajahnya terbayang sekilas, membuatku benar-benar menyesal telah mengatainya sedemikian rupa. Apa yang harus kulakukan Tuhan? Agar aku mendapat maaf dari sahabatku? Aku tak yakin dia akan memaafkanku dengan mudah, yeoja lemah itu pasti terlalu sakit hati. Bila aku menjadi dirinya aku juga tak akan memaafkan dengan mudah namja yang mengolok diriku.

 

~.~.~

Shin Hye’s POV

Kamsahamnida.” Ucapku sambil membungkuk berkali-kali sebelum meninggalkan ruangan itu.

Aku memeluk erat berkas-berkas kelulusan ku di Sekolah ini, senyum merekah pun selalu menemaniku di sepanjang jalan menuju tempat kenanganku tumbuh. Memang belum waktunya untuk mengambil berkas seperti ijazah dan sebagainya. Namun karna aku harus pergi ke Jepang tepat pada hari kelulusan, maka aku diberi sedikit keistimewaan oleh kepala sekolah. Lorong-lorong sekolah sangat sepi, hanya ada beberapa tukang kebun yang sedang menyapu daun kering yang jatuh dari empunya. Tentu saja, murid angkatan akhir telah diliburkan mengingat beberapa hari lagi sudah pemberitahuan kelulusan, sedangkan anak-anak kelas satu dan dua sedang ada ujian kenaikan. Ku tebarkan pandanganku ke seluruh penjuru sekolah ini, mencoba merekam setiap detailnya tanpa ada satupun yang terlewat. Sungguh, aku akan benar-benar merindukan sekolah ini, sahabatku dan guru-guru disini.

Kakiku berhenti di depan sebuah pohon Maple besar yang terletak di halaman belakang sekolah. Disana terdapat sebuah bangku kayu tua dengan cat yang sudah mengelupas. Kembali ku hembuskan nafas berat, disini adalah tempat ku dan Jonghoon paling banyak menghabiskan waktu di sekolah –selain kelas-. Apa dia masih marah padaku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkelebat dari dua hari yang lalu. Mungkin aku memang terlalu mencampuri urusan pribadi keluarganya, seharusnya sebelum mengambil keputusan untuk ‘membantu’ aku harus sadar bahwa aku bukan siapa-siapa. Andai saja aku tak melakukan hal bodoh seperti itu, aku tak akan berdiri disini sekarang. Aku akan selalu menetap di Korea asal bersamanya, melawan rasa takut yang biasa menghantuiku bila jauh dari orang tua demi dia. Andaikan ada mesin waktu yang bersedia mengembalikanku pada kejadian 2 hari yang lalu. Tapi semua itu hanya sebuah andaian semata, yang hanya akan terwujud di angan-anganku saja.

Tanpa kusadari air mataku sudah jatuh. Segera kuusap dengan punggung tanganku dan beranjak dari tempat penuh kenanganku dengan dia. Kupercepat langkahku melewati liku-liku lorong khas SeoulHigh School. Sepertinya aku terlalu lama mengenang masa lalu melihat beberapa siswa-siswi sudah keluar kelas menikmati jam istirahat mereka. “Shin Hye-ah! Bagaimana berkasnya? Sudah selesai diurus? Paspormu sudah jadi. Jadi nanti malam kau tinggal mengecek barang-barangmu.” Jelas Appasesampainya di mobil. Aku mengangguk mantap tak lupa ancungan jempol untuk membuat Appasemakin percaya pada kerjaku mengurusi berkas kelulusan. Mobil Ayah berjalan menyisiri kota yang hanya dengan hitungan jam akan segera kutinggalkan. Macet menghadang di jantung pusat Seoul, terpaksa mobilku harus mengantri di lajur paling belakang. ‘Cish! Aku paling benci macet!’ Rutukku sebal. Menurutku macet sangat memakan waktu berhargaku sebagai seorang penulis. Rencananya sesampai di rumah adalah masuk kamar dan melanjutkan project novelku.

Sedikit bosan dengan keadaan seperti ini, aku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Melihat gedung-gedung pencakar langit yang jumlahnya tak terhitung berdiri dengan angkuhnya. Alisku mengerut melihat seseorang yang kukenal berada di antara gedung-gedung tadi. Badanku tiba-tiba terasa kaku, sangat susah untuk digerakkan. Mataku terpaku pada sebuah pemandangan yang menyakitkan, dimana seorang namja yang sedang memegang tangan seorang yeoja dengan pandangan berbinar di salah satu Coffe Shop tepat disamping salah satu gedung tadi. Aku mengenal namja itu, sangat mengenalnya luar-dalam. Siapa lagi jika bukan Choi Jonghoon? Pikiran buruk kembali menggelayuti otakku. Walaupun dia marah padaku, tidak suka padaku, membentakku bahkan menamparku, rasa itu tetap sama. Rasa yang datang bila melihatnya bersama yeoja lain selain aku dan ini kembali mengingatkanku akan sebuah cinta yang besar telah tumbuh subur dihatiku. Mataku berkunang-kunang, air mata siap meluncur kapan saja, tapi untuk yang sekian kalinya ku tahan sekuat tenaga. Yeoja yang bersamanya bukanlah Uee, melainkan wanita yang tampak asing dimataku.

 

Apakah dia adalah penggantiku? Sebagai sahabat Jonghoon yang baru?

 

Tak kuat, air mata itu menetes begitu saja. Membuat aliran sungai kecil di pipiku. Aku tak menahannya lagi, mungkin dengan menangis aku membuat sakit ini menguap. Namun aku hanya menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahku dari jangkauan mata Ayah dan meneruskan tangisku dalam diam. Membiarkan rasa sakit bagaikan tersayat sebilah pisau ini menguap. Dengan tekad yang sudah bulat, aku harus benar-benar melupakannya. Mengubur dalam-dalam kenangan bersama Jonghoon di Seoul dan membuat sebuah lembar kehidupan baru di Jepang, tanpa ada lagi bayang-bayang seorang Choi Jonghoon yang menghantui.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

2 thoughts on “Mistake #2

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s