Mistake #3-END


Mistake

 

Title: Mistake || Author: Eyinzz || Requester: Theresya || Main Cast: FT Island’s Jonghoon & Park Shin Hye || Genre: Sad, Romance, Friendship || Leght: Short Chapter || Rating: PG-13

A/N: Anneyeong! Aku kambek dengan FF Request dari Teresya eonni. Maaf ya eon karna nih FF jadinya lama banget J

.

.

My Mistake is Loving You…- Park Shin Hye

My Mistake is Let You Go..- Choi Jonghoon

But, I will never let you go again. I will cherish you and loving you forever.

.

Happy Reading

 

Noona, bagaimana pendapatmu?” Tanya seorang lelaki sambil memangku dagunya. Matanya menatap lekat perempuan berumur 5 tahun lebih tua darinya yang sedang menghisap wangi dari asap putih yang berasal dari secangkir Frappucino miliknya. “Kau yang bodoh! Karna kau tak menyadari bahwa kau mencintainya.” Ucapnya enteng, balas menatap tajam lelaki berstatus adik sepupunya. “MWO?! Maksud Noona?”

“Wanita mana yang tidak sakit hati di katai seperti itu? Apa kau bodoh? Mengeluarkan kata-kata tajam seperti itu terhadap wanita yang kau cintai?! Kemana akal sehatmu Choi Jonghoon?! Aku menyesal mempunyai adik tak berperasaan sepertimu.” Jika saja mereka tidak sedang membahas hal yang cukup penting, mungkin Jonghoon tak akan tinggal diam menerima hujatan kakaknya. “Dia hanyalah sahabatku Noona! Aku tak pernah mencintainya.” Elak Jonghoon. Sementara itu yeojaberambut pendek model bob itu hanya tersenyum meremehkan.

“Benarkah kau tak mencintainya? Setelah kau hampir gila di tinggal beberapa hari saja tanpa kabar darinya? Hingga kau repot-repot menyuruhku dari Jeju ke Seoul hanya untuk menanyakan apa yang harus kau lakukan? Lalu dengan tampang memelas seperti anak anjing kau memohon untuk memberikanmu saran? Apa itu bukan bukti kalau kau mencintainya? Bila kau tak mencintainya kau akan langsung meminta maaf padanya. Tanpa harus memanggilku pulang ke Seoul hanya untuk menanyakan saran yang tepat. Kau mencintainya Jonghoon-ah, jangan mengelak.”

Berakhirnya kata-kata itu membuat Jonghoon kalah telak. Dia sudah tidak bisa berkutik, dia sudah tertangkap basah. Ia memang menyimpan sebuah perasaan khusus untuk sahabatnya. Bodohnya, dia sendiri tak menyadari perasaan apa itu dan ia baru menyadari ketika hubungan mereka merenggang.

“Turunkanlah sedikit harga dirimu dan pergi berlutut meminta maaf padanya…,” Perkataan itu mampu membuat lelaki yang awalnya menunduk itu mendongak. Menatap yeoja dihadapannya dengan tatapan tak percaya. Berlutut dihadapan orang untuk meminta maaf adalah hal yang tabuh baginya, karna harga diri adalah nomor satu. “Tapi aku tak bisa menjamin kamu bakal mendapat maaf darinya. Karna kau sudah melewati batas Jonghoon-ah. Kau sudah terlalu menghancurkan perasaan halusnya. Pergi dan hubungi dia, meminta maaf-lah lalu jujurlah tentang isi hatimu. Masalah ditolak atau tidak lihat saja nanti. Andai kau ditolak, aku yakin kau tetap merasa tenang setidaknya dia sudah mengetahui perasaanmu.”

Kakak sepupunya kali ini benar. Dialah yang membuat masalah, sedangkan sahabatnya hanya membantunya. Jadi dia juga yang harus mengakhiri semuanya sebelum dia sendiri yang menyesal. Jonghoon menggenggam kedua tangan Noona-nya erat, matanya berbinar layaknya seorang anak kecil yang baru dibelikan permen.

Gomawo Noona. Aku akan menuruti semua saranmu, jeongmal gomapta. Aku benar-benar berhutang padamu. Anneyeonghi gyeseyo!”

Sejurus kemudian lelaki berambut hitam itu berlari keluar dari Coffe shop dengan senyuman merekah dibibirnya. Ia bertekad akan mengakhiri semua sandiwara ini secepatnya.

 

~.~.~

Seorang gadis berjalan lunglai menyusuri trotoar. Tak peduli angin malam musim gugur yang semakin menghujam. Sakit yang ia rasakan di dadanya membuatnya bagaikan manusia yang sudah mati rasa. Jarum jam sudah berjalan menuju ke angka 10 malam, namun jika dilihat sepertinya gadis berambut panjang itu sama sekali tak berniat untuk pulang. Ia hanya berjalan tanpa tujuan sambil menunduk sedari tadi. Pikirannya kembali melayang ke kejadian tadi siang, dimana ia mendengar isi hati sesungguhnya orang yang ia cintai. Sangat menyakitkan bila orang yang kita cintai mengatakan secara gamblang yeoja yang ia sukai, yang ternyata itu bukanlah diri kita.

Kaki-kaki mungilnya terus menendang kerikil-kerikil tak berdosa yang menghalangi jalannya. Bisa dilihat gurat kelelahan dan kesedihan bercampur menjadi satu di wajah cantiknya. Tiba-tibaHandphone yang berada di kantong mantelnya bergetar, memberitahu bahwa ada yang memanggilnya. Dengan malas ia mengeluarkan sebagian benda kotak bewarna putih itu dari kantongnya. Senyuman miris terukir jelas di muka kuyu-nya, melihat siapa nama penelfon tersebut. Hati kecilnya menyuruh untuk mengangkat panggilan tersebut, namun disisi lain dia sangat enggan untuk berhubungan lagi dengan mantan sahabatnya. Bunyi deringan telfon terus menerus berkumandang tanpa putus asa, memecahkan sunyi di jalan perumahan Gangnam. Lama kelamaan ia sendiri jenuh dan terganggu dengan suara tersebut, hingga dengan kasar ia langsung membuka casing handphone-nya dan mencabut batrai-nya. Hatinya masih berkecamuk antara rindu, marah, kecewa dan lainnya.

Shin Hye berkali-kali menyebut dirinya sendiri bodoh. Bagaimana tidak? Setelah semua yang makian yang ucapkan lelaki itu. Belum lagi ditambah kejadian tadi siang saat memergoki lelaki tadi denganyeoja lain. Mengapa sampai sekarang ia masih mencintainya? Malah perasaannya makin bertambah, mengapa tak hilang dimakan waktu saja? Bukankah ia bodoh masih mengharap seorang laki-laki yang jelas-jelas membencinya? Karna saking banyaknya melamun dia sampai tak sadar kakinya sudah membawanya sampai depan pintu rumahnya. Ia menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Tangannya membuka pintu kayu dan masuk ke dalam bangunan tersebut dengan senyum yang mengembang. Berbeda dengan raut putus asanya saat di jalan tadi.

EommaAppa! Aku pulang!” Teriaknya seperti biasa.

Segera ditaruhnya kantong plastik berisi belanjaan untuk kebutuhannya selama di pesawat besok. Sebagian besar berupa snack dan minuman kaleng, ada juga beberapa majalah terbaru yang meliputgossip terbaru artis-artis Korea.  “Omona! Buat apa kau berbelanja sebanyak ini Shin Hye-ah?” Kaget Mrs. Park yang baru melihat ‘perbuatan’ anaknya. Sedangkan yang ditanya hanya nyengir tanpa dosa. “Itung-itung sebagai penghibur di pesawat nanti Eomma. Agar tidak bosan.” Jawabnya membuat Mrs.Park akhirnya menyerah untuk menanyai anaknya lagi dan memutuskan untuk kembali ke kamar. Sepeninggalan Ibunya, wajah Shin Hye berubah 180 derajat, dari yang awal terlihat cerah sekarang kembali ke wajah murung tak bersemangatnya. Sebesar itukah dampak seorang Choi Jonghoon dalam kehidupannya? Hingga ia berani memakai Poker Face di hadapan Ibunya sendiri? Lagi-lagi helaan nafas berat keluar dari mulut Shin Hye

 

~.~.~

Jonghoon terus berlari menyusuri setiap tempat yang ada di sekolahnya. Nafasnya sudah memburu, namun niatan untuk beristirahat sejenak belum ada. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan, sudah beberapa kali ia memutari sekolahnya. Tapi orang yang dicarinya masih saja belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya hari ini. Dengan berat hati kakinya berjalan ke papan yang terpajang angkuh di depan sekolah. Pada urutan ke-26 namanya dicetak rapi dengan tanda kelulusan di sampingnya. Lalu dia beralih pada urutan 179 yang disana tertera jelas nama yeoja yang telah ia sakiti sekaligus ia cintai,

 

PARK SHIN HYE

 

Ia menyerah, membalikkan badan dan berjalan pulang dengan langkah lemas. Energinya sudah habis, karna sumber tenaga yang ia miliki sudah hilang karna perbuatannya sendiri. Pertanyaan tentang hilangnya Shin Hye terus saja mengganggu pikiran Jonghoon.

‘Apakah perempuan itu tak ingin tau bahwa ia lulus atau tidak?’

‘Kenapa ia tak masuk?’

‘Apa ia sebegitu percaya dirinya akan lulus sampai tak muncul pada hari yang sangat menentukan?’

Pagi tadi Jonghoon sudah mengunjungi rumah Shin Hye. Sayangnya rumah itu tampak sepi dan tak berpenghuni. ‘Apakah mereka sedang berlibur?’ Lagi dan lagi, hanya seorang Park Shin Hye-lah yang mampu membuat Choi Jonghoon memikirkannya seharian. Langkah kakinya terhenti ketika matanya yang tertuju pada aspal sekolah melihat sepasang sepatu kets putih menghalangi jalannya. Ia mendongak, mendapati wanita berambut lurus panjang tengah bediri tepat dihadapannya sembari tersenyum malu. Lama mereka berdiam saling menatap dengan ekspresi yang –sangat- berbeda jauh, sampai wanita tersebut memecah kecanggungan yang sempat terjadi antara mereka. “Jonghoon-ah, kau menyatakan perasaanmu lewat surat waktu itu Dan kau ingin aku menjawabnya hari ini bukan?” Jonghoon tak merespon.

“Ak-Aku.. Mau… Men..jadi pacarmu.” Ucap Uee susah payah. Baru kali ini ia mengiyakan tawaran pacaran dari seorang namja. Selama ini selalu saja ia menolak. Lelaki itu hanya mampu tersenyum miris, mengasihani yeoja polos di depannya.

“Dengarkan aku baik-baik. Aku serius akan perasaanku waktu itu. Aku menyukaimu, bahkan sempatmencintaimu. Tapi dalam jangka waktu satu minggu, segalanya berubah. Aku baru sadar bahwa ada orang lain yang jauh lebih penting darimu. Mungkin ini akan menyakitkan untukmu, namun aku pikir ini lebih baik diberi tahukan di awal. Aku tak mencintaimu lagi. Mianhe, bila kau tersakiti.” Tepat selesai Jonghoon menyelesaikan kalimatnya ia langsung pergi. Meninggalkan Uee yang sudah menangis. Ia takut akan goyah dan kasihan melihat tangis yeoja itu, untuk kali ini dikuatkan hatinya hanya untuk seseorang.

Saking tergesa-gesanya, Jonghoon sampai tak melihat orang yang sedang terburu-buru berjalan di arahnya dengan perhatiannya memusat pada setumpuk dokumen yang dibawanya.

 

BRUK

 

Tubrukan pun tak terhindarkan lagi. Mungkin ini adalah hari sial bagi Jonghoon, sudah tak menemukan Shin Hye, harus mencampakkan Uee dan sekarang? Menabrak salah seorang guru yang terkenal killerdi sekolahnya. “Chongseohamnida sonsaengnim, aku tak memperhatikan jalan tadi.” Kata Jonghoon sambil membantu membereskan berkas dokumen yang sebagian sudah jatuh ke aspal. Gerakannya membatu seketika, dokumen yang berada di genggamannya sungguh mengejutkan. Tentang surat pernyataan pengambilan ijazah & rapot sebelum tanggal yang sudah ditentukan, dengan alasan ingin melanjutkan pendidikan ke luar negri dan hari keberangakatannya sangat tidak memungkinkan untuk mengambil berkas kelulusan sesuai prosedur sekolah. Kertas itu lepas dari tangan Jonghoon saat sebuah tarikan kasar merebut kertas tersebut, sekaligus menyadarkan namja itu untuk kembali ke dunia nyata.

Sonsaengnim, apa benar Shin Hye pergi ke Jepang?” Guru berkaca mata bundar itu hanya mengangguk sekilas, tetap fokus merapikan dokumennya. “Dimana kota yang keluarganya tinggali?” Tanya Jonghoon sekali lagi dengan nada tak sabaran. Guru itu tampat berfikir sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan salah satu muridnya. “Sepertinya di Okinawa. Sudahlah, aku ada urusan penting. Lainkali berhati-hatilah jika berjalan!” Jawab Han sonsaengnim lalu segera berlalu.

 

~.~.~

Senyuman terus terukir jelas di wajah cantik Shin Hye. Matanya terpejam merasakan angina segar nan bersih khas pegunungan. Tidak seperti orang lainnya setelah sampai di Jepang tepatnya Okinawa, dia malah memilih untuk pergi ke puncak dekat Villa-nya. Ya, karna dia masih tergolong baru di Jepang sekaligus sudah menyelesaikan jenjang sekolah. Orang tuanya memperbolehkannya tinggal bersama kakek dan neneknya di daerah pegunungan. Itung-itung libur sementara sebelum kembali masuk ke universitas.

“Shin Hye-ah! Bisakah kau menggembalakan domba? Harabeoji sedang tidak enak badan.” Pinta nenek Shin Hye lembut. Perempuan muda itu mengangguk pasti.

“Tenang saja, aku akan menjaga domba dengan baik Halmeoni. Percayakan saja padaku, toh ada Lolo –nama anjing penggembala mereka- yang membantuku.” Shin Hye bangkit dari duduknya dan langsung melaksanakan tugasnya, tak lupa berpamitan dan mencium kedua pipi nenek dan kakeknya.

Tak gampang menggembalakan sekelompok domba, mereka bukanlah anak TK yang masih bisa diajak berkomunikasi. “Akhirnya…” Desah Shin Hye lega setelah berhasil menggiring para dombanya ke padang rumput terdekat. Segera dia mendudukkan pantatnya di atas rumput hijau memandangi pemandangan dari puncak. Sawah dan berjuta-juta pohon terbentang luas di bawah sana. Untuk sekian kalinya matanya terpejam agar lebih meresapi suasana seperti ini, bahkan rambutnya ikut menari-menari tertera angin. Suara petikan gitar menyusup di suasana tentram membuat yeoja itu makin larut. Entah nyata atau tidak, suara gitar tadi semakin lama makin dekat dan serasa nyata.

Karna heran Shin Hye bangun dan melihat sekelilingnya. Badannya terpaku ketika kornea-nya menangkap sesosok yang sangat dikenalinya. Sosok yang selalu berada dihatinya, sosok yang selalu mengganggu dirinya, pokoknya segala hal yang mengusik ketenangan hatinya. Jantungnya bergemuruh kencang saat sosok itu jalan ke arahnya dengan gitar akustik di tangannya. Senyuman lebar terpajang apik di wajah tampannya. Shin Hye masih tak bergeming walau sosok itu sudah berada tepat di depannya, berjongkok –mensejajarkan tubuhnya dengan Shin Hye-.

“Jo-Jonghoon? Ba-Bagaimana bi-bisa?” Lelaki itu mengacak pelan rambut Shin Hye, merasa lucu dengan ekspresi terkejut milik perempuan itu dan suaranya yang terbata. “Mianhe telah menampar dan memarahimu saat itu. Aku benar-benar kalut dan aku menyesal atas perbuatanku. Mau kah kau memaafkanku?” Shin Hye mengangguk kaku.

Jonghoon kembali memetikkan senar gitarnya membuat alunan melodi teratur nan indah. Akhirnya dia ikut duduk bersama Shin Hye, tepat disebelah yeoja itu. “Hari ini Uee menjawabnya dan dia menerimaku,” Shin Hye tertegun, hatinya merutuki kenapa Jonghoon datang padanya hanya untuk mengatakan hal yang menyakitinya. “Tapi.., aku menolaknya dan disaat itu juga dia menangis.”

“Wa-Wae? Kau tega padanya Jonghoon-ah.”

“Karna cintaku pada Uee selama bertahun-tahun dengan mudahnya berubah hanya dalam jangka waktu satu minggu.” Jelas Jonghoon membuat Shin Hye berdecak, tak mengerti apa kemauan sahabatnya. “Kau akan menyesal karna menolaknya hanya untuk obsesi sementara.” Komentar Shin Hye apa adanya. Aneh, Jonghoon malah tersenyum manis dan menggeleng –menyalahkan pendapat sahabat perempuannya.

“Aku Choi Jonghoon, tidak pernah menyesal dengan keputusanku kali ini. Aku yakin rasa ini bukan obsesi semata karna aku sudah mengenal yeoja itu dari lama. Hanya saja bodohnya aku hingga tak merasakannya, sampai pada akhirnya dia pergi.”

Shin Hye mencibir, mengejek kalimat puitis Jonghoon. “Shin Hye-ah, tetapi hari ini aku senang sekali. Banyak kejutan menghampiriku, hanya tinggal dua hal yang membuat hari ini tak begitu sempurna.” Cerocos Jonghoon.

“Senang? Kenapa? Dua hal yang membuat harimu tak sempurna? Apa itu?” Tanya Shin Hye kilat, dia sangat penasaran. “Ya, aku senang karna hari ini aku dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku juga tak menyangka dapat menolak Uee yang sebelumnya tidak pernah terlintas di pikiranku, hal itu bagai kejutan karna terlalu ekstrem menolak perempuan yang pernah kita suka,”Namja itu terkekeh sebelum melanjutkan kembali ceritanya.

“Dan yang paling membahagiakan adalah aku berhasil menemukan yeoja yang tadi kuceritakan. Kau tau, aku hari ini saja sudah beribu-ribu kali mengucapkan kata syukur pada Tuhan. Bahkan dia sudah berada di sampingku sekarang.”

Perempuan itu lantas menoleh kaget ke arah Jonghoon yang tetap menerawang jauh ke langit. Akal sehatnya sekarang tidak cukup mampu menganalisa kata-kata Jonghoon. Tidak ada yeoja lain disamping Jonghoon sekarang, selain dirinya. Apa itu berarti….. Perempuan yang dimaksud itu adalah dirinya? Mana mungkin? Berbagai pertanyaan bertebangan di benaknya tapi dia tetap memilih diam.

Entah sudah sejak kapan atau mungkin Shin Hye yang terlalu larut dalam lamunannya, sampai-sampai tak menyadari kenyataan Jonghoon yang sudah ada di depannya dengan senyuman yang masih setia berkembang.

“Park Shin Hye, Aku menyukaimu…. Menyayangimu… dan mencintaimu..”

Shin Hye bagai terpaku saat itu juga. Momen ini bagaikan seperti kilat yang datang begitu cepat disaat dia lengah, tak membiarkan sedetikpun ia untuk mencerna semua kenyataan. “Mengapa? Bukannya kau membenciku?” Jonghoon tersenyum kecil sebelum menjawab. “Ani, aku tidak pernah bisa benar-benar membencimu. Karena pada dasarnya aku mencintaimu.” Jawbannya ringan namun mampu membuah Shin Hye ingin terbang sekarang.

“Jadi, bagaimana Park Shin Hye? Would you be My Girlfriend?”

Tanpa sadar air mata bahagia menetes begitu saja dari pelupuk mata yeoja itu. Ia mengangguk semangat, “Of Course!” Tidak usah membuang waktu lama, Jonghoon segera menarik yeoja-nya kedalam pelukannya sambil sesekali mengecupi puncak kepala Shin Hye. Dia sangat bersyukur pada Tuhan, mampu membukakan matanya. Mampu menyadarkannya, siapa perempuan yang benar-benar ia cintai. Bukan hanya ia cintai sesaat, tapi selama-lamanya. Dan hatinya menjawab hanyalah seorang Park Shin Hye yang bisa menguasai seluruh jiwa dan raganya.

Tiba-tiba Shin Hye melepas pelukannya saat teringat sesuatu, “Oh ya, kemarin aku melihatmu bersama seorang yeoja di Coffe ShopNuguya?” Tanya Shin Hye menyeledik.

Sontak tawa Jonghoon meledak, membuat lawan bicaranya mendengus sebal. “Kau cemburu? DiaNoona-ku, kakak sepupu dari Jeju. Dasar bodoh!”

“YA! Kau yang bodoh!”

Ani, kau yang bodoh!”

“CHOI JONGHOON PABO!”

“PARK SHIN HYE LEBIH BODOH!”

“YAAA!!!”

 

.

.

.

END

.

.

.

Maaf buat Teresya Eonni udah nunggu nih FF lama banget (x-x)
Dan baru bisa aku post hari ini. Sekali lagi mianhe #bow
Gimana endingnya? Sesuai kah?? Aku harap nih FF sesuai harapannya eonni :’)

2 thoughts on “Mistake #3-END

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s