[Drabble] 3 Version of “Gone”


Author: Shanne Viviana.

WARNING! ALL CAST IN THESE FANFICTION ARE EXO-SHIDAE.

1. “Gone” Kris-Sica Version.

image

Pict by: Melurmutia – Cafe Poster Art
***

Kris memandangi sebuah cincin yang sejak tiga puluh menit yang lalu kembali lagi padanya. Pikiran pria itu kacau, sama sekali tidak bisa berpikir lagi. Organ tubuhnya serasa tidak bisa bekerja lagi. Semuanya terasa mati. Bahkan ia tidak yakin apakah kini roh-nya masih ada di dalam raganya atau tidak.

Ia tidak pernah menyangka jika kisah cintanya akan menjadi seperti ini. Hancur berantakan. Ini … benar-benar diluar perkiraannya. Ia pikir semuanya akan baik-baik saja. Ia pikir gadis itu berpikiran sama seperti dirinya yang ingin membawa hubungan mereka di jenjang yang lebih serius, tapi ternyata tidak. Gadis itu lebih memilih karier-nya. Gadis itu … melepaskannya hanya demi karier-nya.

Pria itu tersenyum miris kepada dirinya sendiri. Menyedihkan sekali dirinya saat ini. Bukankah … Bukankah dia benar-benar terlihat tidak berarti? Lalu apa gunanya hubungan mereka empat tahun belakangan ini? Apa gadis itu menganggap hubungan mereka hanya sekedar permainan yang tidak berarti saja?

Kris menggenggam cincin yang berwarna silver itu dengan erat, seolah-olah sama sekali tidak ingin cincin itu lepas dari genggamannya. Tidak ingin cincin itu bernasib sama seperti gadisnya yang kini sudah terlepas dari genggamannya. Dan pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu, saat gadis itu menolak lamarannya.

“Aku …” Jessica menatap Kris dengan pandangan yang sulit diartikan. Lidah gadis itu seolah menjadi kelu, tidak sanggup berkata apapun. Ia masih tidak percaya jika Kris akan melamarnya secepat ini. Ini sama sekali tidak terduga olehnya.

Jessica menghela nafas sejenak sebelum akhirnya membuka suaranya. “Mianhae … Aku tidak bisa,” ujarnya. “Aku akan melanjutkan studi-ku ke Paris. Kau tahu sendiri kan, menjadi model adalah impianku sejak dulu. Dan … aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini,” lanjutnya  seraya menutup kotak berwarna merah beludru itu. “I’m sorry, Kris.”

Kilasan memori itu lagi-lagi berputar di otaknya, seolah-olah seperti roll film yang terus-menerus berputar tanpa henti. Dan ia membenci itu. Ia benci ketika kalimat itu lagi-lagi mengalun di benaknya. Kalimat yang tidak pernah ia harapkan keluar dari mulut gadis itu.

Kris  menarik nafasnya yang terasa sangat berat. Pria itu sadar bahwa gadis itu sudah pergi, sudah menjauh dari lintasannya dan tidak akan bisa ia raih lagi. Gadis itu … sudah terlepas dari genggamannya.

***

2. “Gone” Kai-Soo Version.

image

Pict by: Melurmutia – Cafe Poster Art
***

Incheon International Airport.

Seorang pria terlihat tengah berlari di tengah kerumunan orang-orang di bandara Incheon. Mata pria itu mengamati sekelilingnya dengan begitu teliti, berusaha agar tidak ada seorangpun yang luput dari pandangannya. Dan tidak perlu menjadi orang pintar untuk tahu apa yang sedang dilakukannya sekarang; pria itu sedang mencari seseorang disini, di bandara Incheon ini.

Tatapan pria itu berhenti di sebuah papan yang menampilkan jadwal penerbangan semua maskapai hari ini. Detik berikutnya, pria itu merasakan lemas di bagian lututnya saat ia melihat bahwa pesawat yang melakukan penerbangan ke New York hari ini sudah lepas landas sejak sepuluh menit yang lalu.

Sia-sia. Usaha dirinya untuk bertemu dengan gadis itu sia-sia saja. Gadis itu sudah pergi, sudah meninggalkannya, bahkan sebelum ia meminta maaf kepada gadis itu. Mungkin gadis itu sudah cukup jengah dengan sikapnya selama ini, sampai-sampai tidak memberikan waktu kepadanya bahkan untuk sekedar meminta maaf.

Selama ini ia sudah menyia-nyiakan gadis itu. Bahkan seolah tidak mempedulikan kehadiran gadis itu sama sekali. Tidak menyadari betapa berharganya cinta gadis itu untuknya. Dan ketika gadis itu meminta untuk berpisah dengannya, ia bahkan tidak berusaha mencegah gadis itu sama sekali. Ia melepaskan gadis itu seolah-olah itu adalah hal paling mudah yang pernah dilakukannya.

Seandainya ia bisa memutar kembali waktu, maka ia tidak akan pernah menyia-nyiakan gadis itu seperti yang dilakukannya dulu. Memperlakukan gadis itu seakan-akan gadis itu tidak berarti sama sekali baginya. Ia … Ia benar-benar menyakiti gadis itu, dan sekarang ia mendapat balasan atas sikapnya itu.

Kai menatap pemandangan sekelilingnya dengan tatapan yang sulit untuk didefinisikan, seolah berharap agar sosok itu muncul di antara kerumunan dan menyambutnya dengan senyuman yang selalu gadis itu berikan untuknya. Tak peduli walaupun ia sama sekali tidak membalas senyuman itu.

Bodoh! Berapa kali ia menyia-nyiakan gadis itu selagi masih berada di sisinya? Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh sekali dirinya itu. Bahkan mungkin permintaan maafnya itu tidak bisa membayar semua sikapnya kepada gadis itu dulu.

Benar-benar sial! Kenapa ia harus menyadari perasaan itu sekarang? Kenapa ia harus menyadarinya disaat seperti ini? Saat gadis itu sudah pergi dari sisinya. Mungkin benar kata orang-orang jika penyesalan datang belakangan, karena … itulah yang ia rasakan kini.

***

3. “Gone” Sehun-Tiffany Version.

image

Pict by: Priskila Art
***

Tiffany menatap seorang pria yang kini sedang terbaring diatas ranjang dengan berbagai selang yang terpasang di tubuhnya dengan tatapan nanar. Suasana yang sepi, dan bau obat-obatan yang begitu kentara tercium di ruangan ini semakin membuat keadaan disini terasa tidak nyaman.

Gadis itu menggenggam tangan pria itu dengan begitu erat, seolah-olah tidak ingin pria itu pergi dari sisinya. Berharap pria itu akan segera membuka matanya, kembali menatapnya seperti dulu, kembali berinteraksi dengannya seperti dulu.

Tiffany menyeka airmatanya yang sejak tadi terus jatuh dari pelupuk matanya menyusuri pipi mulusnya. Berkali-kali ia menahan isakan itu agar tidak keluar dari mulutnya, berusaha tidak terlihat lemah di depan Sehun—sekalipun pria itu bahkan tidak melihatnya sama sekali.

“Ireona …” gumaman itu sangat pelan, sampai-sampai nyaris tidak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. “Ireona … Apa kau tidak merindukanku, eoh? Apa mimpimu begitu indah, sampai-sampai hanya sekedar membuka matamu saja pun kau tidak mau? Sebegitu lelahnya-kah kau, sampai-sampai kau tidak ingin untuk bangun?” tanya gadis itu yang ditujukan untuk pria di hadapannya. Sayangnya, pria itu bahkan tidak merespon sama sekali ucapannya, membuat airmata itu kembali jatuh. “Jebal ireona, Sehun~a.”

Sebenarnya ia sudah sangat lelah terus menunggu Sehun seperti itu, bahkan ia merasa hal yang ditunggunya itu seolah adalah hal yang sia-sia. Sudah enam bulan semenjak pria itu seperti ini, dan keadaan pria itu tidak pernah membaik setiap harinya, bahkan mungkin semakin memburuk.

Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya agar pria itu bangun dari koma-nya. Ia benar-benar tidak tahu. Satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu, menunggu, dan terus menunggu seperti sekarang ini. Menunggu sampai pria itu membuka kembali matanya sama seperti enam bulan yang lalu.

Lamunannya seketika saja buyar ketika suara dari monitor pendeteksi detak jantung itu berubah. Dengan cepat ia menoleh ke arah monitor itu dan hanya ada satu garis lurus yang ditunjukan oleh monitor itu, yang berarti …

“Tidak!” Tiffany menggeleng ketika pemikiran itu hinggap di otaknya. Dan di detik berikutnya, gadis itu dengan cepat menekan tombol yang berada tidak jauh dari ranjang Sehun. Tak lama seorang dokter dan dua orang perawat datang dengan langkah yang tergesa-gesa. Sang dokter lantas mengambil alat defibrilator, berusaha membuat nyawa pria itu kembali pada raganya.

Setelah beberapa kali mencoba, sang dokter memilih untuk menyerah. Ia kemudian menoleh ke arah Tiffany dan menggeleng. “Maaf, nyawanya sudah tidak dapat ditolong lagi,” ujarnya.

Tiffany menggeleng tak percaya mendengar penuturan dari dokter tadi. Gadis itu menggoncangkan tubuh Sehun sembari berteriak kencang. “BANGUN!! KUBILANG BANGUN, OH SEHUN!! Kau tidak mungkin meninggalkanku sendirian, ‘kan? Iya, ‘kan? JAWAB AKU!!” teriaknya hilang kendali, tapi tentu saja Sehun tak menjawab apa-apa.

Tubuh gadis itu sontak saja merosot, terduduk diatas lantai. Berkali-kali ia menggeleng, berusaha menepis hal itu, tapi itu semua percuma saja. Isakan demi isakan keluar dengan begitu keras dari mulut gadis itu, membuat bahu gadis itu terguncang pelan. Dan saat itu juga ia menyadari bahwa … pria itu sudah pergi dari sisinya. Pria itu … sudah meninggalkannya sendirian untuk … selamanya.

***

7 thoughts on “[Drabble] 3 Version of “Gone”

  1. Kasian juga si hunfany..
    Lah…lah …rasain tuh kai ,nyeselkan gra nyia2in soo. Plajaran tuh buat kamuu.
    Kris …#pukpuk
    Sini sma aku aja , aku juga mau kok dilamar kamu..#weh
    Heheh btw q reader baru nh..
    Salam kenal

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s