The Smartass Project : Prolog


smartassilachan

The Smartass Project : Prolog by Ilachan
Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo || Comedy, Friendship, Sliceoflife, Schoollife || G
Foreword:
Bagaimana jadinya jika kau mengerjakan tugas kelompok dengan ketiga siswa terpintar di sekolahmu? Apa kau akan bahagia? Mungkin tidak!

Iruza Izate @2015


 

Projek akhir semester adalah tugas mematikan yang selalu menunggu siswa di akhir semester sebelum ujian sekolah menjelang. Tugas ini biasanya dibebankan hampir pada setiap mata pelajaran dan akhirnya berujung pada besarnya tekanan mental yang didapat oleh siswa dan membuat mereka setengah gila. Siswa yang datang kesekolah biasanya berpakaian seragam rapi dengan dandanan yang siap memikat lawan jenis. Tapi tidak dengan masa projek akhir berlangsung. Mereka yang semula tampan akan berubah menjadi monster, mereka yang mulanya cantik akan berubah menjadi nenek sihir. Dan tiba-tiba saja sekolah berubah dipenuhi zombie berseragam.

Yeah, bayangan yang mengerikan.

Tak terkecuali dengan semester ini. Siswa tidak bisa mengelak dengan projek tugas akhir semester ini, dan sialnya projek ini merupakan salah satu syarat lulus. Projek akhir biasanya dilakukan dengan berkelompok dan ada beberapa mata pelajaran dilakukan secara individu. Sejauh ini, semua projek tugasku berjalan dengan lancar.  Yah, meskipun mengorbankan banyak waktu dan membuatku tidur tiga jam dalam sehari, tapi setidaknya projek-projekku aku selesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Kecuali satu.

Ada satu projek yang membuatku ingin bunuh diri saja. Sebenarnya bukanlah perkara yang sulit untuk mengerjakannya, tapi yang menjadi kendala adalah partner projekku. Mereka adalah Byun Baekhyun, Park Chanyeol dan Do Kyungsoo. Terdengar familiar? Tentu saja. Siapa sih yang tak mengenal mereka bertiga. Mereka adalah siswa terpandai disekolah ini dan mereka bertigalah yang selalu bertengger di posisi tiga besar sepanjang mereka bersekolah di sekolah ini.

Bisa membayangkan kepintaran mereka? Baiklah, aku bisa menjelaskannya satu persatu.

Do Kyungsoo, dari melihatnya saja sudah jelas kalau dia adalah tipikal remaja pendiam dan patuh pada aturan. Selalu berpakaian rapi, rambut licin yang dibelah pinggir dengan garis yang nyaris lurus sempurna, dan kaca mata yang selalu bertengger di hidungnya. Wajah polosnya sering membuat gemas orang disekelilingnya. Dia lebih muda satu tahun dari rata-rata teman seangkatannya karena dia pernah mengikuti kelas akselerasi saat masih duduk di sekolah menengah pertama. Julukannya adalah master matematika. Dia sering mengikuti olimpiade matematika dan fisika sampai-sampai seluruh sekolah bosan mendengar kalau lagi-lagi dia memenangkan kejuaraan. Menurut mereka, sebuah berita basi kalau Kyungsoo mendapatkan juara satu olimpiade, karena sepertinya mereka lebih tertarik mendengar Kyungsoo dikalahkan. Hobinya bermain catur dan membaca buku kalkulus dan membawanya kemana-mana seperti novel saja. Hebatnya lagi, dia menguasai hampir semua mata pelajaran. Dia benar-benar tidak bisa dikalahkan, kecuali oleh Baekhyun.

Byun Baekhyun mungkin hanyalah satu-satunya siswa yang bisa mengalahkan Kyungsoo. Kesan pertama ketika aku melihatnya, kukira dia adalah remaja normal  seperti yang sering kita temui diseluruh sekolah. Dia sering bercanda dan membuat gaduh kelas dengan humor-humor tak terduga yang keluar dari mulutnya. Setiap pagi akan selalu terdengar tawanya yang renyah memenuhi koridor. Berbeda dengan Kyungsoo yang lebih menyukai hal-hal yang tenang dan teratur, jika kita membicarakan Byun Baekhyun berarti kita membicarakan keonaran. Dia adalah kutub lawan dari seorang Do Kyungsoo, tapi anehnya mereka berdua bisa berteman dengan baik.

Byun Baekhyun tak “senormal” yang bisa aku bayangkan setelah lebih tahu tentang si hyperactive ini. Otaknya bisa berkerja cepat seperti komputer berteknologi tinggi, karena dia bisa memcahkan soal matematika tanpa menghitung dan berpikir lama. Selain pintar dalam perhitungan dan pelajaran yang lainnya, dia rupanya pandai bermain musik. Dia bisa memainkan alat-alat musik klasik seperti biola, piano, harmonika, seruling dan bahkan kecapi. Orang-orang menyebutnya si music prodigy, karena dia si jenius musik yang punya keahlian nada sempurna. Hobinya tentu saja bermain musik dan selalu membawa harmonika kesayangannya di sakunya. Rumor tentang Baekhyun yang beredar disekolah adalah, katanya dia trainer SM Entertainment yang secara kusus diminta oleh pihak menejemen untuk bergambung dengan mereka. Rumor ini menimbulkan banyak spekulasi dan perbincangan panjang diantara siswa karena SM Entertainment merupakan salah satu agensi hiburan terbesar di Korea dimana semua artis besar berkumpul.

Anggota terahir dari trio smartass yang menjadi partner projekku selanjutnya adalah Park Chanyeol. Dia adalah ketua tim basket sekolah dan kemenangan demi kemenangan terus di torehkan oleh tim Park Chanyeol beberapa tahun terakhir ini. Tim sekolah kami menjadi salah satu tim terkuat di seluruh SMA Seoul berkat Park Chanyeol. Keahliannya tentu saja adalah bermain basket dan beberapa bidang atletik lainnya. Hobinya adalah olahraga tentu tak mengherankan kalau dia punya tubuh tinggi dan proposional. Jika seseorang mengatakan bahwa dunia itu tidak adil, maka dengan senang hati aku akan menunjuk Park Chanyeol sebagai contohnya. Tentu saja kerena selain di pandai dalam bidang atletik, dia juga pandai dalam pelajaran. Meskipun dia tidak bisa dipadankan dengan Kyungsoo dan Baekhyun, tapi setidaknya ranking Park Chanyeol selalu bertengger di sepuluh besar kelas paralel. Menurutku itu sudah cukup fantastis jika dibandingkan dengan diriku yang selalu bertengger di peringkat tiga puluh ranking paralel dan selalu menjadi juru kunci kelas unggulan. Yeah, itulah aku jika dibandingkan dengan mereka.

Trio Smartass (begitulah mereka disebut) adalah sekelompok anak pintar yang hanya mau bermain dan berkumpul dengan diri mereka sendiri. Mereka pintar dalam segala pelajaran? Tentu saja. Tapi yang membuatku heran adalah mereka justru adalah orang terahir yang ingin dijadikan teman satu kelompok bahkan untuk teman sekelas unggulan mereka. Bukankah seharusnya murid pintar menjadi rebutan ketika ada pembagian kelompok, apalagi project yang dikerjakan adalah tugas akhir semester. Latar belakangku sebagai murid dengan otak pas-pasan dan secara beruntung menjadi bagian kelas unggulan di akhir tahun sekolah, membuatku menjadi salah satu warga kelas unggulan yang tidak mengetahui seluk beluk serta sifat dari trio smartass yang legendaris ini. Aku hanya pernah mendengar kalau mereka adalah siswa yang super pintar dan tidak lebih dari itu. Ini membuatku penasaran, sebenarnya apa yang membuat mereka menjadi daftar terahir siswa yang ingin diajak menjadi anggota projek.

Aku tak pernah membayangkan dan siapakah trio smartass itu sebenanarnya, bukanlah masalah besar untukku hingga suatu ketika aku terjebak menjadi salah satu anggota tugas projek sastra bersama mereka bertiga. Ini bermula pada suatu hari aku tak hadir dikelas saat pembagian kelompok. Kelompok projek sastra ini dibagi menjadi empat anggota disetiap kelompok. Dan salahkan aku yang tidak hadir saat itu, aku adalah murid yang tersisa yang mau tak mau harus bergabung dengan mereka bertiga.

“Kau sudah meminta pada mereka untuk menerimamu bergabung dengan kelompok sastra?” kata Jieun pada keesokan harinya setelah pembagian kelompok selesai. Saat ini aku dan dia sedang menyantap makan siang kami di kantin. Yeah, rutinitas umum yang biasa aku lakukan bersamanya setiap hari.

“Belum.” kataku acuh tak acuh, sibuk membuka sambal untuk kentang gorengku. “Berencana untuk menanyai mereka….”

“Belum katamu?!” Seru Jieun cukup lantang yang sebenarnya tidak perlu.

“Kenapa memangnya?”

“Karena mereka adalah orang yang..” Jieun memutar bola matanya, tampak berpikir mencari-cari kata yang tepat, “Mereka adalah orang yang heartless.”

“Heartless?”

“Heartless.” Ulang Jieun dengan yakin. “Mereka benar-benar tak mempunyai perasaan. Apalagi dengan si Kyung Satan itu. Dia sering berucap pedas.”

“Baguslah. Aku suka yang pedas-pedas.” kataku santai, memasukkan salah satu kentang goreng kemulutku.

“Hey, aku serius nak! Kau harus menjaga sikap diantara mereka kalau kau ingin tugas mu berjalan lancar. Dan apa kau tak ingat bahwa sastra adalah salah satu subjek terburukmu. Kalau kau tak bisa berbaik hati kepada mereka, maka tamatlah riwayatmu.” kata Jieun tegas.

Aku menatapnya, lalu menelan kentang gorang yang belum selesai aku kunyah dengan paksa. Panik menjalar keseluruh tubuhku secara perlahan. Sial. Apa yang dikatakan oleh Jieun memang benar. Dan tiba-tiba saja selera makanku menghilang.

***

Masih di jam istirahat.

Belum selesai aku menghabiskan makan siangku, aku memutuskan pergi mencari Baekhyun, Kyungsoo dan Chanyeol atau salah satu dari mereka. Jieun mengatakan padaku bahwa pada waktu istirahat Kyungsoo biasanya pergi membaca buku di perpustakaan, Chanyeol ada di gedung olahraga entah itu bermain basket atau sekedar bertemu dengan teman satu tim-nya, sedangkan Baekhyun dia bisa dimana saja. Baekhyun adalah orang yang paling sering menghilang dan berpindah tempat hingga orang mengira dia mungkin saja punya pintu ajaib rahasia.  Karena letak gedung olahraga tak terlalu jauh dari kantin, maka aku memutuskan untuk menemui Chanyeol.

Ketika aku memasuki gedung olahraga, aku meliat tim basket sedang bermain-main di lapangan. Meskipun mereka masih mengenakan seragam sekolah, tapi mereka bermain cukup serius. Aku tak menyangka kalau ternyata cukup banyak orang yang menyaksikan pertandingan pura-pura ini. Diantara mereka kebanyakan adalah para gadis dan grup cheerleader. Mereka bersorak-sorak memanggili nama pemain dan sesekali berteriak riuh ketika salah satu tim berhasil memasukkan bola kedalam keranjang. Tapi ada satu suara ganjil yang mencuri perhatianku. Suaranya cukup nyaring diseluruh stadion menyerukan nama Park Chanyeol berkali-kali. Aku melihat di sisi kanan pintu masuk dimana aku berdiri sekarang ini, ada dua orang namja yang ikut asik menonton pertandingan. Mareka berdua duduk di bangku tribun deretan paling depan dengan di ikuti sekelompok gadis-gadis yang duduk tak jauh dari mereka berdua. Mereka tidak lain adalah Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo.

Baekhyun tanpa lelah berteriak pada Chanyeol yang ikut bermain basket di lapangan, mengabaikan fakta bahwa beberapa gadis yang duduk tak jauh dari mereka sedang asik membicarakannya. Beberapa kali dia dihardik Kyungsoo untuk diam, tapi tetap saja dia kembali berisik meneriaki Chanyeol. Entah itu memujinya karena telah berhasil menambah skor, atau karena mengatai Chanyeol yang semakin tua hingga tidak kuat untuk berlari.

Disisi lain, Do Kyungsoo duduk dengan tenang disamping Baekhyun. Dia membawa buku dipangkuannya dan tampak lebih fokus membaca buku dibandingkan menonton pertandingan. Dia juga tak peduli dengan sorak sorai yang ada di sekitarnya dan bahkan mungkin dia juga tak akan peduli jika Baekhyun terjatuh dari tribun sekalipun.

Tuhan sepertinya berpihak padaku karena mereka yang aku butuhkan ada di satu tempat. Aku berjalan melewati deretan bangku hingga aku berdiri di sebelah bangku Baekhyun. Dia sedang asik mengobrol dengan Kyungsoo dan mengomentari pertandingan yang menurutku berubah menjadi aneh ketika mereka yang mengatakan.

“Ah! Bolanya memantul.” Seru Baekhyun ketika Chanyeol gagal memasukkan bola. “Kalau saja Chanyeol mengurangi tekanannya pada bola, bola tidak akan lepas kendali.”

“Apa maksudmu?” akhirnya perhatian Kyungsoo dari buku teralihkan.

Baekhyun berdecak dan menjelaskan. “Ini berkaitan dengan hukum Newton, bahwa benda yang mulanya bergerak akan terus bergerak.”

“Kau benar dengan hukum Newton tapi tidak dengan yang terjadi saat ini. Bola basket dipengaruhi oleh gravitasi, kita membahas energi potensial sekarang.” kata Kyungsoo tak mau kalah.

“Kau tak lihat tadi? Chanyeol men-drebble bola dari arah lawan tentu membuat bola bergerak dan mendapatkan gaya. Hukum Newton II : Bila sebuah benda mengalami gaya sebesar F maka benda tersebut akan mengalami percepatan. Sudah jelas bukan, bola basket memiliki masa dan mengalami percepatan karena dibawa Chanyeol berlali maka bola tersebut mendapatkan gaya sehingga Chanyeol tidak perlu melempar terlalu kencang karena bola akan bergerak sendiri karena gaya Newton yang dibawanya.”

Aku mengernyit mendengarkan komentar mereka. Kalau mereka berdua benar-benar ditunjuk menjadi salah satu komentator, maka pertandingan akan berubah menjadi debat fisika. Aku masih diam disitu dan mendengarkan penjelasan Kyungsoo tentang hukum Newton I, hukum Newton II entah hukum pidana atau apalah itu, aku sudah tak tertarik mendengarkannya karena perbincangan mereka mengingatkanku tentang ulangan fisikaku tempo hari. Lalu kemudian akhirnya Kyungsoo menyadari bahwa aku menunggu mereka selesai bicara.

“Kau mau berdiri disitu dan menonton kami mengobrol sampai kapan?” Kata Do Kyungsoo ketus.

Setelah itu Baekhyun juga ikut menoleh padaku lalu tersenyum, “Apa ada yang bisa kami bantu?”

“Kau seperti penjaga mini market Baek.” ujar Kyungsoo kini dia kembali berkutat dengan bukunya.

“Aku hanya berkata sopan, oke? Dan apa yang kau inginkan?” kini perhatian Baekhyun sepenuhnya padaku. Beberapa saat dia menatapku heran karena mungkin aku adalah satu-satunya murid yang berani mendatangi mereka? Entahlah.

“Aku adalah teman sekelas kalian.” kataku memulai.

I Know.”

“Benarkah?”

“Tentu saja, aku menghafal nama seluruh murid sekolah.”

“Benarkah?” kataku lagi, tak menghilangkan tampang heranku.

“Kau adalah teman Jieun bukan?”

Aku mengangguk, “Kau tahu Jieun juga?”

“Tentu saja.” kata Baekhyun, “Aku bisa menyebutkan nama-nama mereka kalau kau mau.” yang Baekhyun maksud adalah beberapa gadis yang sedari tadi aku perhatikan duduk tak jauh dari Baekhyun dan Kyungsoo. Mereka berjumlah kurang lebih enam orang dan sekarang mereka ganti menatapku dengan tatapan galak. “Dari kanan ke kiri, gadis dengan dahi mengkilat dan memakai bando namanya Kang Sora.” Baekhyun menatap kedepan  kembali fokus pada pertandingan tapi dia bisa mendeskripsikan orang yang duduk dibelakangnya. Apakah dia punya mata tersembunyi dibelakang kepalanya?

“Sebelah Kang Sora yang berambut panjang sepinggul namanya Hani. Yang membawa kipas namanya Jimin. Dan selanjutnya… Kau tau anak yang berkacamata di belakang kita itu Soo soo?”

“Bukannya kau baru saja bilang kau tahu nama seluruh anak di sekolah ini?” guman Kyungsoo.

“Ah, berarti aku hafal semua anak disekolah ini kecuali anak itu dan sisanya adalah Yuna dan Seulbi.” Kata Baekhyun mengakhiri pamer kemampuannya dengan dramatis, “Jadi kau percaya padaku sekarng?”

“Iya, baiklah aku percaya sekarang. Tapi yang aku inginkan dari kalian adalah…”

“Aku sudah tau.” Lagi-lagi Baekhyun memotong penjelasanku. “Kau ingin satu kelompok dengan kami di tugas sastra bukan?”

Aku mengangguk kemudian Baekhyun menyikut Kyungsoo, “Bagaimana pendapatmu Soo Soo?”

“Dia tidak punya kandidat kelompok lain selain kita.” Kata Kyungsoo tapi matanya tak pernah meninggalkan buku. “Nasipnya ada di tangan kita.” Apa yang dikatakan Kyungsoo memang benar tapi aku tidak suka bagaimana caranya mengatakannya, dia seolah ingin menindasku saja. “Aku terserah pada Baekhyun saja.”

“Terserah padaku? Baiklah.” Baekhyun menepuk kedua telapak tangannya kemudian berdiri mengagetkanku. “Park Chanyeol!!” Baekhyun meneriaki Chanyeol yang masih berlari kesana kemari di lapangan tentu masih sibuk dengan permainan basketnya.

“Wae?!” Balas Chanyeol berteriak, tampak acuh tak acuh.

“Dia!” masih berseru, Baekhyun mengarahkan jari telunjuknya padaku. “Bagaimana menurutmu?”

“Apanya?!”

“Dia! Gadis ini yang berdiri disebelahku, bagaimana menurutmu?!” kata Baekhyun lebih jelas. Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku kedalam lantai saja, atau ingin terjun jatuh bebas dari tribun. Kedua orang ini membicarakanku dan jelas-jelas dialog mereka bisa didengarkan oleh setengah penduduk yang ada di dalam gedung ini. Panas menjalar di wajahku, aku yakin pipiku kini memerah seperti kepiting rebus, mereka berdua membuatku malu.

“Oke. Dia oke!” seru Chanyeol setelah dia men-drebble kemudian melemparkan bola kepada temannya.

“Kau sudah dengar dia bukan?” kata Baekhyun kepadaku, nada bicaranya kembali seperti semula. “Kata Chanyeol kau oke. Kalau begitu kami juga oke. Selamat bergabung dikelompok kami.” kata Baekhyun ceria seolah aku baru saja memenangkan lotre.

Aku hanya bisa tersenyum lemah. Matilah aku. Beberapa hari kedepan aku akan berhadapan dengan anak-anak aneh ini. Kemudian aku teringat tentang jadwal temu kelompok atau paling tidak diskusi tentang tugas bersama-sama. “Lalu bagaimana dengan tugas kelompok pertama kita? Bukankah minggu depan tugas sastra sudah harus dikumpulkan?”

Baekhyun menoleh pada Kyungsoo lalu berbicara, “Bagaimana menurutmu Kyungsoo? Kapan waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas ini?”

“Aku terserah padamu, Baek.” kata Kyungsoo, dengan gumannya.

“Kalau begitu, aku akan bertanya pada Chanyeol saja.” kata Baekhyun kembali memutar tubuhnya, matanya yang kecil mencari-cari Chanyeol yang berlari kesana kemari dilapangan.

“Park Chanyeol!!!” Baekhhyun kembali berseru.

“Ada apa lagi?!” kata Chanyeol, jelas dia terganggu.

“Kau mau hari apa?!”

“Apa??”

“Kau mau hari apa Park Chanyeol?!” kata Baekhyun mulai tak sabar.

Chanyeol berhenti berlari kemudian mendekat kearah tribun dimana Baekhyun dan Kyunsoo berada. “Hari apapun terserah. Tapi hari minggu lebih baik.”

“Bagaimana denganmu Soo Soo? Apa kau setuju dengan hari minggu?” kata Baekhyun.

“Hari minggu?” aku memotong pembicaraan mereka yang alot. Lama-lama mereka bertiga membuat kesabaranku habis. “Dengarkan teman-temen, tugas sastra dikumpulkan pada hari senin depan. Kalau kita mengerjakan dihari minggu, kita hanya punya waktu satu hari untuk menyelesaikannya. Aku ingin kita secepatnya berkumpul dan mengerjakan.”

“Baiklah, aku setuju dengannya.” kata Kyungsoo menyetujui, meskipun pandangannya tak bisa menjauh dari buku.

“Oke, lalu bagaimana dengan Park Chanyeol?” kata Baekhyun, hendak berbicara pada Chanyeol tapi dia sudah kembali ke tengah lapangan dan berlari-lari membawa bola. “Park Chanyeol!!! Dia tidak mau dengan hari minggu! Dia menginginkan secepatnya!!”

Secara mental aku ingin membenturkan kepalaku ke benda keras semacam kursi penonton ataupun buku tebal yang saat ini Kyungsoo baca. Baekhyun sungguh membuat orang diseluruh gedung olah raga saat ini mendapatkan presepsi salah tentang dialog singkatnya besama Chanyeol. Mereka yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pasti mengira kalau aku meminta Baekhyun untuk membuat janji kencan atau semacamnya dengan Park Chanyeol. Terpujilah sifat baiknya itu. Besok aku akan mempunyai musuh baru dan aku berani taruhan, anak-anak cheerleader sekarang sedang menatapku dengan sinis.

“Baiklah!” kata Chanyeol dari seberang lapangan. “Kita bertemu besok!”

Baekhyun tersenyum mengangkat ibu jarinya pada Chanyeol kemudian berbalik, kembali berhadapan denganku. “Kau sudah dengar dia bukan? Kita akan bertemu besok.”

“Terimakasih.” kataku dengan gigi menggertak, lalu cepat-cepat pergi dari situ, mengabaikan beberapa pandangan mematikan dan menusuki kepalaku dari belakang. Aku tak begitu yakin apakah Baekhyun benar-benar mempermainkanku apakah memang seperti itulah orangnya: aneh dan ajaib. Yang jelas paling tidak aku sudah mengerti alasan pertama kenapa kebanyakan teman-teman sekelasku tak mau menjadi satu kelompok bersama mereka karena tidak lain adalah, mereka bertiga dalah anak-anak aneh yang diberi anugerah otak superior. Tidak lebih dari itu.

Oh aku sekarang benar-benar ingin pergi kepada Jieun dan menceritakan kejadian aneh yang baru saja terjadi atau kalau tidak aku ingin pergi ke taman sekolah dan duduk diam dibawah pohon meratapi nasip. Aku tidak tau bagaimana nasipku hari-hari berikutnya bersama trio absurd itu. Entahlah… bagaimana nasipku.

-tbc-

Hello beloved reader. aku kembali dengan (lagi-lagi) series baru padahal yang lama banyak banget yang belum selesai. hahaha tapi apa boleh buat jangan salahkan aku yang terlalu banyak ide ini dan itu jadi gini deh tangan gatel pengen nulis ff baru. huhuhu

untuk pertama kalinya aku ingin menjajal genre friendship. karena yeah, rata-rata ff milikku bergenre comedy dan romance. jadi tak ada salahnya kan mencoba.🙂

apa ada yang ingin tau lanjutannya gimana? aku akan update chapter 1 beberapa hari kemudian. dan eiits jangan hawatir ini series pendek jadi hanya ada beberapa chapter saja. soo stay tune.

dan kunjungi juga blog ku ya : Iruza Izate

best regards ilachan🙂

One thought on “The Smartass Project : Prolog

  1. Waaah!! daebak!! ff-nya keren😀 kalau aku jadi si “aku” pasti bakal seneng banget di jadiin satu kelomppok sama trio absurd kek mereka, secara disini sifat Kyungsoo nggak jauh beda sama sifat aku :”v

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s