Stockholm Syndrome


 

Stockholm Syndrome 

Xiumin (Minseok), Luhan || Surrealist, Thriller || Drabble || PG – 17

by ilachan

{When you adore your foe, }

 

Sebenarnya, kolong jembatan bukanlah tempat yang pas untuk berdebat apalagi untuk berbincang bincang. Tapi apa boleh buat, Minseok mencoba untuk mengajak gadis itu pergi namun dengan kaku gadis itu tetap saja berdiri disana, menatap Minseok heran solah dia adalah pria gila yang mencoba untuk menculiknya.

Minseok menggerang, kehabisan kata-kata.

“Apa kau tuli? Dia telah membunuh ayahmu, menghancurkan keluargamu dan menjadikanmu budak tapi kau malah melindunginya?”

Gadis itu diam saja. Dia malah ganti menatap sang pria dengan tatapan kosong.

“Kau masih tak mendengarkanku ha?” Pria itu kembali berteriak.

“Simpan tenagamu Minseok. Aku mendengarkanmu. Jelas sekali, bahkan kau tak perlu mengatakannya berulang kalipun aku sudah paham apa yang kau bicarakan.” ujar gadis itu tenang. Wajahnya masih sama datarnya dengan sebelumnya.

“Lantas apa yang akan kau lakukan?” ujar Minseok hampir putus asa, dia tidak tahu dengan cara apalagi mengajaknya untuk pulang. “Apakah kau akan selamanya tinggal di nanungannya, menjadi budaknya yang selalu disiksa? Tak ingatkah kau kalau kau masih punya banyak teman yang menghawatirkanmu dan menunggumu kapan kau kembali? Tak taukah kau kalau mereka mencintaimu?” suara Minseok hampir melengking di akhir kalimat, dia hampir menangis. Gadis ini, apa yang telah Luhan lakukan padanya.

“Sia-sia saja.” balas si gadis lirih.

“Apa katamu?”

“Semua yang kau lakukan percuma, Minseok. Aku tak akan kembali. Lupakan aku, sebaiknya kau berhenti disini saja. Beritahu mereka untuk tidak lagi menghawatirkanku, beritahu teman-teman kalau aku tak lagi ingin pulang. Semuanya berakhir disini. Aku punya kehidupan baru. Aku punya tuan yang dengan senang hati siap aku layani. Hidupku tak lagi milikku, tapi tuan-ku lah yang telah memilikinya.”

Ini gila.  Minseok merasakan bulu kudunya berdiri.

Dia benar-benar sudah gila.

Gadis yang ada dihadapannya kini bukanlah teman yang dulu dia kenal. Dia adalah orang yang berbeda.

“Kau sudah di cuci otak!” seru Minseok.

“Mungkin saja.” balasnya santai dengan senyuman yang hampir seperti seringai. Minseok menatapnya ngeri. Sungguh diluar nalar, tapi Minseok merasakan hawa yang menakutkan mengelilinginya. Dia tak berani menatap matanya, akhirnya dia berbalik memunggunginya, berpikir hal apa yang selanjutnya akan dilakukan.

Tak lama kemudian terdengar suara denginng yang nyaring ditelinga Minseok. Tangannya yang bergetar mencoba untuk menyentuh pucuk kepalanya, dia merasakan cairan hangat turun hingga ke pelipisnya. Perlahan dia mendekatkan tanggannya yang baru saja menyentuh cairan itu sejajar dengan matanya. Pandangannya yang perlahan memburam menangkap apa yang ada di tangannya, darah.

Segala sesuatu yang baru saja terjadi terlambat dia tangkap. Tau-tau saja lututnya sudah melemas, dan menjatuhkan tubuhnya ke tanah tak berdaya.

Tak Jauh darinya gadis itu melihat dengan jelas bagaimana Minseok mengelepar di tanah. Ditangannya dia bisa merasakan betapa beratnya batu tajam itu. Kakinya kemudian perlahan mendekati si pria yang tak berdaya. Kemudian berkata, “Bukankah aku sudah bilang padamu Minseok, jangan lagi kau mencariku kalau kau tak ingin celaka.”

Minseok tidak bisa berkata-kata lagi. Kini dia berada di hidup dan mati. Dia hanya bisa membuka mulutnya ketika dia tersedak dengan ludanya sendiri dan melihat dengan pandangan samarnya, gadis itu berdiri disampingnya dan mensejajarkan benda yang ada di tangannya dengan wajah Minseok.

Kemudian kegelapan total menyusulnya.

***

“Darimana saja kau?”

Suara dingin menyambutnya setelah si gadis menutup pintu di belakangnya. Dengan takut takut dia berjalan mendekati Luhan yang sekarang sedang menatap televisi. Meskipun hanyalah sebuah punggung yang dia hadapi, gadis itu menatapnya ketakutan.

“A-aku ada sedikit kepentingan.”

“Kepentingan apa?”

“Sebenarnya, aku baru saja bertemu dengan seseorang.”

“Lalu?” Luhan terdengar tertarik.

“Lalu dia pergi.” kata gadis itu hampir berbisik. 

“Dia yang pergi atau kau yang membuatnya pergi?’ Luhan berdiri dari tempatnya, memutari sofa dan akhirnya berdiri di samping gadis itu. “Jawab aku.” bisiknya.

Gadis itu diam saja dan membeku kaku. Tuannya rupanya tau segalanya, tuannya rupanya mengetahui apa yang telah diperbuat. Haruskah dia mengaku, tapi apakah dia akan baik-baik saja?

“A-aku yang telah membuatnya pergi. Aku telah membunuhnya.” Gadis itu berjengit ketika Luhan mulai tertawa keras. Tawanya bukanlah tawa kebahagiaan, melainkan lebih seperti gelak tawa jahat, dingin dan menyeramkan.

“Ma-maafkan aku tuan, Minseok mengetahui keberadaanku, dia tidak bisa aku biarkan hidup.”

Perkataan gadis itu menghentikan gelak tawa Luhan dan digantikan dengan tatapan tajam kepadanya.

“Minseok katamu?” ujar Luhan dengan suara yang diulur-ulur.

Gadis itu mengangguk, kemudian menunduk, takut dengan tatapan Luhan yang dingin.

“Baiklah, kau tak usah takut begitu. Aku mengerti, setiap orang punya hak tentang privasi. Tapi kau harus kuberi hukuman.”

Seketika gadis itu langsung berlutut dan memeluk lutut Luhan. Dia sungguh mencintai Luhan, apapun akan dia lakukan asalkan jangan sampai dia ditendang pergi dari rumah Luhan. “Tuan, kasihanilah aku. Aku tak ingin jauh dari Tuan.”

Luhan kembali tertawa renyah kemudian dia berkata, “Jangan hawatir aku hanya ingin daging panggang.”

***

Seperti apa yang dia minta, Luhan mendapatkan daging panggang yang dia inginkan. Dia duduk di meja makan besar yang penuh dengan berbagai makanan dan dia begitu menikmati santapannya. Indra pengecapnya tidak melewatkan sedikitpun citarasa khas dari makanannya, dia tidak pernah merasakan rasa daging yang begitu khas seperti ini. Ini benar-benar sesuatu yang baru.

“Aku tak menyangka kau melewatkan makan malam tanpa saudaramu.”

Luhan menghentikan kunyahannya dan mendongak, melihat siapa yang masuk kedalam ruang makannya.

“Ah, kau Hyung. Kukira jasatmu sudah ditenggelamkan dan dibiarkan terbawa oleh aliran sungai.” kata Luhan santai dan kembali mengiris daging panggangnya.

Minseok tertawa kemudian mengambil tempat duduk disebelah Luhan, “Tidak. Aku baik-baik saja Lu-ge. Aku hannya butuh mandi.” Minseok tersenyum meyakinkan pada luhan, dan ikut makan bersamanya.

“Seharusnya kau bersyukur aku kembali. Gadis itu cukup jahat, untung saja dia tak memberikan kepalaku pada anjing gila.”

Kini giliran Luhan yang tertawa. “Begitukah? Aku tak menyangka seperti itu.”

“Seharusnya kau bisa mendidik anak buahmu lebih baik lagi. Kalau boleh aku katakan, kau sungguh mengecewakan.”

Luhan kembali tertawa mendengar pernyataan Minseok, “Hyung, kau terdengar ketakutan.”

“Lain kali aku akan membuatmu mati ditangan gadis itu.” ujar Minseok namun malah mendapatkan seringai dari Luhan.

“Tidak Hyung, kau tidak bisa melakukannya kepadaku.”

“Kenapa tidak? Itu adalah hal yang paling mudah.”

“Tidak, karena kau sedang menyantap gadis itu  .”

-End-

 

8 thoughts on “Stockholm Syndrome

  1. Keren eon ff nya ^_^

    Terus berkarya lg yah thor bwt yg lbih bgs lg. Dan klw bsa bikin ff yg cast nya Xiumin ama Luhan yah!😉

  2. Wah.. Keren.. T.T
    ffnya short tapi daebak.. Apa lagi pas luhan bilang “aku hanya ingin daging panggang” aku udh nebak pasti dagingnya bukan daging biasa.. Daebak ffnya..

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s