[Oneshot] Autumn in December


image

Author: Shanne Viviana.

Cast: Lee Donghae, Park Min-Chan, others.

Credit Poster by: Princess Art

Recommended Songs:
– Super Junior-M ~ After a Minute.
– Super Junior-M ~ My Love for You.
***

November 30th, 2013.
Namsan Park, South Korea.
11.15 AM, KST.

Pria itu masih tetap duduk diam sejak tadi. Masih tetap menunggu seseorang yang sudah sangat ia rindukan. Seorang gadis. Ya, ia memang sedang menunggu seorang gadis yang sudah pergi meninggalkannya 5 tahun yang lalu untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Tidak ada komunikasi sama sekali diantara mereka selama jangka waktu tersebut. Gadis itu yang memintanya. Gadis itu berkata bahwa ia ingin berkonsentrasi dulu dengan pendidikannya, dengan begitu ia bisa cepat menyelesaikan pendidikannya dan segera kembali lagi ke Seoul untuk kembali bertemu dengannya. Sebelum mereka berpisah, gadis itu mengatakan kepadanya bahwa jika nanti dia akan kembali ke Seoul pada akhir musim gugur dan ia berjanji akan menemui pria itu disini. Jadi disinilah dia. Menunggunya.

Satu jam berlalu, dan senyum itu masih tetap terlukis di wajahnya. Masih menunggu kehadiran gadis itu dengan jantung yang berdebar tak terkendali. Setiap tahun. Ia selalu menunggu gadis itu setiap tahun. Disini, di tempat ini. Tapi hasilnya tetap nihil. Gadis itu masih belum kembali ke Seoul juga. Dan sekarang, di tahun ke-lima ini, ia berharap agar gadis itu bisa kembali ke Seoul.

Ia rindu saat gadis itu tersenyum kepadanya. Ia rindu saat gadis itu meneriakan namanya kencang-kencang. Ia rindu saat gadis itu menatapnya begitu fokus. Ia rindu saat gadis itu berceloteh panjang lebar kepadanya. Ia rindu setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh gadis itu saat bersamanya. Dan, ia rindu saat gadis itu … berkata bahwa gadis itu mencintainya. Ia rindu semua itu. Ia rindu kehadiran gadis itu disisinya. Ia … amat sangat merindukan gadis itu.

Donghae mengeratkan jaketnya ketika ia merasa angin musim gugur kembali menerpa tubuhnya, apalagi ini sudah hampir memasuki musim dingin. Bohong besar namanya kalau ia berkata bahwa ia tidak kedinginan selama menunggu gadis itu disini. Tapi sepertinya ia sudah mulai merasa terbiasa, mengingat selama 5 tahun berturut-turut ia selalu menunggu gadis itu disini.

Tiga jam berlalu dan ia mulai merasa lelah. Sepertinya gadis itu tidak akan datang hari ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ia akan menunggu gadis itu selama empat jam disini, tapi entah kenapa hari ini ia mulai merasa lelah untuk menunggu gadis itu. Ia mulai merasa bahwa sebaiknya ia menyerah saja.

Donghae menggeleng pelan, berusaha menghalau pikiran-pikiran aneh yang mulai merasukinya. Tidak. Dia harus tetap disini. Dia harus tetap menunggu gadis itu disini. Gadis itu sudah berjanji padanya, bukan? Dan ia yakin gadis itu pasti akan menepatinya. Gadis itu pasti akan datang. Ya, benar. Gadis itu pasti akan datang. Dan ketika itu terjadi, penantiannya selama 5 tahun terbayar sudah.

Ia membayangkan bagaimana jika nanti ia kembali bertemu gadis itu. Apakah gadis itu masih tetap tidak menyukai sayur, olahraga dan menggambar seperti dulu? Apakah gadis itu masih tetap mempertahankan gengsinya yang setinggi Pegunungan Himalaya itu? Atau nanti gadis itu akan berteriak memanggil namanya dengan kencang lalu ketika ia berbalik, gadis itu akan berlari ke arahnya dan langsung memeluknya?

Donghae sedikit terkekeh memikirkan kemungkinan terakhir. Tidak, tidak. Gadisnya tidak mungkin dan tidak akan mau bertingkah seperti itu. Pasti menurutnya itu sangat menjijikan. Benar juga. Gadisnya itu kan unik, jadi tidak mungkin dia akan bertingkah sama seperti gadis-gadis lain pada umumnya.

Pria itu tiba-tiba saja beranjak dari duduknya, hendak membeli segelas kopi. Mungkin saja itu bisa membunuh sedikit rasa bosannya. Ia mengeratkan mantelnya sejenak, sebelum kemudian melangkahkan kakinya, menjauhi bangku yang sejak tadi ia duduki.

Belum sempat ia sampai ke tempat tujuannya, seseorang sudah lebih dulu menabraknya. Yah… lebih tepatnya tidak sengaja menabraknya.

Jeongseohamnida. Gwaenchana, aggashi ?” tanyanya dengan nada yang sarat akan kekhawatiran. Ia menggerakan kepalanya sedikit, berusaha melihat wajah seseorang yang kini sedang sibuk membersihkan pakaiannya yang kotor terkena tanah.

Aish, jinjja !” Terdengar gumaman orang itu yang mungkin lebih terdengar seperti umpatan. “Aish ! Hari pertama di Seoul dan aku langsung sial seperti ini. Aish! Jinjja ! Astaga! Ponselku!” serunya saat melihat keadaan ponselnya yang sudah rusak. Ia kemudian langsung mengambil ponselnya itu, kemudian mendesah kesal. Hanya sedetik. Hal itu hanya terjadi sedetik karena di detik berikutnya ia langsung mendongak, menatap orang yang sudah menyebabkan ponselnya jadi seperti ini.

Yak, kau lihat tidak kalau aku sedang jalan, tadi? Sekarang bagaimana dengan ponselku, hah? Aish !” serunya lagi dengan nada kesal yang sangat kentara terdengar, sedangkan Donghae hanya diam. Lebih tepatnya mematung, menatap gadis yang berada di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Dan kemudian tanpa aba-aba langsung memeluk gadis itu, yang tentu saja langsung mendapat penolakan dari gadis itu. “Ya! Ya! Ya! Apa-apaan kau? Ya !! Lepaskan aku! YA!”

“Aku senang kau sudah kembali, Min-Chan~a,” ujar pria itu. “Gomawo… Gomawo…” Ada nada kelegaan yang terdengar dari kalimat itu. Pria itu memeluk gadis di hadapannya dengan begitu erat, seolah-olah tidak rela jika gadis itu terlepas darinya. Ya, benar. Ia tidak ingin gadis itu pergi dari sisinya lagi. Cukup sekali saja. Kali ini, ia tidak ingin hal itu terjadi lagi.

Sejenak, gadis itu hanya mempu terdiam, sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri. Apalagi ketika aroma khas dari tubuh pria itu menguar di indera penciumannya, membuat pikirannya semakin bertambah kacau. Kenapa… kenapa ia merasa nyaman sekali sekarang? Kenapa pelukan ini terasa familiar baginya? Kenapa ia merasa seperti sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya?

Gadis itu menggeleng pelan—nyaris tidak terlihat—berusaha membuang semua pikiran anehnya jauh-jauh. “Tidak. Ini tidak benar. Apa yang kau pikirkan, Min-Chan? Tapi… bagaimana mungkin ia bisa tahu namamu?” Ia kembali menggeleng. “Tidak, tidak. Bukan kau saja kan yang memiliki nama itu? Pasti ini orang lain. Ya, itu pasti Min-Chan yang lain. Bukan kau,” pikirnya, dan di detik berikutnya langsung mendorong pria itu jauh-jauh darinya.

Yak, apa-apaan kau? Seenaknya sa—Ah!” pekiknya saat merasakan rasa sakit yang teramat sangat di bagian kepalanya. Gadis itu memegang pelipisnya sejenak, berusaha agar setidaknya hal itu bisa mengurangi rasa sakitnya sedikit. Erangan pelan itu keluar begitu saja dari mulutnya, menahan sakit yang saat ini tengah ia rasakan.

Di tengah-tengah rasa sakit yang kini sedang melandanya, ia bisa melihat gambar-gambar buram yang sejak tadi terus-menerus berseliweran di otaknya. Ia tidak tahu gambar apa itu. Satu-satunya yang bisa ia lihat dengan jelas adalah… dirinya yang saat itu sedang tertawa. Entah kepada siapa dan karena apa. Semuanya buram, sama sekali tidak jelas.

Gwaenchana ? Min-Chan~a, kau tidak apa-apa?” tanya Donghae, mengabaikan rasa penasaran yang sekarang tengah menyelimutinya. Ia tidak mengerti, bagaimana bisa gadis itu bersikap seolah-olah mereka sama sekali tidak saling mengenal sebelumnya? Ia tidak mungkin salah orang, bukan? Gadis itu Park Min-Chan, bukan? Gadis itu adalah kekasihnya, ‘kan? Lalu… lalu kenapa gadis itu bersikap seperti itu?

Gadis itu mendongak, menatap Donghae tidak peduli—masih dengan tangan yang memegangi pelipisnya—dan alih-alih menjawab pertanyaan Donghae, gadis itu justru melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu, mengabaikan tatapan Donghae yang menatapnya bingung.

Ya ! Kau mau kemana?” tanya pria itu lagi, mencengkram pergelangan tangan gadis itu yang tentu saja membuat langkahnya ikut terhenti.

Yak, apa yang kau lakukan, eoh? Lepaskan!” seru gadis itu, masih dengan nada kesal. “Aish ! Ada apa denganmu, sebenarnya? Apa kau tidak diajari sopan santun, hah?” serunya lagi saat tangannya berhasil lepas dari cengkraman pria itu. Ia menatap pria itu kesal, menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja pria itu lakukan terhadap dirinya yang notabene adalah orang asing bagi pria itu—yah, ia juga tidak yakin sebenarnya.

Min-Chan berjalan begitu saja, tidak mempedulikan Donghae yang masih tidak mengerti dengan sikap Min-Chan padanya hari ini. Mau tak mau, pria itu berpikir ulang; benarkah itu gadisnya? Benarkah itu masih gadis yang sama dengan yang berjanji padanya 5 tahun yang lalu?

~~~

Jung-gu, Seoul, South Korea.
12.58 PM, KST.

Eo ? Kau sudah kembali? Bukannya tadi kau ingin jalan-jalan?” tanya Sung-Wan bingung saat mendapati anak sulungnya itu sudah berada di rumah. Pria paruh paya itu mendudukan tubuhnya di sebuah sofa—yang hanya cukup untuk satu orang saja itu—dengan membawa secangkir kopi di tangan kanannya.

Min-Chan menjatuhkan dirinya di atas kursi sofa sembari menghela nafas lega. Ia lantas memejamkan matanya, dan menjawab pertanyaan Appa-nya itu dengan nada setengah tidak peduli. “Sudah tidak tertarik.”

Sung-Wan terkekeh pelan. “Kau tidak lupa jalanan kota Seoul, bukan? Jangan sampai kau lebih hapal jalanan kota London dibanding Seoul,” ujarnya bergurau, yang langsung membuat Min-Chan menegakan badannya, menatap sang Ayah dengan tatapan kesalnya.

“Tentu saja tidak. Aish, Appa ini!” Gadis itu baru saja ingin menyandarkan punggungnya kembali di sandaran sofa, sebelum tiba-tiba ia kembali teringat sesuatu dan kembali menatap Ayahnya lekat. “Appa, apakah aku—”

Belum selesai ia berbicara, suara bel rumahnya sudah lebih dulu memotongnya dan mengambil alih fokus dirinya dan Ayahnya. Gadis itu lantas berjalan ke arah intercom rumahnya dan saat itu juga jantungnya terasa seperti akan loncat dari rongganya. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, menimbang-nimbang apa yang sebaiknya ia lakukan.

“Kenapa tidak dibuka?” tanya Sung-Wan akhirnya, merasa aneh karena putrinya itu tidak kunjung membuka pintunya.

“Hmmm, itu…” Min-Chan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mencari-cari kalimat yang cocok. “Hanya petugas yang mengantar barang saja. Aku akan mengambilnya,” ujarnya gelagapan, membuat kening Sung-Wan sontak saja langsung berkerut mendengarnya. Dan, tanpa menunggu lama lagi, gadis itu langsung berlari ke luar.

Yak, pria mesum, apa yang kau lakukan disini, eoh ?” tanyanya dengan nada kesal yang sebisa mungkin ia pelankan, mengingat Appa-nya masih ada di dalam rumah. Gadis itu menoleh ke arah kiri dan kanan, memastikan bahwa tidak ada satupun orang yang melihatnya saat ini. “Bagaimana kau bisa tahu rumahku? Apa kau membuntutiku? Kau… tidak membuntutiku, ‘kan?” tanyanya, menatap pria itu dengan mata menyelidik.

“Pria mesum?” tanya Donghae balik bertanya dengan alis yang bertaut sempurna.

“Tentu saja! Memeluk orang sembarangan seperti tadi, apalagi namanya kalau bukan mesum, eoh?” sambarnya masih dengan nada marah yang menggebu-gebu.

“Memeluk orang sembarangan? Kau itu calon istriku! Kau tidak ingat?”

MWO ?!” pekiknya tidak percaya. “A-apa kau bilang barusan? Calon… calon istrimu?”

“Min-Chan~a, kenapa lama sekali?” ujar Sung-Wan, berjalan ke arah Min-Chan yang kini sedang berdiri di ambang pagar rumah mereka. Dan tepat sedetik setelahnya, sepasang matanya melebar begitu saja saat melihat seseorang yang sudah sangat dikenalnya itu berdiri berhadapan dengan putrinya. “Donghae?”

Annyeonghaseyo, Ahjussi ! Lama tidak bertemu.” Donghae tersenyum ke arah Sung-Wan, membuat Min-Chan semakin bingung dengan situasi ini, dan bergantian menatap Ayah dan pria di hadapannya itu—yang kalau tidak salah namanya Donghae.

Appa mengenalnya? Dia bilang kalau aku—” Erangan pelan yang keluar dari mulutnya itu menggantikan kalimatnya tadi yang belum ia selesaikan. Untuk kedua kalinya dalam sehari, gadis itu merasakan sakit yang teramat sangat di bagian kepalanya. Dan lagi-lagi ia melihat sekelebatan gambar buram itu lagi, seolah-olah berusaha memberitahu sesuatu kepadanya. Tapi bagaimana bisa ia tahu jika gambarnya buram, apalagi ditambah dengan kepalanya yang sakit. Bahkan rasanya untuk berpikir pun ia tidak sanggup.

“Min-Chan? Min-Chan? Kau kenapa?”

“Min-Chan~a, kau baik-baik saja?”

Samar-samar ia bisa mendengar suara Ayahnya dan pria itu yang sama-sama terdengar panik. Dan perlahan pandangannya mengabur, sebelum akhirnya semuanya terlihat gelap.

~~~

“Min-Chan… dia… dia mengalami tabrakan di London, 3 bulan yang lalu. Dia sempat koma selama 2 bulan. Dokter memvonisnya terkena Retrograde amnesia. Dia… tidak mengingat apapun yang terjadi 8 tahun yang lalu.”

Donghae menghela nafas berat, masih setengah tidak percaya dengan pernyataan yang baru saja ia dengar dari mulut calon Ayah mertuanya itu. Pria itu berjalan pelan ke arah Min-Chan yang sejak tadi belum bangun juga. Ia mendudukan dirinya di bagian pinggir ranjang gadis itu, menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Jadi… artinya gadis itu tidak mengingatnya lagi? Begitu? Artinya… memori tentang dirinya sudah tidak ada lagi, begitu?

Lagi-lagi pria itu menghela nafasnya yang terdengar berat saat ucapan Sung-Wan kembali terngiang di benaknya. “Kami terlalu panik saat itu. Satu-satunya yang kami pikirkan adalah keselamatan Min-Chan. Maaf, karena kami tidak memberitahumu sama sekali. Kuharap kau bisa mengerti.”

Donghae menghembuskan nafasnya sejenak, masih larut dalam lamunannya sendiri. Sementara itu, Min-Chan perlahan mulai mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan matanya dari cahaya yang menghunus tepat ke arahnya. Gadis itu menoleh sedikit ke samping kirinya, dan saat itu juga matanya langsung melebar.

NEO ?!!” teriak Min-Chan tiba-tiba, membuat Donghae sontak saja tersadar dari lamunannya. “Neo… neo… Apa yang kau lakukan di kamarku, hah?!” Lagi-lagi gadis itu berteriak keras. Ia kemudian mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap kesal pria itu yang kini sudah beranjak dari posisinya semula.

Donghae menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah rak yang penuh dengan berbagai macam buku. Pria itu mengambil acak sebuah buku kemudian membukanya. “Kau tidak banyak berubah. Masih banyak buku-buku di dalam kamarmu.”

Yak, aku bertanya padamu; apa yang kau lakukan di kamarku. Bukannya justru mengomentari isi ruanganku.” Gadis itu menarik nafasnya sejenak. “Lagipula siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini, eoh ?”

Appa-mu,” sahut Donghae cepat, mengembalikan buku itu kembali ke tempatnya dan beralih menatap gadis itu yang kini sedang memasang tampang syoknya. Membuat pria itu harus mati-matian menahan tawanya agar tidak menyembur keluar.

APPA?!” pekiknya. “Ani, ani. Appa tidak mungkin membiarkan sembarang pria masuk ke kamarku,” gumamnya, berusaha menyangkal ucapan pria itu.

“Hei, aku calon suamimu. Kau ingat?”

“Tidak. Aku tidak ingat pernah mempunyai calon suami menyebalkan sepertimu,” tukasnya dengan nada dan raut wajah yang sama-sama sebal.

“Kau mengalami amnesia, ‘kan?” tanya pria itu lagi. Kali ini ia mendudukan dirinya tepat di sebelah Min-Chan, membuat gadis itu sempat terlonjak kaget untuk beberapa detik. Sedetik kemudian, pria itu menoleh menatap gadis itu lekat. “Apa kau juga tidak ingat kalau kita pernah…”

Yak, apa yang mau kau lakukan, eoh ?” ujar gadis itu pelan seraya memundurkan tubuhnya saat tubuh pria itu semakin mendekat ke arahnya.

“Hahahaha. Ternyata kau takut juga padaku.” Donghae tergelak, tidak bisa lagi menahan tawanya saat melihat ekspresi ketakutan gadis itu. Pria itu menjatuhkan tubuhnya sendiri di ranjang gadis itu, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, kemudian memejamkan matanya. Menahan dirinya agar tidak melihat wajah gadis itu lagi. Ia hanya takut. Bisa-bisa ia tidak bisa menatap objek lain selain gadis itu lagi—yah, walaupun ia tidak keberatan sama sekali.

“Sialan kau!” umpat Min-Chan kesal. “Kau pikir ini lucu, hah?” tanyanya, melipat kedua tangannya di depan dada dan saat itu juga langsung dijawab pria itu dengan anggukan kecil. “Aish !”

“Min-Chan~a,” panggil pria itu tiba-tiba, setelah beberapa menit tidak ada ucapan sama sekali yang keluar dari mulut keduanya. Pria itu masih mempertahankan posisinya semula, memejamkan matanya.

M-mwo ?” jawab gadis itu, menoleh sedikit—tidak benar-benar menoleh—ke arah pria itu dengan ragu-ragu.

Aneh. Kenapa sekarang ia merasa gugup? Kenapa sekarang ia merasa jantungnya berdebar tidak terkendali? Tidak mungkin karena pria di sebelahnya ini, ‘kan? Oh ayolah, ini konyol sekali! Otaknya pasti sedang bergeser.

“Berikan aku waktu sebulan.”

Ne ?”

Donghae membuka matanya, dan menegakan kembali tubuhnya. Pria itu menoleh ke arah kanan, membuat tatapan mereka untuk beberapa detik—yang terasa lama—beradu pandang. “Berikan aku waktu sebulan untuk mengembalikan ingatanmu. Jika ternyata sampai jangka waktu tersebut kau masih tidak mengingatku juga. Maka… aku akan menyerah. Aku akan pergi dari hadapanmu, dari kehidupanmu. Bagaimana?”

~~~

December 1st, 2013.
Jung-gu, Seoul, South Korea.
09.21 AM, KST.

Matahari sudah semakin meninggi, orang-orang sudah mulai bergegas untuk menjalani aktivitasnya hari ini, jalanan kota Seoul sudah mulai dipadati oleh beberapa kendaraan yang melintas. Tak jarang terdengar suara klakson beberapa kendaraan yang sangat memekakan telinga. Tapi lain halnya dengan keadaan didalam sebuah kamar seorang gadis yang saat ini sedang “menenggelamkan” dirinya di balik selimut berwarna putih tulang miliknya.

Korden berwarna merah bata yang berada di sisi kanan kamar gadis itu pun belum dibukanya sama sekali, membuat matahari harus lebih bersabar lagi agar cahayanya bisa masuk ke sana.

Suara decit pintu terbuka itu berhasil memecah kesunyian yang terjadi didalam kamar itu. Dan tak perlu menjadi orang pintar untuk tahu bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam sana. Gadis itu tidak menyadarinya, tentu saja, karena suara yang ditimbulkan masih cukup kecil baginya. Sampai sedetik kemudian…

YAAA!!!” Terdengar jeritan yang sangat keras. “Yak ! Apa yang kau lakukan, hah?” serunya lagi saat pria itu dengan seenak kepalanya sendiri menggendongnya menuju… kamar mandi?

Pria itu menurunkannya tepat di depan sebuah cermin berbentuk oval yang terdapat di dalam kamar mandi gadis itu. Ia membuka keran air yang berada tepat di bawah cermin itu, membasahi tangannya, kemudian dengan gerakan cepat langsung menyentuhkannya ke wajah gadis itu.

Yak, apa-apaan kau ini, hah?” semprot gadis itu marah, sedangkan pria itu hanya tersenyum polos ke arahnya, seolah-olah tidak melakukan kesalahan apapun yang membuatnya marah setengah mati.

“Tidak ada. Aku hanya sedang membangunkanmu,” jawab Donghae akhirnya, lengkap dengan senyum gelinya, yang langsung membuat gadis itu harus mati-matian menahan dirinya sendiri agar tidak memukul kepala pria di hadapannya itu.

Donghae terkekeh pelan, sebelum akhirnya mendorong pelan gadis itu yang masih saja menunjukan tampang membunuh. “Sekarang mandilah. Aku akan menunggumu di bawah,” ujar pria itu masih dengan senyumannya kemudian melangkahkan kakinya, hendak keluar dari kamar mandi, sebelum tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Ia berbalik, kembali menatap gadis itu yang masih sama seperti tadi. Tidak bergerak seinci pun dari tempatnya semula.

“Apa lagi?!”

“Kau tidak ingin aku yang memandikanmu, bukan? Jadi sebaiknya cepatlah, sebelum aku berubah pikiran,” ujar pria itu lagi, diselingi kekehannya, dan langsung berlalu pergi sedetik setelahnya.

YA!!”

~~~

10.46 AM, KST.

“Untuk apa kau datang ke rumahku, hah?” tanya Min-Chan saat berada di dalam mobil sambil memasang seat belt-nya.

“Kau tidak lupa dengan perjanjian kita, ‘kan? Mana mungkin aku akan menyia-nyiakan waktu satu bulan itu,” ujar Donghae enteng tanpa menatap Min-Chan sama sekali, membuat gadis itu entah kenapa merasa sedikit… kecewa.

Cih, kau ini!” Min-Chan menoleh ke kanan, beralih menatap pemandangan di luar melalui kaca mobil yang sekarang ditumpanginya. “Haahhh… Lagipula ini kan masih pagi. Memangnya kau mau membawaku kemana?” tanyanya lagi dengan nada malas yang sangat kentara terdengar.

“Ke tempat yang pasti tidak akan kau suka,” jawab Donghae enteng, yang sukses membuat gadis itu terlonjak saking kagetnya.

MWO ?” Min-Chan ganti menatap Donghae tidak percaya. “Apa kau bilang tadi? Ke tempat yang pasti tidak akan aku suka?” tanya gadis itu memastikan.

Donghae mengangguk.

Gadis itu berdecak pelan, kemudian menyandarkan punggungnya begitu saja ke sandaran kursi. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Astaga! Kau pasti bercanda!” Lagi-lagi gadis itu berdecak tidak percaya, dan kembali memusatkan pandangannya pada pemandangan di luar.

Jeritan panik itu keluar begitu saja dari mulut Min-Chan saat mobil itu tiba-tiba saja berhenti secara mendadak, membuat kepala gadis itu nyaris saja menghantam dashboard mobil jika saja ia tidak mengenakan seat belt. Dengan gerakan cepat, ia menoleh menatap pria itu dengan tampang marah sekaligus panik.

Yak, kau pikir apa yang sedang kau laku—”

Pria itu mendekatkan kepalanya ke arah Min-Chan, membuat lidah gadis itu entah kenapa terasa kelu. Tidak sanggup mengucapkan satu kata pun.”Aku… tidak bercanda sama sekali, Min-Chan~ssi,” ujar pria itu pelan, kemudian menjauhkan kembali dirinya dari gadis itu. Tak sampai sedetik, tawa kecil itu meluncur begitu saja dari mulutnya. “Berkediplah. Jangan terlalu terpesona padaku begitu.”

Min-Chan mengerjapkan matanya pelan, berusaha mencari kembali fokusnya yang tadi sempat hilang. Dan sedetik kemudian langsung memukul bagian belakang kepala pria itu begitu saja dengan entengnya.

“Akh! Yak !”

~~~

Lotte World, Seoul, South Korea.
11.18 AM, KST.

Welcome to Lotte World !” seru Donghae, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Pria itu menoleh ke arah Min-Chan dan langsung mendapati ekspresi gadis itu yang sudah berubah menjadi masam, membuat tawa pria itu langsung menyembur keluar. “Sudah kubilang kan kalau kau pasti tidak akan suka.”

“Diam kau!” seru gadis itu, mengerucutkan bibirnya kesal. “Lagipula darimana kau tahu aku tidak suka tempat seperti ini, eoh ?” Gadis itu sedikit menyipitkan matanya saat menatap pria itu, karena cahaya matahari yang tepat mengenai tubuh pria itu, membuat pria itu entah kenapa terlihat menyilaukan di matanya. Dan bisa ia pastikan itu bukan karena cahaya matahari yang mengenai tubuh pria itu.

“Sederhana saja, karena kau tidak suka jenis permainan apapun dan kau juga tidak suka keramaian. Jadi kau pasti tidak akan suka tempat ini,” sahut pria itu enteng.

“Bukan. Bukan itu.” Gadis itu menggeleng. “Maksudku, bagaimana kau tahu semua itu? Bagaimana kau tahu kalau aku tidak menyukai hal yang kau sebut tadi?” tanya Min-Chan tidak habis pikir.

“Karena aku calon suamimu.” Lagi-lagi pria itu menjawabnya dengan enteng, seolah-olah pertanyaan yang diajukan gadis itu terlalu mudah, dan tidak seharusnya ditanyakan lagi.

“Benar. Seharusnya aku sudah bisa menebaknya,” gumam gadis itu sedikit kesal sambil sibuk melempar pandangannya ke arah lain.

“Apa kau bilang?” tanya Donghae, mendekatkan telinganya ke arah gadis itu.

“Tidak. Tidak ada,” jawab gadis itu gelagapan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hanya sedetik, karena di detik berikutnya ekspresi gadis itu kembali pada semula. Kesal. “Dan… berhentilah mengatakan itu!” serunya, menunjuk pria itu menggunakan jari telunjuknya. “Kau mengatakannya seolah-olah kau benar-benar akan menjadi suamiku saja nantinya.”

“Memang,” sahut Donghae, yang langsung membuat detak jantung gadis itu berhenti saat itu juga. “Aku memang akan menjadi suamimu nantinya,” lanjutnya. Ada senyuman yang terlukis di wajahnya—yang entah kenapa terlihat familiar di mata Min-Chan—saat pria itu mengatakannya. “Jigeum… Kajja!

Ya! Ya! Ya! Apa yang kau lakukan, Lee Donghae~ssi?” pekik gadis itu kaget, saat pria itu lagi-lagi dengan seenaknya menarik tangannya begitu saja agar mengikutinya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena di detik berikutnya langkah pria itu terhenti.

Donghae berbalik, menatap Min-Chan tidak percaya. “Kau… Kau memanggilku apa, barusan?”

“Apa? Memangnya aku memanggilmu apa?” tanya gadis itu balik, merasa tidak mengerti. “Aku kan ha—”

Gadis itu menghentikan ucapannya yang belum selesai itu saat pria itu bergerak, memeluknya. Membuat tubuh gadis itu langsung mengejang saat kulitnya bersentuhan dengan tubuh pria itu. Matanya melebar, merasa syok dengan tindakan yang dilakukan pria yang sedang memeluknya ini. Dan entah kenapa, jantungnya menjadi tak terkendali seperti ini. Hal yang tidak pernah dirasakannya sejak ia terbangun dari komanya kurang lebih satu bulan yang lalu.

“D-Donghae~ssi…”

“Namaku… Untuk pertama kalinya sejak pertemuan kita kemarin… Untuk pertama kalinya kau memanggil namaku,” gumam pria itu nyaris tidak terdengar. “Bahkan kau mengucapkannya dua kali hari ini,” lanjutnya saat mendengar kata yang keluar dari mulut gadis itu tadi.

Donghae melepas pelukannya. Bola matanya masih “menari-nari”, meneliti setiap inci wajah gadis di hadapannya itu, sebelum akhirnya kembali mengembangkan senyumannya. “Gomawo… Gomawo. Dan…” Ia menghela nafasnya sejenak. “Bagus. Bagus sekali.”

~~~

December 2nd, 2013.
At Library, Seoul, South Korea.
13.24 PM, KST.

Aish, pria itu benar-benar! Katanya ingin membantu mengembalikan ingatanku lagi, seharusnya dia kan membawaku ke tempat yang aku suka, bukan kebalikannya. Dasar pria mesum! Menyebalkan!” Untuk kesekian kalinya umpatan itu meluncur begitu saja dari mulut Min-Chan. Sejak tadi, sembari mengambil beberapa buku tebal yang ingin dibacanya, umpatan itu terus keluar dari mulutnya tanpa henti.

Langkah gadis itu sedikit sempoyangan saat membawa buku-buku itu menuju mejanya. Terlihat sekali merasa sedikit kerepotan membawa buku-buku tebal itu sendirian.

Helaan nafas lega itu meluncur keluar dari mulutnya saat ia berhasil menaruh buku-buku itu di mejanya. Gadis itu lantas menaruh kedua tangannya di pinggangnya dan berucap pelan, “Dan, apa-apaan itu kemarin? Memelukku di tengah kerumunan orang banyak. Memalukanku saja,” gumamnya. “Yah… walaupun sebenarnya tidak terlalu buruk juga.”

Gadis itu menggeleng. “Aish, apa-apaan aku ini! Astaga, sadar Park Min-Chan! Sadar! Sadar!” Ia memukul-mukul kepalanya sendiri, berusaha membuang semua pikiran-pikiran aneh yang mulai menguasainya.

“Ya, ya, ya, kau tidak gila, ‘kan? Karena aku tidak mau mempunyai calon istri gila.”

Min-Chan menoleh saat mendengar suara yang akhir-akhir terdengar familiar di telinganya. Gadis itu mendengus saat mendapati pria itu yang kini sudah berada di sebelahnya. Ternyata tebakannya tidak salah.

“Kalau begitu sebaiknya kau menyerah saja untuk membantu mengembalikan ingatanku,” tandas gadis itu enteng sambil menarik kursi, kemudian duduk diatasnya.

“Walaupun sebenarnya ada pengecualian untukmu,” ujar Donghae melanjutkan, yang langsung membuat Min-Chan menoleh menatap pria itu kesal. “Ikut aku.” Donghae menarik tangan Min-Chan, menyuruh gadis itu untuk mengikutinya.

Shireo ! Aku sedang membaca. Kau tidak lihat?” balas Min-Chan, mengedikkan dagunya ke arah bukunya yang baru dibuka di halaman pertama.

“Alter ego.” Pria itu menggumam, membaca judul bab tersebut. Detik berikutnya ia kembali menatap Min-Chan fokus. “Terlalu lama duduk tidak bagus untuk kesehatanmu.”

“Membaca buku bagus untuk pengetahuanku,” balas Min-Chan tidak mau kalah.

Donghae menghela nafasnya berat, tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa mendebat gadis itu sampai kapanpun. “Ikut saja, oke?” bujuknya dengan nada lembut, tahu bahwa gadis itu pasti akan terus mendebatnya jika ia balik membalas. Jadi ia lebih memilih cara yang halus untuk membujuk gadis itu agar mau ikut dengannya.

“Haahhh… Baiklah,” ujar gadis itu akhirnya, menutup buku itu kemudian bangkit berdiri, menatap pria itu memperingatkan. “Kau sudah membuang waktu membacaku, jadi awas saja jika ternyata itu adalah sesuatu yang tidak aku suka lagi.”

Donghae tersenyum. “Kali ini kau pasti kau akan suka. Sangat suka.”

~~~

Dongdaemun, Seoul, South Korea.
14.30 PM, KST.

“SYBIL?!!” pekik Min-Chan terperangah saat Donghae memberinya sebuah buku. Buku yang sudah ia incar sejak lama, lebih tepatnya. Gadis itu menatap Donghae, lagi-lagi dengan tatapan tidak percayanya. “Bagaimana bisa kau mendapatkannya? Buku ini kan keluaran tahun 1973. Pasti sekarang sudah sulit sekali mencarinya.”

Donghae mengedikkan bahunya. “Tidak penting,” sahutnya enteng.

“Tentu saja ini penting. Bagaimana kalau ternyata kau mencurinya, eoh ? Kan aku juga yang terkena imbasnya nanti. Aish! Yak !” teriaknya marah saat pria itu mendorong pelan kepalanya.

Ck, tidak bisakah sekali saja kau berpikir positif tentang diriku, eoh ?” Pria itu menarik sepiring kimchi yang baru saja diberikan pelayan kepadanya, dan bergumam, “terima kasih”, sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangannya pada Min-Chan yang juga sedang mengaduk sepiring jajangmyeon miliknya. “Aku sudah memesannya sejak lama. Kebetulan bukunya baru sampai kemarin malam. Jadi kuberikan saja hari ini.”

“Woahh, tidak kusangka pria menyebalkan sepertimu bisa juga ya bersikap baik,” sindir Min-Chan. Dan alih-alih marah, pria itu justru menunjukan cengiran lebarnya dan menyodorkan piring kimchi-nya ke arah Min-Chan kemudian menarik piring jajangmyeon milik gadis itu. “Ya, ya, ya! Apa yang kau lakukan?”

Pria itu masih tetap tersenyum, yang justru terlihat mencurigakan bagi Min-Chan. “Karena aku pria baik, maka aku memberimu sepiring kimchi. Lengkap dengan sayurannya. Lagipula sayuran kan baik untuk tubuhmu,” ujarnya dengan nada manis dan tawa yang hampir menyembur keluar.

M-mwo ?”

“Kau kan tidak suka sayur, jadi hari ini kau harus makan sayur yang banyak,” ujarnya lagi, merentangkan tangannya lebar-lebar saat mengucapkan kata terakhir. “Yah, anggap saja sebagai bayaran dari buku itu.”

Mwo? Kau pasti bercanda, ‘kan—YA! YAK!” pekiknya dengan mulut yang penuh saat pria itu dengan seenaknya menyuapinya sesendok penuh kimchi. Yang juga penuh dengan berbagai macam sayuran.

“Ya, bagus sekali, Lee Min-Chan~ssi,” ujar Donghae diselingi tawanya saat ia berhasil memasukan sesendok kimchi lagi ke dalam mulut Min-Chan.

“Lee?!” sergah gadis itu, masih dengan mulutnya yang penuh. “Neo—”

“Ah, kalian manis sekali. Ada apa dengan kekasihmu? Apa dia menolak makan?” ujar seorang wanita paruh baya tiba-tiba saat tidak sengaja lewat, memotong ucapan Min-Chan tadi.

“Istriku. Dia istriku sebenarnya,” ralat Donghae, membuat mata gadis itu sontak saja melebar. “Yah… dia agak sulit untuk makan jika aku tidak menyuapinya,” lanjutnya, tersenyum lebar ke arah wanita paruh baya itu, tidak bisa lagi menahan tawanya.

“Ah… Begitu, ya? Baiklah, kalian lanjutkan saja.” Wanita paruh baya itu balas tersenyum ke arah Donghae dan Min-Chan sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.

“Akh! Ya !” pekik Donghae tertahan saat Min-Chan dengan sengaja menginjak kakinya, sedetik setelah wanita paruh baya itu pergi.

“Istrimu?!” desis gadis itu dengan nada berbahaya.

Wae ? Kau memang akan menjadi istriku nantinya, ‘kan?” balas pria itu tanpa nada bersalah sama sekali, sambil menyuapkan jajangmyeon ke dalam mulutnya.

Aish ! Percuma saja bicara denganmu!”

~~~

December 24th, 2013.
Jung-gu, Seoul, South Korea.
20.34 PM, KST.

Hari ini salju turun lebat, membuat sebagian orang enggan untuk keluar dari rumah. Memilih untuk menghangatkan diri mereka sendiri di rumah dengan penghangat ruangan. Jalanan terlihat lebih lengang dibanding biasanya, mengingat aspal yang mungkin lebih licin dari biasanya.

Sebuah mobil berwarna putih terlihat berbelok, menuju ke arah kawasan rumahnya. Baru saja mobil itu berhenti tepat di depan pagar rumahnya, seseorang tiba-tiba saja membuka pintu di samping kursi pengemudi, membuat orang yang berada di dalamnya terlonjak kaget.

Dengan gerakan cepat, pria itu menarik tangan si-pengemudi mobil, membawa si-pengemudi agar mengikutinya, mengitari mobil. Ia kemudian membuka pintu di samping kursi penumpang dan tanpa basa-basi lagi langsung menyuruh si-pengemudi untuk masuk ke dalam, sedangkan ia kembali mengitari mobil itu, kemudian duduk di kursi pengemudi.

Yak, kau mau membawaku kemana, eoh ?” sergah gadis itu begitu mobil kembali melaju. “Ya ! Lee Donghae!” serunya lagi, tapi pria itu bahkan tidak membalasnya sama sekali. Bahkan pria itu juga tidak menatapnya. “Astaga, Appa pasti akan marah besar kalau tahu aku pulang malam.”

“Aku sudah memberitahu Appa-mu. Kau tenang saja,” sahut Donghae, masih tetap menatap jalanan di depannya, sedangkan Min-Chan hanya bisa mendengus melihat kelakuan pria di sampingnya itu.

Tiga puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah Gereja yang bangunannya terlihat klasik, tapi masih tetap terlihat kokoh. Terdapat sebuah salib di bagian atas Gereja tersebut, yang berarti lambang penyelamatan oleh Yesus Kristus.

Pria itu kemudian keluar dari mobil, mengitarinya, lalu membuka pintu di samping kursi penumpang. Lagi-lagi ia menarik tangan gadis itu agar mengikutinya untuk memasuki Gereja tersebut. Mendudukannya di salah satu bangku panjang yang ada di dalam Gereja itu.

Hari itu Gereja tampak sepi. Tidak banyak kegiatan disana, kecuali beberapa orang yang sedang berlatih paduan suara untuk Natal esok hari.

Min-Chan menoleh menatap Donghae yang saat itu sedang menatap lurus ke depan, ke arah paduan suara tersebut. “Kenapa—”

“Ini malam Natal,” ujar pria itu memulai ucapannya. “Sebelum kau pergi ke London lima tahun lalu, biasanya setiap tahun, pada malam Natal kita selalu kemari,” lanjutnya dengan suara pelan. “Tidak ada yang kita bicarakan. Hanya diam saja. Menikmati suasana seperti ini.” Ia tersenyum kecil saat bayangan peristiwa itu terputar di otaknya, seolah-olah seperti film dokumenter tentang kehidupannya.

“Ah, ternyata seperti ini rasanya.” Pria itu memejamkan matanya. “Aku hampir lupa bagaimana rasanya. Kau tahu kan kemampuan otak manusia untuk mengingat itu terbatas. Jadi, aku membawamu kemari lagi agar aku ingat bagaimana rasanya.”

“Memangnya… bagaimana rasanya?” tanya gadis itu memberanikan diri. Dan, entah ini hanya perasaannya saja atau ia memang sedang gugup sekarang?

Donghae membuka matanya, menoleh ke arah gadis itu. “Nyaman, dan… ada rasa bahagia yang berlebihan. Kau tidak merasakannya?”

“Aku… aku tidak—”

“Ah, benar. Kau amnesia. Jadi mana mungkin—”

“Aku tidak tahu,” potong Min-Chan sembari menundukan kepalanya. “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu kenapa aku merasa gugup saat ini. Aku tidak tahu kenapa aku merasa jantungku seperti akan loncat dari rongganya. Aku tidak tahu kenapa tanganku terasa basah saat ini. Aku tidak tahu kenapa rasanya saat ini aku seperti ada di rumah. Sangat nyaman. Satu-satunya tempat yang bisa aku andalkan saat aku merasa hari-hariku buruk dan seketika melupakannya begitu saja saat aku sudah sampai di sana.”

“Kau…” ucap pria itu kehabisan kata-kata. Matanya menatap gadis itu tidak percaya, seolah-olah hal yang baru saja didengarnya tadi hanya halusinasinya saja.

“Bisa kau beritahu alasannya kenapa aku merasa seperti itu?”

~~~

December 30th, 2013.
Namsan Park, Seoul, South Korea.
10.50 AM, KST.

Mianhae, aku terlambat,” ucap Min-Chan dengan nafas terengah-engah. Ia kemudian duduk di sebelah Donghae yang masih tidak bereaksi apapun juga. Masih tetap memfokuskan pandangannya ke depan. Gadis itu menghela nafasnya sejenak sebelum kembali membuka suaranya. “Lagipula kenapa kau tidak menjemputku saja?”

Pria itu menghembuskan nafasnya, yang entah kenapa terdengar berat sekali di telinga Min-Chan. Ia menoleh menatap gadis itu, kemudian mengembangkan senyumannya. Berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan gadis itu. “Aku sedang membiasakan diri,” jawabnya yang sukses membuat kening gadis itu berkerut sempurna.

“Membiasakan diri?”

Eo, ini kan hari terakhirku untuk membantu memulihkan ingatanmu,” ujar pria itu lagi, masih dengan senyuman yang mengembang sempurna di wajahnya.

“Tapi ini kan masih tanggal 30,” sergah gadis itu cepat. Ada nada tidak suka dalam kalimatnya. “Kurasa kau salah melihat kalender tadi pagi. Kau masih punya satu hari lagi, Donghae~ssi.” Gadis itu melanjutkan. Entah kenapa ia tidak ingin waktu cepat berlalu. Entah kenapa ia tidak ingin untuk berpisah dari pria itu. Ia tidak ingin, sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Kenapa… ia merasa seperti ini? Kenapa… kenapa dadanya sakit seperti ini?

“Kau kuberi waktu untuk libur. Besok kau tidak akan bertemu denganku lagi. Bagaimana? Kau pasti senang, ‘kan? Kau pasti—”

“Apa yang kau bicarakan? Kita masih punya satu hari lagi. Kita sudah membuat perjanjian. Kau ingat? Dan tidak boleh ada salah satu dari kita yang melanggarnya. Arraseo ?” ujar Min-Chan penuh penekanan di setiap kata-katanya. Detik berikutnya, gadis itu menghela nafasnya pelan, merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol mulutnya sendiri.

Tak lama, gadis itu bangun dari duduknya, menatap pria itu sejenak. “Ah, sudahlah! Aku ingin membeli minuman dulu,” ujarnya kemudian beranjak pergi dari tempatnya. Baru saja ia hendak melangkah, tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh seseorang, membuat ia sontak saja menoleh ke arah orang tersebut. “Yak, apa yang kau—”

Belum selesai ia menyelesaikan kalimatnya, seseorang sudah lebih mengunci mulutnya, membuat kalimatnya berhenti hanya sampai disitu. Matanya melebar ketika ia sadar siapa sekarang sedang menciumnya. Dan, alih-alih mendorong pria itu seperti yang seharusnya ia lakukan, ia justru tidak bisa berbuat apa-apa saat pria itu melakukannya. Tubuhnya seperti beku secara tiba-tiba saat bibir pria itu menyentuh bibirnya. Oh baiklah, ia tahu ini konyol. Sangat konyol. Tapi ia bisa apa jika ia sudah sampai pada tahap dimana ia juga menginginkan pria itu.

Pria itu menjauhkan tubuhnya dari gadis itu setelah beberapa saat, walaupun tatapannya masih terfokus pada gadis itu. Sama sekali tidak berusaha mencari objek yang lain. Ia mengambil nafas sesaat sebelum berucap, “Tempat ini… tempat terakhir pertemuan kita sebelum kau meninggalkanku lima tahun lalu.”

“Dan kau berusaha mengulang lagi peristiwa itu? Cih, benar-benar picik,” ujar Min-Chan nyaris terdengar seperti gumaman.

Pria itu masih terus menatap gadis itu, sampai tiba-tiba ia tersadar sesuatu. “Ah, soal tadi—”

“Aku akan pura-pura tidak terjadi apa-apa, asalkan…” Gadis itu menjeda sejenak ucapannya, menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membuat pria itu sedikit curiga. “Kau mentraktirku segelas coklat panas. Bagaimana?”

~~~

December 31st, 2013.
Jung-gu, Seoul, South Korea.
07.03 AM, KST.

Sepasang mata yang tadi begitu fokus dengan bahan bacaannya itu sontak saja berhenti sejenak dari kegiatan membacanya saat suara beberapa buku yang ditaruh di atas meja itu terdengar begitu memekakan. Kepalanya mendongak, menatap orang yang menaruh buku-buku itu dengan begitu asal dengan tatapan kesal.

Yak, apa yang kau—“

“Ssst… Ini perpustakan. Dilarang berisik. Arraseo?” ujar pria itu dengan suara pelan seraya menutup mulut gadis itu dengan tangannya, membuat mata gadis itu langsung membulat saat itu juga.

Yak, neo!” geram gadis itu kesal.

Aish, jinjja! Ini perpustakaan. Kau masih tidak mengerti juga?” sahut pria itu lagi dengan nada frustasi, sedangkan gadis di hadapannya hanya bisa mengacak rambutnya putus asa. Tidak percaya, bagaimana bisa ada pria seperti ini di dunia ini?

 

“Min-Chan~a,” panggil seorang pria tiba-tiba. Matanya memandang lurus ke depan, walaupun gadis yang berada di sebelahnya sudah menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan tatapan ingin tahu. “Sepertinya aku sedang jatuh cinta.”

Ne?” Ada nada keterkejutan dari suaranya.

Eo, kalau tidak kenapa aku merasa jantungku seperti akan lepas dari rongganya saat sedang bersamanya, saat sedang melihatnya, atau bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja. Aku ingin selalu bersamanya. Merasa selalu ingin melihatnya. Ingin selalu ia berada dalam jarak pandangku. Bahkan aku rasa aku bisa terus melihatnya tanpa rasa bosan sama sekali.” Pria itu terkekeh pelan, sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya. “Konyol sekali, bukan?” ucapnya melanjutkan, menoleh menatap gadis itu yang masih tetap menatapnya dengan fokus.

“Lalu?” balas gadis itu dengan suara yang serak dan sangat pelan, nyaris tidak terdengar sama sekali, seolah-olah pita suaranya menghilang entah kemana.

Pria itu menarik nafasnya sejenak, kemudian tersenyum, menarik kedua sudut bibirnya ke atas. “Bagaimana kalau kau jadi kekasihku saja? Kedengarannya sama sekali tidak buruk, ‘kan?”

 

MICHEOSEO?!!” teriak seorang gadis dengan rambut yang diikat kuda itu. Matanya membelalak lebar saat ia melihat kendaraan yang akan mereka naiki nanti untuk mengelilingi Taman Yeouido hari ini. “Kau gila atau apa, hah? Aish, kau kan tahu sendiri kalau aku sama sekali tidak bisa naik sepeda,” gerutu gadis itu lagi dengan wajah masam.

“Memangnya aku bilang kalau kita akan menaiki sepeda sendiri-sendiri?” sahut pria itu, menaiki sepedanya, kemudian menoleh ke arah gadis itu. “Tunggu apa lagi?”

“Kau… kau yakin itu aman?” tanya gadis itu takut-takut, menunjuk sepeda itu ragu-ragu, lengkap dengan wajah yang menunjukan tampang ngeri.

Pria itu tertawa kecil. “Tentu saja. Kau tidak percaya padaku?”

Gadis itu menggangguk, yang langsung dibalas dengan dorongan pelan di kepalanya oleh pria itu. “Aish! Yak!

 

“Hae~ya, ada sesuatu yang ingin kukatakan!” seru seorang gadis tiba-tiba dengan nada riang, mendudukan dirinya tepat di samping seorang pria yang sedang meminum kopinya yang asapnya sudah tidak mengepul lagi.

“Aku juga!’ balas pria itu, menaruh gelas plastik yang berisi kopi itu di sisi kosong bangku yang sedang ia duduki kini.

“Aku akan ke London!”

Ne?” tanya pria itu, memastikan bahwa ia tidak salah dengar tadi.

“Aku akan ke London. Aku akan melanjutkan pendidikanku disana. Astaga! Bisa kau bayangkan? Aku berada disana, berada di salah satu kota yang ingin aku kunjungi selama mungkin beberapa tahun! Astaga, bahkan sampai saat ini pun aku masih belum bisa mempercayainya,” celoteh gadis itu dengan nada riang yang kentara sekali terdengar.

“Ah… begitu.” Pria itu bergumam pelan, tapi sedetik kemudian ia mengubah raut wajahnya, menampilkan senyum itu di wajahnya. “Ah, ternyata kau pintar juga, ya? Aku pikir kau hanya bisa berceloteh saja,” ejeknya, terkekeh pelan, berusaha menutupi ketidaksetujuannya terhadap keputusan gadisnya itu.

Cih, kau ini!” Gadis itu mendengus, melempar pandangannya ke arah lain. Sedetik kemudian, gadis itu kembali menatap pria di sebelahnya, teringat sesuatu. “Oh ya, apa yang ingin kau katakan tadi?”

“Ah, itu… Aku hanya ingin memberitahumu saja kalau aku sudah selesai membaca buku yang kau berikan padaku tiga hari yang lalu,” ujar pria itu, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

Ck, aku kira ada apa. Ternyata hanya itu saja.” Gadis itu menggeleng tidak percaya. “Cih, kau ini benar-benar!”

Tubuh yang tadinya sedang berbaring itu sontak saja terduduk. Matanya melebar sempurna. Nafasnya memburu. Keringat mengalir deras di dahinya, seolah-olah udara kamarnya itu terasa sangat panas, padahal jelas-jelas ini masih memasuki musim dingin.

Min-Chan mengusap wajahnya pelan, menyeka keringat yang semakin banyak membanjiri pelipisnya. Dan di detik berikutnya, dada gadis itu seperti dihantam oleh beban berat berkali-kali saat mimpi itu—Bukan, itu bukan mimpi sama sekali, dan itu artinya…

Dengan gerakan cepat, gadis itu mengambil kalender yang berada di atas nakas samping ranjangnya dan saat itu juga ia merasa nyawanya melayang entah kemana. Hari ini tanggal 31, yang berarti ia sudah terlambat.

Min-Chan menggeleng, menepis pikiran-pikiran buruk yang mulai merayapi otaknya. Tidak. Dia belum terlambat. Dia masih mengejar pria itu. Dia masih bisa membuat pria kembali menoleh kepadanya. Dia… masih bisa meraih pria itu.

~~~

Namsan Park, Seoul, South Korea.
23.48 PM, KST.

“Aku akan ke London. Aku akan melanjutkan pendidikanku disana. Astaga! Bisa kau bayangkan? Aku berada disana, berada di salah satu kota yang ingin aku kunjungi selama mungkin beberapa tahun! Astaga, bahkan sampai saat ini pun aku masih belum bisa mempercayainya.” Celotehan itu terdengar begitu riang, sama sekali tidak ada nada yang menyiratkan disana, kontras sekali dengan perasaan seorang pria yang duduk di sebelahnya.

“Ah… begitu,” gumamnya, mengepalkan tangannya yang saat itu sedang menggenggam sebuah kotak kecil berwarna merah beludru. Tak lama, karena sedetik kemudian pria itu tersenyum kecil. Bukankah ia harus selalu mendukung gadisnya dalam hal apapun juga yang menurutnya itu baik? Maka, ia pikir sekaranglah waktunya. Ia harus mendukung apapun keputusan gadis itu. Lagipula melanjutkan pendidikannya bukan hal yang buruk, ‘kan?

“Ah, ternyata kau pintar juga, ya? Aku pikir kau hanya bisa berceloteh saja.” Pria itu melanjutkan dengan nada senang yang sebisa mungkin ia gunakan untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.

Cih, kau ini!” Gadis itu melempar pandangannya ke arah lain. Tidak sampai sedetik, ia kembali menatap pria di sebelahnya dengan tampang ingin tahu. “Oh ya, apa yang ingin kau katakan tadi?”

Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ah, itu… Aku hanya ingin memberitahumu saja kalau aku sudah selesai membaca buku yang kau berikan padaku tiga hari yang lalu,” ujarnya berbohong, tentu saja.

Ck, aku kira ada apa. Ternyata hanya itu saja.” Gadis itu mendecak tidak percaya seraya menggelengkan kepalanya pelan. “Cih, kau ini benar-benar!”

Menit-menit berikutnya mereka lewati dengan tidak ada percakapan sama sekali, sampai tiba-tiba gadis dengan rambut yang diikat kuda itu menoleh, menatap pria di sebelahnya.

“Hae…” panggilnya, membuat pria itu menoleh, menatapnya balik dengan tatapan penuh tanya. “Kurasa… selama disana, sebaiknya kita tidak perlu berkomunikasi dulu,” ujar gadis itu ragu-ragu.

Ne?

Untuk kedua kalinya nada tidak percaya itu keluar dari mulutnya. Dua kali. Dua kali gadis itu berhasil mengejutkannya hari ini, dan kali ini justru lebih parah daripada sebelumnya. Tidak berkomunikasi? Apa maksud gadis itu? Jadi mereka tidak berkomunikasi dulu selama jangka waktu yang belum ditentukan, begitu?

“Aku ingin berkonsentrasi dulu dengan pendidikanku, jadi aku bisa kembali ke Seoul dengan cepat. Tidak… apa-apa, ‘kan?”

 

“Hae…”

Pria itu membuka matanya saat ia mendengar suara seseorang yang memanggilnya, membuyarkan lamunannya. Suara itu… Tidak, tidak. Tidak mungkin gadis itu bisa datang kemari. Lagipula darimana gadis itu tahu ia ada disini? Ini tidak benar. Ini pasti hanya imajinasinya saja. Pasti ini hanya karena ia hanya terlalu merindukan gadis itu, jadi pikirannya melantur kemana-mana.

Pria itu kembali memejamkan matanya, berusaha mengabaikan panggilan itu. Tapi detik berikutnya ia kembali mendengar suara itu lagi. Akhirnya pria itu mengalah, berbalik, dan di detik itu juga matanya melebar sempurna. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.

“Min-Chan?”

“Hae…” Ucapan yang lebih menyerupai gumaman itu seolah-olah seperti udara segar baginya. Membawa kembali nyawanya ke raganya. Nama itu… Nama yang selalu gadis itu gunakan saat memanggilnya… Panggilan yang selama lima tahun ia rindukan keluar dari bibir gadisnya, akhirnya kembali.

Mata pria itu terbelalak saat ia menyadari sesuatu. Gadisnya… Panggilan itu… Apa itu artinya…

“Kau sudah ingat?” tanya pria itu, yang langsung dibalas anggukan oleh gadis itu. “Bagaimana—”

“Katakan saja itu takdir Tuhan,” sela Min-Chan dengan senyum yang melekat pada wajahnya. Gadis itu kemudian melangkah, menyamakan posisinya dengan Donghae. Mendongak, menatap langit malam kota Seoul yang hanya tinggal menghitung menit sebelum akhirnya langit itu dipenuhi oleh cahaya berwarna-warni.

Pria itu menarik nafasnya sejenak, sebelum kemudian membuka suaranya. “Awalnya… aku merasa bulan ini seperti musim favoritmu,  musim gugur. Mati. Terasa monoton.” Ia menoleh menatap gadis itu. “Tapi bulan ini tetap bulan Desember, bukan? Bulan ini tetap musim dingin, bukan? Hanya membekukan untuk sementara saja, kemudian selanjutnya akan berubah menjadi musim semi. Mekar, indah.” Pria itu kemudian tersenyum simpul. “Dan ternyata itu benar. Itu hanya membekukan saja. Sama sekali tidak abadi, kemudian itu akan berganti lagi menjadi indah. Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi, musim gugur sama sekali tidak buruk. Tidak selamanya musim gugur itu berarti mati.”

Waeyo?

“Astaga, jangan bilang kau tidak ingat,” rengut pria itu tidak percaya. “Kau tidak kalau pertemuan pertama kita selalu pada musim gugur?” geram pria itu kesal. Tidak habis pikir bagaimana bisa gadis itu melupakan pertemuan pertama mereka.

“Iya, iya, aku ingat. Kau ini, sensitive sekali,” ujar gadis itu, mengerucutkan bibirnya kesal.

“Min-Chan~a,” panggil pria itu tiba-tiba, memfokuskan tatapannya kepada gadis itu, setelah beberapa menit berlalu. Gadis itu menggumam pelan sebagai balasannya, tanpa menolehkan kepalanya sama sekali ke arah pria itu. “Kita tidak akan tahu apa yang terjadi selanjutnya, ‘kan?” tanya pria itu kemudian, sedangkan gadis itu hanya menggangguk, mengiyakan. “Jadi, bagaimana kalau kita menikah saja? Setidaknya kau dengan begitu kau tidak akan bisa lepas dariku. Bagaimana?”

Mwo?!!”

 

-THE END-

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s