Don’t Go


coverStory by

 Ismisangeun Storyline  ©2013

 

 

           

            Tanpa aku tahu, cinta ini datang tiba-tiba saat aku melihat figure eleganmu.

            Aku duduk ringan dan tidak bisa melepaskan pandanganku darimu.

            Mataku alami mengikuti setiap gerak gerikmu. –EXO K-Don’t Go—

 

-@@-

 

Cheongdam-dong,

SM entertainment Office Building

 

           

            “Luhan,Kris, Baekhyun.”

 

            Pekik sang manager, dua belas pemuda di depannya tampak serius. Seketika suasana hening menyelimuti ruang latihan gedung SMent itu. Benar, saja tiga member yang disebutkan akan dikirim langsung ke negeri sakura untuk mempelajari lebih dalam bahasa Negara dengan sebutan matahari terbit itu. Mengapa? Karena project mereka yang akan comeback dengan album jepang.

 

            “Baiklah, aku siap. Kapan kita bisa berangkat?” tanya Baek Hyun.

 

            “Lusa.”

 

 

-@@-

 

            Udara musim gugur semakin terasa jelas. Menandakan musim panas akan segera berakhir. Hatsune Kumi dengan langkah yang terlihat tergesa-gesa menuju sebuah tempat. Dengan beberapa tumpuk buku tebal di tangan kanannya. Gadis keturunan asli Korean namun besar di Jepang ini tampak sedikit panik menyusuri pedestrian kota Tokyo. Sejenak, ia berhenti di depan sebuah bangku yang diapit dua pohon sakura yang sudah berguguran kelopaknya di kedua sisinya.

 

            “Musim gugur akan segera datang,” guman Kumi lirih.

 

 

            “Aku bisa terlambat,” pekik seorang gadis yang membereskan meja belajarnya yang terdapat buku-buku tebal berserakan.  Yuiko Sakura, mahasiswi teknik kimia Tokyo University hampir tak pernah tidur karena tugas-tugas kuliahnya. Namun, ia menghentikan aktivitasnya sejenak dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Seolah sedang mencari seseorang.

            “Kumi kemana? Tak biasanya ia berangkat sepagi ini.”

 

            Keluarga angkat Kumi dan Sakura memang dekat, bahkan sejak kejadian kecelakaan yang merenggut kedua orang tua dan ayah Kumi. Mereka sekarang tinggal bersama layaknya saudara kandung. Pandangan Sakura tertuju pada sebuah note kecil diatas bingkai fotonya bersama Kumi.

 

            Aku harus berangkat pagi karena dosen hari ini killer, temani ibu sarapan ya. Ganbatte Kudasai(Semangat), Sakura-chan~ ^_^ .

 

            Sakura tersenyum memandang note di kertas kecil itu. Kemudian ia menghela napas panjang seolah tanda lega. Kemudian memandang keluar jendela kamar yang, tampak hembusan angin menggoyangkan korden berwarna putih transparan disana.

 

            “SAKURA-chan!” teriakkan itu menggema keseluruh sudut kamar Sakura dan Kumi.

 

            “Akane-chan!”

 

-@@-

 

2.41 p.m

 

            Dengan koper besar ditangan mereka, tiga pemuda ini melangkah keluar bandara menunggu taksi yang sudah disiapkan untuk menjemput mereka. Benar, Luhan,Kris  dan Baekhyun sudah sampai dinegeri Sakura ini setelah kurang dari 2 jam menempuh penerbangan.

            “Hoaamm, setidaknya selama 3 bulan ini aku bisa tidur nyenyak dan menjalani hidup layaknya manusia yang lain. Tak perlu memakai pakaian tertutup untuk menutupi identitas saat pergi. ” guman Baek Hyun menguap sambil merenggangkan beberapa tangannya.

 

            “Bahkan berkencan secara diam-diam.” Tambah Luhan ringan, Kris hanya diam mendengarkan percakapan Luhan dan Baekhyun.

 

            “Itu ide bagus,Hyung. Boku wa Baekhyun desu.” pekik pria kelahiran tahun 92 ini menaikkan mood kedua temannya dengan melemparkan kalimat-kalimat konyol.       “Dimana tempat tinggal  kita?” akhirnya sang cold guy angkat bicara.

 

-@@-

 

            Setelah kuliah kegiatan Kumi berlanjut dengan bekerja di Cherry Blossom café. Café ini milik tunangan teman kecilnya Kim Hye Mi. Meski lelah ia tetap bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri. Bahkan setiap weekend gadis baby face ini menjaga sebuah toko bunga milik keluarga Akane di pinggiran jalan kota Tokyo. Sama seperti Sakura ia juga jarang tidur karena kuliah dan pekerjaannya. Bedanya, Kumi bisa tertidur dimana dan kapan saja saat kantuk melandanya. *authorbgtdah* .Sedangkan Sakura tak bisa jika tidak tidur di kamarnya sendiri meski ia sangat merasa ngantuk.

 

            “Silahkan nikmati makan siang Anda, Itadakimasu(selamat makan),” ucap Kumi mengantarakan pesanannya pada pelanggan café.

 

 

            Cringg.. Suara lonceng pintu café berbunyi pertanda datangnya pelanggan baru. Benar mereka adalah Luhan,Kris dan Baek Hyun.

 

            ‘Yoku Irassahimashita!’ (Selamat Datang). Ucap salah seorang pegawai menyambut kedatangan mereka bertiga. Tiga idol star ini duduk di meja yang bersebelahan dengan jendela besar di depan café.

 

            Tak lama Sakura datang untuk menghampiri Kumi. Pandangan Kris saat itu satu garis lurus dengan pintu masuk saat Sakura datang.

 

            DEG!

 

            Iris mata Kris melihat Sakura yang membuat jantungnya sejenak berdetak. Entah mengapa itu, sepertinya Sakura memiliki sebuah pesona yang membuat Kris terperangkap. “Baekhyun-ah, Kau maknae disini jadi kau yang pesan makanan.” Pekik Luhan.

            “Siap Hyung!”

 

            Disisi lain  mata Kris masih mengikuti setiap gerakan Sakura yang menuju kasir untuk menemui Kumi. Kumi dan Baekhyun juga sedang menuju arah yang sama dengan Sakura dari sudut yang berbeda. “Harusnya biarkan aku yang memesannya.” Pekik Kris menggunakan tangannya untuk menopang dagunya matanya masih tak bisa lepas memandang Sakura.

            “MWO?”

 

            “Sakura-chan! Kau datang,” guman Kumi senang.

 

 

            Brukkkk…

 

            Kumi sukses menumpahkan minuman pesanan pelanggannya di baju seseorang. Dan orang itu adalah siapa lagi kalau bukan Byun Baek Hyun. Sakura segera menghampiri Kumi dan hal yang sama juga dilakukan oleh Kris. Namja tinggi ini langsung beranjak melihat tragedy yang terjadi.

 

            Perhatian pengunjung lain terfokus pada Kumi dan Baekhyun. Kumi hanya bisa membulatkan mata atas kesalahan yang baru saja ia buat. “Gomennasai! (Maaf)” reflek Kumi membungkukan badan. Sakura langsung datang memberikan tissue pada Kumi untuk diberikan pada Baekhyun. “Ah, Gommennasai kudasai(Maaf formal).” Pekik Sakura juga meminta maaf pada Baekhyun, kemudian ia memunguti gelas dan piring yang berceceran. “Sakura-chan serpihan kacanya berbahaya.” Kumi memperingati Sakura sambil membersihkan sisa kopi di baju Baekhyun tanpa memandang wajah Baekhyun.

 

            DEG!

 

            Sakura terkejut karena ada sebuah tangan kekar yang ikut membantunya. Benar, si pemilik tangan kekar itu adalah Kris.

 

            “Maafkan aku, aku akan membersihkan baju ini.” pekik Kumi merasa bersalah kemudian ia memandang wajah orang yang ia tabrak itu. Pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus.

 

            DEG!

 

            “Eotteokke,” pekik Baekhyun karena tak mengerti aksen bahasa jepang yang diucapkan Kumi.

 

            “Uh? Kau orang Korea?” tanya Kumi karena dia memang mengeti bahasa Korea. Sontak Sakura dan Kris menghentikan aktivitas mereka mengumpulkan serpihan kaca dan kemudian berdiri.

            “Kau mengerti yang aku ucapkan?” tanya Baekhyun cengo.

            “Ah, jeosohamnida. Aku sangat menyesal.” Jawab Kumi.

            “Aku mohon maafkan teman saya,” lanjut Sakura menambahi dengan aksen Koreanya yang lancar.

 

 

            “YA! Dasar manusia jalang! Beraninya kau menabrakku huh!” teriak Akane mengeluarkan aksen bahasa Koreanya jika sedang sangat kesal.

 

 

            DEG!

 

            Xiao Luhan, pandangannya bertemu dengan mata seorang gadis yang lewat di depan café itu. Dengan hanya sebuah kaca besar transparan sebagai pembatas diantara. Luhan masih terpaku dengan posisi duduknya. Sedangkan gadis itu berdiri dengan buku ditangan kanan dan sebuah kantung belanja di tangan Kirinya. Setelah beberapa detik mata mereka bertemu. Akane mengalihkan padangannya kesisi lain. Benar ke arah kekacauan yang baru saja terjadi yang dilakukan oleh Kumi. Akane bergegas masuk untuk mencari tahu, sedangkan Luhan hanya bisa memandangan dengan sorot mata yang sulit diartikan.

 

           

            “Tapi bagaimana ini, bajuku sudah kotor padahal aku belum memesan makanan disini.” Jawab Baek Hyun. Kumi dan Sakura hanya bisa menelan ludah mereka. Yang dikhawatirkan Kumi adalah jika karena masalah ini ia bisa kehilangan pekerjaannya.

 

            “Minna-san! (Teman-teman). Aku sudah mendapatkan t-shirt kembar untuk kita!” teriak Akane innocent berjalan mendekati mereka sambil memamerkan kantung yang berisi t-shirt yang baru saja mereka pesan. Kumi bersyukur Akane datang, ia langsung menghampiri Akane dan mengambil t-shirtnya.

 

            “Kajja ikut aku,” lanjut Kumi menarik tangan Baekhyun tanpa ada rasa canggung.

 

            “Aishh, aku bersyukur kau datang Akane.” Guman Sakura mengerti maksud Kumi dan melanjutkan kegiatannya memunguti serpihan kaca yang berserakan dimana-mana.

            “Sakura-chan, apa yang sedang terjadi?” tanya Akane langsung membantu Sakura.

 

            Kris hanya diam menjadi patung, kemudian ia memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya.

 

 

-@@-

 

            Kumi menunggu Baekhyun di depan kamar mandi, benar saja ia menyuruh Baekhyun menggunakan t-shirt putih polos dengan gambar doraemon. Baekhyun merasa ini terlalu kekanakan namun entah mengapa ia merasa sangat senang.

            “Syukurlah ukurannya sangat cocok, dengan begini aku bisa mencuci bajumu ini. Jangan khawatir aku akan memastikan tak ada satu-pun benang yang rontok dan warnanya juga tak akan pudar. Baju ini akan kembali dengan keadaan wangi juga. Jadi aku mohon maafkan atas kecerobohanku yang merugikanmu.” Ucap Kumi sekali napas dengan aksen Korea yang sangat lancar.

 

            Baekhyun sedikit melongo, namun ia bersyukur karena kejadian tadi ia bisa menemukan seseorang untuk membantunya nanti. Baekhyun tersenyum melihat wajah Kumi yang pucat pasi dan panik karena merasa bersalah. “Aku mengerti, maksud tersembunyimu adalah untuk tak mempermasalahkan hal ini saat ditanya atasanmu bukan? Dengan begitu kau tidak akan dipecat?” skak Baekhyun yang sukses membuat Kumi mati kutu.

            Kumi hanya mengangguk pelan dan kaku. Baekhyun mendekatkan wajahnya, Kumi hanya bisa terpaku. “Baiklah aku akan membantumu, tapi ada syaratnya—”

            “Baiklah apapun itu akan akan berusaha memenuhinya. Apapun itu.” potong Kumi. Baekhyun tersenyum puas.

            “Apapun? Pertama berikan aku nomor ponselmu.”

 

 

-@@-

 

 

            Sakura dan akan duduk disebuah meja dengan love float dihadapan mereka. Kemudian Sakura menceritakan semuanya pada Akane. Akane hanya bisa membulatkan matanya, ia langsung mengkhawatirkan Kumi. Mereka berdua bicara sedikit berbisik-bisik karena ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Benar, saja Kris dan Luhan orangnya. Sesekali Sakura dan Akane melirik kearah Kris dan Luhan . Namun cepat-cepat dua gadis ini memalingkan wajah mereka saat mata mereka bertemu.

 

 

            “Hyung, baru beberapa jam tiba sudah mendapat hal yang menarik,” guman Kris ringan. Luhan tersenyum kecil, “Apanya Benar-benar menarik?”

            “Sepertinya tiga gadis itu bisa berbahasa Korea, aku mendengarnya sendiri tadi.”

            “Wah, ini suatu keberuntungan untuk kita. Semoga saja Baekhyun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.”

 

-@@-

 

            “Kumi-chan!” panggil Akane buru-buru saat melihat Kumi keluar bersama Baekhyun. Sementara itu Baekhyun segera menuju meja kasir untuk memesan menu.

 

            “Gunakan ini untuk membayar apa yang mereka pesan. Cepat!” pekik Akane menyerahkan sebuah kartu kredir pada Kumi.

            “Na——ni—o(Apa)?” tanya Kumi tak mengerti.

            “Cepat!” lanjut Akan menujuk ke arah Baekhyun yang sedang menunggu karena tak ada pegawai di meja kasir. Kumi menangkap maksud Akane dan beranjak pergi.

 

            “Anggap ini kompensasi karena kesalahan yang baru saja aku lakukan.” Jelas Kumi pada Baekhyun.

 

-@@-

 

            “Aku?” tanya Sakura memastikan. Kemudian ia beranjak keluar kelas menuju suatu tempat.

 

            “Ini aneh sekali, tak biasanya.” Guman Kumi lirih saat berjalan sendiri menyusuri koridor.

 

            “Ini menyebalkan, bahkan aku harus melewatkan kelas terpenting karena ini. Aisshhh!” gerutu Akane pada diri sendiri.

 

 

-@@-

 

            Sakura,Kumi dan Akane masuk kesebuah kelas khusus. Mereka mendapat perintah dari dosen masing-masing sebagai mahasiswa pendamping 3 mahasiswa baru dijurusan bahasa dan sastra jepang itu.

 

            “Eoh? Kalian?” pekik Sakura melihat dua sahabatnya. Kumi dan Akane hanya mengangkat kedua bahu mereka tanda tak mengerti.

 

            DEG!

 

            Sakura,Kumi dan Akane dibuat shock karena melihat tiga orang yang sedang duduk manis disana. Baekhyun tersenyum lebar dan melambaikan tangannya innocent kearah Kumi. Seketika Kumi memalingkan pandangannya kearah lain karena malu.

           

            “Ah ige mwoya!” pekik Akane hampir tak terdengar.

 

            “Kalian sudah datang.” Pekik seseorang yang tak lain adalah sang dosen.

            “Hai—” jawab Sakura, Kumi dan Akane bersamaan.

 

            “Sini mendekat dan perkenalkan diri kalian.”

 

            Sakura, Kumi dan Akane hanya bisa pasrah. Mengingat kejadian kemarin yang masih membuatnya malu Kumi terus menundukkan wajahnya. Luhan,Kris dan Baekhyun berdiri mendekati tiga gadis ini. Kris berada di depan Sakura,Luhan di depan Akane dan Baekhyun berada di depan Kumi.

 

            “Annyeong, kita bertemu lagi,” ucap Baekhyun tersenyum manis. Kumi hanya tersenyum getir.

 

            “Perkenalkan diri kalian.”

 

            “Watashi no namae wa Hatsune Kumi desu. Douzo Yoroshiku. (Nama saya Hatsune Kumi. Senang bertemu denganmu.)” pekik Kumi begitu saja. Baekhyun menyungingkan senyum. “Boku wa Byun Baekhyun desu.” Balas Baekhyun.

 

          Sakura menahan napasnya saat tatapannya bertemu dengan Kris. “Watashi wa Yuiko Sakura desu. Yoroshiku.” Singkat Sakura tanpa basa-basi. Ia masih menahan napasnya karena serangan tajam dari tatapan Kris di depannya. “My Name is Wu Yi Fan you can call me Kris.” Balas Kris dengan logat bahasa inggrisnya yang lancar.

 

            Sebaliknya Akane justru menatap Luhan tajam seolah tak gentar. Sifat percaya diri Akane memang diatas rata-rata. “Watashi no namae wa Hikari Akane desu. Yoroshiku.” Akane sopan kemudian menundukkan kepalanya pelan. “Cheoneun Xiao Luhan imnida.Bangapseumnida.” Balas Luhan tak melepaskan pandangannya pada Akane.

 

            “Akane,Sakura dan Kumi. Kalian memiliki pengetahuan banyak dalam bahasa Korea. Jadi kami menunjuk kalian sebagai mahasiswa pendamping mereka. Kelas ini lebih awal dari jadwal yang lain. Jadi kelas mata kuliah kalian tidak akan terganggu.” Jelas sang Dosen.

 

            “Hai, Wakarimashita! (Baik mengerti)” jawab Akane,Sakura dan Kumi secara bersamaan.

 

            “Luhan,Kris dan Baekhyun. Kalian bisa memilih siapa patner kalian. Silahkan bekerja sama dengan baik.”

 

            “Patner yang kami pilih ada di depan kami .” tegas Luhan.

 

 

-@@-

 

            Tiga gadis ini menyantap ramen di kedai tak jauh dari kampus mereka. Seperti biasa kedai ramen selalu ramai. Mereka masih tak bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi.

            “Heol~ apa-apaan ini. Mengapa aneh sekali mahasiswi transfer dari Korea harus ada pendamping begini.” Gerutu Akane mengaduk kasar ramen yang baru saja datang dengan asap yang masih mengepul.

            “Sepertinya mereka orang penting. Apa mereka anak pejabat? Atau artis? Atau jangan-jangan mereka agen mata-mata?” lanjut Sakura jiwa sinetronnya kembali keluar.

            “Ah, ini panas sekali! Hah~” teriak Akane.

            “Pelan-pelan,” ucap Sakura memberikan tissue pada Akane.

            “Mau bagaimana lagi? Ambil sisi positifnya saja setidaknya kita akan dibayar bukan untuk tambahan kelas itu? tak sulit hanya perlu mengajari 3 orang itu bahasa Jepang dengan baik dan benar,” cletuk Kumi santai, kemudian meniup-niup ramennya sebelum ia santap.

 

 

-@@-

 

            Suasana sejuk musim gugur sangat terasa di negeri sakura ini. Pengunjung taman paling terkenal di Tokyo Ueno Park semakin ramai. Tak terkecali pemuda tinggi ini, Kris berjalan santai diantara hilir mudik pengunjung lainnya di taman yang sedang diselimuti kelopak mungil berwarna merah muda yang berasal dari pohon sakura. Matanya sungguh menikmati aroma musim gugur, ini pertama kalinya ia melihat gugurnya kelopak sakura di negeri asalnya.

            “Ini benar-benar indah.”

 

 

            “Arigatou Gozaimashita.” Ucap Seorang gadis membungkukkan badannya sambil memberikan sebuah sketsa wajah. Benar, gadis itu adalah Yuiko Sakura. Mengapa ia ditaman ini? Jawabannya tak lain adalah ia sedang melakukan pekerjaan sambilan. Seusai jam mata kuliahnya ia singgah disini mengembangkan hobi terpendamnya sekaligus menghasilkan uang tambahan. Sakura menawarkan jasa melukis wajah dengan bayaran 50 ribu yen setiap lukisannya. Cukup duduk di depan Sakura, gadis ini akan menggoreskan pensilnya tak lama untuk menggambar sebuah wajah.

 

            “Ah, terimakasih Sakura saat kau gugur menjadi anugrah untukku.” guman Sakura karena musim gugur seperti ini banyak orang yang keluar untuk menikmati gugurnya bunga sakura di musim gugur.

 

            Berjarak 5 meter dari tempat Sakura berada ditengah kerumunan pengunjung lainnya yang hilir mudik kesana kemari. Kris berdiri tegap dengan memandang lurus kearah sang gadis. Kris menyukainya, senyumnya cara berbicarannya. Ah, tampaknya pemuda ini benar-benar sudah terperangkap karena pesona gadis bernama Yuiko Sakura itu. Tanpa komando kaki itu melangkah mendekati gadis ini.

 

           Dalam beberapa detik Kris sudah duduk tepat di depan Sakura yang sedang sibuk membereskan alat lukisnya.

 

            DEG!

 

            Pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus. Entah Kris ataupun Sakura keduanya sama-sama menahan napas. Seolah waktu berhenti hanya untuk mereka berdua. Dua tiga bahkan lebih dari sepuluh detik mereka beradu pandangan dengan jarak yang begitu dekat.

 

            “Nani o (Apa)?” tanya Sakura gugup.

 

            Kris membenarkan posisi duduknya. “Jangan menggunakan dialek bahasa Jepang. Aku belum mengerti.”

 

            “Maksudku apa yang bisa aku bantu.” Ralat Sakura menggunakan dialek bahasa korea.

            “Apa lagi? Lukis aku dan aku akan membayarmu seperti orang-orang yang tadi datang kesini.”

           

            Sejenak Sakura menelan ludah. Namun, perlahan jemari menari dengan pensil kesayangannya yang ia gunakan untuk melukis. Bagaimana dengan Kris? Mata pemuda ini terus menatap Sakura tanpa henti. Sakura mengamati lekuk wajah Kris. Namun apa yang terjadi? Ia menjadi gugup, bukan ia bahkan sangat gugup karena Kris menatapnya seperti ini. Tangannya sedikit gemetar karena gugup hebat yang menerjangnya.

 

            “Kenapa? Apa kau juga akan mengeluarkan keringan dingin? Lihatlah kau tampak sangat gugup.”

 

            Semilir angin musim gugur menggoyangkan rambut dan pakaian mereka saat pandangan mereka bertemu. Kris semakin terlihat angkuh sesuai imedsnya ‘cold guy’. Kemudian ia melipat kedua tangannya sambil terus memandang tajam Sakura. Sakura hanya sesekali memandang wajah Kris. Benar yang dikatakan pelanggannya itu ia sekarang sedang gugup entah mengapa.

 

            TES!

 

            Setitik air diikuti ribuan lainnya perlahan jatuh ke bumi. Benar, tsuyu (Hujan Musim gugur) menyerang kota Tokyo senja itu. Sakura sontak menjadi panik, dengan sigap tangan kekar Kris meraih tas yang berisi peralatan lukis dan menarik lengan Sakura lembut. Untuk mengikuti langkahnya mencari tempat bertedu.

 

            Mereka berdua bertedu di sebuah atap toko lolliop. “Jeosohamnida.” Guman Sakura ringan. Setidaknya dengan datangnya hujan ini membuatnya tak harus menahan napas lebih lama karena harus melukis wajah Kris. Kris masih memandang lurus kedepan melihat hujan tenang khas tsuyu. Sakura juga melakukan hal yang sama, ia melemparkan pandangannya lurus kedepan. Fluida-fluida yang berasal dari air laut ini, dengan tenang menjatuhkan diri mereka di bumi kota Tokyo. Kini Kris mendongkrakkan pandangannya ke Sakura, ia membuka mantel tebalnya dan memakaikannya pada Sakura.

            “Eoh?”

            “Kau masih punya hutang lukisan dan untuk mantel ini aku ingin kau belikan aku lollipop saat kau mengucapkan terima kasih nanti.”

 

 

-@@-

 

            Baekhyun hanya memandang malas hujan dari kaca transparan di depannya. Dimana dia sekarang? Benar di café tempat Kumi bekerja Cherry Blossom café. Sesekali ia memainkan ponselnya yang tak ada tanda-tanda kehidupan.

            “Aishhh..” Baekhyun kembali melemparkan ponselnya kasar. Kemudian ia mengedarkan pandangan keseluruh sudut café seperti sedang mencari seseorang. Benar, Hatsune Kumi yang sedang ia cari. Tapi nihil gadis itu tampaknya sedang tak ada giliran jaga. Dan sekarang pemuda eye’s smile ini terperangkap di café itu karena hujan yang sedang mengguyur.

 

            “Mengapa tak membalas pesan dan tak mengangkat panggilaku,” desah Baekhyun menggaruk kasar rambutnya yang tak gatal.

 

            “Waeyo?” Suara itu sontak membuat Baekhyun terkejut.

            “YA! Mengapa tak bilang kau sedang tak ada giliran? Aku jadi terjebak disini sekarang.” Omel Baekhyun.

            “Apa alasan aku harus bilang padamu?” jawab Kumi santai.

            “Kau lupa dengan janjimu karena insiden yang membuat bajuku kotor?” ungkap Baekhyun sedikit mengancam.

            “Ah, Kau mengungkitnya lagi untuk mengancamku. Jeosohamnida. Ini bajumu sudah aku cuci. Warna tidak luntur,tak ada benang yang putus dan harum.” Kumi menyerahkan tas yang berisi pakain Baekhyun yang kotor karena ulahnya tempo hari.

 

            Baekhyun mengintip sedikit tas itu, namun sebenarnya ia tak mempermasalahkannya. Baekhyun hanya ingin menjadikan hal ini sebagai alasan untuk bertemu dengan Kumi.

            “Urusan kita sudah selesai bukan?” tanya Kumi.

            “Siapa bilang selesai?”

            “Aku?” jawab Kumi mengambil ponsel milik Baekhyun.

            “YA! Apa yang kau— Awwww!” Baekhyun tak melanjutkan kalimatnya karena kakinya terbentur meja saat ia akan merebut ponselnya dari Kumi karena panik.

            “Hapus nomorku.” Pinta Kumi karena sepersekian detik ponsel itu kembali ketangan sang pemilik.

            “Tidak! Baiklah kalau begitu Manager!” teriak Baekhyun bermaksud mengadukan Kumi karena gadis ini telah menumpahkan sisa pesanan dan membuat bajunya kotor.

            “Hmmmm!” Kumi membungkam mulut Baekhyun dengan tangannya.

            “Kau bilang tak akan mempermasalahkan hal ini huh?” tanya Kumi panik.

 

 

-@@-

 

            Luhan memutuskan untuk bertedu dengan masuk ke sebuah distro pernak-pernik aksesoris dan topi di tepi jalan kota Tokyo. Tak lama seorang gadis juga masuk ke distro itu karena memiliki tujuan tertentu. Luhan berekeliling melihat topi-topi untuk musim dingin disana. Ada yang menarik perhatiannya yaitu sebuah topi musim dingin berbentuk koala berwarna biru gelap.

 

            TAP!

 

            Sebuah tangan mungil juga memegang topi itu.

 

            “Kau?” tanya Akane sinis.

            “Aku melihatnya lebih dulu.” Jawab Luhan cuek.

            “Tapi aku sudah memesannya kemarin.” Akane colong start dengan mengambil topi itu terlebih dahulu.

            “Tidak bisa!” Luhan tak mau mengalah.

            “YA! Apa kau tau cara membayarnya huh?”

 

            Skak, Luhan mati kutu karena ia sendiri belum lancar bahasa Jepang dan tak bisa bahasa inggris. Sial Hikari Akane lagi-lagi membuatnya mati kutu. Luhan hanya diam terpaku, dan secepat kilat Akane mengambil topi incarannya lalu pergi menuju kasir. Luhan hanya bisa meratapi nasibnya karena mati kutu didepan seorang gadis.

 

            “Arigatou Gozaimashita!” ucap Akane setelah membayarnya dan beregegas pergi. Tanpa basa-basi gadis ini langsung memakainya.

 

            HUP!

 

            Sebuah tangan mengambil topi itu begitu saja. “YA! XIAO LUHAN! BAKA(idiot/bofoh)!” teriak Akane kesal. Namun Luhan dengan cepat berlari menjauh.

 

            “Aku akan mengganti uangmu katakan berapa nomor rekeningmu.” Teriak Luhan sambil berlalu.

 

            “Aiishhh! Kenapa mahasiswa transfer itu benar-benar menyebalkan! Aaaaaa~ Hikari Akane kau harus membalasnya!” gerutu Akane kesal.

 

 

/FIN\

 

 

            Yeah, Akhirny selesai juga *popoBaekhyun.  Pertama bikin FF full EXO, mianhae masih banyak kekurangan. Gimana? Jelek ya? Tak layak publish? Absurd,Feel amblas dan TYPO. ITU SUDAH PASTI >.< Aku masih membutuhkan banyak kritik dan saran jadi WAJIB RCL >.<

            Gomapseumnida~ Annyeong (^_^)/

One thought on “Don’t Go

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s