[Trilogy] Dauntless – The Way To Break Up


the-way-to-break-up

 

Title: Dauntless – The Way to Break Up || Author: eyinzz || Main Cast: SNSD’s Sooyoung & Super Junior’s Kyuhyun || Genre: Romance, Sad, Angst, Tragedy, etc || Rating: Teen || Legth: Drabble-Trilogy || Disclaimer: This is my own story!

 

“This is my way to break up with you.”

Backsound: The Way to Break Up – Cho Kyuhyun

Previous Part: [TEASER] Dauntless

 

.

.

.

Happy Reading J

.

.

.

Aku menatapnya sendu, dia masih menangis sesenggukkan. Aku tahu apa yang ia rasakan sekarang, aku sendiri juga tertekan dengan adanya masalah ini. Masalah kami berdua yang berasal dari pihak lain. “Sooyoungie, uljima. Aku tidak bisa melihatmu menangis.” Ujarku membuat tangisannya malah nyaring. Segera kurengkuh tubuh ringkihnya, membiarkan setiap tetesan cairan bening matanya merembes membasahi kaos ku. Isakannya begitu pilu, meninggalkan sayatan dalam di hatiku. Melihatnya menangis adalah kelemahanku. Aku begitu menyayangi yeoja ini. Tapi susah bagi kami untuk bersatu.

“Dia menentang hubungan kita, Kyu. Appa, dia melarangku berhubungan denganmu.” Ucapnya di sela-sela kegiatan menangis. Ku elus perlahan puncak kepalanya, tanpa memberikan tanggapan apapun mengenai Ayahnya.

“Kyu, ajaklah aku pergi bersamamu! Aku muak disini! Aku ingin bersmamu, Jebal.” Mohonnya sembari terus menangis.

Aku menghela nafas berat, sulit untuk menentukan pilihan. Aku tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, karena ini menyangkut sang pemilik hatiku, “Sooyoung-ah, dengarkan aku. Aku bukan siapa-siapa, aku tidak berhak membawamu pergi. Benar kata Abeonim, aku masih belum mampu mengayomi. Aku hanya seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu di Starbucks dan itu membuktikan bahwa aku belum pantas bersamamu, Sooyoung-ah.”

Dia mendongak, menatapku dengan tatapan tak percaya. Sungguh aku membenci tatapan itu. Tatapan yang tersirat luka dan kekecewaan, “Jadi kau tidak ingin mempertahankan hubungan kita?”

Pertanyaannya singkat, namun sangat menjebak. Apa aku terlalu mengecewakannya? Aku bingung sekarang, aku sangat mencintaimu Sooyoungie, tapi aku juga sadar posisiku di mata Ayahmu. “Bukan begitu maksudku, Sooyoungie. Hanya saja..—”

“Lalu apa maksudmu yang sebenarnya?! Kyu, apa kau benar-benar mencintaiku?! Tapi kenapa kau tidak bisa mempertahanku saja?!” Histerisnya membuat hatiku berdesir.

“Kau jahat! Kau tidak mencintaiku, Kyuhyun-ah! Kau tidak mau mempertahankan hubungan kita hanya karna Appa melarang! Appa tidak akan pernah merestui kita sebelum Kau dapat mencapai keberhasilan melebihi Appa! Kenapa tidak membawaku kabur saja? WAE?! Kita bisa menikah disana, tidak masalah bagiku menikah tanpa restu Appa! Aku mencintaimu! AKU MENCINTAIMU, CHO KYUHYUN!!”

Kedua tangannya mulai memukuli dadaku, membuat bagian itu terasa sesak sekaligus ngilu mendengar penuturannya. Aku menerima semua perlakuannya, aku pantas mendapatkan itu. Mengingat aku adalah seorang lelaki pengecut yang tidak berani mempertahankan hubungan asmara. “Sooyoungie, uljima. Aku sangat mencintaimu, Choi Sooyoung. Tapi tidak dengan cara begini, kau memang tidak masalah menikah tanpa restu Abeonim. Tapi aku yang merasa bersalah telah menculik anak semata wayangnya.” Jelasku.

Tangisannya agak mereda, kini kedua tangannya sudah berpindah memeluk erat pinggangku. Dia kembali menangis di dadaku. Menumpahkan segala kekesalannya padaku. Oh Tuhan, aku benar-benar merasa gagal menjadi seorang kekasih. Aku gagal melindungi ciptaan-Mu yang sempurna ini. Malah aku yang melukainya dan akulah penyebab dia menangis. “Kyu, eotteohkae? Apa yang harus kita lakukan?” Lirihnya tapi masih bisa kudengar.

Kedua tanganku menangkup wajahnya, mensejajarkan wajah kami. Ku tatapi lamat-lamat pahatan sempurna Tuhan di dalam dirinya Ku hapus air matanya menggunakan ibu jariku lalu meninggalkan kecupan lembut di dahinya. Dilanjutkan di kedua kelopak matanya, kedua pipinya, hidungnya dan berakhir pada bibirnya. Bibir kami bertaut, saling menyalurkan ledakan cinta dalam hati kita masing-masing, saling berbagi beban dan sakit hati, sampai aku harus melepasnya saat dia mulai kehabisan pasokan oksigen.

“Sooyoung-ah, hubungan kita berakhir sampai disini. Karna aku akan pergi jauh sampai aku benar-benar sukses dimata Abeonim. Dan saat itulah aku pasti kembali untuk meminangmu, belutut di hadapan Abeonim berusaha merebut hatinya.” Jelasku perlahan. Benarkan ini langkah terbaik untukku? Membiarkannya lepas dariku sampai aku bisa merebut hati Ayahnya?

Tidak! Apa keputusanku salah sampai membuatnya meneteskan air mata lagi? Entahlah, tapi yang kutahu air mata itu bukan air mata haru. “Waeyo? Kenapa hubungan kita harus berakhir? Kenapa tidak kita lanjutkan saja? Kenapa kau tak menyuruhku untuk menunggumu, Cho Kyuhyun?! Wae? Kenapa kau tidak berjanji akan kembali padaku?!” Tanyanya terpancing emosi. Ku hirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, “Bagaimana jika aku tidak bisa memenuhi janjiku? Bagaimana jika aku tidak pernah ditakdirkan untuk sukses? Apa aku masih berhak memilikimu? Apa aku masih berhak mengharuskan kau menungguku? Aku hanya merasa tidak pantas memberikan janji yang belum bisa kupenuhi seutuhnya.”

Sejurus kemudian kurasakan tangannya melayang ke arah pipi kiriku, mencetakkan sebuah tanda merah berbentuk tangan disana. “Sadarkah kau berkata seperti itu, Kyuhyun-ah? Sadarkah kau, perkataanmu secara tidak langsung seolah-olah kau hendak melepasku sepenuhnya. Apa kau tak peduli perasaanku? Bagaimana sakitnya menerima kenyataan ini? Sakit sekali, Kyuhyun-ah.” Kata-katanya bahkan seribu kali lebih menyakitkan daripada tamparannya. Aku memindahkan posisi tubuhku ke arah sungai Han yang menjadi saksi bisu pertangkaran kami bersama langit malam dan rembulan, tanpa ditemani bintang-bintang disana.

Aku mengusap wajahku frustasi mendengar isakkan tertahan miliknya. Benar-benar memilukan. Tangannya mencengkram bahuku kuat, seperti ingin menancapkan kukunya pada tubuhku. Dia memutar tubuhku paksa berhadapan –lagi- dengannya. Demi apapun aku paling tidak kuat melihat Sooyoung menangis, apalagi itu karenaku. Sooyoung menggoncangkan bahuku kencang meski aku tahu tenaganya habis karena menangis.

“Cho Kyuhyun, katakan padaku bahwa aku harus menunggumu kembali.”

Jebal, Kyuhyun-ah. Katakan bahwa kau mencintaiku dan menyuruhku untuk menunggu sampai kau sukses lalu menjemputku.” Aku tetap bungkam, walau hatiku bergemuruh tak karuan. Sooyoung menangis melihat aksi diamku, tapi tak menyurutkan niatnya mendesak ku. “Jebal, Kyuhyun-ah katakanlah. JEBAL!” Pekiknya tidak sabar. Aku memejamkan mataku, menahan rasa sakit merasakan hatiku seperti diremas kuat.

Saranghae, Choi Sooyoung,” Ungkapku pada akhirnya lalu mengecup dahinya sekilas. Dapat kulihat matanya melebar, senyum samar pun terulas di wajah cantiknya. Aku benar-benar tidak bisa menyakiti bidadariku ini.

“Dan jangan pernah menungguku kembali.”

Tangannya melemas, sinar matanya ikut meredup. Dengan sekuat tenaga ia berusaha bangkit, memutar balik badannya menjauh dari tempatku. Ingin sekali aku membantunya dari belakang agar jalannya tak tertatih-tatih, namun sekuat tenaga kutahan perasaan itu. Membunuh setiap keinginanku untuk memeluk, mencium, mengucapkan maaf dan menarik ucapanku barusan pada Sooyoung. Tapi ini juga demi kebaikannya. Sampai pada akhirnya sosok itu menghilang ditelan kegelapan malam. Jahat! Aku sangat jahat padanya telah menghancurkan hati dan harapannya.

 

~oOo~

Sooyoung’s POV

Persetan dengan semuanya! Persetan dengan martabatku sebagai perempuan. Sekarang aku sedang berlari menyusuri setiap lorong kampus, mencari –mantan- kekasihku. Lajuku berhenti tepat di depan kelas jurusan ekonomi & bisnis. Setelah mengatur sejenak nafasku aku memberanikan diri masuk. Terlihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi sedang mengobrol ringan di kelas tapi sosoknya masih belum kutemukan, sampai sebuah tepukan di pundakku mengagetkanku. “Sooyoung-ah, apa ada perlu?” Suara itu suara Donghae Oppa, sahabat Kyuhyun sejak masih duduk di kelas sebelas.

Oppa, kau tau dimana Kyuhyun? Biasanya dia sudah datang jam segini.” Tanyaku membuat alisnya menyatuh. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, Oh tidak, aku merasakan hal buruk!

Mwo? Dia tak memberitahumu, Sooyoung-ah? Cish, dasar bocah! Dia sudah mengundurkan diri dari kampus. Barusan aku bertemunya di halaman belakang kampus.”

Nde??” Badanku bergetar hebat, ini terlalu menyakitkan memang. Namun bakal lebih menyakitkan lagi jika aku melepasnya. Tanpa mengucapkan apapun, aku kembali berlari mengerahkan seluruh tenaga menuju halaman belakang. Tak menghiraukan sama sekali panggilan Donghae Oppa.

Sesampainya disana mataku menajam mencoba menelusuri setiap inchi halaman, berusaha tidak ada satupun hal yang sampai terlewat. Gagal, aku tidak menemukan batang hidungnya disini. Rasa takut menyergapku, menyeretku dalam titik paling bawah kehidupan. Aku benar-benar takut kehilangannya, dia terlalu berpengaruh padaku atau lebih tepatnya hatiku.

 

“CHO KYUHYUN!!!”

 

Hening, tak ada jawaban. Sekuat tenaga aku mencoba tidak mengeluarkan air mata. Otakku dengan jahatnya memutar kembali kenangan di halaman belakan ini. “CHO KYUHYUN!!” Teriak ku sekali lagi dengan suara serak dan parau. Tenggorokan ku kering tapi tidak menghalangiku untuk terus berteriak menyerukan namanya meski itu menambah perih. Keadaan sangat sepi, padahal aku berharap suaranya akan memecah keheningan ini. Hening yang sangat menakutkan dan hampa, memaksa batinku untuk menyerah.

 

“CHO KYUHYUN!! SARANGHAE!! KEMBALILAH PADAKU!!”

 

Tubuhku jatuh bersimpuh. Pertahananku hancur begitu saja, melemaskan setiap otot dan melumpuhkanku dalam sekejap. “CHO KYUHYUN!” Cukup, aku menyerah. Dia sama sekali tidak ada disini, tidak lagi memedulikan ku dan yang paling menyakitkan dia meninggalkanku; membiarkanku terjerumus dalam lubang hitam penuh kepedihan. Karbon dioksida dan raunganku memenuhi atmosfer mengusir oksigen di dalamnya. Aku memegang dadaku, perih sekaligus sesak. Kemana semua oksigen? Aku menyadari Kyuhyun adalah nafasku, tapi itu konyol mengingat di pelajaran biologi tidak ada yang menyebutkan manusia adalah sumber nafas. Bodohnya lagi aku merasakannya, kehilangan orang yang sangat dicintai memberi efek hancur padaku. Aku terlalu larut padanya, aku terlalu bergantung pada Kyuhyun dan kini aku sadar aku telah terjerat dalam pesonanya.

 

“Sooyoung-ah!”

 

Tidak kah aku salah dengar? Aku baru mendengarnya memanggil namaku. Ya, pemilik suara itu Kyuhyun. Hanya dengan suara bass miliknya mampu mematikan setiap sarafku dalam sekejap. Sampai kegelapan menyambutku, badanku terasa lebih ringan dan aku tidak tau apa yang terjadi.

 

~oOo~

Kyuhyun’s POV

 

“CHO KYUHYUN!!!”

 

Hatiku ingin sekali mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Namun rasanya kakiku seperti sudah terpaku dalam bumi, tubuhku kaku, hanya mataku yang mengikuti setiap gerak-geriknya. Aku mengenali dirinya, hanya dengan melihat punggung dan tubuh semampainya. Dia kelihatan sangat rapuh kala itu. Semua penyebab kerapuhannya adalah aku, orang paling pengecut di dunia. Tapi inilah caraku, caraku untuk membahagiakannya meski harus berawal dengan rasa sakit. Menulikan telinga tidak semudah yang kubayangkan, apalagi Sooyoung terus menyerukan namaku. Aku masih diam, pura-pura tak mendengar atau bahkan tidak tau?

Bukannya aku tidak peduli, hanya saja aku mengikuti kata hatiku. Ini adalah jalan tepat untuk memutuskan hubungan kami. Aku takut ketika aku berlari kearahnya dan menemuinya, dia malah sulit melepasku. Ya, walau dengan jalan tidak peduli seperti ini menambah kuat remasan dihatiku. Namun saat itu juga mataku terbelalak kaget, sontak aku langsung berlari ke arah Sooyoung saat melihat badan yeoja itu hampir menyentuh tanah.

 

“Sooyoung-ah!”

 

Kali ini dia yang tak menjawab panggilanku. Jadi seperti ini rasanya diabaikan? Mengapa terasa sangat menyakitkan? Bukankah kita sekarang impas. Ku tarik tubuhnya dalam dekapanku, tak membiarkan badannya jatuh begitu saja. Penampilannya sangat kacau, lekukan wajahnya menyiratkan ketertekanan kuat dalam dirinya. Lingkaran hitam mengelilingi area matanya yang bengkak dan lebam. Ku tepuk pelan pipinya, berusaha mengembalikan kesadarannya. Nihil, dia benar-benar tidak sadarkan diri. Ku angkat tubuhnya menuju ruang kesehatan, tak memedulikan tatapan heran setiap mahasiswa ataupun dosen yang kulewati.

Perlahan dan hati-hati ku rebahkan badannya di ranjang. Namja macam apa aku, membuat orang yang ia cintai sampai seperti ini? Tanganku terulur merapikan anak rambutnya, dilanjut membelai kedua pipi lembutnya. Baru kemarin aku bertemu, tapi sekarang aku sudah sangat merindukannya. Bagaimana caranya aku melewati hari-hari nanti tanpa kehadirannya? Molla, kepalaku terlalu pusing memikirkan perpisahan. Harus kuakui dia adalah candu dalam hidupku, tanpanya aku tidak bisa memastikan apakah aku dapat hidup baik atau malah terpuruk. Nafasnya perlahan mulai teratur menandakan dia bakal segera bangun dari tidur singkatnya.

Segera mungkin aku pergi dari ruangan kesehatan, tak membiarkannya menyadari keberadaanku. Meski sebagian hatiku masih mau menemaninya hingga tersadar lalu mengomelinya karna terlalu banyak menangis. Sayangnya semua sudah berakhir, aku sudah tidak memiliki hak mengaturnya. Dia bukan milikku, karena kebodohanku dia terluka dan karena cintaku dia merasa tersiksa tak mendapat restu Ayahnya. Ku hela nafas panjang, aku tidak menyangka semua kandas begitu saja. Lagi-lagi hidupku hanya berakhir seperti pengecut. Berusaha menghilangkan keinginanku bersama Sooyoung walau pada akhirnya aku juga yang merasa sakit.

 

Namun ini adalah caraku. Caraku memutuskannya.

.

Caraku membiarkan dirinya bebas perlahan dari bayang-bayangku, tanpa memedulikan diriku yang sudah benar-benar terperangkap dalam sosoknya, sangat susah melepaskannya.

.

Choi Sooyoung, selamanya tidak ada yang dapat menggeser posisinya di hatiku. Hanya Choi Sooyoung yang mampu mempermainkan detak jantungku setiap bersamanya.

.

Ini bukanlah akhir dari segalanya. Tapi perpisahan ini adalah awal tanda dimulainya inti permainan. Mungkin ini waktunya kami berjalan pada jalan masing-masing.

.

Perpisahan ini mendewasakanku, menyadarkanku seberapa besar seorang Choi Sooyoung telah menginvansi badanku, pikiranku dan juga hatiku.

 

 

~oOo~

.

.

.

Kkeut~

.

.

.

Anneyeong, aku kembali dengan nih FF abal. Mungkin kalian bingung kenapa tulisannya ‘CUT’? Karena cerita bagian ini memang sudah selesai tapi masih ada kelanjutannya lagi tapi berbeda bagian gitu.

Oke, sekian dan terima kasih buat yang udah mau baca.. Byee.. #bow

4 thoughts on “[Trilogy] Dauntless – The Way To Break Up

  1. Please jangan tinggalin Soo,.dia begitu rapuh dan sayang bgt sma Kyu. Soo sabar Kyu bkl jadi org sukses dan nanti kalian bisa nikah. Ditunggu kelanjutan nya

  2. Pingback: [Trilogy] Dauntless – Way Back Into Love | Club Fanfiction

  3. Pingback: [Trilogy] Dauntless – Way To Go | Club Fanfiction

  4. Pingback: [Trilogy] Dauntless – Way To Go | Club Fanfiction

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s