[TRILOGY] When the Love Falls: Can You Wait for Me? (MEN VERSION)


image

Author: Shanne Viviana.

Cast: Lee Dong Hae, Park Min Chan, Luhan, Choi Ji Eun, others.

Credit Poster by: Wolveswifeu – Poster Designer
***

Tubuh Luhan langsung mengejang kaku saat ia melihat dua orang yang sudah tidak asing lagi baginya itu berdiri tidak jauh dari tempatnya dan Ji Eun kini. Tatapan kedua orang itu sama. Tidak percaya, terkejut, dan … Entahlah, ia juga tidak tahu apalagi arti dari tatapan-tatapan itu. Sulit diterjemahkan.

“Luhan … Kau …” Min Chan menghentikan kata-katanya yang belum selesai membentuk sebuah kalimat itu dengan nada yang benar-benar terdengar tidak percaya. Ia sama sekali tidak percaya dengan pendengarannya barusan saat Luhan berteriak bahwa pria itu mencintainya.

Dengan cepat, Luhan berjalan ke arah Min Chan, menarik tangan gadis itu agar mengikutinya keluar dari kafe tersebut. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin? Menjelaskan bahwa apa yang didengar oleh Min Chan, Dong Hae, dan Ji Eun tadi bukan apa yang seperti mereka pikirkan.

Sementara itu, Dong Hae dan Ji Eun yang sejak tadi hanya berdiam diri menyaksikan kejadian tersebut, tidak bisa berbuat apapun juga. Bahkan untuk menarik nafas pun terasa sangat sulit. Oksigen yang tadinya sangat mudah untuk mereka dapatkan kini terasa langka. Dadanya sesak, karena pasokan oksigen yang tidak bisa sampai pada paru-parunya. Tubuh mereka kaku, kebas, sama sekali tidak bisa bergerak seinci pun.

Dong Hae berjalan pelan ke arah Ji Eun, berusaha mengabaikan rasa sakit yang sekarang tengah ia rasakan. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Ji Eun yang saat ini masih terduduk kaku. “Kajja,” ujarnya pelan, nyaris terdengar seperti bisikan. Mungkin jika Ji Eun berada sedikit lebih jauh lagi, maka ia tidak bisa mendengar kalimat apa yang dikeluarkan oleh Dong Hae.

Ji Eun tidak merespon apapun terhadap perintah Dong Hae tadi. Ia hanya memandang punggung kedua orang itu dengan tatapan nanar. Bahkan mengedipkan matanya sedetik saja pun tidak. Tatapan matanya terus tertuju pada dua sosok yang bahkan sekarang sudah tidak ada lagi.

“Kajja!” Kali ini Dong Hae sedikit meninggikan suaranya. Sedikit merasa tidak sabar dengan respon Ji Eun yang mengacuhkan perintahnya.

Ia tahu hal itu pasti sangat sakit. Tapi, tidak bisakah gadis itu merespon sedikit perintahnya? Apa gadis itu tidak tahu jika ia juga merasakan sakit yang teramat sangat saat ini? Bukankah ia juga bernasib sama seperti Ji Eun? Mencintai seseorang yang bahkan sama sekali tidak mencintainya. Bahkan mungkin sebentar lagi gadis itu akan menjadi milik orang lain.

Ia tidak pernah mengatakannya pada siapapun jika ia mencintai gadis itu sejak pertama kali ia bertemu dengan gadis itu. Tepatnya, lima tahun yang lalu. Selama ini, ia menyimpan perasaan itu secara diam-diam. Sama sekali tidak pernah terucap dari mulutnya. Oh silahkan, jika mereka yang tahu tentang hal ini mengatainya seorang pengecut. Ia tidak peduli. Ia sama sekali tidak peduli pendapat orang-orang. Yang penting baginya adalah gadis itu, pendapat gadis itu, segalanya tentang gadis itu.

Ia bisa melakukan semuanya dengan benar karena gadis itu. Gadis yang menjadi alasannya untuk tetap bernapas dengan benar. Gadis yang menjadi alasannya untuk membuka mata di pagi hari ini hanya agar dapat melihat gadis itu lagi. Satu-satunya gadis yang ia inginkan menjadi miliknya.

Dong Hae menarik nafas berat, sebelum akhirnya meraih tangan Ji Eun, berusaha membuatnya beranjak dari duduknya. Tapi Ji Eun bahkan sama sekali tidak berniat untuk merubah posisinya, pandangannya menerawang lurus ke depan.

“Bangun!”

Ji Eun masih tetap diam.

“KUBILANG BANGUN, CHOI JI EUN!!” teriak pria itu kehilangan kendalinya. Dan hal itu berhasil membuat Ji Eun bereaksi, walau gadis itu hanya menoleh pelan saja padanya. Menatapnya dengan tatapan yang benar-benar memperlihatkan kesakitan yang teramat sangat.

Ji Eun menatap Dong Hae dengan senyuman miris yang tergambar dengan jelas di wajahnya. Menertawakan dirinya sendiri. “Ternyata aku benar. Dia … mencintai gadis itu. Pria yang selama ini aku cintai … ternyata mencintai gadis lain,” gumamnya lirih.

Dong Hae menatap Ji Eun miris. Bertanya-tanya dalam hati. Apa keadaannya terlihat sama kacaunya seperti Ji Eun? Mengingat ia juga bernasib sama seperti gadis itu. Mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah menatapnya. Mencintai seseorang yang bahkan tidak tahu sama sekali tentang perasaannya. Ini sungguh menyakitkan. Ini … sungguh sangat menyakitinya.

~~~

Min Chan melepaskan genggaman Luhan di tangannya itu dengan kasar. Gadis itu menatap Luhan lekat, seolah meminta penjelasan atas hal yang baru saja didengarnya tadi. “Jelaskan! Apa maksud perkataanmu tadi?” tanyanya, sedangkan Luhan hanya diam. “Jawab aku!!”

“Aku mencintai gadis itu!!” teriak Luhan, membuat kening Min Chan sontak berkerut saat mendengar hal itu. Luhan menarik nafas berat kemudian kembali berkata, “Aku mencintai gadis itu. Aku mencintai Ji Eun, Choi Ji Eun,” ucapnya lemah dengan kepala yang tertunduk.

Min Chan menatap Luhan tidak mengerti. “Apa … maksudmu? Kau mencintai gadis itu? Lalu kenapa kau—”

“Aku tidak suka saat gadis itu bersama pria itu. Jadi aku memintanya untuk menjauh dari pria itu. Tapi ia justru bertanya alasannya. Aku yang bodoh, memang. Seharusnya aku memikirkan hal itu dulu, memikirkan alasan itu dulu sebelum meminta agar Ji Eun menjauh dari Dong Hae. Saat itu otakku sepertinya sedang tidak bisa berpikir dengan jernih sampai-sampai aku menggunakan alasan konyol itu.” Luhan mendongak menatap Min Chan yang masih menunggu kelanjutan dari kalimatnya. “Aku berkata bahwa kau mencintai Dong Hae dan aku begitu mencintaimu, sampai-sampai aku bersedia membuatmu bahagia sekalipun itu menyakitiku.”

Min Chan diam tidak bergeming, masih berusaha mencerna ucapan Luhan barusan. Sampai akhirnya, gadis itu memberanikan diri untuk bersuara setelah sekian lama terdiam. “K-kenapa kau tidak bilang saja kalau kau mencintainya? Kalau kau tidak suka jika dia bersama Dong Hae?” tanya Min Chan tidak habis pikir dengan jalan pikiran Luhan. Bagaimana bisa pria itu membuat alasan konyol seperti itu? Mencintainya? Astaga! Sepertinya kepala pria itu habis terbentur oleh sesuatu.

“Kau gila?! Mungkin dia akan menamparku saat itu juga, atau mungkin parahnya dia akan mengacuhkan permintaanku tadi.” Luhan mengacak rambutnya frustasi. “Aku ingin ia berhenti mencintai pria itu. Berhenti menatapnya dan beralih menatapku. Aku ingin ia beralih ke lintasanku dan menjadikanku sebagai pusat tata suryanya.” Luhan menghela nafas berat sejenak. “Apa itu terlalu berlebihan?” tanya Luhan dengan nada lemah. Pria itu menatap Min Chan dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Bagaimana kau tahu kalau Ji Eun mencintai Dong Hae? Apa kau sudah bertanya padanya? Apa Ji Eun sudah mengatakannya padamu?” tanya Min Chan, sedangkan Luhan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Min Chan sama sekali. “Kau belum tahu secara pasti, bukan? Artinya masih ada kesempatan untukmu agar mendapatkan gadis itu. Dan kau tahu, alasan konyolmu tadi itu mungkin saja menghancurkan kesempatanmu untuk mendapatkan Ji Eun,” lanjutnya.

“Tapi terlihat sekali—”

“HENTIKAN PEMIKIRAN KONYOLMU, LUHAN!!” teriak Min Chan lepas kendali. Gadis itu menarik nafasnya dengan berat, kemudian kembali menatap pria di hadapannya itu dengan fokus. “Aku mencintai Dong Hae, dan aku tidak akan melepaskannya begitu saja—baiklah, mungkin aku akan melepaskannya jika ia lebih memilih gadis lainnya. Berusaha bersikap seperti gadis baik lainnya yang melepaskan pria yang dicintainya jika itu bisa membuatnya bahagia. Tapi kau? Kenapa kau terlihat seolah-olah sudah sangat rela untuk kehilangannya? Menarik kesimpulan sendiri dengan mengatakan bahwa Ji Eun mencintai Dong Hae. Apa kau benar-benar serela itu untuk kehilangannya?”

“Aku hanya ingin agar dia menjauh dari pria itu, dengan begitu kesempatanku untuk mendapatkan dirinya semakin besar, bukan? Tapi … jika pada akhirnya ia lebih memilih pria itu … Apa lagi yang bisa aku lakukan selain melepaskannya?”

~~~

Ji Eun menoleh ke arah Dong Hae yang sejak tadi sama sekali tidak bersuara. Tatapan matanya lurus menatap jalanan yang ada di depannya dengan fokus, bahkan sekedar melirik ke arahnya pun tidak ia lakukan sama sekali. Ada sesuatu yang berbeda dengan pria itu semenjak mereka keluar dari kafe.

Dong Hae menghentikan laju mobilnya saat mereka sudah berada tepat di depan rumah Ji Eun. Pria itu menarik nafas berat sebelum akhirnya berkata, “Pulanglah.” Dong Hae berkata tanpa menatap Ji Eun sama sekali. Tatapan pria itu masih menatap lurus ke depan, seolah-olah pemandangan di depan lebih menarik dibanding apapun juga.

“Tapi—”

“Aku bilang pulang, Ji Eun!!” Lagi-lagi pria itu berteriak tepat di depan wajahnya. Tapi, entah ini hanya perasaan Ji Eun saja atau memang tatapan pria itu yang terlihat … menyakitkan. Tatapan yang benar-benar kontras dengan nada bicaranya tadi.

Akhirnya Ji Eun memilih mengalah. Gadis itu hendak membuka pintu mobil, tapi tiba-tiba gadis itu menoleh ke arah Dong Hae dan mengurungkan niatnya semula. Gadis itu menatap Dong Hae lekat, sebelum akhirnya membuka suaranya. “Kau … mencintai Min Chan, ‘kan?” tanyanya. “Kau mencintai gadis itu, ‘kan?”

Untuk sesaat, Dong Hae hanya dapat terdiam. Pria itu bahkan tidak menatap Ji Eun sama sekali. Tatapan matanya terus menatap lurus ke depan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena di menit berikutnya, ia menoleh menatap Ji Eun sembari menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. “Pulanglah …” ujarnya lemah, mengabaikan pertanyaan Ji Eun tadi.

Tanpa bertanya lebih jauh lagi, Ji Eun memilih untuk mengalah. Gadis itu keluar dari mobil Dong Hae dan langsung menghilang di balik pintu rumahnya.

Dong Hae mengacak rambutnya kasar sembari mengerang frustasi. Kejadian beberapa jam yang lalu itu kembali melayang di benaknya. Dia pikir hari ini adalah hari terbaiknya. Hari yang sudah sejak lama ditunggu-tunggunya. Hari dimana ia bisa berinteraksi dengan gadis itu untuk pertama kalinya. Hari dimana ia bisa mengamati setiap ekspresi yang dikeluarkan gadis itu dengan bebas, menyimpannya baik-baik di dalam memorinya, berusaha agar ia tidak lupa. Tapi ternyata tidak seperti itu, tidak seperti apa yang ia pikirkan.

Ia pikir jika Luhan tidak menyukai gadis itu maka kesempatannya untuk mendapatkan gadis itu semakin besar. Maka ia bisa meyakinkan gadis itu bahwa ada seseorang yang selalu berdiri di belakangnya, menjadi penyanggah gadis itu jika terjatuh. Walaupun ia lebih memilih untuk berdiri di samping gadis itu, bukan di belakang gadis itu.

Tapi ternyata Luhan mencintai gadis itu, mencintai Min Chan, membuat kepercayaan dirinya untuk mendapatkan gadis itu menguap sudah—padahal ia belum tahu apakah gadis itu juga mencintai Luhan atau tidak. Tapi ia tidak ingin gadis itu mencintai pria itu, bahkan menatap pria lain-pun ia tidak menyukainya. Sama sekali tidak menyukainya.

Oh baiklah, katakan dia egois, serakah, atau apapun itu, tapi ia tidak peduli karena jika itu menyangkut gadis itu maka ia bisa bersikap seperti itu. Ia bisa melakukannya jika itu memang diperlukan. Karena ia memang tidak menyukai jika gadis itu menatap pria lain selain dirinya. Ia tidak menyukai ketika gadis itu menatap pria lain dengan tatapan yang berbinar-binar, seolah pemandangan itu adalah pemandangan paling menarik yang pernah dilihatnya.

Ia tidak pernah menyangka jika mencintai seseorang harus sesakit ini. Apa memang harus sesakit ini? Mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah mau repot-repot memandangnya sama sekali. Selalu ada pria lain yang berada di samping gadis itu, seolah memberitahukan kepada semua orang bahwa gadis itu adalah miliknya, bahwa gadis itu berada dalam “wilayah kekuasaan”-nya dan orang lain sama sekali tidak boleh memasuki wilayah itu. Termasuk dirinya.

Dong Hae menundukan kepalanya, sehingga dahinya menyentuh stir kemudi mobilnya. Pikirannya kalut. Ia lelah. Ini terlalu berat untuk ia tanggung sendiri. Perasaan ini terlalu berat untuk ia simpan sendirian di dalam hatinya. Ini … sungguh sangat menyakitinya.

~~~

Luhan memacu mobilnya dengan kecepatan normal membelah jalanan kota Seoul yang cukup padat hari ini. Kepala pria itu terasa berat memikirkan kejadian kemarin siang. Pernyataan Min Chan kemarin siang kembali berputar di benaknya. Bahkan ia masih mengingat dengan benar setiap kata yang dikeluarkan gadis itu beberapa jam lalu, seolah-olah gadis itu terus-menerus membisikinya dengan kata-kata itu.

“Kau belum tahu secara pasti, bukan? Artinya masih ada kesempatan untukmu agar mendapatkan gadis itu. Dan kau tahu, alasan konyolmu tadi itu mungkin saja menghancurkan kesempatanmu untuk mendapatkan Ji Eun.”

Luhan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Pria itu menarik nafasnya yang terdengar berat untuk yang kesekian kalinya hari ini. Perasaannya campur aduk. Ia tidak tahu apakah pernyataan konyol yang dibuatnya kemarin bisa membuat Ji Eun beralih menatapnya atau justru … semakin menjauh darinya. Semakin sulit untuk ia jangkau, untuk ia raih.

Pria itu menoleh ke arah kiri, dan saat itu juga pandangannya terpusat pada seorang gadis yang sedang berjalan di trotoar jalan dengan kepala yang tertunduk. Sepertinya ia mengenali gadis itu—astaga, itu Ji Eun, bukan? Ia tidak mungkin salah mengenali sosok itu. Tapi apa yang sedang dilakukannya? Apa sebaiknya ia menghampiri Ji Eun? Atau pura-pura tidak melihat saja?

Luhan mengacak rambutnya frustasi. Astaga, hanya karena hal sepele seperti ini saja perasaannya jadi tidak karuan seperti ini. Sepertinya pengaruh gadis itu baginya benar-benar besar. Luhan menarik nafasnya dalam, sebelum akhirnya keluar dari mobilnya—memberanikan dirinya untuk menemui gadis itu, sedikit berlari ke arah Ji Eun yang jaraknya sudah lumayan jauh darinya.

“Ji Eun~a!” teriaknya yang sukses membuat gadis itu berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya. Matanya sedikit menyipit, berusaha mencari tahu siapa yang tadi memanggilnya, dan langsung berubah menjadi lebar ketika tahu siapa orang itu.

Gadis itu menghela nafasnya, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu di dalam otaknya. Dan tak lama, gadis itu memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti, bahkan sama sekali tidak berhenti lagi ketika Luhan kembali memanggilnya dengan suara yang cukup membuat orang-orang di sekitar sana menoleh ke arah Luhan dengan tatapan aneh.

“Ya! Choi Ji Eun!” serunya lagi, sedikit menarik tangan kanan gadis itu, membuat langkah gadis itu terhenti. “Ya! Kau tidak mendengarnya? Aku memanggilmu sejak tadi dan kau hanya—”

“Chukkae,” sela Ji Eun.

Luhan mengernyitkan dahinya saat mendengar hal itu. “Untuk?” tanyanya menyuarakan pertanyaan yang ada di otaknya saat ini.

“Kau pasti sudah mendapatkan gadis itu, ‘kan? Gadis yang kau cintai itu? Kalau begitu selamat.” Ji Eun tersenyum yang entah kenapa terlihat seperti orang yang sedang kesakitan. Bahkan nada itu pun terdengar sedikit sinis di telinganya. Dan saat itu juga Luhan merasakan pukulan telak di dadanya. Sakit. Ini benar-benar sakit. Perkataan Ji Eun benar-benar menyakitinya. Bukankah ucapan Ji Eun tadi menyiratkan bahwa gadis itu sama sekali tidak mencintainya? Bahkan gadis itu terkesan turut senang jika ia menjalin hubungan dengan gadis lain. Mau tak mau, ia kembali berpikir. Benarkah keputusannya dengan membuat pernyataan konyol itu?

“Kalau begitu aku pergi,” ujar Ji Eun tiba-tiba yang sukses membuat lamunan Luhan buyar seketika. Pria itu mendongak, dan sedetik kemudian menyadari bahwa gadis itu sudah tidak lagi berada di hadapannya. Gadis itu sudah kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena ulahnya tadi.

“Ya! Ji Eun~a!” teriaknya lagi yang kembali harus membuat Ji Eun menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Luhan yang sedang berlari ke arahnya.

Pria itu menghentikan langkahnya begitu ia sudah berada tepat di hadapan Ji Eun. Sesaat ia hanya mampu terdiam, sama sekali tidak berkata apapun, hanya terus menatap intens gadis di hadapannya itu. Dan saat itu juga ia merasakan napasnya semakin sulit ia hirup. Entah karena apa. Mungkin efek samping karena terlalu dekat dengan gadis itu?

Gadis itu terlihat cantik hari ini dan ia yakin akan selalu terlihat seperti itu di matanya. Ia suka mata bulat gadis itu, ia suka senyumannya, ia suka cara gadis tertawa, ia suka suara gadis itu, ia suka ketika gadis itu sedang berceloteh panjang lebar membicarakan suatu hal yang sangat disukainya, ia suka segala hal tentang gadis itu. Tanpa terkecuali.

Luhan mengerjapkan matanya pelan, berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari lamunannya tentang gadis itu. Pria itu berdehem pelan sebelum akhirnya menyuarakan isi pikirannya. Kalimat yang sejak tadi sudah berada di ujung lidahnya.

“Aku akan mengantarmu.”

~~~

You drive me crazy …
You make me cry …
You’re close as if I can catch you but when I do, you get far away like the wind.

Dong Hae melangkahkan kakinya memasuki sebuah perpustakaan yang  biasanya selalu dikunjungi oleh Min Chan. Tempat favorit gadis itu selain rumahnya sendiri. Entahlah, ia sendiri juga tidak tahu sejak kapan ia tahu tempat-tempat favorit gadis itu. Ia hanya tahu begitu saja. Semacam intuisi, mungkin?

Pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari keberadaan gadis itu yang mungkin saja sedang berada di sini. Berkutat dengan novel-novel detektif, pembunuhan, ataupun romantis favoritnya. Bagi gadis itu novel-novel itu adalah benda terpentingnya selain ponselnya.

Biasanya ia sering melihat gadis itu sendirian di taman belakang kampus lengkap dengan buku-buku fiksi itu dan telinganya yang disumbat oleh earphone miliknya. Dan ia seperti orang bodoh yang terus mengamati gadis itu dari kejauhan. Tanpa peduli dengan kehadiran mahasiswa lainnya yang berlalu lalang di depannya. Sesekali ia akan mengabadikan setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh gadis itu dengan kameranya. Gadis itu tidak suka dipotret, jadi ia harus melakukannya dengan hati-hati agar aksinya itu tidak diketahui oleh gadis itu.

Dong Hae tersenyum tipis mengingat kejadian itu. Kalau dipikir-pikir lagi, ia sudah seperti paparazzi saja. Memotret gadis itu kapan saja selama gadis itu masih dalam jarak pandangnya. Menyimpan baik-baik setiap ekpresi yang gadis itu keluarkan di dalam kameranya. Berjaga-jaga jika ia lupa.

Seiring berjalannya waktu ia semakin mengenal gadis itu. Apa yang disukai dan tidak disukai oleh gadis itu. Gadis itu tidak suka menunggu, sayur, kopi, bangun pagi, game, dipotret, komik, olahraga, dan menggambar. Gadis itu menyukai anak-anak kecil, novel, perpustakaan, musik jazz, musim gugur, coklat panas, mendengarkan permainan piano ataupun saksofon.

Ia juga tidak mengerti bagaimana bisa ia hapal banyak hal mengenai gadis itu. Apa karena ia terlalu sering mengamati gadis itu, sampai-sampai tanpa sadar otaknya mencatat semua hal mengenai gadis itu? Entahlah. Ia juga tidak tahu.

Lamunan pria itu buyar seketika saat seseorang menabraknya dan membuat buku-buku yang dibawa oleh orang itu terjatuh. Refleks, ia ikut berjongkok, membantu orang itu untuk mengambil kembali buku-bukunya yang berserakan di lantai.

“Jeongseohamnida. Jeongmal jeongseoham—”

Ucapan orang itu sontak saja terpotong saat ia mendongak dan melihat siapa yang baru saja ia tabrak. Dengan terburu-buru, ia merapikan kembali buku-buku yang ada di tangannya kemudian membungkuk sedikit ke arah Dong Hae, dan hendak berlalu pergi dari hadapan pria itu sebelum akhirnya Dong Hae memutar tubuh orang itu, membuat tatapan mereka beradu.

Dong Hae merasakan napasnya memberat saat tatapan mereka jelas-jelas beradu, seolah-olah mereka sedang membicarakan sesuatu hanya dengan tatapan mereka. Jarak mereka memang sangat dekat kini, bahkan mungkin ia bisa menjangkaunya saat ini juga tanpa perlu bersusah payah lagi. Tapi kenapa ia merasa bahwa gadis itu tidak sedekat yang ia bayangkan? Kenapa ia merasa bahwa gadis itu sangat jauh darinya? Sangat sulit untuk ia jangkau?

Min Chan berdehem. “Yak, lepaskan!” ujarnya pelan, mengingat mereka sedang berada di tempat yang membutuhkan keheningan saat ini. “Yak, apa yang kau lakukan, eoh?” ujarnya lagi penuh penekanan, berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Dong Hae. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, memastikan bahwa tidak ada satupun orang yang melihat mereka saat ini.

Alih-alih melepaskan tangan Min Chan seperti yang diinginkan gadis itu, Dong Hae justru mengambil alih buku-buku yang berada di tangan Min Chan itu kemudian menaruhnya asal di rak buku yang berada tidak jauh dari mereka. Pria itu menarik tangan gadis itu agar mengikutinya, keluar dari tempat itu.

“Ya! Kau ingin membawaku kemana, hah?!” seru Min Chan begitu mereka sudah berada di dalam mobil Dong Hae, sedangkan pria itu hanya diam, sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan gadis yang berada di sebelahnya itu, membuat gadis itu mengerang kesal melihat tingkah laku Dong Hae yang seperti itu. “YA! Lee Dong Hae!!”

Dong Hae masih tetap diam.

“YAK!!”

“Kencan.” Dong Hae menghela nafas berat ketika pemikiran itu terlintas di otaknya. Kencan? Astaga, yang benar saja! Ia pasti sedang gila saat ini sampai-sampai kata itulah yang terlintas di benaknya. Memangnya ia siapa untuk gadis itu sampai-sampai ia mengajak gadis itu untuk berkencan dengannya? Benar-benar bodoh.

Dong Hae menoleh menatap Min Chan yang masih terus menatapnya, menunggu jawaban darinya. “Yang pasti aku tidak akan menculikmu. Jadi kau diam saja, eoh?” Alih-alih mengucapkan kata yang sejak tadi berkeliaran di otaknya, ia justru mengucapkan kata yang … sangat terdengar bodoh. Benar-benar sama sepertinya. Bodoh.

~~~

“Ehm … Sepertinya kau salah jalan. Ini bukan jalan ke arah rumahku,” ujar Ji Eun pelan saat ia melihat mobil Luhan berbelok ke arah yang berlawanan menuju rumahnya. Gadis itu menoleh menatap Luhan meminta jawaban, sedangkan pria itu bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arahnya. Hanya diam, menatap fokus jalanan di depannya.

“Aku tahu.”

Dua kata. Hanya dua kata yang diucapkan pria itu, sedangkan Ji Eun berharap lebih dari sekedar dua kata itu saja. Pria itu bingung, tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Berdekatan dengan gadis itu cukup membuat otaknya bekerja lebih lambat dibanding biasanya. Sepertinya pengaruh gadis itu benar-benar besar baginya.

Luhan menghentikan laju mobilnya begitu mereka sampai di dekat Sungai Han. Pria itu keluar dari mobilnya, mengitarinya, kemudian membuka pintu mobil di samping kursi penumpang.

“Keluarlah …” ujarnya pelan, nyaris terdengar seperti orang bergumam.

“Kau tidak berniat meninggalkanku disini sendirian, kan?”

Luhan terkekeh pelan mendengar pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Ji Eun. Meninggalkannya? Astaga, gadis itu konyol sekali. Memangnya apa yang ada di otaknya sampai-sampai berpikiran seperti itu?

“Ah, benar juga … Kenapa aku tidak memikirkannya, ya? Sepertinya itu ide bagus. Aku akan mempertimbangkannya,” ujar Luhan dengan nada seolah-olah baru menemukan suatu ide yang bagus. Pria itu melirik ke arah Ji Eun yang kini sedang mendelik kesal ke arahnya, melalui ekor matanya.

“YAK!”

Menit-menit selanjutnya dilewati dengan keheningan tanpa ada satupun percakapan diantara mereka, membuat keadaan benar-benar terasa canggung. Semilir angin yang mengenai tubuh mereka semakin membuat keduanya larut dalam lamunan mereka sendiri. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Bagaimana rasanya?” tanya Ji Eun membuka pembicaraan, berusaha mencairkan suasana canggung yang terjadi diantara mereka. Tatapan gadis itu menerawang lurus ke depan. Tidak menoleh ke arah Luhan sama sekali.

Luhan menoleh menatap Ji Eun tidak mengerti. “Ne?” tanya Luhan balik merasa tidak mengerti dengan pertanyaan Ji Eun. Astaga, kenapa gadis itu suka sekali bertanya seperti itu? Pertanyaan samar yang sama sekali tidak ia mengerti maksudnya.

“Bagaimana rasanya bersama gadis itu? Bersama orang yang kau cintai?” Ji Eun menoleh ke arah Luhan, menatap pria itu fokus.

Akhirnya Luhan mengerti maksud pertanyaan Ji Eun tadi. Salah satu jenis pertanyaan yang dibencinya. Kenapa gadis itu suka sekali bertanya tentang dirinya bersama Min Chan? Apa gadis itu benar-benar tidak mencintainya? Apa tidak ada sedikitpun kesempatan baginya untuk membuat gadis itu menatap ke arahnya? Cukup menatapnya saja. Cukup ia seorang. Apa ia memang benar-benar tidak bisa melakukan itu?

Luhan menarik nafas berat sebelum menjawab, “Tidak enak.” Benar. Rasanya tidak enak ketika bukan gadis itu yang berada di sisinya. Ketika bukan gadis itu yang bersamanya. Astaga, sudah berapa kali ia mengatakannya? Ia hanya menginginkan gadis itu! Hanya gadis itu saja! Ia sama sekali tidak menginginkan gadis yang lain. Sama sekali tidak.

“Kau pasti bercanda … Mana mungkin—”

“Kau tidak percaya?” sela Luhan, menatap Ji Eun fokus. Mengunci arah tatapannya sehingga ia hanya menatap ke arah gadis itu. Gadis di hadapannya. Gadis yang kini menatapnya dengan tatapan bingung. Tidak mengerti dengan jawaban yang baru saja keluar dari mulutnya.

“Tentu saja. Tidak mungkin—”

“Jika aku berkata bahwa aku jatuh cinta padamu … Jika aku berkata bahwa aku hanya ingin menikah denganmu, bukan gadis lain … Jika aku berkata bahwa aku hanya ingin hidup denganmu … Hanya bisa membayangkan kehidupan jika itu bersamamu … Jika kau ada di dalamnya, di dalam kehidupanku … Jika aku berkata bahwa aku hanya menginginkanmu … Apa kau masih tidak percaya?” Lagi-lagi Luhan menyela ucapan Ji Eun. Hanya saja, kali ini ucapannya berhasil membuat tubuh Ji Eun menjadi kaku, sama sekali tidak sanggup berbuat apapun juga. Gadis itu hanya sanggup menatap Luhan dengan tatapan … tatapan yang sulit dideskripsikan.

“A-aku …”

“Jika aku aku berkata bahwa aku ingin kau menjadi milikku. Hanya milikku saja. Bagaimana?”

~~~

Mokpo, Jeollanam-do, South Korea.

“Pantai?!” Teriakan itu sukses keluar dari mulut Min Chan. Mata gadis itu sontak saja langsung melebar begitu ia menyadari bahwa sekarang ia ada di Mokpo. Di pantai yang ada di Mokpo, lebih tepatnya. “Kau membawaku ke pantai?” Lagi-lagi pertanyaan itu meluncur mulus dari mulut gadis itu, sedangkan orang yang ditanya masih menutup matanya sejak tadi. Menikmati semilir angin segar dan keindahan yang ditawarkan oleh pantai tersebut. Bahkan pertanyaan tadi pun hanya dijawab dengan gumaman olehnya.

“Benar-benar menyebalkan! Aku tidak bisa berenang dan kau justru membawaku kemari,” gumam Min Chan, sedikit mengumpat pria di sebelahnya yang masih dengan santainya menikmati udara pantai yang segar, mengacuhkan dirinya yang jelas-jelas sedang berdiri di sebelahnya.

Dong Hae terkekeh mendengar umpatan Min Chan yang ditujukan untuknya itu. Ia lantas membuka sebelah matanya, melirik gadis itu sejenak. Melihat ekspresi gadis itu, sepertinya gadis itu sedang kesal sekarang. Dan entah bagaimana, bukannya terlihat mengerikan, ekspresi gadis itu justru terlihat lucu baginya, membuat ia harus mengeluarkan kekehannya lagi.

“Memangnya siapa yang ingin berenang?” Pria itu kembali menutup matanya, walaupun senyum itu perlahan muncul di wajahnya. “Apa aku terlihat sangat tampan sampai-sampai kau terus-terusan menatapku seperti itu?” Kekehan itu lagi-lagi keluar dari mulutnya. Perlahan, ia membuka matanya dan langsung melihat bahwa gadis itu sedang salah tingkah, terlihat seperti sedang sibuk mencari objek tatapannya yang lain.

Min Chan menyerah. Gadis itu memutuskan untuk kembali menatap Dong Hae. Tidak lama. Hanya beberapa detik, sebelum akhirnya gadis itu kembali mengalihkan tatapannya.

“Aish jinjja, kau menyebalkan sekali. Kau tahu? Aku akan menunggu di mobil saja,” ujarnya, membalikan tubuhnya, berjalan menuju mobil Dong Hae yang terparkir lumayan jauh dari tempatnya kini.

Langkah gadis itu tiba-tiba saja terhenti ketika ia merasakan ada sesuatu mengenai punggungnya. Ia kemudian berbalik, mencari tahu siapa yang tadi melemparinya—walaupun sebenarnya ia sudah tahu siapa orangnya, mengingat di pantai ini hanya ada mereka berdua saja. Belum sempat ia membuka mulutnya untuk meneriaki orang tersebut dengan makiannya, sesuatu tiba-tiba saja mendarat tepat di pipi kirinya. Gadis itu menyentuh pipi kirinya dan saat itu juga ia meraskan sesuatu yang basah mengenai kulit tangannya. Pasir.

Gadis itu menarik nafasnya sejenak sebelum kemudian menatap marah pria itu. “Ya! Lee Dong Hae!!!” teriaknya, mengejar pria itu sembari membawa segenggam pasir di tangan kanannya, berniat membalas pria yang saat ini tengah berlari menghindarinya. Sesekali pria itu membalikan tubuhnya ke arahnya hanya untuk mengejeknya, membuat kemarahan gadis itu semakin naik sampai ke ubun-ubunnya.

Min Chan mendorong tubuh Dong Hae agar jatuh, tapi disaat yang bersamaan pria itu juga menarik tangannya sehingga ia ikut terjatuh. Dan sialnya, tubuhnya menimpa tubuh pria itu, membuat hidung mereka nyaris bersentuhan karena jarak diantara mereka yang nyaris tidak ada.

Pria itu merasakan oksigen di sekitarnya menipis saat tubuh gadis itu bersentuhan dengannya. Dan untuk beberapa detik—yang terasa lama—mereka hanya mampu berdiam diri, menatap wajah satu sama lain dengan fokus. Pria itu merasakan jantungnya berdetak semakin kencang, sampai-sampai ia takut gadis itu akan mendengarnya karena jarak mereka yang sangat dekat. Oh ayolah, jika gadis itu mendengarnya pasti akan sangat memalukan, bukan? Astaga, lagipula kenapa setiap kali Min Chan berada di dekatnya, kerja tubuhnya menjadi berantakan seperti ini?

Min Chan mengerjapkan matanya, berusaha kembali membuat dirinya tersadar. Gadis itu kemudian berdehem pelan, dan bangun—mengingat posisi mereka yang benar-benar sangat tidak pantas.

“Ehm … Aku akan menunggu di mobil saja,” ujar Min Chan, masih terlihat salah tingkah dengan kejadian tadi. Ia lantas berbalik, berjalan ke arah mobil Dong Hae, sebelum akhirnya langkahnya lagi-lagi terhenti karena pria itu. Tapi kali ini tubuh gadis itu sontak saja berubah menjadi kaku ketika kalimat itu keluar dari mulut Dong Hae.

“Bisakah kau tetap disini saja? Di sampingku?” Nada suara itu terdengar begitu lemah, nyaris terdengar seperti bisikan. “Bisakah kau berbalik dan melihat belakangmu? Berbalik dan melihat siapa yang berada disana? Melihat seseorang yang selalu menunggumu seperti orang bodoh. Apa kau pernah tidak menyadari ada seseorang yang selalu berdiri di belakangmu? Apa kau tidak pernah mencoba untuk berbalik dan melihat ke belakang?” Pria itu menjeda sejenak ucapannya, berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar. “Lihatlah kebelakangmu … Aku … mencintaimu, Min Chan~a … Ini … sungguh sangat sakit.”

-TO BE CONTINUED-

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s