[Oneshot] ILYTM


image

Author: Shanne Viviana.

Cast: Lee Dong Hae, Park Min Chan, others.

Credit Poster by: Princess © Poster State

ILYTM

(I Love You This Much)

***

Seoul, South Korea.
December, 2008.

Seorang gadis tampak berkali-kali melihat ke arah jam tangannya, menghela nafas kasar, kemudian kembali memusatkan pandangannya ke arah luar. Terlihat sekali dari raut wajahnya bahwa ia sekarang sedang tidak sabar menunggu seseorang yang seharusnya sudah datang sejak satu setengah jam yang lalu. “Benar-benar menyebalkan!” pikirnya.

Gadis itu mengalihkan perhatiannya dari pemandangan di luar, merasa tidak lagi tertarik untuk melihat beberapa kendaraan yang hilir-mudik melintasi jalanan kota Seoul dan beberapa pejalan kaki yang berlalu lalang di depan kafe dimana ia berada saat ini. Detik berikutnya, desahan kesal itu lolos begitu saja dari tenggorokannya ketika ia melihat seorang pelayan sedang berjalan ke arahnya. Sepertinya pelayan itu akan kembali menanyakan tentang pesanannya—pertanyaan yang sama sejak ia datang kemari.

Hot chocolate.” Gadis itu buru-buru mengucapkan pesanannya itu, bahkan sebelum si-pelayan sempat untuk membuka mulutnya. Pelayan itu kemudian mengulang kembali pesanannya—untuk memastikan kembali—dan langsung berlalu pergi setelah sebelumnya memberitahunya untuk menunggu beberapa menit sebelum pesanannya datang.

Getaran pada ponselnya sukses membuat fokus gadis itu beralih pada ponselnya yang terletak di atas meja, terabaikan begitu saja sejak tiga puluh menit yang lalu. Gadis itu lantas meraih ponselnya, dan memasukan kata sandi untuk membuka layar ponselnya itu. Beberapa detik setelah berhasil membaca pesan yang masuk, gadis itu mendesis kesal. Nyaris tidak bisa membendung amarahnya yang sudah berada di atas ubun-ubun.

Nuna~ya, sepertinya aku tidak bisa datang. Tiba-tiba saja ada urusan mendadak yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kuharap Nuna tidak marah. Hehehe. Mianhae…
—Park Yun-Hae—

Gadis itu menaruh ponselnya dengan kasar di atas meja, nyaris terlihat seperti dibanting. Berkali-kali gadis itu menghembuskan nafasnya kasar. Kemarahannya sudah nyaris mencapai tahap maksimal saat ia menunggu adiknya itu selama satu setengah jam, dan pesan itu sukses membuat kemarahannya sampai ke tahap maksimal—atau mungkin melebihinya.

Kemarahannya masih belum reda, saat  tiba-tiba saja hot chocolate yang menjadi pesanannya tadi tidak sengaja jatuh membasahi pakaiannya. Membuat jeritan itu lolos dari tenggorokannya, merasa kaget sekaligus merasa panas di bagian tubuhnya yang diakibatkan oleh minuman tersebut.

Gadis itu mengambil selembar tissue dari dalam tas selempangnya, membersihkan kardigannya yang sekarang sudah berubah warna menjadi coklat. Benar-benar sial! Kenapa hari ini ia sial sekali? Semua ini karena Yun-Hae, adiknya. Jika saja anak itu bisa datang kemari, maka ia tidak perlu marah-marah tidak jelas karena menunggunya. Dan juga, ia mungkin sudah memesan minuman itu sejak tadi, jadi minuman itu tidak akan mungkin jatuh membasahi kardigannya seperti ini.

Aggashi? Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja, ‘kan? Ah, jeongmal jeongseohamnida. Aku tidak sengaja.”

Min-Chan menghentikan kegiatannya membersihkan noda itu dari pakaiannya dengan kesal saat ia mendengar permintaan maaf seseorang yang sepertinya ditujukan untuknya. Sepertinya itu orang yang—katanya—tidak sengaja menyenggol pelayan yang mengantarkan pesanannya itu. Dengan cepat, gadis itu mendongak, bermaksud melihat siapa yang sudah menyebabkan pakaiannya jadi seperti ini. Tapi alih-alih memaki orang tersebut seperti yang sudah direncanakannya di awal, gadis itu justru tidak bisa berbuat apa-apa saat ia melihat orang tersebut. Gadis itu hanya bisa menatap pria tersebut dengan tampang bodohnya, sibuk mengagumi objek yang berada di hadapannya.

Matanya yang sendu, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, alisnya yang tidak terlalu tebal, rambutnya yang hitam, dan … Astaga! Rahangnya! Dia sangat menyukai rahang pria itu. Dan saat itu juga, kemarahannya seolah menguap entah kemana. Hilang begitu saja, tanpa bekas.

Cukup lama gadis itu menatap setiap inci wajah pria itu, nyaris tanpa berkedip. Sebelum akhirnya suara pria itu berhasil membuat gadis itu tersadar, dan menatap pria itu lagi-lagi dengan tampang bodohnya. Masih terlihat linglung, layaknya orang tolol. “Eo?”

“Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu lagi untuk kesekian kalinya, mengingat sejak tadi gadis itu tidak menjawab pertanyaannya sama sekali. Sempat membuat ia mengira gadis itu marah karena tindakannya yang ceroboh tadi. Tapi pemikiran itu langsung berubah begitu ia menyadari apa alasan sebenarnya gadis itu tidak menjawab pertanyaannya.

N-ne… Nan… nan gwaenchana,” jawab gadis itu tergagap-gagap. Entah karena itu memang kebiasaannya jika sedang gugup atau karena paru-parunya yang sekarang sedang dalam keadaan darurat, mencari-cari oksigen yang tiba-tiba saja sulit ia dapatkan ketika pandangan mereka beradu. Astaga! Pria itu benar-benar! Membuat kerja tubuhnya berantakan saja!

Jeongseohamnida, aggashi. Anda ingin menggantinya dengan yang baru?” tanya pelayan yang sejak tadi berdiam diri saja, menyaksikan percakapan diantara kedua orang disekitarnya itu. Membuat Min-Chan sedikit mengumpat dalam hati karena interupsi yang dilakukan pelayan itu. Yah… tidak sepenuhnya karena itu juga. Sebenarnya lebih karena pelayan itu yang sejak tadi terus menatap pria itu intens.

“Tidak perlu.”

“Ya,” sambar pria itu cepat, meralat ucapan Min-Chan tadi, membuat gadis sontak itu menoleh ke arahnya. Tapi pria itu bahkan tidak menoleh sama sekali ke arah Min-Chan. Ia justru kembali melanjutkan ucapannya. “Tolong ganti dengan yang baru, dan masukan saja biayanya ke dalam tagihanku. Keduanya,” lanjutnya, yang langsung membuat mata gadis itu membulat tak percaya.

Pria itu kemudian menoleh menatap gadis itu, tersenyum ke arah Min-Chan, membuat detak jantung gadis itu entah kenapa menjadi tidak karuan, menggila. Padahal pria itu hanya tersenyum saja kepadanya. Ini gila! Benar-benar gila! Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Apa dia baru saja jatuh cinta pada pria itu? Pria yang baru beberapa menit yang lalu ia temui? Astaga! Ini sungguh gila!

“Maaf membuat pakaianmu kotor seperti itu,” ujar pria itu membuka suara. Tapi gadis itu bahkan tidak merespon sama sekali ucapannya. Hanya terus menatap pria itu fokus, seolah-olah tidak bisa menatap objek lain selain objek yang ada di hadapannya. Membuat pria itu kembali berucap, “Ah ya, omong-omong, siapa namamu?”

Satu pertanyaan itu berhasil membuat gadis itu tersadar. Gadis itu kemudian buru-buru menjawab, berusaha terlihat fokus mendengarkan setiap kata yang diucapkan pria itu sejak tadi. Walaupun pada akhirnya, ia justru terlihat seperti orang yang habis disadarkan dari lamunannya.

“Min-Chan. Namaku Park Min-Chan.”

“Min-Chan…” gumam pria itu nyaris tidak terdengar, seolah-olah seperti sedang berusaha menghapalkan nama itu agar terus tersimpan dalam memori otaknya. Detik berikutnya, pria itu kembali menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyuman. “Lee Donghae. Namaku Lee Donghae.”

And that’s where it all started.

~~~

Seoul, South Korea.
07.00 PM, KST.

Min-Chan berdiri di depan pintu apartemennya dengan sekantong belanjaannya di tangan kirinya, memasukan beberapa digit angka yang menjadi kata sandinya. Gadis itu baru saja ingin masuk ke dalam apartemennya, sebelum tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah belakangnya. Ia berbalik, dan matanya langsung melebar sempurna saat itu juga.

“Kau?” tanya Min-Chan. Nada itu terdengar sangat terkejut, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. “Apa yang kau lakukan disini? Kau … tidak mengikutiku, ‘kan?” tanyanya lagi, memastikan, menatap pria itu dengan tatapan menyelidik.

“Tentu saja tidak. Aku tinggal disini,” jawab Donghae. “Aku baru pindah kemarin. Jadi mungkin kau belum tahu,” ujar pria itu lagi, seolah-olah bisa membaca pikiran Min-Chan yang baru saja ingin bertanya tentang hal itu juga tadi.

“Ah… Jadi kau tetangga baruku. Baguslah,” ujar Min-Chan, nyaris terdengar seperti gumaman sembari menatap ke arah lain.

Ne?”

Gadis itu menoleh, kembali menatap pria itu gelagapan. Terlihat sekali sedang salah tingkah. “Ah, tidak ada apa-apa.” Min-Chan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ehm… Kau mau masuk? Mungkin hari ini aku akan memasak banyak. Yah… anggap saja sebagai ucapan selamat datang dan terima kasih karena sudah membayarkan minumanku tadi,” lanjutnya, sedangkan Donghae sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Entah karena ia sedang berpikir, atau merasa terkejut dengan tawaran yang diberikan gadis itu untuknya.

Min-Chan menarik nafas dalam, kemudian menggangguk mengerti. “Kau tidak mau? Arraseo. Gwaenchana,” ujarnya lagi karena pria itu yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Gadis itu lantas berbalik, memunggungi pria itu, hendak memasuki apartemennya, sebelum akhirnya langkahnya terhenti karena suara dari arah belakangnya. Ia kemudian menarik kedua sudut bibirnya ke belakang ketika mendengar jawaban dari pria itu.

“Sepertinya bukan ide yang buruk. Kau mau memasak apa?”

~~~

Tteokbokki, bulgogi, jajangmyeon, dan yangnyeom tongdak. Bagaimana menurutmu?” tanya Min-Chan, mengeluarkan bahan-bahan yang akan dimasaknya dari dalam kulkas dan kantong belanjaan yang baru saja dibelinya tadi. Gadis itu kemudian ganti mengambil beberapa peralatan memasaknya dari dalam lemari kecil yang tertempel di dinding.

“Tidak buruk,” komentar Donghae. “Kau tidak suka sayur? Bahan dari semua makanan itu tidak ada yang bersayur, bukan?” lanjutnya lagi, menopangkan tangannya di atas meja bar yang berada di konter dapur, menatap punggung gadis itu yang sedang bergelut dengan berbagai jenis bahan masakannya.

“Aku lebih memilih bermain bola basket, dibanding harus memakan benda hijau itu,” ujar gadis itu setengah merajuk, benar-benar memperlihatkan ketidaksukaannya pada bahan makanan berwarna hijau yang satu itu. Membuat Donghae yang mendengarnya terkekeh pelan.

“Walaupun aku sama sekali tidak menyukai basket, tenis, voli, atau apapun itu yang berbau olahraga, tapi tetap saja jika aku disuruh memilih antara olahraga atau sayur, tentu saja aku lebih memilih olahraga,” celotehnya. “Aku benci sekali ketika ada orang yang dengan seenaknya memintaku untuk memakan makanan itu. Apalagi saat aku menolaknya, mereka justru memaksaku. Benar-benar menyebalkan!” lanjutnya dengan nada kesal yang benar-benar terdengar.

Ini aneh. Bukan hal yang besar, memang. Tapi tetap saja ini aneh. Untuk pertama kalinya ia bisa berceloteh dengan bebasnya kepada orang yang baru ia kenal kurang dari dua puluh empat jam. Biasanya ia pasti akan merasa canggung atau semacamnya jika bertemu dengan orang yang baru ia kenal. Tapi hal itu tidak berlaku pada pria ini. Ada rasa nyaman yang dirasakannya saat bersama pria ini. Rasa nyaman yang hanya bisa ia dapatkan jika ia ada di rumah. Saat-saat dimana ia bisa dengan bebas menumpahkan segala perasaannya tanpa takut dengan apapun yang mungkin saja bisa membuatnya merasa malu.

Ada hal dari pria ini yang membedakannya dengan pria-pria yang pernah ia temui sebelumnya. Entahlah. Mungkin jika dilihat sekilas, pria ini sama dengan pria-pria pada umumnya. Tapi, ada rasa ketenangan, kenyamanan yang berlebihan saat pria itu berada di dekatnya. Pria ini berbeda. Biasanya dia hanya akan melihat sekilas orang-orang yang berada di sekitarnya, tidak terlalu memperhatikan. Jadi setiap kali ada orang yang bertanya bagian mana yang ia suka dari seorang pria, maka ia akan menjawabnya dengan jawaban klise, karena ia tidak pernah terlalu detail dalam memperhatikan seseorang. Entah itu matanya, bibirnya, ataupun senyumannya.

Tapi pria ini, pria ini berhasil membuat ia mengubah cara pandangnya. Pria ini satu-satunya pria yang ia lihat secara mendetail. Satu-satunya pria yang bisa membuat jawabannya berubah seratus delapan puluh derajat. Jawaban yang mungkin bagi orang lain akan terdengar aneh. Rahangnya. Ia menyukai rahang pria itu. Ia menyukai ketika rahang pria itu bergerak saat pria itu sedang berbicara. Dan itu hanya permulaannya saja. Karena setelahnya ia kembali menemukan hal lainnya yang ia sukai dari pria itu.

Ia menyukai ketika pria itu menatapnya, menjadikan ia sebagai satu-satunya objek yang pria itu lihat. Ia menyukai suara pria itu. Terasa menenangkan. Apalagi saat pria itu menyebut namanya. Ada rasa bahagia yang berlebihan yang teramat sangat saat pria itu melakukannya. Ia menyukai ketika pria itu menarik nafasnya, yang berarti waktu ia bersama pria itu akan lebih lama lagi. Diperpanjang.

Ada banyak hal dari pria itu yang tidak bisa ia deskripsikan. Pria itu meninggalkan kesan yang terlalu berbeda dari yang lainnya. Bukan berbeda dalam artian yang buruk. Dan seolah-olah tidak cukup membuatnya terpesona akan fisiknya yang rupawan, pria itu dengan kurangajarnya membuatnya kembali terpesona dengan setiap tingkahnya, setiap sifat yang ia tunjukan.

Hal ini membuat ia kembali teringat satu kalimat dari sebuah novel yang pernah ia baca. Sebuah kalimat yang sangat amat membekas di benaknya; aku mencintainya dahulu sehingga aku terpesona kepadanya, bukan aku terpesona kepadanya dahulu sehingga aku mencintainya.

Pria ini membuatnya berpikir tentang hal yang lebih jauh. Tentang hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Pernikahan. Menghabiskan sisa waktu hidup yang kau miliki dengan seseorang yang kau cintai. Bukankah itu terasa menyenangkan? Selama sisa waktu itu kau bisa melihat orang yang kau cintai berada dalam jarak pandangmu, tanpa takut ada seseorang yang merasa tidak senang dengan hal itu.

~~~

Min-Chan’s POV.

Pria ini… Aku tidak tahu sejak kapan aku merasakan ketertarikan yang sangat besar padanya. Tidak tahu sejak kapan aku tidak bisa berhenti menatapnya, walaupun itu berarti aku mengancam keselamatan jantungku. Pria ini… aku sama sekali tidak bisa mendeskripsikannya. Mungkin lebih tepatnya tidak tahu bagaimana harus mendesripksikannya.

Dia tampan? Tentu saja dia tampan. Tapi bukan karena itu aku mencintainya. Waktu terus berjalan. Perlahan dia juga akan semakin tua, bukan? Mau tidak mau, kerutan itu pasti akan ada juga di wajahnya, dan pastinya itu akan membuat wajahnya tidak akan setampan sekarang lagi, walau bagiku dia akan selalu terlihat tampan. Yah… setidaknya itulah yang aku lihat.

Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku mencintainya. Entahlah. Kalau dipikir-pikir lagi sepertinya ada atau tidaknya alasan juga tidak terlalu penting. Aku mencintainya. Itu sudah cukup. Satu-satunya yang aku tahu adalah bahwa aku membutuhkannya. Bukan aku menginginkannya. Bukan, bukan itu. Aku membutuhkannya. Itu saja.

Tiba-tiba saja aku mengernyit heran saat mendengar suara kekehan dari arah belakangku. Dan sedetik setelahnya suara pria itu mengalun begitu jelas di telingaku. “Kau sedang memasak atau tidur, eoh? Nona Park?”

Sial! Aku pasti terlihat sangat bodoh sekarang. Bagus! Bagus sekali, Park Min-Chan! Mempermalukan dirimu sendiri di hadapan pria itu. Benar-benar bodoh!

“Aku tidak tidur! Aku kan sedang menunggu makanannya sampai matang.”

Pria itu kembali tertawa. Sialan! Apa pria itu benar-benar mengganggap semua ini lucu? Ini benar-benar memalukan, dan pria itu mengganggapnya lucu?!! Pria itu benar-benar menyebalkan, ternyata. Sangat amat menyebalkan.

“Min-Chan~ssi,” panggilnya tiba-tiba, dengan nada serius.

“Ya?” Aku berbalik, menatapnya penuh tanya.

Suaranya… Aku selalu menyukai suaranya. Suara yang tidak akan bosan aku dengar sampai kapanpun. Suara yang entah kenapa terdengar familiar di telingaku, seolah-olah aku sudah mengenalnya sejak lama. Jauh sebelum pertemuan kami pada hari ini.

Ia tampak menggaruk tengkuknya yang aku yakin sekali tidak gatal atau apapun semacamnya. Detik berikutnya, ia hanya tersenyum… salah tingkah? Sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang berhasil membuat harapanku menguap sudah. Hilang entah kemana.

Aniyo. Tidak ada apa-apa.”

~~~

A Park, Near Min-Chan and Donghae’s Apartment, Seoul, South Korea.
February, 2013.

Min-Chan menarik nafas berat, sembari meniup poninya malas. Lagi, ia melirik pria yang berada di sebelahnya itu melalui ekor matanya. Dan di detik berikutnya langsung menghembuskan nafasnya kesal. Raut wajahnya yang sejak tadi memang sudah “kusut”, kini semakin bertambah masam.

Sudah tiga puluh menit mereka disini dan selama itu pula pria itu mengacuhkannya, sibuk sendiri dengan ponselnya dan telinganya yang disumbat oleh earphone miliknya. Padahal pria itu sendiri yang mengajaknya kesini. Benar-benar keterlaluan. Apa pria itu tidak mengganggapnya ada, hah?

Ya ! Lee Donghae!” serunya, tapi pria itu bahkan tidak bereaksi apapun juga. Masih sama seperti tadi. “Yak ! Lee Donghae!!” Kali ini ia meninggikan nadanya, tapi pria itu lagi-lagi tidak bereaksi apapun, membuat gadis itu semakin kesal dan langsung menarik earphone itu dari telinga Donghae begitu saja.

Alih-alih marah karena kegiatannya diganggu begitu saja oleh Min-Chan, pria itu justru merentangkan tangannya lebar-lebar, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, dan kemudian menoleh menatap gadis di sebelahnya, tersenyum ke arah Min-Chan. “Ah, kebetulan sekali,” ujarnya. “Pakailah.”

Ne?” tanya Min-Chan, tidak mengerti maksud Donghae. Dan, sadar atau tidak, saat itu juga kemarahannya seolah menguap entah kemana—terbawa angin, mungkin—saat bola mata hitam milik pria itu menusuk tepat ke arah retina matanya. Angin yang berhembus kencang ke arahnya, membuat aroma khas dari tubuh pria itu menguar keluar, membuat jantungnya untuk beberapa detik—yang terasa lama—berhenti berdetak.

“Pakai saja,” perintah Donghae lagi, mengulang ucapannya tadi.

Dengan ragu-ragu, gadis itu memasang earphone itu di telinganya, menunggu apa yang akan didengarnya sebentar lagi dengan jantung yang berdebar tak terkendali, seolah-olah akan keluar dari rongganya begitu saja.

Min-Chan menghembuskan nafasnya saat suara musik itu perlahan mulai terdengar. Ternyata sebuah lagu. Detik berikutnya gadis itu merutuki dirinya sendiri dalam hati, “Benar. Kegunaan earphone kan memang untuk mendengarkan lagu. Memangnya kau mengharapkan apa, hah?”

Gadis itu menggeleng pelan, berusaha menghalau semua pikiran-pikiran aneh yang mulai merayap di otaknya, dan memilih untuk mendengarkan suara musik yang mulai menyapa indera pendengarannya.

Ireon gibun cheo-eumiya, baby
Ireon sarang cheo-eumiya, baby
Nareul seolle-ge haneun saram malya narang talmeun sarang neo malya
Bogo bwahdo tto bogo shipeo
Nae yeopeman isseojul saram
Nuga bwahdo nae ippeun yeojachingu narang talmeun sarang neo malya
Nun gamado chajeul su isseo sesang dan hanappunin neol
Nae-ga neol jikyeojul-ke, baby

(This feeling is the first time, baby
This love is the first time, baby
The one that moves my heart is you. My love is for you
I just met you but I want to meet again
The only one who can be by my side
No matter who sees you they know it’s my beautiful my love my girlfriend, you
Even if I close my eyes I can find my one and only
I will protect you, baby)

Neoye harue, naye harue, seoro-ga itkiye nan modeun geo-shi areumdawo
Heyeojijaneun apeun mal haji mal-gi
Geureohke nae yeopeman isseojwoyo

(Your one day, my one day, because of each other every day can be beautiful
Don’t bring up breaking up, such hurtful words
Just stay by my side like this)

Neorang narang sarang-hal ttae, neorang narang ibmajchul ttae
Tal-gomhan i gibun ge-ikboda charishan neo-ye sumsori
Neorang narang anko jal ttae, neorang narang nuneul tteul ttae
Nae pume ankyeo kwiitkae soksakyeo
Neoreul wiihae junbihal-ke neoneun geunyang badgiman hae, nae modeunkeol da jul-ke, baby

(When we love, when we kiss
This sweet feeling, your breathing that makes me even more nervous than cake.
When we embrace each other to sleep, when we open our eyes in the morning
Your lying on my chest, whispering in my ear
You’ve accepted all I’ve prepared, time to give my all to you baby)

Neoye harue, naye harue, seoro-ga itkiye nan modeun geo-shi areumdawo
Heyeojijaneun apeun mal haji mal-gi
Geureohke nae yeopeman isseojwoyo

(Your one day, my one day, because of each other every day can be beautiful
Don’t bring up breaking up, such hurtful words
Just stay by my side like this)

Hangsang ko-gael deu-reo nareul ollyeodaboneun neoreul nae keunsoneuro bo-reul kamssa aneum neoneun eo-reum Koreul majdaeko bubibubi ha-go shipeo neowah eodi deun gubikubi ka-go shipeo.
Ma little girlfriend, keu jeone keu yeope kal-ke mame deul-ke eonjena tallil-ke mae-ilmae-il todaktodag sseudamsseudam Narang neorang al gongtal-gong kkaeso-geum ppuril-ke Baby~

(Whether it’s me looking at you, you looking up at me, the you that holds my hand and comforts me
Wants to be face to face until our noses press together
No matter where we go I want to take you with me
My little girlfriend, before this I want to be by your side
To make you happy I want to run there any time
Every day every day You and I are like scattered sesames sweet
Baby~)

Neoye harue, naye harue, seoro-ga itkiye nan modeun geo-shi areumdawo Heyeojijaneun apeun mal haji mal-gi
Geureohke nae yeopeman isseojwoyo
Neoye harue naye harue seoro-ga itkiye nan modeun geo-shi areumdawo
Heyeojijaneun apeun mal haji mal-gi
Geureohke nae yeopeman isseojwoyo

(Your one day, my one day, because of each other every day can be beautiful
Don’t bring up breaking up, such hurtful words
Just stay by my side like this
Your one day, my one day, because of each other every day can be beautiful
Don’t bring up breaking up, such hurtful words
Just stay by my side like this)

Min-Chan mengernyit ketika lagu itu berhenti, sudah selesai. “Sudah? Hanya itu saja? Sebenarnya apa maksud pria ini? Apa yang ingin ia tunjukan? Hanya lagu ini saja?”

Min-Chan menoleh menatap Donghae yang saat ini sedang menatap lurus ke depan, tidak menatap ke arahnya sama sekali. Baru saja ia hendak membuka suaranya, suara lain lebih dulu terdengar olehnya, melalui earphone yang terpasang di telinganya.

“Kau sudah selesai mendengarnya?”

Mata gadis itu sontak saja melebar saat suara pria itulah yang justru ia dengar, bukan suara musik lainnya.

“Aku yang membuat lagu itu. Kau suka? Ah, kau pasti suka. Iya, ‘kan?”

Terdengar helaan napas pria itu yang mengalun di indera pendengarannya. Salah satu hal yang ia suka dari pria itu. “Haahhh… Kau masih ingat pertemuan pertama kita? 5 tahun lalu? Di kafe itu? Yah… walaupun sebenarnya pertama kali aku melihatmu itu seminggu sebelum pertemuan kita di kafe waktu itu.”

Tubuh gadis itu sedikit mengejang ketika ia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan pria itu. Jadi pria itu sudah lebih dulu melihatnya, begitu? Bagaimana bisa ia tidak tahu?

“Ehmm, aku tidak tahu kenapa aku selalu merasa ingin bertemu denganmu. Kau ingat lirik lagu yang tadi kau dengarkan? Kau mengerti liriknya, ‘kan? Itu yang aku rasakan. Sejak pertemuan kita di kafe itu, aku selalu merasa ingin selalu bertemu denganmu. Selalu merasa ingin bersamamu. Ingin selalu membawamu kemanapun aku pergi. Aku selalu merasa ingin selalu melihatmu. Dalam jarak pandangku.”

Lagi-lagi Donghae menghela nafasnya, berdehem sejenak, sebelum kemudian meneruskan ucapannya. “Min-Chan~a… Park Min-Chan… Saranghae. Menikah denganku, kau mau, ‘kan? Setidaknya dengan begitu aku bisa selalu melihatmu dalam jarak pandangku. Bisa meraihmu jika kau tiba-tiba saja terjatuh. Bisa mengobatimu jika kau terluka. Bisa menjadi semangatmu jika kau merasa ingin menyerah. Walau pasti akan ada masanya keadaan menjadi buruk. Tapi kau harus tahu bahwa tidak peduli seburuk apapun keadaannya, aku akan selalu bersedia berjalan di sampingmu. Selalu ada saat kau butuhkan. Jadi, maukah kau menikah denganku?”

Dan setelah itu berhenti. Tidak ada suara apapun lagi yang terdengar. Dan, ucapan terakhir pria itu sukses membuat tenggorokannya terasa tercekat. Untuk sesaat ia tidak bisa berbuat apapun juga. Masih mematung.

Min-Chan menoleh menatap pria itu yang sampai saat ini masih tidak menatapnya, seolah-olah tidak melakukan apapun juga yang membuat jantungnya terasa seperti akan loncat dari rongganya saat ini juga. Pria itu melamarnya? Lee Donghae melamarnya? Apa dia sedang gila saat ini? Atau telinganya yang agak bermasalah, mungkin? Astaga, mereka bahkan belum berpacaran sebelumnya. Dan sekarang, pria itu tiba-tiba saja melamarnya? Astaga! Dia pasti sedang gila!

“Sudah selesai?” tanya Donghae pada akhirnya, menatapnya. “Jadi… bagaimana?”

“Apanya?” tanya gadis itu. Pertanyaan bodoh, tentu saja.

“Jawabanmu, tentu saja. Memangnya kau pikir apa lagi?”

“Kau baru saja melamarku?” tanya gadis itu dengan tampak tololnya. Lagi-lagi pertanyaan yang gadis itu tanyakan benar-benar terdengar bodoh.

“Astaga, perlukah kau bertanya? Tentu saja iya. Jadi, bagaimana?” ujar Donghae berusaha bersabar, walaupun nada kesal itu masih sedikit terdengar dari suaranya.

“Sebenarnya…” Gadis itu memulai ucapannya. “Sudah ada seseorang yang menjadi alasanku untuk terus bangun di pagi hari hanya untuk melihat orang itu. Sudah ada seseorang yang membuatku tidak bisa berhenti menatapnya. Sudah ada seseorang yang menjadi alasanku untuk terus bernapas. Dan aku tidak bisa menatap pria lain selain dirinya,” lanjutnya

“Benar. Sudah ada seseorang. Seharusnya aku menyadarinya.” Nada itu berubah menjadi lemah, seolah-olah tenaganya sudah disedot habis hingga tak menyisakannya sedikit pun. Kepalanya tertunduk, seakan-akan lehernya tidak sanggup untuk menyanggah kepalanya lagi karena tenaga yang sudah habis.

Yak, kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk melanjutkan? Aku kan belum selesai bicara,” ujar Min-Chan kesal. Gadis itu kemudian mengambil napas panjang sesaat, kemudian kembali bertanya pada pria di hadapannya itu. “Kau tidak menyadarinya? Kau tidak sadar? Kau tidak kalau orang yang aku ceritakan itu adalah dirimu?”

Pria itu terkejut, tentu saja. Tapi hal itu hanya sebentar, karena di detik berikutnya pria itu langsung menarik gadis itu, memeluknya, lengkap dengan senyuman yang terlukis sempurna di wajahnya.

“Bagus. Bagus sekali. Gomawo…”

~~~

Seoul, South Korea, March, 2014.
07.00 AM, KST.
Donghae’s POV

Aku terbangun, dan mendapati bahwa gadis ini masih berada dalam pelukanku. Masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya sejak satu tahun yang lalu. Tapi anehnya aku bahkan tidak pernah sekalipun merasa bosan dengan hal ini. Aku justru berharap agar aku bisa melewati hal ini bersama gadis ini lagi esok hari.

Setelah satu tahun berlalu aku bahkan masih belum percaya bahwa akhirnya gadis inilah yang aku lihat saat pertama kali membuka mataku di pagi hari sampai ingin tidur kembali di malam hari. Gadis ini… aku bahkan sama sekali tidak bisa mendeskripsikannya. Bagaimana bisa ia membuatku menatapnya terus-menerus, nyaris tanpa berkedip, tanpa merasa bosan sedetik pun?

Aku selalu merasa bahwa hari-hari yang kami lalui bersama benar-benar terasa menyenangkan, sama sekali tidak membosankan. Biasanya akulah yang pertama kali bangun di pagi hari dan dia akan bangun beberapa menit setelahnya. Setelah itu, biasanya kami akan bermalas-malasan dulu, tetap di atas ranjang untuk beberapa menit sampai akhirnya dia berteriak panik saat melihat jam yang menunjukan bahwa kami sudah hampir terlambat untuk pergi bekerja.

Kami melakukan semuanya dengan tergesa-gesa, bahkan jika waktunya benar-benar sudah tidak sempat dia hanya akan mampu membuat susu saja sebagai sarapan untuk kami berdua. Siang harinya kami melakukan semuanya sendiri-sendiri, karena dia yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai psikolog dan aku yang harus mengurusi perusahaan Appa bersama Donghwa Hyung.

Aku selalu berusaha agar pekerjaanku cepat selesai, dengan begitu aku bisa pulang ke rumah dan kembali melihatnya. Tapi tetap saja dia yang selalu pulang lebih dulu. Biasanya setelah aku sampai di rumah di sore hari, aku akan mendapatinya sedang berada di dapur, bergelut dengan berbagai masakan yang sedang dipersiapkannya dengan rambut yang digelung ke atas. Dan dia pasti akan selalu mengomeliku karena selalu mengejutkannya yang sedang memasak dengan cara memeluknya dari belakang. Dia selalu protes tentang hal itu. Tapi aku ya aku, besoknya aku akan melakukan hal serupa dan dia akan kembali mengomeliku tentang hal itu. Aku tidak pernah keberatan dengan hal itu. Aku suka setiap ekspresi yang muncul di wajahnya. Jadi hal itu sudah seperti hiburan tersendiri bagiku.

Setelah makan malam, kami pasti akan selalu menonton tv bersama. Dan dia akan bersorak kegirangan saat aku menyerah dengan keinginannya yang selalu memaksa menonton drama Stairway to Heaven favoritnya itu. Sebaliknya, dia akan mengerucutkan bibirnya kesal saat dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku memintanya untuk menonton film Titanic. Biasanya di pertengahan film, dia tiba-tiba saja mengatakan tentang dia yang tidak mau aku seperti di film Titanic itu. Dia tidak mau aku kehilangan orang yang aku cintai seperti yang ada di film itu. Dia juga selalu berceloteh tentang dia yang tidak setuju kalau film ini dianggap sebagai film yang romantis. Katanya, soundtrack film ini menyedihkan begitupun dengan akhir ceritanya yang berakhir dengan sad ending. Padahal jelas-jelas drama favoritnya juga berakhir dengan sad ending dan soundtrack-nya juga menyedihkan.

Di sela-sela menonton film, pasti kami akan bertanya tentang “bagaimana hari ini”, atau mungkin “apakah harimu menyenangkan”. Pertanyaan yang selalu keluar dari mulut kami berdua. Entah kenapa. Seperti kebiasaan yang tidak bisa hilang.

Malamnya, dia akan memintaku untuk menyanyikannya lagu. Katanya suaraku seperti pengantar tidurnya. Biasanya dia tidak akan pernah tidur nyenyak jika belum mendengar suaraku. Dia akan selalu terbangun tengah malam karena hal itu. Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Tapi lagi-lagi aku tidak merasa keberatan dengan hal itu.

Aku sedikit memundurkan kepalaku saat dia bergerak, menandakan bahwa dia sudah bangun dari tidurnya. Dia menoleh sedikit ke belakang, melirikku melalui ekor matanya yang masih terlihat sangat mengantuk.

“Kau sudah bangun?”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia justru menguap, melampiaskan rasa kantuknya yang belum sepenuhnya hilang, dan langsung menyingkirkan kedua tanganku yang melingkar di perutnya, kemudian turun dari ranjang dengan langkah yang sedikit terseok-seok. Efek dari kantuknya.

“Napasmu itu bau sekali, kau tahu? Berhentilah bernapas di leherku, membuatku bangun saja,” omelnya dengan suara parau dan mata yang masih setengah menutup.

“Kau mau kemana?”

Dia berhenti berjalan, dan berbalik menatapku yang sekarang sudah terduduk di atas ranjang.

“Mandi. Aku ada janji dengan pasienku jam delapan nanti,” ujarnya kemudian kembali berbalik, hendak kembali melanjutkan langkahnya sebelum akhirnya tanganku dengan sigap menahannya, sedikit menariknya, membuatnya langsung terduduk di atas ranjang.

Ya ! Apa-apaan kau?” sentaknya marah. Dan tepat sedetik setelahnya aku langsung menyentuhkan bibirku di bibirnya. Aku bisa merasakan tubuhnya sedikit mengejang saat aku melakukannya, membuatku sedikit terkekeh. Gadis ini… memangnya dia masih belum terbiasa dengan sikapku ini?

Hanya sekilas. Aku hanya menciumnya sekilas, tapi reaksinya tetap saja masih mematung. Bahkan dia masih belum bisa mengontrol ekspresi wajahnya dengan benar. Aku terkekeh pelan dan langsung menepuk pipinya pelan. “Yak, baru kucium sebentar saja kau sudah seperti itu. Bagaimana kalau aku melakukan lebih?” ujarku, menggodanya dengan nada geli, dan langsung membuat kesadarannya langsung pulih dalam seketika.

Ya !!”

Saranghae,” sambarku cepat. Menatapnya dengan intens. Hal yang salah sebenarnya, karena di detik itu juga aku merasa lupa bagaimana caranya menatap objek lain selain dirinya. Setelah mengenalnya selama enam tahun aku tetap saja masih terpesona padanya. Dan aku yakin hal itu pasti masih akan tetap terjadi di tahun-tahun berikutnya, bahkan sampai kita menua nanti.

Dia tersenyum kecil, sebelum kemudian membalas pernyataanku. “Emm, nado saranghae,” ucapnya.

“Woaaa! Lihat wajahmu! Merah sekali. Jadi kau juga bisa malu, ya?” ujarku mengganti topik. Dan langsung membuat ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat.

Yak ! Berhenti melakukan itu, bodoh!”

-THE END-

5 thoughts on “[Oneshot] ILYTM

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s